Tuesday, September 29, 2009
aku hanyalah sebutir debu dalam sejarah.....
aku hanyalah sebutir debu dalam sejarah....
yang mudah sirna tertiup angin zaman..
setiap detik waktu telah merontokkan kesempurnaanku sebutir demi sebutir..
setiap hariku sombong dengan dosa yang tlah ku perbuat
setiap saat slalu merasa tlah berbuat banyak kebaikan
yang belum tentu itu adalah buah keikhlasan
aku hanya ingin hidupku bermakna
aku hanya ingin dicintai-Nya
melihat Maha Sempurna Wajah-Nya
dikasihi oleh yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang....
dicintai oleh Sang Maha Pemberi Cinta....
dengan kondisi diriku seperti ini...
Thursday, January 22, 2009
Thursday, July 3, 2008
Dari novel "Assalamu'alaikum matahariku" bagian ke 23
Badai telah berlalu… angin kencang berhembus lagi
Air itu mengalir dengan tenang menyusuri bebatuan yang menghalanginya. Air itu begitu jernih menampakkan apa yang ada di dalamnya dan apa yang dilingkupinya. Air itu begitu mengalir dengan sempurna, tanpa beban, mengalir begitu saja...
Air itu terus bergerak, tidak lelah dan tiada jemu mengalir dan mengirimkan pesan kepada telinga dengan suara-suaranya yang gemericik.
Begitu tenang, begitu nyaman, menjalani takdir yang Allah tentukan padanya. Irama gemericik yang tenang, berseling kemudian dengan sayup-sayup suara kicau burung kenari yang riang gembira menyambut datangnya pagi yang mengkhabarkan harapan baru dan suka cita yang membuncah. Di sela-selanya hembusan angin pagi nan dingin memberikan sapaan khasnya di telinga seraya memberikan kesejukan yang menerpa kulit siapa saja yang tidak tertutupi kain. Alunan musik alam yang dikaruniakanNya menciptakan irama pagi yang dinamis, kadang mengalun pelan kadang kencang berselang-seling tak terduga, terkadang begitu detil, terkadang tersamar disela-selanya suara gemericik air tetap menjalankan iramanya yang konsisten. Nikmat pagi yang menambah dalamnya hati untuk menghayati bahwa tiada sia-sia Allah menciptakan setiap detil makhluk yang dikaruniakan kepada manusia. Maha suci Engkau ya Allah.
Setelah sembahyang subuh dan membaca dzikir pagi aku pergi ke taman di halaman belakang pondok Isykarima. Menghayati tenangya air yang mengalir tanpa belenggu, tidak seperti keadaanku saat ini, gelar dokter sudah diambang mata, impian yang aku dambakan bertahun-tahun selama pendidikan, hampir dapat kurengkuh. Mengapa harus menghadapi belenggu yang benar-benar menghantuiku di setiap detik hidupku saat ini. Meski begitu, aku bertekad untuk tidak menceritakan keadaanku ini kepada Iqbal, Harun, mbak Malika, mbak Fatimah atau bahkan kepada bapak ibu di Nganjuk. Biarlah aku simpan untuk diriku sendiri. Aku tidak mau merepotkan orang-orang yang aku cintai. Orang-orang yang mengajariku cinta, mengajariku kasih sayang. Seribu wajah bulan yang bersahaja telah berkumpul pada mereka berdua, bapak ibuku. Walaupun hidup mereka susah, tidak pernah mereka tampakkan kepada kami. Mereka selalu menginginkan kami bahagia. Bahkah terhadap dik Iqbal yang telah membuat rumah satu-satunya tempat tinggal dijual, bapak ibu, tidak pernah memperlihatkan kekecewaannya. Kepulangan dik Iqbal saja sudah merupakan kebahagiaan tersendiri. Tidak pernah mengungkit-ungkit kebaikan yang telah mereka berikan. Satu pelajaran yang sangat berharga bagiku adalah keikhlasan. Inilah yang saat ini aku harus berjuang keras untuk mendapatkan itu.
