Thursday, July 3, 2008

Dari novel "Assalamu'alaikum matahariku" bagian ke 23

Badai telah berlalu… angin kencang berhembus lagi

Air itu mengalir dengan tenang menyusuri bebatuan yang menghalanginya. Air itu begitu jernih menampakkan apa yang ada di dalamnya dan apa yang dilingkupinya. Air itu begitu mengalir dengan sempurna, tanpa beban, mengalir begitu saja...

Air itu terus bergerak, tidak lelah dan tiada jemu mengalir dan mengirimkan pesan kepada telinga dengan suara-suaranya yang gemericik.

Begitu tenang, begitu nyaman, menjalani takdir yang Allah tentukan padanya. Irama gemericik yang tenang, berseling kemudian dengan sayup-sayup suara kicau burung kenari yang riang gembira menyambut datangnya pagi yang mengkhabarkan harapan baru dan suka cita yang membuncah. Di sela-selanya hembusan angin pagi nan dingin memberikan sapaan khasnya di telinga seraya memberikan kesejukan yang menerpa kulit siapa saja yang tidak tertutupi kain. Alunan musik alam yang dikaruniakanNya menciptakan irama pagi yang dinamis, kadang mengalun pelan kadang kencang berselang-seling tak terduga, terkadang begitu detil, terkadang tersamar disela-selanya suara gemericik air tetap menjalankan iramanya yang konsisten. Nikmat pagi yang menambah dalamnya hati untuk menghayati bahwa tiada sia-sia Allah menciptakan setiap detil makhluk yang dikaruniakan kepada manusia. Maha suci Engkau ya Allah.

Setelah sembahyang subuh dan membaca dzikir pagi aku pergi ke taman di halaman belakang pondok Isykarima. Menghayati tenangya air yang mengalir tanpa belenggu, tidak seperti keadaanku saat ini, gelar dokter sudah diambang mata, impian yang aku dambakan bertahun-tahun selama pendidikan, hampir dapat kurengkuh. Mengapa harus menghadapi belenggu yang benar-benar menghantuiku di setiap detik hidupku saat ini. Meski begitu, aku bertekad untuk tidak menceritakan keadaanku ini kepada Iqbal, Harun, mbak Malika, mbak Fatimah atau bahkan kepada bapak ibu di Nganjuk. Biarlah aku simpan untuk diriku sendiri. Aku tidak mau merepotkan orang-orang yang aku cintai. Orang-orang yang mengajariku cinta, mengajariku kasih sayang. Seribu wajah bulan yang bersahaja telah berkumpul pada mereka berdua, bapak ibuku. Walaupun hidup mereka susah, tidak pernah mereka tampakkan kepada kami. Mereka selalu menginginkan kami bahagia. Bahkah terhadap dik Iqbal yang telah membuat rumah satu-satunya tempat tinggal dijual, bapak ibu, tidak pernah memperlihatkan kekecewaannya. Kepulangan dik Iqbal saja sudah merupakan kebahagiaan tersendiri. Tidak pernah mengungkit-ungkit kebaikan yang telah mereka berikan. Satu pelajaran yang sangat berharga bagiku adalah keikhlasan. Inilah yang saat ini aku harus berjuang keras untuk mendapatkan itu.

Kalaulah aku ceritakan kepada ustadz Sholahudin, karena aku ingin curhat belaka, aku ingin diberikan nasehat yang menentramkan jiwaku. Aku yakin beliau mampu menjaga rahasia ini. Aku tidak mau keluarga besar bapakku yang anak langsung Kiyai, tercoreng mukanya karena aib ini.

Begitu tiba di Solo aku setelah memastikan permasalahan dik Iqbal bisa tertangani, termasuk CD rahasia yang dibawa dik Iqbal dapat digunakan bukti dalam persidangan. Dari koran aku mengetahui ternyata tembakanku mengenai mata kaki dokter KindoNo dan Kolonel Parwoto, sebelum akhirnya kedua orang itu saling baku tembak setelah kami berhasil lolos atau bunuh diri bersama, wallaahu a’lam. Sementara Yo yo menjalani persidangan yang menyatakan dirinya bersalah dan menjalani hukuman berat.

Yang membuatku terhibur adalah dik Iqbal benar-benar telah hadir di tengah-tengah keluarga setelah sekian lama menghilang. Walaupun besar sekali biayanya. Seminggu setelah dik Iqbal pulang ke Nganjuk, rumah terakhir bapak dan ibu terjual. Laku tepat persis seperti jumlah hutang yang ditanggung dik Iqbal seratus lima puluh juta rupiah. Permasalahan selanjutnya yang timbul adalah di manakah bapak ibu harus tinggal. Kalau dulu saat menjual rumah satu-satunya yang dihuni untuk membayar uang gedung masuk di Fakultas Kedokteran Unissula, bapak ibu sementara waktu pindah di rumah nenek, menunggu rumah yang dibangun di atas sawah yang dimiliki di desa kedondong layak dihuni. Sekarang semua sawah sudah habis. Mau tidak mau harus mengontrak rumah. Akhirnya diputuskan mencari kontrakan di dekat rumah budhe di Kediri, yaitu desa Mukuh Pagu. Setelah pak dhe meninggal budhe hidup sebatang kara. Tidak memiliki keturunan. Di balik musibah ini ada hikmah besar, mengumpulkan kembali keluarga besar kakek, meneruskan perjuangan pak dhe dengan yayasan yang telah dirintisnya, dan yang lebih membanggakan lagi, dik Iqbal mau meneruskan perjuangan pak dhe, sebagaimana wasiat beliau agar ada dari saudara beliau yang menjadi penerus.

”Apa? Jadi benar apa yang dikatakan dokter KindoNo itu? Tanyaku dengan mata membelalak tidak percaya.

”Iya mas” kata Aisyah tertunduk dengan isak tangisnya.

”Masya Allah, Astaghfirullah, aku sangat berharap engkau berkata tidak de” kataku benar-benar shock. Benar-benar tidak percaya dengan apa yang diucapkan Aisyah.

”Aku mengenal mas KindoNo sejak SMA di Jakarta. Namaku yang sebenarnya Nina Fania. Dulu di Jakarta, aku mengikuti gaya hidup anak-anak metropolis, malam ke diskotik, cafe, dan dari sana aku mengenal dan jatuh hati pada mas KindoNo. Aku berbunga-bunga, melayang di awan-awan oleh kata-kata mas KindoNo yang membuai. Itulah jatuh cintaku yang pertama mas. Aku menjalin hubungan dengan mas KindoNo sampai tiga tahun, sekali lagi maafkan Ais mas, Ais tidak bisa menjaga diri, kami sudah menjalin hubungan layaknya suami istri, tidak pernah hamil. Aku insyaf. Ketika insyaf itu, mamaku tahu, kemudian beliau memutuskan untuk memindahkan aku ke Solo. Sebelumnya mama membawaku ke Singapura untuk melakukan operasi hymenoplasti, agar aku secara fisik benar-benar gadis perawan.

Ternyata itu tidak bisa menutupi siksaan batinku. Hati ini tidak dapat ditipu mas, hatiku yang ternoda tidak dapat bersih lagi. Bayang-bayang dosa itu selalu menghantuiku. Seorang ustadzah di Solo, membimbingku dalam perjalanan hijrahku menjadi seorang yang benar-benar bertaubat. Beliau memberiku nama hijrah Aisyah.”

Penjelasan Aisyah yang jelas dan gamblang itu membuatku semakin shock. Rongga dada ini semakin sesak saja oleh rasa jengkel, rasa benci, merasa dikhianati, tetapi tidak berdaya.

”De Ais, lebih baik, aku tidak pernah mendengar sama sekali pengakuanmu de. Hati ini benar-benar terluka. Luka dan digoreskan luka baru lagi. Cukup sekali saja aku terluka, ketika sebelum aku ngaji dulu, memutuskan hubunganku dengan Wulan. Walaupun hati ternoda dengan zina hati, tetapi tubuh kami sama-sama terjaga kesuciannya. Itu satu-satunya pengalamanku. Ohh dindaku sayang... mengapa engkau begitu..tega” tak kuasa tangis kepedihan, kesedihan dan ketakberdayaanku bersatu padu, membuatku menangis tersedu-sedu.

