Friday, December 31, 2010

Bisnis Bagi Kaum Muslimin

Yusuf Alam Romadhon[1]

Mengapa bisnis itu penting bagi kaum muslimin? Ketika anda mempunyai usaha, maka anda akan menjadi mandiri. Ketika anda menjalankan bisnis atau usaha, maka rasa percaya diri anda akan mantap. Ketika anda, memutar roda bisnis secara halal, ahsan, dan bersusah-susah, berpayah-payah untuk itu, maka anda akan mempunyai kebebasan memilih tanpa dipengaruhi oleh thaghut. Baik berupa godaan untuk korupsi, ancaman dari orang lain agar berbuat maksiat ataupun keadaan yang memaksa untuk berbuat perbuatan yang tidak baik. Membuat anda mendapatkan karunia kemuliaan sebagai hamba Allah yang tersirami oleh nur-Nya, oleh rahmat-Nya dan segala kebaikan yang berasal dari sumber yang tidak terbatas, yaitu Allah SWT.

Memutar bisnis secara halal, ahsan dan bersusah-susah serta berpayah-payah itu, akan mendatangkan ketenteraman hati dan jiwa karena telah menemukan suatu ketundukan yang itu hanya ditujukan untuk Allah. Akan mendatangkan ketenangan dalam keluarga. Serta darinya akan melahirkan amal-amal perbuatan yang baik. Darinya membuahkan infaq, shodaqoh, zakat serta segala pengerahan dana pada kebaikan untuk umat manusia. Pengerahan dana untuk memuliakan martabat manusia. Pengerahan dana untuk menanamkan pada hati manusia bahwa kemuliaan itu hanyak milik Allah SWT. Dalam rangka menjadikan kalimah Allah sebagai kalimah yang tertinggi dan agama seluruhnya hanya milik Allah. Sehingga suatu saatnya nanti kaum muslimin akan bergembira karena memperoleh kemenangan dari Allah, Dzat yang memenangkan hamba yang dikehendaki-Nya. Dzat yang Maha Mulia lagi Maha Penyayang.

Adalah keliru kalau beranggapan bahwa hidup sederhana identik dengan sedikitnya materi atau harta yang dimiliki. Keliru pula kalau zuhud itu harus miskin dan tidak punya harta sama sekali. Sebenarnya kalau kita melihat bagaimana agama ini diperjuangkan maka tidak sedikit harta benda dibutuhkan untuk menopang perjuangan tersebut. Nabi Muhammad SAW bukanlah miskin, tapi kaya, hanya saja beliau memilih gaya hidup sederhana layaknya orang miskin. Inilah yang menurut saya dengan keterbatasan pengetahuan agama, yang saya pahami tentang konsep zuhud. Kalau beliau tidak mempunyai harta, maka bagaimana beliau dapat menikahi Khadijah dengan mas kawin 25 ekor unta. Kalau kita lihat dalam ukuran zaman sekarang, maka seekor unta berharga ± 10 – 15 juta. Taruhlah dengan harga 10 juta per ekor, maka nilai 25 ekor unta adalah Rp. 250 juta rupiah. Seperempat miliar rupiah!!! Coba bayangkan berapa banyak pemuda yang menikah dengan mas kawin seperempat miliar rupiah? Se Indonesia mungkin kita hanya dapat menghitung dengan jari jumlah pemuda yang menikah dengan mas kawin sebesar itu.

Ketika menghadapi perang Tabuk, yaitu perang yang ditujukan menghadapi pasukan Romawi, negara adidaya ketika itu, para sahabat berlomba-lomba menyerahkan sebagian bahkan ada yang seluruh harta seperti yang dilakukan oleh Abu Ash-shiddiq. Waktu itu Ustman bin Affan sudah mempersiapkan kafilah dagang menuju ke Syam sebanyak dua ratus onta lengkap dengan barang-barang yang diangkutnya dan dua ratus uqiyah. Maka seketika itu juga, menshodaqohkan semuanya, lalu masih ditambah dengan shodaqoh berupa seratus ekor unta dengan barang-barang yang diangkutnya, kemudian ditambah lagi dengan seribu dinar yang diletakkan di bilik Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahkan Utsman masih mengeluarkan shodaqoh lagi, lalu ditambah lagi dan ditambah lagi, hingga semuanya senilai sembilan ratus ekor unta dan seratus ekor kuda, tidak termasuk uang kontan. Walaupun semua sahabat telah mengeluarkan harta sekuat-kuatnya sesuai kemampuannya, namun ternyata juga masih kurang, karena jumlah pasukan yang terjun sebanyak tiga puluh ribu sahabat, sehingga pasukan ini disebut dengan Jaisyul-Usrah (pasukan yang keadaannya sulit).