Kalaulah aku ceritakan kepada ustadz Sholahudin, karena aku ingin curhat belaka, aku ingin diberikan nasehat yang menentramkan jiwaku. Aku yakin beliau mampu menjaga rahasia ini. Aku tidak mau keluarga besar bapakku yang anak langsung Kiyai, tercoreng mukanya karena aib ini.
Begitu tiba di Solo aku setelah memastikan permasalahan dik Iqbal bisa tertangani, termasuk CD rahasia yang dibawa dik Iqbal dapat digunakan bukti dalam persidangan. Dari koran aku mengetahui ternyata tembakanku mengenai mata kaki dokter KindoNo dan Kolonel Parwoto, sebelum akhirnya kedua orang itu saling baku tembak setelah kami berhasil lolos atau bunuh diri bersama, wallaahu a’lam. Sementara Yo yo menjalani persidangan yang menyatakan dirinya bersalah dan menjalani hukuman berat.
Yang membuatku terhibur adalah dik Iqbal benar-benar telah hadir di tengah-tengah keluarga setelah sekian lama menghilang. Walaupun besar sekali biayanya. Seminggu setelah dik Iqbal pulang ke Nganjuk, rumah terakhir bapak dan ibu terjual. Laku tepat persis seperti jumlah hutang yang ditanggung dik Iqbal seratus lima puluh juta rupiah. Permasalahan selanjutnya yang timbul adalah di manakah bapak ibu harus tinggal. Kalau dulu saat menjual rumah satu-satunya yang dihuni untuk membayar uang gedung masuk di Fakultas Kedokteran Unissula, bapak ibu sementara waktu pindah di rumah nenek, menunggu rumah yang dibangun di atas sawah yang dimiliki di desa kedondong layak dihuni. Sekarang semua sawah sudah habis. Mau tidak mau harus mengontrak rumah. Akhirnya diputuskan mencari kontrakan di dekat rumah budhe di Kediri, yaitu desa Mukuh Pagu. Setelah pak dhe meninggal budhe hidup sebatang kara. Tidak memiliki keturunan. Di balik musibah ini ada hikmah besar, mengumpulkan kembali keluarga besar kakek, meneruskan perjuangan pak dhe dengan yayasan yang telah dirintisnya, dan yang lebih membanggakan lagi, dik Iqbal mau meneruskan perjuangan pak dhe, sebagaimana wasiat beliau agar ada dari saudara beliau yang menjadi penerus.

”Apa? Jadi benar apa yang dikatakan dokter KindoNo itu? Tanyaku dengan mata membelalak tidak percaya.
”Iya mas” kata Aisyah tertunduk dengan isak tangisnya.
”Masya Allah, Astaghfirullah, aku sangat berharap engkau berkata tidak de” kataku benar-benar shock. Benar-benar tidak percaya dengan apa yang diucapkan Aisyah.
”Aku mengenal mas KindoNo sejak SMA di Jakarta. Namaku yang sebenarnya Nina Fania. Dulu di Jakarta, aku mengikuti gaya hidup anak-anak metropolis, malam ke diskotik, cafe, dan dari sana aku mengenal dan jatuh hati pada mas KindoNo. Aku berbunga-bunga, melayang di awan-awan oleh kata-kata mas KindoNo yang membuai. Itulah jatuh cintaku yang pertama mas. Aku menjalin hubungan dengan mas KindoNo sampai tiga tahun, sekali lagi maafkan Ais mas, Ais tidak bisa menjaga diri, kami sudah menjalin hubungan layaknya suami istri, tidak pernah hamil. Aku insyaf. Ketika insyaf itu, mamaku tahu, kemudian beliau memutuskan untuk memindahkan aku ke Solo. Sebelumnya mama membawaku ke Singapura untuk melakukan operasi hymenoplasti, agar aku secara fisik benar-benar gadis perawan.
Ternyata itu tidak bisa menutupi siksaan batinku. Hati ini tidak dapat ditipu mas, hatiku yang ternoda tidak dapat bersih lagi. Bayang-bayang dosa itu selalu menghantuiku. Seorang ustadzah di Solo, membimbingku dalam perjalanan hijrahku menjadi seorang yang benar-benar bertaubat. Beliau memberiku nama hijrah Aisyah.”