”Maafkan Ais mas, tidak jujur pada mas, saat mas Karim dulu melamar aku. Terus terang aku sudah jatuh cinta dengan mas, Ais ga mau kehilangan mas. Ais sangat mencintai Mas.”

”De Ais.. mas percaya, bahwa de Ais benar-benar sudah taubatan nasuha. Pikiran logis mas, mengatakan demikian..” kataku dengan isak tangis

”Tapi emosi dan ego mas masih belum bisa diajak demikian. Biarkan mas, pergi seminggu dua minggu di Pondok Isykarima Tawangmangu sana. Mas mau menenangkan diri. Mas mau curhat sama ustadz Sholahudin. Mudah-mudahan Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk tetap berjodoh” kataku melanjutkan karena tangisanku benar-benar membuat bicara tidak lancar.

”Mas Karim.....aku tetap mencintaimu... jangan tinggalkan de Ais mas” Aisyah menjerit keras dengan tangisannya yang makin keras. Mencoba merengkuhku untuk memeluknya, tapi aku segera menolaknya.

Masih terngiang di telinga, terbayang di mata, semuanya dengan jelas saat-saat peristiwa terakhir itu, sebelum aku berangkat ke pondok Isykarima. Selama di pondok Isykarima, aku banyak mengikuti kegiatan-kegiatan santri di sana. Ikut dalam kelas, banyak membaca Al-Qur’an, banyak sholat sunnat, sholat dhuha, sholat malam, membaur dalam kegiatan dengan masyarakat sekitar pondok. Aku benar-benar ingin lari dari kenyataan, walaupun sejenak. Ustadz Sholahudin sudah aku ceritakan semua permasalahan yang membelenggu dan menghantui diriku saat ini.

”Semua tergantung kepadamu Rim” kata ustadz Sholahudin memulai pembicaraan

”Tergantung kepada saya tadz?” kataku dengan penuh tanya

”Kalau engkau menerima dengan penuh keikhlasan, surga dunia sudah tampak di mata. Tetapi kalau engkau menceraikannya, itu adalah hak kamu. Mengenai alasan engkau sudah mendapatkannya” jelas ustadz Sholahudin

”Yang saya pertimbangkan untuk tetap bertahan, justru bukan untuk memuaskan saya tadz. Saya menjaga perasaan bapak ibu saya, saat ini mereka mendapatkan musibah besar yang diakibatkan oleh adik saya. Usaha adik saya, salah kelola, bangkrut. Utang-utang yang diakibatkannya diambil dari penjualan rumah satu-satunya bapak ibu yang mereka miliki. Saya tidak ingin menambah beban berat lagi kepada mereka berdua, yang susah payah mendidik saya hingga seperti saat ini. Saya tidak ingin mencoreng kehormatan keluarga besar, karena perceraian yang seandainya nanti saya pilih. Keluarga besar saya dan de Ais banyak berlatar belakang kiyai. Tokoh agama yang sangat dihormati.” kataku menjelaskan kepada ustadz Sholahudin.

”Untuk lebih memantapkan, jangan kamu lihat faktor-faktor dari luar saja Rim, coba carilah alasan-alasan yang menguatkan dari dalam hatimu sendiri” kata ustadz Sholahudin

”Saya sudah melakukan tadz, satu-satunya alasan dari dalam diri saya sendiri adalah saya tidak terima, saya merasa dikhianati. Hingga saya menikah ini, saya tetap menjaga kesucian saya. Hanya kesucian hati saya yang mungkin kurang. Dulu saya pernah pacaran, paling banter hanyak duduk di bis berdua, tidak lebih dari itu. Kok saya bisa-bisanya mendapatkan jodoh yang sudah ternoda, walaupun dia sudah taubatan nasuha. Saya tidak habis fikir tadz. Kata Allah penzina itu tidak akan menikah dengan penzina. Orang mukmin itu hanya menikah dengan orang mukmin. Saya tidak mendapati dalam hidup saya seperti itu tadz” kataku dengan tanpa terasa hati itu terguncang sedih dan melelehlah air mata ini di pipi.

”Apa salah saya tadz? Apakah itu hukuman zina hati yang pernah saya lakukan dulu? Sedemikian besarkah salah saya tadz?” kataku dengan tangis yang makin menjadi

”Di luar sana, banyak laki-laki yang sudah mencicipi puluhan gadis perawan, bisa menikah pula dengan gadis perawan tadz. Ada apa dengan diriku ini tadz?” kataku menyambung kembali

”Istighfar Karim! Istighfar Karim! Istighfar Karim!” tiba-tiba saja ustadz Sholahudin membentakku demikian keras

Aku menangis sejadi-jadinya, aku peluk ustadz Sholahudin keras-keras, ingin ku curahkan semua sedihku kepadanya. Seakan tali-tali yang menjerat jiwa dan hatiku terlepas semuanya.

”Saya sudah sangat mencintai Aisyah saat ini. Bercerai itu sama saja menarik kuat-kuat kedua ujung hati ini hingga terputus dan berdarah-darah tadz. Saya sudah pernah mengalaminya dulu tadz. Saya sudah tidak ingin lagi berjuang menyetalakan hati dengan hati yang lain selain Aisyah. Sudah capek tadz!” kataku di sela isak-isak tangisku

Ustadz Sholahudin memelukku lebih erat lagi dan membelai-belai punggungku.

”Hanya dua kata yang aku sarankan padamu Rim, memang berat kenyataan yang kamu hadapi, tapi kamu harus bisa. Sabar dan ikhlas. Sabar dan ikhlas.” bisik ustadz Sholahudin

Bisikan itu bagaikan menghipnotisku. Bisa menenangkan kegelisahan, kesedihan, kemeranaan dan kenelangsaan yang selama ini mengepungku hingga aku tidak bisa keluar kemana-mana. Yang membuat duniaku serasa sempit dan menyesakkan. Bisikan itu benar-benar membuat hati ini menjadi lapang kembali, bahkan jauh lebih lapang ketimbang lapangan sepak bola.

”Ya tadz” jawabku lirih

”Sabar dan ikhlas” kembali aku berkata mengulangi apa yang diucapkan ustadz Sholahudin.

F09_20

Dalam otak rasionalku, aku benar-benar menyadari baik aku maupun de Aisyah adalah manusia. Sesosok makhluk yang lemah, tidak sempurna, banyak kesalahan di sana-sini. Mestinya yang aku lihat saat ini adalah sesosok de Ais yang sudah taubatan nasuha. Bukan masa lalunya. Mestinya yang aku lihat adalah de Ais juga manusia seperti yang lainnya, kemuliannya, pertaubatannya tidak lain hanyalah karena karunia dan ampunan dari Dzat Yang Maha Mengampuni. Mestinya aku juga bisa menyadari sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Syafii, ’Ya Allah Aku bukanlah ahli surga, tetapi aku tidak mampu menahan siksa api neraka. Ya Allah, aku hanya bisa berharap mendapatkan ampunanMu yang mampu menghapus dosa-dosa hambaMu.’ Mestinya aku menyadari bahwa ada manusia yang menjadi mujahid, gugur berjuang di jalanMu, hanya ada karena Maha Pengampun Mu dan Rahmat dari Mu ya Allah.

Perjumpaanku dengan de Ais dalam rumah tanggaku ini, mestinya aku sadari adalah bagian dari rencanaMu. Engkau Maha Tahu akan yang terbaik bagiku dan bagi de Ais. Aku sudah berikhtiar sebelum aku memutuskan menikah dengan de Ais. Aku sudah mengamati perilakunya selama ini. Sholat istikharah sudah aku laksanakan, bahkan aku selalu mendapatkan kemantapan hati setelah sholat istikharah tersebut. Mestinya aku yakin pasti ada hal-hal terbaik yang Allah rencanakan padaku setelah menikah dengan de Ais.