Lesson learned buat kita adalah, bahwa dakwah dan perjuangan menegakkannya tidak saja membutuhkan pengorbanan jiwa saja, juga membutuhkan harta yang tidak sedikit jumlahnya. Tantangan dakwah yang kita hadapi sekarang, bukan saja saudara-saudara kita yang teraniaya seperti di Palestina, Afganistan, Irak, Aljazair, Moro, Patani serta daerah-daerah yang dilanda konflik lainnya. Juga daerah damai dimana di situ mengalami tantangan-tantangan yang tak kalah berat yaitu perang pemikiran, budaya melalui media-media yang menghabiskan dana yang tidak saja besar tetapi luar biasa besarnya. Kekalahan telak kita dalam peperangan ini adalah, jauhnya umat ini terutama dari kaum mudanya dari sumber pedoman hidupnya yaitu qur’an dan sunah. Banyak kalangan muda yang malu kalau menampakkan identitasnya sebagai muslim atau muslimah. Media-media ghoirul Islam telah berhasil menanamkan kebanggaan-kebanggan bila mengikuti gaya hidup, nilai-nilai sekularisme yang dianutnya. Akibatnya kaum muda Islam bukan hanya malu mengenakan identitas keislamannya, bahkan banyak dari mereka yang buta huruf Alqur’an.

Yang lebih kasat mata, kita lihat berapa puluh hingga ratusan milyar rupiah/tahun yang diinvestasikan perusahaan rokok, yang secara medis sudah terbukti banyak menelan korban karena sakit kanker, jantung dan pembuluh darah. Mereka membenamkan uang miliaran rupiah itu untuk menanamkan suatu gaya hidup yang mengekspresikan suatu identitas tertentu, mulai dari macho, pria yang suka tantangan, hingga mereka yang punya identitas diri yang berbeda dan menyukai kebersamaan. Para konsumen yang sudah ditanamkan kebanggaan dengan gaya tertentu yang mereka anut itu, hingga dapat mengidentikkan gaya hidupnya dengan mengkonsumsi jenis rokok tertentu.

Bidang lainnya yang tidak kalah seru, mulai dari gaya makanan, gaya rumah, gaya mobil, gaya minum, fashion, gaya mengekspresikan keindahan tubuh, media-media yang dianggap mewakili jiwa muda nan gaul hingga tren metroseksual, tak lepas dari uang miliaran hingga triliunan yang dibenamkan untuk menanamkan nilai-nilai dan gaya itu dalam hati anak muda muslimin. Lengkaplah sudah bahwa, orang yang mengekspresikan identitasnya sebagai muslim atau hanya sekedar gaya hidup sehat yang tidak merokok, akan tampak menjadi kuno/jadul (jaman dulu) banget, kumuh, tidak terdidik, bodoh, rendah dan kampungan.

Lalu apa balasan serangan kita sebagai orang yang mengaku sebagai muslim serangan-serangan yang demikian gencar dan bertubi-tubi dengan frekuensi hitungan menit. Jangankan dalam kasus identitas muslim, untuk kampanye rokok saja dimana skor dokter vs perusahaan rokok = -10 vs 20 (skor minus karena separoh dokter merokok!). Kekalahan demikian telak, karena dokter kurang usaha marketing program kesehatannya, apalagi kalau masalah dana. Yang kedua, banyak mahasiswa kedokteran, dokter umum, dokter spesialis hingga profesornya adalah perokok berat. Bahkan peringatan MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN dianggap sebagai sesuatu yang janggal, bila iklan rokok tidak menyertakan peringatan itu. Keberhasilan program pemasaran anti merokok, tidak akan berhasil bila hanya mengandalkan media top of line lewat kampanya peringatan kesehatan dikemasan maupun iklan rokok. Tetapi, yang lebih penting adalah media-media keteladanan, media-media sharing pengagum tidak merokok. Walaupun yang terakhir kelihatannya murah, mereka juga butuh dana besar.