Penjelasan Aisyah yang jelas dan gamblang itu membuatku semakin shock. Rongga dada ini semakin sesak saja oleh rasa jengkel, rasa benci, merasa dikhianati, tetapi tidak berdaya.
”De Ais, lebih baik, aku tidak pernah mendengar sama sekali pengakuanmu de. Hati ini benar-benar terluka. Luka dan digoreskan luka baru lagi. Cukup sekali saja aku terluka, ketika sebelum aku ngaji dulu, memutuskan hubunganku dengan Wulan. Walaupun hati ternoda dengan zina hati, tetapi tubuh kami sama-sama terjaga kesuciannya. Itu satu-satunya pengalamanku. Ohh dindaku sayang... mengapa engkau begitu..tega” tak kuasa tangis kepedihan, kesedihan dan ketakberdayaanku bersatu padu, membuatku menangis tersedu-sedu.
”Maafkan Ais mas, tidak jujur pada mas, saat mas Karim dulu melamar aku. Terus terang aku sudah jatuh cinta dengan mas, Ais ga mau kehilangan mas. Ais sangat mencintai Mas.”
”De Ais.. mas percaya, bahwa de Ais benar-benar sudah taubatan nasuha. Pikiran logis mas, mengatakan demikian..” kataku dengan isak tangis
”Tapi emosi dan ego mas masih belum bisa diajak demikian. Biarkan mas, pergi seminggu dua minggu di Pondok Isykarima Tawangmangu sana. Mas mau menenangkan diri. Mas mau curhat sama ustadz Sholahudin. Mudah-mudahan Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk tetap berjodoh” kataku melanjutkan karena tangisanku benar-benar membuat bicara tidak lancar.
”Mas Karim.....aku tetap mencintaimu... jangan tinggalkan de Ais mas” Aisyah menjerit keras dengan tangisannya yang makin keras. Mencoba merengkuhku untuk memeluknya, tapi aku segera menolaknya.
Masih terngiang di telinga, terbayang di mata, semuanya dengan jelas saat-saat peristiwa terakhir itu, sebelum aku berangkat ke pondok Isykarima. Selama di pondok Isykarima, aku banyak mengikuti kegiatan-kegiatan santri di sana. Ikut dalam kelas, banyak membaca Al-Qur’an, banyak sholat sunnat, sholat dhuha, sholat malam, membaur dalam kegiatan dengan masyarakat sekitar pondok. Aku benar-benar ingin lari dari kenyataan, walaupun sejenak. Ustadz Sholahudin sudah aku ceritakan semua permasalahan yang membelenggu dan menghantui diriku saat ini.
”Semua tergantung kepadamu Rim” kata ustadz Sholahudin memulai pembicaraan
”Tergantung kepada saya tadz?” kataku dengan penuh tanya
”Kalau engkau menerima dengan penuh keikhlasan, surga dunia sudah tampak di mata. Tetapi kalau engkau menceraikannya, itu adalah hak kamu. Mengenai alasan engkau sudah mendapatkannya” jelas ustadz Sholahudin
”Yang saya pertimbangkan untuk tetap bertahan, justru bukan untuk memuaskan saya tadz. Saya menjaga perasaan bapak ibu saya, saat ini mereka mendapatkan musibah besar yang diakibatkan oleh adik saya. Usaha adik saya, salah kelola, bangkrut. Utang-utang yang diakibatkannya diambil dari penjualan rumah satu-satunya bapak ibu yang mereka miliki. Saya tidak ingin menambah beban berat lagi kepada mereka berdua, yang susah payah mendidik saya hingga seperti saat ini. Saya tidak ingin mencoreng kehormatan keluarga besar, karena perceraian yang seandainya nanti saya pilih. Keluarga besar saya dan de Ais banyak berlatar belakang kiyai. Tokoh agama yang sangat dihormati.” kataku menjelaskan kepada ustadz Sholahudin.