Tetapi keadaan menjadi lain setelah aku kembali ke Solo, ke rumah kontrakanku. Tiba-tiba saja, rasa cinta itu hilang, entah kemana perginya. Tiba-tiba saja aku tidak tertarik sama sekali dengan cantiknya raut wajah de Ais. Semua terasa hampa, tidak ada rasa. Aku mengalami mati saraf hati. Tidak ada gairah. Aku coba mengaduk-aduk seluruh isi dalam ruang hati. Aku cari-cari dimana rasa cinta itu. Dimana rasa kasih sayang yang dulu pernah hadir di sana. Dimana rasa rindu bertemu dengan pujaan hati. Entah kemana, aku tidak mendapatkan lagi. Semua rasa optimisme yang telah aku peroleh dari pondok Isykarima, tiba-tiba lenyap di telan kenyataan. Yang aku bisa lakukan hanyalah berpura-pura. Menyapa de Ais sekedarnya, kalau perlu saja.

Tidur masih satu tempat tidur, tapi aku lebih nyaman kalau memunggunginya. Bahkan memilih tidur di ruang tamu. Membayangkannya, segera muncul bayangan wajah KindoNo keparat itu.

Semua kebiasaan rutin masih berlangsung, sarapan pagi di rumah, pergi ke pasar Ledoksari kalau belanja di hari minggu. Semuanya berjalan tanpa warna. Tanpa rasa dan tanpa dinamika. Semua terasa hambar dan hampa.

Sebagai wujud tanggung jawab peran dan tanggung jawabku menjadi suami, memenuhi nafkah lahir aku lakukan. Tetap mengurus terjemahan, yang makin hari makin banyak. Di sela-sela itu, secara de jure aku sudah lulus dokter, karena itu aku urus surat keterangan aku sudah lulus dokter. Untuk bisa melamar pekerjaan sebagai dokter jaga. Aku mendengar ada lowongan dokter di PKU Muhammadiyah Jatinom. Seorang dokter yang jaga di sana surat PTT sudah turun dan harus menjalani PTT di daerah Majalengka. Sehingga dia harus cabut dari sana. Kesempatan itu segera aku ambil. Dan alhamdulillah diterima, karena yang melamar cuman satu, aku saja. Model jaga di sana memang unik, dan ini menguntungkan . jadi jadwal jagaku dirapel, mulai jum’at pagi terus menerus berada di sana alias menginap sampai senin pagi. Fasilitas kamar dokter lumayan baik, kamar mandi, hanger untuk handuk, ransum makan dengan menu yang enak. Jadi lumayan menghemat pengeluaran, sehingga gaji yang diterima lumayan utuh. Untuk berangkat ke sana naik sepeda motornya Aisyah, jadi sepeda motor juga ikut menginap 3 hari di PKU Muhammadiyah Jatinom. Selama itu, kalau Aisyah pergi kemana-mana naik angkutan umum. Walaupun memakai sepeda motor Aisyah, tetap saja aku dingin padanya.

”De Ais, aku pinjam sepeda motornya ya untuk bekerja” kataku datar

”Mas Karim, sepeda motor ini kan sudah milik kita berdua, mas bisa memakai kapan mas suka” kata Aisyah yang tetap menunjukkan ekspresi ramah, sama seperti ketika pertama kali menikah.

Aku tidak berkata apa-apa, hanya terus ngloyor keluar bersama sepeda motor, tanpa pamitan padanya. Aku juga tidak pernah menanyakan bagaimana de Aisyah kalau pergi ke UNS atau ke Solo Pos harus naik apa. Seolah aku sudah tidak peduli padanya.

Perjalanan dari Jebres hingga ke Jatinom memakan waktu 45 menit. Jadi kalau jam kerja jam 08.00 berarti aku harus berangkat dari Jebres pukul 6.45 biar masih ada waktu istirahat sebelum memulai bekerja. Aku masih bisa memaklumi emosi orang yang sedang sakit, karena itu aku benar-benar menyediakan waktu agar siap terutama kelapangan emosi ketika berhadapan dengan pasien. Sehingga ketika menangani pasien, yang berobat, aku bisa lapang emosinya, bisa bersikap ramah dan memberikan perhatian yang penuh pada pasien di sana.

”Assalamu’alaikum Mbah Kromo, sakit apa mbah? Mbok kalau pergi ke sini tidak usah pas sakit tho mbah. Biar saya bisa lihat mbah Kromo yang ceria” kataku ketika memulai pembicaraan dengan pasien mbah Kromo sebelum diperiksa

”Ah mas dokter ini lho, lha kalau pas sehat, mas dokter pas ga jaga. Jadi berkunjungnya ke sini kalau pas sakit saja.” kata mbah Kromo.

”Waduh, sakit sekali kalau begitu ya Pak Karto. Sudah panas, perutnya mules, tulang dan sendi linu-linu, muntah-muntah lagi” kataku setelah pak Karto menceritakan apa yang dia keluhkan.

”Mas dokter ini perhatian ya sama pasien. Saya senang mendapat perhatian seperti ini. Badan saya kok tiba-tiba lebih enak ya mas dokter sekarang. Saya yakin banyak pasien yang berobat ke sini, dokternya perhatian sama pasiennya” kata Pak Karto lagi

”Ah pak Karto ini, bisa saja memujinya. Saya jadi ga enak nih pak” kataku

”Bener lho dok” kata pak Karto lagi

Bahkan di kesempatan yang lain, karena mengira aku ini masih perjaka dan belum menikah, pak Karto sempat nanya kepada mbak Retno, asistenku, ketika aku sedang tidak jaga. Beliau sangat berharap aku bisa menjadi menantunya. Mbak Retno, bercerita kepadaku saat luang ketika tidak ada pasien.

”Sebenarnya dokter yang komunikatif itu wajar kan, bukan barang mewah. Dan itu menjadi standar kan mbak?” tanyaku kepada mbak Retno

”Iya tapi, pak Karto itu jadi Ge-Er, kalau hanya dia saja yang diperlakukan seperti itu. Merasa spesial gitu. Jadi merasa diperlakukan lebih ketimbang pasien lainnya.” kata mbak Retno

”Oo begitu” kataku lagi

Keadaan yang sangat berbeda ketika aku berada di Jebres. Serumah tapi tidak ada kehangatan. Makan bersama tanpa percakapan. Mencuci tanpa menyapa. Memasak tanpa perhatian. Menyelesaikan pekerjaan penerjemahan seperti pertapa dalam gua yang sudah puluhan tahun tanpa kontak dengan manusia.

”Mas Karim, de Ais, merasa tersiksa sekali bila kita terus-terusan seperti ini” kata Aisyah memulai pembicaraan ketika akan tidur malam. Dengan matanya yang sembab akibat menangis.

”De Ais, jangan dikira aku cuek begini aku tidak menderita, aku sangat tersiksa” kataku

”Selamanya kita akan begini terus?” tanya Aisyah disela-sela isak tangisnya

”Ya bagaimana lagi?” jawabku enteng

”Mas Karim. Ceraikan aku saja, dari pada kita menderita seperti ini. Mas Karim tampan, dokter, mudah mencari jodoh. Hubungan kita seperti ini kalau dipertahankan terus tidak baik mas” kata Aisyah yang isak tangisnya mulai meninggi

”Sudah lah de, ga usah bicarakan itu, aku tidak mau memulai lagi berjuang mendapatkan cinta. Aku tidak mau lagi terluka untuk kedua kalinya” kataku sambil membawa bantal dan guling. Aku pergi tidur di ruang tamu.

Yang membuat aku salut pada de Ais, asalkan tidak menstruasi, sholat malamnya tidak pernah lowong, sekalipun aku bersikap dingin padanya. Kalaulah aku bangun untuk sholat malam, aku memilih sholat sendiri di ruang yang berbeda. Seolah-olah bisa dikatakan, beginikah caraku menghukum Aisyah? Apakah aku bersalah dengan melakukan ini?