Kembali pada persiapan kaum muslimin dalam menghadapi perang pemikiran dan media melawan ghoirul Islam. Dalam perang ini dibutuhkan media-media dakwah yang komprehensif, holistik dan sistematik. Ringkas, tapi penjabarannya yang luar biasa sulit dan kompleks. Untuk operasional, agar media-media itu berjalan juga sangat membutuhkan dana yang tidak kecil. Upaya itu butuh perencanaan yang matang dan butuh sesuatu yang sangat penting terhadap terwujudnya rencana yang sudah dicanangkan yaitu EKSEKUSI/PELAKSANAAN. Sebenarnya, sudah pernahkah kita saat ini menghimpun kekuatan termasuk didalamnya menghimpun kekuatan dana seluruh kaum muslimin seperti yang pernah dilakukan oleh rasulullah SAW, dalam menghadapi perang Tabuk di atas. Sudah pernahkah terdengar kabar umat Islam menghimpun dana dan kekuatan menghadang serangan-serangan gencar perang pemikiran yang dilancarkan oleh kekuatan ghoirul Islam?

Obyek dakwah kita bermacam-macam, ada yang hanya berinteraksi dengan sikap baik kita langsung tersentuh pikiran dan hatinya, atas idzin-Nya, Allah SWT mendatangkan hidayah-Nya. Ada pula yang disentuh logika dan akalnya dulu baru hatinya tersentuh hidayah atas idzin Allah SWT. Namun ada pula yang harus disentuh perut dan orientasi materinya dahulu baru hatinya atas idzin Allah SWT mendapatkan hidayah-Nya.

Mengenai kisah yang terakhir ini, dapat kita petik dalam sirah nabawiyah, ketika perang Hunain pada saat pembagian harta rampasan di Ji’ranah, orang-orang yang baru masuk Islam dan hatinya masih lemah diberi bagian lebih dahulu dengan jumlah yang relatif lebih besar. Abu Sufyan bin Harb diberi empat puluh uqiyah dan seratus ekor onta. Itu pun dia masih meminta bagian untuk anaknya, dengan berkata, “Bagaimana dengan anakku Yazid?”

Maka beliau SAW memberi Yazid sejumlah itu pula. Abu Sufyan bertanya lagi, “Bagaimana dengan anakku Mu’awiyah?” Maka beliau SAW memberinya sejumlah itu pula.

Beliau SAW memberikan seratus ekor onta kepada Hakim bin Hizam. Tapi dia masih meminta seratus ekor onta kepada Hakim bin Hizam. Tapi ia masih meminta seratus ekor onta lagi, dan permintaannya ini pun dipenuhi. Shafwan bin Umayyah diberi seratus ekor onta, kemudian seratus ekor lagi dan ditambah seratus ekor onta lagi. Seterusnya hingga para mualaf dari kaum Quraisy mendapatkan harta ghonimah yang jauh lebih banyak ketimbang kaum Anshor yang mendapatkan sisa-sisanya, walaupun ada rasa tidak enak yang mengganjal. Setelah mendapatkan taujih dari Rasullulah SAW, akhirnya kaum Anshor menangis tersengguk-sengguk menyatakan penyesalannya, atas rasa tidak enak tersebut, bahwa tindakan Rasulullah SAW mempunyai tujuan keberhasilan dakwah jauh ke depan.