”Untuk lebih memantapkan, jangan kamu lihat faktor-faktor dari luar saja Rim, coba carilah alasan-alasan yang menguatkan dari dalam hatimu sendiri” kata ustadz Sholahudin
”Saya sudah melakukan tadz, satu-satunya alasan dari dalam diri saya sendiri adalah saya tidak terima, saya merasa dikhianati. Hingga saya menikah ini, saya tetap menjaga kesucian saya. Hanya kesucian hati saya yang mungkin kurang. Dulu saya pernah pacaran, paling banter hanyak duduk di bis berdua, tidak lebih dari itu. Kok saya bisa-bisanya mendapatkan jodoh yang sudah ternoda, walaupun dia sudah taubatan nasuha. Saya tidak habis fikir tadz. Kata Allah penzina itu tidak akan menikah dengan penzina. Orang mukmin itu hanya menikah dengan orang mukmin. Saya tidak mendapati dalam hidup saya seperti itu tadz” kataku dengan tanpa terasa hati itu terguncang sedih dan melelehlah air mata ini di pipi.
”Apa salah saya tadz? Apakah itu hukuman zina hati yang pernah saya lakukan dulu? Sedemikian besarkah salah saya tadz?” kataku dengan tangis yang makin menjadi
”Di luar sana, banyak laki-laki yang sudah mencicipi puluhan gadis perawan, bisa menikah pula dengan gadis perawan tadz. Ada apa dengan diriku ini tadz?” kataku menyambung kembali
”Istighfar Karim! Istighfar Karim! Istighfar Karim!” tiba-tiba saja ustadz Sholahudin membentakku demikian keras
Aku menangis sejadi-jadinya, aku peluk ustadz Sholahudin keras-keras, ingin ku curahkan semua sedihku kepadanya. Seakan tali-tali yang menjerat jiwa dan hatiku terlepas semuanya.
”Saya sudah sangat mencintai Aisyah saat ini. Bercerai itu sama saja menarik kuat-kuat kedua ujung hati ini hingga terputus dan berdarah-darah tadz. Saya sudah pernah mengalaminya dulu tadz. Saya sudah tidak ingin lagi berjuang menyetalakan hati dengan hati yang lain selain Aisyah. Sudah capek tadz!” kataku di sela isak-isak tangisku
Ustadz Sholahudin memelukku lebih erat lagi dan membelai-belai punggungku.
”Hanya dua kata yang aku sarankan padamu Rim, memang berat kenyataan yang kamu hadapi, tapi kamu harus bisa. Sabar dan ikhlas. Sabar dan ikhlas.” bisik ustadz Sholahudin
Bisikan itu bagaikan menghipnotisku. Bisa menenangkan kegelisahan, kesedihan, kemeranaan dan kenelangsaan yang selama ini mengepungku hingga aku tidak bisa keluar kemana-mana. Yang membuat duniaku serasa sempit dan menyesakkan. Bisikan itu benar-benar membuat hati ini menjadi lapang kembali, bahkan jauh lebih lapang ketimbang lapangan sepak bola.
”Ya tadz” jawabku lirih
”Sabar dan ikhlas” kembali aku berkata mengulangi apa yang diucapkan ustadz Sholahudin.

Dalam otak rasionalku, aku benar-benar menyadari baik aku maupun de Aisyah adalah manusia. Sesosok makhluk yang lemah, tidak sempurna, banyak kesalahan di sana-sini. Mestinya yang aku lihat saat ini adalah sesosok de Ais yang sudah taubatan nasuha. Bukan masa lalunya. Mestinya yang aku lihat adalah de Ais juga manusia seperti yang lainnya, kemuliannya, pertaubatannya tidak lain hanyalah karena karunia dan ampunan dari Dzat Yang Maha Mengampuni. Mestinya aku juga bisa menyadari sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Syafii, ’Ya Allah Aku bukanlah ahli surga, tetapi aku tidak mampu menahan siksa api neraka. Ya Allah, aku hanya bisa berharap mendapatkan ampunanMu yang mampu menghapus dosa-dosa hambaMu.’ Mestinya aku menyadari bahwa ada manusia yang menjadi mujahid, gugur berjuang di jalanMu, hanya ada karena Maha Pengampun Mu dan Rahmat dari Mu ya Allah.