----------------

Jadwal sumpah dokter terdekat, yang bisa aku ikuti, masih dua bulan lagi. Jadi masih ada waktu mengumpulkan uang untuk biaya pelantikan itu. Jadi aku mengandalkan pekerjaan penerjemahan mulai hari senin selepas jaga dari PKU Muhammadiyah Jatinom hingga hari kamis malam sebelum paginya berangkat ke Jatinom lagi. Menginjak bulan kedua, pekerjaan penerjemahan menumpuk, sehingga aku kurang istirahat, udah gitu, harus jaga 24 jam kali 3 hari di klinik, tubuhku ternyata tidak mampu menyangga kesibukan aktivitasku ini. Pagi hari saat pulang dari Jatinom, badan sudah meriang. Ternyata sepanjang perjalanan pagi itu, tidak seperti biasanya hujan lebat turun di pagi hari.

Sesampainya di rumah kontrakan di Jebres, tubuhku menggigil kedinginan. Segera masuk, ganti baju dan tidur di tempat tidur dengan berselimut rapat.

”Mas Karim sakit ya mas?” suara Aisyah yang lembut menyapa.

”Iya, akibat kecapekan. Sekarang tubuhku protes” kataku

”Ini mas diminum jahe hangatnya” kata Aisyah tulus, tanpa terbebani sikapku yang dingin.

”Ya. Taruh situ saja nanti aku minum sendiri.” jawabku dengan sikap yang masih dingin.

”Oh ya de, minta tolong belikan obat, saya tulis resepnya, minta tolong ambilkan buku resep di tas” kataku datar

Aisyah segera bergegas mengambilkan buku resep. Aku menulis resep untuk diriku sendiri, jadi dalam bahasa resepnya Pro= UP (usus propius). Dalam cuaca hujan lebat, Aisyah membelikan obat untukku. Setelah Aisyah pergi, aku baru mengambil minuman jahe hangat buatan Aisyah. Hangat dan menyegarkan. Keringat segera keluar deras dari tubuhku, badanku mulai terasa enak. Kemudian aku mengambil posisi berbaring, tetapi tidak tidur.

---------------------

Lima belas menit kemudian..

”Assalamu’alaikum” kata Aisyah, dengan wajah sumringah. Dulu ketika awal-awal menikah, aku paling gemes dan seneng dengan wajah seperti itu. Tapi rasa itu entah kemana perginya.

”Wa’alaikumsalam” jawabku tetap datar

”Ayo mas ceria mas, biar cepat sembuh” kata Aisyah, sambil menyerahkan obat yang telah ditebus.

”Makan ya mas Karim, ini tadi aku belikan soto daging hangat kesukaan mas” kata Aisyah.

”Makanannya taruh di meja saja biar nanti aku makan sendiri. Sekalian obatnya ditaruh dekat makanannya” jawabku enteng

Meski sikapku dingin dan ketus seperti itu, Aisyah tetap menunjukkan sikapnya yang bersahaja. Begitu tabah dan sabar. Aku tidak tahu bagaimana wajahnya bila tidak dihadapanku. Aku menduga pasti menangis, merasa hancur, dan merasa tersia-siakan. Entah mengapa, aku justru merasa ada kepuasan kalau membuat Aisyah dalam keadaan seperti itu.

Setelah Aisyah pergi, aku baru menyantap makanan dengan lahap, hingga tidak tersisa nasi sebutir pun, jahe hangat juga habis, kemudian aku minum obat yang telah dibelikan Aisyah.

Aku juga heran dengan diriku sendiri, mengapa peristiwa pagi ini tidak membuat hatiku luluh. Malah justru tambah mengeras dan membatu. Hanya kekuatan dahsyat saja yang bisa menghancurkannya, itupun dengan kehancuran diriku seluruhnya. Ketabahan dan kesabaran Aisyah untuk bersikap ramah, lembut dan penuh perhatian ternyata tidak sedikitpun membuat hatiku cair, membalas kasih sayangnya yang demikian tulus. Ya Allah maafkanlah aku, aku tidak bisa mengendalikan hatiku ini. Aku masih saja belum terima. Masih marah. Masih jengkel. Masih merasa dikhianati. Dan puncaknya akupun juga menangis tersedu-sedu. Ketika Aisyah mendekatiku dalam keadaan seperti itu, aku menolaknya mentah-mentah. Aku benar-benar ingin sendiri, menikmati kepedihan hati ini yang demikian sendu dan terlara.

--------------

From 0815501xxxx

To 0812259xxxx

Mas Karim, kalo ada wkt bs pulng ke Ngnjk mlm ini bpk ibu mo pindhan rmh ke Kediri besok pg jm 9

Ternyata ada sms dari dik Iqbal. Lalu aku balas smsnya.

From 0812259xxxx

To 0815501xxxx

Iya dik Iqbal, mas usahain bs plg mlm ini


Akhirnya bapak ibu jadi pindah rumah ke Kediri. Malam itu, dengan masih bersikap datar dan dingin, aku pamitan kepada Aisyah. Bertolak menuju Nganjuk. Tiga jam perjalanan yang ditempuh, seperti biasa sampai Nganjuk menjelang subuh, sehingga masih sempat sholat subuh berjamaah dengan bapak ibu, dik Iqbal dan dik Harun. Keadaan rumah mulai kosong, beberapa perkakas, seperti lemari, meja kursi, dan jemuran sudah dikelompok-kelompokkan. Demikian juga dengan perlengkapan dapur sudah di-packing, termasuk barang pecah belah sudah disendirikan. Baju-baju sudah dikemas rapi, tinggal baju yang dipakai hari ini, perlengkapan mandi dan handuk yang masih diluar. Semua sudah dikemas dengan rapi. Selesai sarapan pagi, ada dua truk yang mengangkut, plus satu mobil pick-up khusus untuk mengangkut barang-barang pecah belah. Bapak, ibu, aku, dik Iqbal dan dik Harun, mengiringi di belakangnya dengan menaiki mobil klasik L 100 berwarna kuning nyentrik. Mungkin karena kesibukan pada proses angkut-angkut, bapak ibu tidak menanyakan mana Aisyah, atau kok sendirian, mana pengantin putrinya. Untuk sementara aku aman dari pertanyaan-pertanyaan yang bagiku saat ini membuatku sangat sensitif.

Sesampainya di Kediri, tepatnya desa Mukuh kecamatan Pagu, rumah itu mungil, lantainya plesteran kasar, sehingga di beberapa tempat nantinya ditutup karpet agar tidak kentara kekasarannya. Proses boyongan itu dibantu lima pekerja, semuanya mengaku santri dari almarhum pak dhe Mahfud. Yang membuatku terharu adalah ternyata semua biaya boyongan itu ditanggung oleh budhe. Dan dari mulut pekerja yang katanya pernah nyantri itu, ternyata, pindahan bapak ibu itu karena rumah di Nganjuk mau dikontrakkan, sehingga perlu ngontrak di Kediri sambil menemani budhe.

“Yang mau mengontrak rumah ini siapa ya mas Karim? Katanya bu Nyai rumah di Nganjuk ini mau dikontrakkan.” Kata pak Imron, yang pekerjaan sehari-harinya adalah tani dan punya tanah sendiri. Meskipun punya tanah sendiri, ternyata pak Imron mau jadi relawan, karena disuruh langsung oleh bu Nyai alias budhe.

“O ya tho pak? Malah saya baru dengar” jawabku, berusaha menjaga apa yang telah dikatakan budhe kepada mantan santri pakdhe Mahfud.

“Iya, malah nanti Iqbal adik sampeyan mau menjadi pengelola yayasan yang telah dirintis oleh almarhum pakdhe kalian” jelas pak Imron

“Wah senang sekali saya mendengarnya pak, kalau dik Iqbal mau meneruskan apa yang telah diwasiatkan almarhum pakdhe. Maklum pak saya banyak di Solonya jarang pulang ke Nganjuk, jadi jarang mengikuti perkembangan rumah” Jawabku.

F09_37

--------------------

Seharian penuh pekerjaanku adalah membantu bapak ibu menata rumah baru. Walaupun ada tiga lelaki anaknya, tetap saja pekerjaan menata rumah banyak hal-hal kecil yang jumlahnya banyak, sehingga membutuhkan waktu yang lama. Hingga sore itu, pekerjaan penataan belum tuntas betul. Tapi setidaknya, tempat makanan, tempat tidur, kamar mandi sudah siap. Itu yang utama, sementara yang lainnya bisa diselesaikan besok hari.