Hikmah yang dapat dipelajari adalah bahwa terlepas bagaimanapun kondisi obyek dakwah kita, peran harta atau secara lebih luas ekonomi atau basis bisnis yang kokoh. Tidak saja untuk mendekati obyek dakwah yang harus disentuh perut dan orientasi materinya, hingga obyek dakwah yang hanya berinteraksi dengan sikap kita sudah mendatangnya hidayah dengan idzin-Nya. Semuanya membutuhkan basis bisnis yang kokoh. Apalagi banyak aktivis dakwah, yang tercoreng citranya ketika ada masalah dengan amanah yang berkaitan dengan uang. Walaupun bukan mencuri atau menyelewengkan uang, hanya karena ketidak mampuan membayar hutang saja yang sudah melebihi tenggat waktu yang dijanjikan. Lebih parah lagi karena yang meminjam uang adalah ustadz, obyek dakwah ini rela hingga meminjam uang di kantor, mencicil dengan potongan gajinya, tatkala telah datang waktu pembayaran ustadz diam tidak menanya, dan tak menunjukkan sama sekali rasa bersalah. Maka bisa-bisa obyek dakwah ini mendapatkan citra buruk tentang Islam karena tertutup oleh pelaku aktivis dakwah dalam hal ini diperankan oleh ustadz yang bermasalah tadi. Na’udzubilaahi mindzalik!

Apa yang dilakukan oleh banyak aktivis dakwah, kalau kita melihat dalam skala yang lebih besar adalah upaya atas idzin-Nya untuk melakukan suatu proses transformasi masyarakat dari keadaan ghoirul Islam dalam arti luas penerapannya menjadi masyarakat yang benar-benar mewujudkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai perbandingan bagaimana merosotnya kondisi umat Islam saat ini, dapat kita lihat bagaimana gambaran keadaan masyarakat 400 tahun yang lalu. Kisah ini dikutip dari buku Bagaimana Menyentuh Hati; Kiat Memikat Obyek Dakwah karya Abbas Assiisiy. Yaitu, tatkala masa pemerintahan Sultan Sulaiman Basya Al-Qonuni, Sultan Turki, pernah diiklankan lowongan kerja untuk menjadi seorang imam Masjid Istambul. Syarat-syarat yang dicantumkan dalam iklan tersebut adalah :

1. Menguasai bahasa Arab, Latin, Turki dan Persia

2. Menguasai Al-Qur’an, Injil dan Taurat

3. Menguasai Ilmu Syariat

4. Menguasai Ilmu Alam, Matematika, dan mampu mengajarkannya

5. Pandai menunggang kuda, bermain pedang, dan berperang

6. Berpenampilan menarik

7. Bersuara indah.

Dapat kita bayangkan betapa berat kriteria-kriteria yang disyaratkan untuk menjadi imam masjid, menurut ukuran sekarang. Kenyataanya kemampuan-kemampuan seperti itu adalah wajar untuk ukuran zaman itu. Berarti kurikulum formal, non-formal dan informal zaman itu sudah mencapai kompetensi sedemikian berat untuk ukuran kita zaman sekarang. Berarti pula kalau kita melihat kualitas umat Islam zaman ketika itu dengan zaman kita sekarang mengalami kemerosotan yang luar biasa. Untuk mengembalikannya membutuhkan banyak sekali sumber daya, banyak sekali ruang-ruang kelas kecil yang harus dibangun agar anak didik mempunyai kompetensi yang pernah dicapai di zaman 400 tahun yang lalu. Dibutuhkan banyak sekali ustadz-ustadz yang harus disekolahkan ke pusat-pusat pendidikan unggul di luar negeri. Dibutuhkan dana yang banyak untuk mendirikan markas-markas dakwah yang menjadi pusat-pusat pendidikan dan pencerahan keIslaman masyarakat. Dibutuhkan banyak sekali pelatihan-pelatihan agar markas-markas dakwah itu benar-benar mempunyai kualitas yang bisa diandalkan. Dan sebagainya dan sebagainya.

Karena itu tepatlah kiranya Allah menyuruh kita agar “wajahadu biamwalikum wa anfusikum ‘ berjihadlah kalian dengan harta-harta kalian dan diri-diri kalian!’ ” Dimana salah satu cara untuk mengoptimalkan peran-peran maaliyah aktivis dakwah adalah mencerdaskan skill bisnis mereka.

Wallahua’lam



[1] Dokter, pengajar, penulis

kebersamaan yang Indah kita

Daisypath Anniversary Years Ticker