Perjumpaanku dengan de Ais dalam rumah tanggaku ini, mestinya aku sadari adalah bagian dari rencanaMu. Engkau Maha Tahu akan yang terbaik bagiku dan bagi de Ais. Aku sudah berikhtiar sebelum aku memutuskan menikah dengan de Ais. Aku sudah mengamati perilakunya selama ini. Sholat istikharah sudah aku laksanakan, bahkan aku selalu mendapatkan kemantapan hati setelah sholat istikharah tersebut. Mestinya aku yakin pasti ada hal-hal terbaik yang Allah rencanakan padaku setelah menikah dengan de Ais.
Tetapi keadaan menjadi lain setelah aku kembali ke Solo, ke rumah kontrakanku. Tiba-tiba saja, rasa cinta itu hilang, entah kemana perginya. Tiba-tiba saja aku tidak tertarik sama sekali dengan cantiknya raut wajah de Ais. Semua terasa hampa, tidak ada rasa. Aku mengalami mati saraf hati. Tidak ada gairah. Aku coba mengaduk-aduk seluruh isi dalam ruang hati. Aku cari-cari dimana rasa cinta itu. Dimana rasa kasih sayang yang dulu pernah hadir di sana. Dimana rasa rindu bertemu dengan pujaan hati. Entah kemana, aku tidak mendapatkan lagi. Semua rasa optimisme yang telah aku peroleh dari pondok Isykarima, tiba-tiba lenyap di telan kenyataan. Yang aku bisa lakukan hanyalah berpura-pura. Menyapa de Ais sekedarnya, kalau perlu saja.
Tidur masih satu tempat tidur, tapi aku lebih nyaman kalau memunggunginya. Bahkan memilih tidur di ruang tamu. Membayangkannya, segera muncul bayangan wajah KindoNo keparat itu.
Semua kebiasaan rutin masih berlangsung, sarapan pagi di rumah, pergi ke pasar Ledoksari kalau belanja di hari minggu. Semuanya berjalan tanpa warna. Tanpa rasa dan tanpa dinamika. Semua terasa hambar dan hampa.
Sebagai wujud tanggung jawab peran dan tanggung jawabku menjadi suami, memenuhi nafkah lahir aku lakukan. Tetap mengurus terjemahan, yang makin hari makin banyak. Di sela-sela itu, secara de jure aku sudah lulus dokter, karena itu aku urus surat keterangan aku sudah lulus dokter. Untuk bisa melamar pekerjaan sebagai dokter jaga. Aku mendengar ada lowongan dokter di PKU Muhammadiyah Jatinom. Seorang dokter yang jaga di sana surat PTT sudah turun dan harus menjalani PTT di daerah Majalengka. Sehingga dia harus cabut dari sana. Kesempatan itu segera aku ambil. Dan alhamdulillah diterima, karena yang melamar cuman satu, aku saja. Model jaga di sana memang unik, dan ini menguntungkan . jadi jadwal jagaku dirapel, mulai jum’at pagi terus menerus berada di sana alias menginap sampai senin pagi. Fasilitas kamar dokter lumayan baik, kamar mandi, hanger untuk handuk, ransum makan dengan menu yang enak. Jadi lumayan menghemat pengeluaran, sehingga gaji yang diterima lumayan utuh. Untuk berangkat ke sana naik sepeda motornya Aisyah, jadi sepeda motor juga ikut menginap 3 hari di PKU Muhammadiyah Jatinom. Selama itu, kalau Aisyah pergi kemana-mana naik angkutan umum. Walaupun memakai sepeda motor Aisyah, tetap saja aku dingin padanya.
”De Ais, aku pinjam sepeda motornya ya untuk bekerja” kataku datar
”Mas Karim, sepeda motor ini kan sudah milik kita berdua, mas bisa memakai kapan mas suka” kata Aisyah yang tetap menunjukkan ekspresi ramah, sama seperti ketika pertama kali menikah.