Aku lihat ada lima unit komputer beserta satu printer ada di sana, dan sudah di tata di ruang tamu. Di samping meja salah satu komputer aku melihat setumpuk kertas yang isinya brosur rental dan kursus komputer, hasil print komputer, bukan fotokopi.

“Aku sudah siapkan brosur-brosur untuk promosi rental komputer, kursus komputer program Word dan Excel mas Karim” kata Iqbal dengan mata berbinar-binar

“Lha kamu dapat modal dari mana dik untuk beli komputer-komputer itu?” tanyaku

“Setelah semua utang terlunasi, usahaku yang di solo itu aku jual dan mas Praba mau membelinya, karena masih lumayan banyak pelanggan yang bisa mendatangkan keuntungan. Hasil itu aku belikan komputer seken dan printer seken. Di sini nantinya aku mau fokus ke kursus komputer itu mas. Untuk kursus komputer aku pasang tarif Rp 5000,- per jam, seminggu 4 kali pertemuan, aku yakin pertemuan ke 8 mereka sudah bisa menguasai kedua program itu.” Kata Iqbal

“Brosur-brosur itu mau kamu kemanain?” tanyaku

“Besok mau aku kasihkan ke anak-anak SD dan SMP di sekitar sini” kata Iqbal

“Termasuk untuk acara malam ini, tasyakuran pindahan, kalau ada anak usia SD atau SMP yang datang aku kasih brosur-brosurnya” imbuh Iqbal lagi

“Biasanya nanti ada sholawatan di masjid, anak-anak dan remaja banyak berkumpul di masjid, ini kan malam jum’at!” tiba-tiba Harun muncul di tengah-tengah percakapan.

“Tapi anak-anak dan remaja nanti dikumpulkan di rumahnya budhe, mereka diberikan berkatan” kata Iqbal lagi.

“Pas di rumah budhe itu, baru actions, gitu dik?” tanyaku

“Iya” jawab Iqbal

Itulah Iqbal adikku yang fight spiritnya luar biasa, paska bangkrut dan berakibat dijualnya rumah satu-satunya bapak ibu, tetap tinggi semangat survivalnya. Demikian juga bapak ibu yang lapang sekali pemaafnya, dan budhe yang sangat melindungi kehormatan keluarga, mengatakan rumah di Nganjuk dikontrakkan. Kalau melihat itu aku jadi bersemangat sekali, hidup itu terasa berwarna-warni. Penuh dinamika dan penuh dengan kegairahan. Akan tetapi, begitu teringat di Solo, tiba-tiba hidup ini menjadi seperti tidak ada artinya. Tidak ada gairah yang bisa aku petik ketika aku pulang di Kediri kali ini. Namun bagiku tidak terbesit keinginan sama sekali mengutarakan masalahku ini pada bapak ibu, budhe apalagi mbak-mbak maupun kedua adikku. Biarlah masalah ini aku pendam sendiri.

--------------------------

Di tengah-tengah ramainya acara tasyakuran dan bagi-bagi brosur untuk bisnis dik Iqbal.. tut tut tut tut

Ada sms..

From Barkah

To Karim

Karim, bsk pg km hrs dtg sndr di bag Obgyn, nilaimu uda keluar sgra mndftar plntikan dktr plng lmbt bsok ada prbhn mnddk!

Aku balas smsnya

-----------------------

From Karim

To Barkah

OK Kah, insy mlm ini brgkt ke Solo

“Malam ini, aku harus berangkat ke Solo. Ada perubahan mendadak, besok deadline terakhir untuk mendaftar pelantikan dokter” kutunjukkan sms dari Barkah kepada Iqbal dan Harun, seraya mengundurkan diri menuju rumah, untuk berkemas-kemas

Selesai berkemas kembali ke rumah budhe, acara sudah hampir selesai

“Budhe, bapak, ibu, Karim malam ini mau berangkat ke Solo. Besok hari terakhir pendaftaran untuk pelantikan dokter” kataku

“Oh iya, sampai lupa, bagaimana keadaan Aisyah Rim, kok ga ikut?” tanya ibu kepadaku

Seketika, jantungku terasa berhenti berdetak. Seperti petir yang menggelegar tanpa hujan. Mendengar pertanyaan yang meluncur dari mulut ibuku.

“Kamu baik-baik saja kan sama Aisyah?” tanya bapak

Kejutan pertanyaan pertama belum tuntas aku memikirkan jawabannya, tiba-tiba pertanyaan bapak seperti mengiyakan bagaimana kondisi hubunganku dengan Aisyah.

“Ga pa pa Rim, tiga bulan pernikahan, masih banyak menyesuaikan sana sini, butuh kesabaran kok. Aku yakin kalian berdua bisa menyelesaikan masalah kecil ini” budhe mengimbuhi.

Kali ini seperti pukulan dahsyat petinju yang membuat KO lawannya.

“I..nsya A…llah baa…ik ssaa…ja” jawabku terbata-bata

“Mungkin Aisyah Hamil Rim, memang kalau orang hamil suka aneh-aneh. Memang kalau suami belum menyadari, bisa sewot” bapak menimpali.

Ternyata namanya orang tua, mudah sekali menangkap sinyal kegelisahan anaknya. Jadi seperti dalam ungkapan bahasa Jawa kayak kethek ketlulup alias tidak bisa berkutik sama sekali. Bidikan yang tepat.

“Semoga bapak” jawabku

Haah aku mendoakan Aisyah hamil? Kalau aku ingat-ingat memang sejak menikah Aisyah baru bersih dari menstruasi, dan mulai rutin berhubungan suami istri seminggu setelah pernikahan. Ada kemungkinannya dia hamil. Aku yakin Aisyah tidak neko-neko, jadi memang benar-benar setia dengan suaminya. Itu saja yang aku ingat.

“Sampun nggih, budhe, bapak dan Ibu. Karim harus berangkat sekarang” kataku berusaha mengakhiri pembicaraan yang makin lama aku merasa semakin tidak nyaman.

“Salam buat Aisyah ya Rim” kata budhe, bapak dan ibu serempak

“Insya Allah” kataku, kemudian bersalaman kepada mereka bertiga kucium tangan mereka satu persatu.

----------------------

Dengan kendaraan Mitsubshi L100 warna kuning nyentrik, Iqbal dan Harun mengantarku menuju Brakan Kertosono, untuk mendapatkan bus jurusan Solo. Kulihat jam tanganku, sudah memperlihatkan pukul 23.00.

“Dik Iqbal, dik Harun, ini sudah malam, kalian pulang saja sekarang, ga usah ditemenin, sebentar lagi dapat busnya” kataku kepada kedua adikku

“Ga pa pa mas Karim sendirian” tanya Iqbal

“Ga pa pa.. tuh banyak temannya, sesama penumpang yang nunggu bus jurusan Solo” jawabku

“Dah dah..dah ditinggal saja.. pergi sana sana!” kataku lagi, tanganku mengibas-ngibas sebagai isyarat menyuruh Iqbal maupun Harun agar pergi.

Akhirnya merekapun bergegas pulang ke Mukuh. Dan ternyata memang benar, beberapa menit setelah dik Iqbal dan dik Harun pergi, bus Eka jurusan Solo memperlambat kecepatannya dan berhenti tepat di depanku. Beberapa penumpang menaiki bus itu bersama dengan langkahku. Lumayan dapat tempat duduk, walaupun malam larut seperti ini, tetap saja masih banyak orang yang bepergian.

Setelah membayar karcis, aku mulai memosisikan diri untuk tidur dalam keadaan duduk. Melupakan sejenak semua permasalahan yang ada. Memang dalam hidup ini kita harus belajar melupakan hal yang seharusnya kita lupakan, tetapi pada saat yang sama harus mengingat hal yang seharusnya kita ingat. Karena salah prioritas inilah seringkali membuat orang menderita.

Dengan berguncang-guncang, sekali dua kali bus menggoyangkan tubuh ini ke kanan dan ke kiri saat melintasi tikungan tajam, tidak menyurutkan niatku untuk tidur. Walaupun untuk yang terakhir ini sering membuat terbangun.

“Palur!! Palur!! Palur!!” teriakan kondektur bus ini membangunkan semua penumpang yang menjadikan Palur sebagai tempat tujuan bepergiannya. Termasuk aku di dalamnya. Kalau aku Palur adalah warning sebentar lagi akan mencapai Jebres, aku mau turun Rumah Sakit Moewardi. Karena memang kontrakanku di belakang PMI.

“Rumah Sakit Pak” kataku agak lantang

Segera kecepatan bus Eka menyusut dan tepat berhenti di depan RSUD Dr Moewardi Surakarta.

“Kaki kiri dulu ya mas!” pak kondektur memberikan aba-aba

“Ya pak, terima kasih” kataku

“Jam tiga” kulihat jam tanganku. Lebih baik tidur atau sholat barang sejenak menunggu waktu subuh datang. Kalau langsung pulang, suasana lengang begini sepertinya tidak aman. Aku bergegas menuju masjid Rumah Sakit yang berada di belakang sendiri setelah parkiran.

Ambil air wudhu, sholat takhiyatal masjid dua rakaat, sholat malam delapan rakaat, dan sholat witir tiga rakaat. Seraya berdoa kepada Allah agar memberikan jalan terbaik bagiku, bagi ketenangan jiwaku, bagi andilku dalam berdakwah untuk umat.

Selesai sholat, ku ambil mushaf Al-qur’an, meneruskan bacaan kemarin, sekarang waktunya membaca surat Ar-Rahman. Membaca surat itu, tanpa terasa air mata ini kembali meleleh. Seolah Allah mengingatkanku dari apa yang aku baca “Nikmat dari Rabb manakah yang telah engkau dustakan” dan ayat itu diulang-ulang terus dalam surat Ar-Rahman yang aku baca saat ini. Kalau aku berkaca pada diriku saat ini, bahwa Aisyah sekarang adalah bukan yang dulu. Aisyah yang telah hijrah. Aisyah yang telah kembali ke jalan yang lurus. Aisyah yang bercahaya dengan kesabarannya, ketabahannya dan keistiqomahannya, menunggu pintu maaf dariku. Pintu maaf? Dirinya yang telah hijrah, tetapi memberiku dalam pernikahan ini, dengan tubuhnya yang pernah ternoda?

Ayo lah Karim. Bukankah engkau banyak menyaksikan, pernikahan yang sama-sama masih menjaga kesucian tubuh, tetapi mereka semakin menjauh dari apa yang dituntunkan Allah pada kita. Bukankah istrimu Aisyah sekarang punya potensi membawamu pada kebaikan? Bukankah sering engkau katakan, bahwa kebaikan itu butuh berjamaah. Berjamaah dengan orang-orang yang sholeh. Bukankah saat ini Aisyah adalah istrimu yang sholihah? Hampir setiap malam dia selalu bangun sholat malam. Tidak pernahkah engkau lihat dia berkhianat padamu? Tidak pernah kan? Engkau jumpai, setiap hari kalau dia tidak menstruasi, selalu menghiasi rumahmu dengan bacaan-bacaan Al-Qur’an keluar dari mulutnya? Tidak pernah engkau jumpai kan, dia menghambur-hamburkan uang belanjamu, bahkan dia selalu bisa menyisihkan uang untuk menambah tabungan kan? Tidak pernah engkau jumpai dia bersikap tidak hormat padamu kan Rim?

Memang aku akui, saat ini, aku tidak melihat cacat moral atau akhlaq atau tata norma pada diri Aisyah. Ketika aku berada di rumah, Aisyah selalu menampilkan yang terbaik yang dia miliki. Selalu harum, tidak pernah kusut. Menyuruh aku menunggu di luar sebelum dia berdandan rapi menyambut aku.

Cobalah Karim, engkau ingat-ingat kebaikan yang telah Aisyah berikan padamu. Sepeda motor yang kamu pakai? Iya aku ingat itu adalah milik Aisyah. Dia merelakannya untuk aku pakai. Bahkan tidak pernah sedikit pun merasa jengah atau nggrundel. Atau dalam bentuk sindiran pun tidak pernah terlontar kan. Dia benar-benar tulus pada mu.

“Allahu Akbar Allaahu Akbar”

“Allahu Akbar Allaahu Akbar”

“Asyhadu anla ilaaha illaah”

“Asyhadu anla ilaaha illaah”

“Asyhadu anna muhammadarrasulullaah”

“Asyhadu anna muhammadarrasulullaah”

“Hayya ‘alash sholaah”

“Hayaa ‘alash sholaah”

“Hayya ‘alal falaah”

“Hayya ‘alal falaah”

“Ashsholaatu khoirumminannaum”

“Ashsholaatu khoirumminannaum”

“Allahu Akbar Allaahu Akbar”

“Laa ilaaha illa llaah”

Kumandang adzan subuh yang menggema merenggut perhatian dan kesadaranku yang telah berputar-putar tadi.

--------------------------

Memulai hari dengan sholat subuh berjamaah di masjid, dilanjutkan dzikir pagi adalah sebuah kenikmatan yang tiada taranya. Energi rukhiyah begitu mempesona semua potensi yang kita miliki hingga menjadi mudah terekspresikan. Mudah menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Mudah menerima datangnya petunjuk. Mudah menghasilkan lebih banyak kebaikan lagi. Mudah dalam segala urusan, karena Allah mengizinkan yang demikian.

Membuka hari dengan optimismo. Menyambut terbitnya sang surya dengan penuh harapan. Memulai tanggal baru, dengan semangat. Dan memulai lembaran hari yang baru dengan harapan yang penuh barakah.

Selesai dzikir ma’tsurat, beranjak pulang jalan kaki, menuju rumah kontrakan. Kali ini hatiku sedikit lebih luluh. Aku bertekad memulai salaman dulu dengan istriku de Ais.

“Assalamu’alaikum!” kataku di depan rumah

Kok ga ada jawaban.

“Assalamu’alaikum!” kataku sekali lagi

Mungkin sedang dandan, menyambut aku mau masuk rumah. Mudah-mudahan begitu. Rasa was-was mulai muncul. Mudah-mudahan tidak ada apa-apa dengan de Ais

“Assalamu’alaikum de Ais!” Kataku sekali lagi.

Pintu rumah terbuka, dan keluarlah sosok yang cantik, memakai mukena pink. Ya Allah, pesonamu memang luar biasa de Ais. Tapi rasa sayang seperti dulu masih belum pulih sepenuhnya. Masih ada barier.

“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” jawab de Ais. Wajahnya berseri-seri. Ceria sekali menyambut kedatanganku. Dan seperti biasa harum aroma tubuhnya.

Memang barier itu masih kurasakan. Ketika aku menjulurkan tanganku untuk mengajak salaman saja masih kaku. Tangan Aisyah menyambutnya, dan tanganku diciumnya.

“Capek ya mas. Tuh wajahnya kusut” kembali Aisyah menyapaku dengan lembut dan ramah.

“Ya” ternyata aku menjawabnya masih kaku. Hambatan itu mengapa masih saja menghalangiku.

“Itu mas, handuk sudah de Ais persiapkan. Mandi pakai air hangat mas?” lagi-lagi Aisyah, tidak berubah sedikit pun keramahannya menanggapi sikapku yang masih kaku.

“Terima kasih, pakai air dingin saja” aku menjawab dengan nada yang masih datar.

--------------------

Ritual pagi itu diselesaikan dengan sarapan pagi. Lagi-lagi masih dalam keadaan kekakuan sikapku dan keramahan sikap Aisyah.

Ketika berpamitan, aku sudah mau berusaha mencium kening Aisyah, tetapi masih kaku.

“Mas mau ngurus nilai Obgyn Mas. Habis itu mau mendaftar pelantikan dokter” kataku ketika berpamitan pada Aisyah.

“Mas mau pelantikan dokter? Alhamdulillah mas. Aisyah bersyukur. Terus untuk membayar biaya pelantikan sudah ada mas Karim?” tanya Aisyah

“Insya Allah ada” jawabku enteng

Kemudian aku mencium keningnya dan ngloyor pergi tanpa basa basi di depan Aisyah. Lucu ya mencium dengan sikap yang kaku, terus ngloyor pergi tanpa basa basi.

Dijalan aku mulai menimbang-nimbang dan berpikir panjang. Biaya pelantikan dokter dua juta rupiah. Sementara aku hanya pegang uang satu juta rupiah dari tabungan yang sudah aku ambil tadi pagi dari ATM, berarti tinggal lima puluh ribu, sebagai syarat agar tabunganku tidak ditutup. Di dompet aku hanya pegang uang seratus ribu rupiah plus uang receh seribuan. Dari mana aku bisa memperoleh uang satu juta rupiah lagi tanpa bilang ke Aisyah. Waduh pusing!

Sms Barkah, siapa tahu dia bisa memberi bantuan. Tapi kayaknya kalau urusan pinjam uang sebanyak itu Barkah belum tentu bisa membantu. Tapi dicoba dulu.

From Karim

To Barkah

Kah, aq mo ktmu kamu pg ini di kantin RS bs? Skrg?

Tut tut tut … ada sms masuk

From Barkah

To Karim

OK Rim bisa, aq mlh sdh ditmpt. Aq ada prlu sm km

Di kantin Rumah Sakit. Suasana sudah demikian ramai. Co-ass, Residen, Pengunjung dan Pasien yang bisa jalan-jalan, menyemuti kantin untuk memenuhi perut mereka yang butuh diisi dengan sarapan pagi.

“Karim!” teriak Barkah

“Iya Kah!” aku juga tidak kalah ikut berteriak

“Kamu pesan makanan dulu, tasmu kamu taruh sini” kata Barkah

“OK boss” jawabku

Karena sudah sarapan di rumah, aku hanya mengambil snack dan teh hangat. Setelah dibawa di depan kasir, aku bawa makan ringan dan teh itu di meja tempat Barkah sarapan.

“Kamu tidak sarapan Rim” tanya Barkah

“Kan sudah di rumah…tadi” jawabku

“O iya ya.. sudah ada istri yang nyiapin ya.. lupa aku” kata Barkah

“Eh Rim, kamu masih ingat Endar kan?” tanya Barkah dísela-sela makan

“Kamu jangan, memaksaku untuk melakukan sesuatu yang aku tidak mau” jawabku tegas

“Hei bukan begitu, aku tanya Endar, bukan untuk itu” sergah Barkah

“Lalu?”

“Begini Rim, kamu kan tahu aku, sebentar lagi aku kan juga mau pelantikan dokter bareng sama kamu. Mengingat usiaku kan sudah tua untuk ukuran perjaka. Aku berniat mau menikah…” jelas Barkah

“Maksudnya kamu mau melamar Endar begitu?” kataku langsung menebak

“Sebelum melamar kan harus tahu kualitas bibit, bebet dan bobotnya” kata Barkah, dengan logat Bangkanya yang masih kental.

“Kalau melihat dari sudut pandangku saja sih, sebenarnya orangnya punya potensi hanif, dalam arti tidak neko-neko begitu. Aku tahunya ketika dia nanya-nanya tentang umat Islam, tentang hal-hal yang berurusan dengan agama. Dari situ aku berkesimpulan dia setidaknya sudah punya perhatian pada masalah agama. Kalau dilihat dari keingintahuannya aja lho” jelasku

“Orangnya sekarang berjilbab lho Rim” kata Barkah sepertinya membenarkan dari apa yang aku jelaskan.

“O iya? Alhamdulillah kalau begitu”

“Kamu sendiri sudah nanya-nanya siapa teman dekatnya lima tahun terakhir, atau nanya muda-mudi yang ada di sekitar tempat tinggalnya? Sekedar memperkuat data. Sebelum memutuskan mau menikah dengan seseorang kan harus tahu sebanyak-banyaknya tentang karakter pribadi calon tersebut” jelasku. Penjelasanku terakhir, ternyata menunjuk ke arahku. Dalam proses taaruf dulu aku memercayakan urusannya pada ibu dan teman ibu, juga dari aktivitas Aisyah selama di masjid Sabililah selama lebih dari tiga tahun. Datanya cuman itu.

“Haruskah seperti itu Rim?” tanya Barkah

“Idealnya seperti itu. Kita manusia, bisanya meraba-raba. Memperkecil hasil yang fluktuasinya sangat tinggi. Dan yang lebih penting adalah sholat istikharoh Kah” kataku lagi

“Kamu sudah kenal dekat dengan Endar, Kah?” tanyaku

“Kalau mencari data-data seperti yang kamu maksud, insya Allah sudah Rim. Cuman sekarang, aku sedang deg-degan mencari waktu yang tepat dan penghubung yang tepat untuk mengutarakan maksudku kepada Endar. Aku sudah sholat Istikharoh. Aku meminta bantuanmu dan bantuan istrimu untuk menjadi perantaraku Rim” pinta Barkah.

“Meminta aku dan Aisyah untuk menjadi perantara kamu menanyai kesediaan Endar untuk menjadi istrimu?” permintaan Barkah kali ini, lagi-lagi seperti petir di siang hari tanpa mendung yang gelap, yang terjadi ketika aku berada di Solo

“Pliz Rim, tolong aku Rim. Jangan membuat fitnah dengan cara engkau membiarkan aku melakukan proses taaruf tanpa perantara Rim” kata Barkah memelas.

“OK Kah akan aku usahakan. Aku harus bicara dulu dengan Aisyah Kah”

“Eh ngomong-ngomong kamu sudah punya sumber penghasilan belum?” tanyaku

“Kalau kecil-kecilan sih sudah, kayak kamu kerja di PKU Jatinom itu Rim, tapi aku di PKU Karanganom” jawab Barkah

Tut tut tut ponsel Barkah berbunyi

Maaf ada sms Rim, aku buka dulu

From Erlina

To Barkah

Barkah, kamu dimn? Dr Haryanto sdh dtg, tnggl nunggu km cpt dtg!

“Karim, aku harus pamit, maaf ya, dokter Haryanto sudah datang, mau minta tanda tangan keterangan lulus untuk rekap nilai akhir” kata Barkah dengan menyodorkan monitor hanfonnya padaku.

“Iya ya silahkan, secepatnya menghadap beliau, sebelum beliau pergi ke tempat lain” kataku.

Dalam hati..

Waduh misiku gagal, Barkah juga mempunyai misi yang sama mengejar deadline hari ini, setelah dapat tanda tangan dokter Haryanto SpOG, dia mengejar waktu pergi ke Kentingan, membayar biaya pelantikan dokter. Sama. Kalau aku tinggal ke bagian administrasi Obgyn Rumah Sakit, terus pergi ke Kentingan. Biasanya jam berakhirnya pelayanan jam 11.00, padahal hari ini adalah hari terakhir pendaftaran. Kalau tidak ikut periode berikutnya empat sampai enam bulan lagi. Kalau aku tidak punya ijazah resmi, susah mencari surat izin praktik. Pihak PKU memberiku kesempatan satu bulan izin praktik sudah aku kantongi.

Pinjam siapa ya, uang satu juta rupiah?

“Jam sembilan kurang seperempat” kulihat jam tanganku

Masih ada waktu 2 jam. OK. Sekarang aku harus ke bagian Obgyn dulu, siapa tahu nanti ada ide di tengah jalan.

Bagian Obgyn kantornya di lantai 2, tetapi bangsal, kamar bersalinnya atau biasa disebut VK di lantai 1 dekat kantin Rumah Sakit. Kalau menuju kantor Obgyn harus melalui bangsal dan VK tersebut.

“Mas dokter Kariim!”

Suara itu membangunkan lamunanku.

“Mas dokter Karim dimana saja, sebulan ini tidak terlihat?”

Ternyata suara bu Eni pasien yang pernah kritis setelah plasentanya keluar. Hampir direncanakan operasi pengangkatan rahim total atau biasa disebut histerektomi total.

“Jatah saya untuk di bagian Obgyn sudah habis bu, jadi sudah tidak berhak untuk di sini terus” jawabku

Tiba-tiba bu Eni menangis tersedu-sedu. Aku bimbing dia menuju tempat duduk yang kosong di bangsal.

“Ada apa bu?” tanyaku selembut mungkin

“Mas dokter Karim, masih ingat saya kan? Saya yang dulu sampai bertarung mempertaruhkan nyawa melahirkan anak ke 4 saya?” suara bu Eni muncul di sela-sela tangisnya

“Iya bu, semua orang ikut cemas, jelas ingat banget bu” aku menimpali

“Dua hari yang lalu dia yang saya lahirkan meninggal dunia, saya ke sini mau kontrol setelah nifas”

“Innalillaahi wainna ilaihi roji’un”

“Saya masih belum terima gitu mas Karim. Saya berusaha mati-matian sampai hampir dijemput kematian. Ternyata dia tidak mau saya emong mas” suara bu Eni makin menjadi tersengguk-sengguk

Ingin ku rengkuh tubuh bu Eni, ingin aku belai punggungnya, tapi dia bukan makhromku. Seandainya dia itu makhromku pasti sudah aku lakukan. Ingin aku kuatkan hatinya. Dia memang butuh disentuh. Dikuatkah hatinya.

Tapi ya Allah, pada saat yang sama waktuku terbatas, aku harus ke bagian Obgyn mengurus nilai, kemudian harus pusing mikir nyari pinjaman satu juta rupiah. Duh gimana ini.

“Bu Eni, dulu ada sahabat Nabi SAW, bernama Abu Thalhah dan beristri Ummu Sulaim. Abu Thalhah sebagai kepala keluarga, harus mencari nafkah di tempat yang jauh. Pada saat bepergian, anaknya meninggal akibat sakit. Dia tahu anaknya sedang sakit ketika berangkat, ketika beliau ini pulang bersamaan dengan anaknya yang sakit itu meninggal dunia. Orang-orang diminta istri beliau agar tidak mengabari, biar dirinya sendiri yang mengabari.

Ketika masuk rumah, Abu Thalhah menanyai kabar sang anak. Lalu jawab sang istri, “Ia lebih tenang keadaannya dari semula”. Kemudian oleh sang istri, dihidangkanlah suaminya masakan yang lezat. Diajaklah bersenda gurau, hingga terjadilah hubungan suami istri. Setelah Abu Thalhah puas, barulah dia diberi tahu tentang keadaan yang sesungguhnya. Abu Thalhah marah dan mengadukannya kepada Rasulullah SAW esok harinya. Rasulullah SAW malah mendoakan “Baarakallahu fii lailati kumaa” semoga Allah memberkahi kamu berdua untuk malam harimu itu.

Kemudian mengandunglah Ummu Sulaim dari persetubuhan itu. Darinya lahir seorang putra. Ketika lahir, tidak segera diberi ASI dulu, melainkan dibawa menghadap Rasulullah SAW dan dibawakan beberapa biji kurma. Lalu diterima oleh Rasulullah SAW, dikunyahlah kurma itu, kemudian dimasukkan ke mulut anak itu dan diberi nama Abdullah. Dari riwayat disebutkan, ternyata 9 anak dari Abdullah ini, semuanya hafidh Al-Qur’an.

Menangis atas duka yang menimpa itu tidak apa-apa, tetapi sabar pada saat musibah datang seperti yang dialami Ummu Sulaim itu bu, insya Allah akan mendatangkan kebaikan yang luar biasa dari Allah.

Anak yang mati sebelum baligh, asal orang tuanya sabar dan tabah dan beriman kepada Allah, Allah telah membangunkan bagi orang tua itu rumah di surga bu.”

Ya Allah aku bisa berkata-kata sedemikian bagi bu Eni. Sabar pada saat musibah datang itu akan mendatangkan kebaikan yang luar biasa dari Allah. Apa tidak keliru. Bukankah Allah telah berfirman, Allah sangat murka, mengapa kalian bisa berkata tetapi tidak melakukannya? Nasihatku untuk bu Eni, juga mengena untuk diriku juga.

Tiba-tiba saja..

Aisyah datang, muncul di antara aku dan bu Eni..

“Eh.. bu Eni.. ini Aisyah istri saya”

“Saya Aisyah”

“Saya Eni” yang masih menyeka air matanya.

Bu Eni segera menghambur memeluk Aisyah erat-erat. Seperti dia mendapatkan tempat untuk mencurahkan semua kegalauan di hati. Ingin dia curahkan pada Aisyah. Lama sekali.

“Sabar ya bu” kata Aisyah

“Ya Aisyah”

Beberapa saat kemudian..

Entah terbawa suasana haru atau apa

“De Ais.. ssi..ini” kataku ragu

Kemudian..

Kupeluk Aisyah erat-erat. Tidak aku pedulikan dimana aku berada. Rasanya seperti telah dipisahkan oleh waktu ratusan tahun.

“Maafkan aku de Ais” aku menangis tersedu-sedu.

“Maafkan mas yang terlalu egois akhir-akhir ini”

Nasihat tentang kesabaran Umu Sulaim untuk bu Eni, ternyata juga membuat aku tersentuh. Tiba-tiba saja ego, atau apa yang selama ini menjadi barier, hilang begitu saja, berganti menjadi suasan haru, rasa kasihan, rasa menyayangi, rasa aku harus melindungi istriku semuanya berkumpul menjadi satu.

“Tidak ada yang salah mas, de Aislah yang salah” kata Aisyah yang juga menangis.

Bu Eni pun segera ikut merasakan kebahagiaan kembalinya keutuhan hubungan aku dengan de Ais. Menangisnya kini bukan didominasi kehilangan bayinya tetapi haru bahagia melihat aku bisa berpelukan dengan Aisyah, tanda kembali normalnya hubungan suami istri. Pesan emosi yang mengalir dari aku dan Aisyah tertangkap juga oleh radar emosi bu Eni.

“Anu… bu Eni.. ini saya mau mengurus administrasi pelantikan dokter, batas waktunya tinggal satu setengah jam bu” kataku dengan sisa-sisa air mata yang masih menempel di bulu-bulu mata.

“Ya, ndak pa pa mas Karim, maafkan saya yang mengganggu waktu mas dokter” kata bu Eni

“Rumah saya di belakang PMI beberapa blok di belakang PMI, nanti tanya Karim yang dokter muda, insya Allah sudah banyak yang tahu, main saja bu”

Aku gandeng erat tangan Aisyah yang lembut, berjalan menjauh dari bu Eni menuju kantor administrasi Obgyn. Ku genggam terus tangan lembut itu, serasa tidak mau dilepaskan.

“Ngomong-ngomong tadi de Ais kesini mau ngapain?” tanyaku

“Mas Karim tadi bilang, mau bayar pendaftaran pelantikan dokter. Kayaknya uangnya ketinggalan ya mas. Coba dicek”

Kemudian aku keluarkan tasku, aku cari-cari amplop yang berisi uang.

“Iya benar.. tidak ada” aku nyengir kuda

“Ini amplopnya” kata Aisyah manja

“De Ais sini dekat sini”

“Jangan sekarang mas”

“Bukan.. bukan itu he he”

“Ihh mas”

Lenganku dicubit Aisyah, gemes padaku

Kemudian Aisyah mendekatkan kepalanya.

“Ada apa sih mas?”

“Mas sebenarnya malu, ternyata biaya pelantikan dokter dua juta rupiah, di amplop itu adanya cuman satu juta rupiah… boleh pinjam uang de Ais”

“Tentu saja boleh dong mas. Lebih dari itu juga boleh banget. Butuhnya sekarang mas?”

“Iya, nanti saja ngambilnya setelah urusan di Obgyn selesai. Terima kasih ya sayang” kataku

“Sayang?”

“Kok?”

“Apa ga boleh?”

“Sudah lama kata itu ga pernah terdengar lho mas”

“hiih”

“nanti aku gemesin sampe habis lho de”

“Silakan”

“hee”

“Assalamu’alaikum matahariku yang cantik”

“Wa’alaikumsalam pangeranku”

TAMAT

Surakarta, 16 April 2008 11.40 am

kebersamaan yang Indah kita

Daisypath Anniversary Years Ticker