Aku tidak berkata apa-apa, hanya terus ngloyor keluar bersama sepeda motor, tanpa pamitan padanya. Aku juga tidak pernah menanyakan bagaimana de Aisyah kalau pergi ke UNS atau ke Solo Pos harus naik apa. Seolah aku sudah tidak peduli padanya.
Perjalanan dari Jebres hingga ke Jatinom memakan waktu 45 menit. Jadi kalau jam kerja jam 08.00 berarti aku harus berangkat dari Jebres pukul 6.45 biar masih ada waktu istirahat sebelum memulai bekerja. Aku masih bisa memaklumi emosi orang yang sedang sakit, karena itu aku benar-benar menyediakan waktu agar siap terutama kelapangan emosi ketika berhadapan dengan pasien. Sehingga ketika menangani pasien, yang berobat, aku bisa lapang emosinya, bisa bersikap ramah dan memberikan perhatian yang penuh pada pasien di sana.
”Assalamu’alaikum Mbah Kromo, sakit apa mbah? Mbok kalau pergi ke sini tidak usah pas sakit tho mbah. Biar saya bisa lihat mbah Kromo yang ceria” kataku ketika memulai pembicaraan dengan pasien mbah Kromo sebelum diperiksa
”Ah mas dokter ini lho, lha kalau pas sehat, mas dokter pas ga jaga. Jadi berkunjungnya ke sini kalau pas sakit saja.” kata mbah Kromo.
”Waduh, sakit sekali kalau begitu ya Pak Karto. Sudah panas, perutnya mules, tulang dan sendi linu-linu, muntah-muntah lagi” kataku setelah pak Karto menceritakan apa yang dia keluhkan.
”Mas dokter ini perhatian ya sama pasien. Saya senang mendapat perhatian seperti ini. Badan saya kok tiba-tiba lebih enak ya mas dokter sekarang. Saya yakin banyak pasien yang berobat ke sini, dokternya perhatian sama pasiennya” kata Pak Karto lagi
”Ah pak Karto ini, bisa saja memujinya. Saya jadi ga enak nih pak” kataku
”Bener lho dok” kata pak Karto lagi
Bahkan di kesempatan yang lain, karena mengira aku ini masih perjaka dan belum menikah, pak Karto sempat nanya kepada mbak Retno, asistenku, ketika aku sedang tidak jaga. Beliau sangat berharap aku bisa menjadi menantunya. Mbak Retno, bercerita kepadaku saat luang ketika tidak ada pasien.
”Sebenarnya dokter yang komunikatif itu wajar kan, bukan barang mewah. Dan itu menjadi standar kan mbak?” tanyaku kepada mbak Retno
”Iya tapi, pak Karto itu jadi Ge-Er, kalau hanya dia saja yang diperlakukan seperti itu. Merasa spesial gitu. Jadi merasa diperlakukan lebih ketimbang pasien lainnya.” kata mbak Retno
”Oo begitu” kataku lagi
Keadaan yang sangat berbeda ketika aku berada di Jebres. Serumah tapi tidak ada kehangatan. Makan bersama tanpa percakapan. Mencuci tanpa menyapa. Memasak tanpa perhatian. Menyelesaikan pekerjaan penerjemahan seperti pertapa dalam gua yang sudah puluhan tahun tanpa kontak dengan manusia.
”Mas Karim, de Ais, merasa tersiksa sekali bila kita terus-terusan seperti ini” kata Aisyah memulai pembicaraan ketika akan tidur malam. Dengan matanya yang sembab akibat menangis.
”De Ais, jangan dikira aku cuek begini aku tidak menderita, aku sangat tersiksa” kataku
”Selamanya kita akan begini terus?” tanya Aisyah disela-sela isak tangisnya
”Ya bagaimana lagi?” jawabku enteng
”Mas Karim. Ceraikan aku saja, dari pada kita menderita seperti ini. Mas Karim tampan, dokter, mudah mencari jodoh. Hubungan kita seperti ini kalau dipertahankan terus tidak baik mas” kata Aisyah yang isak tangisnya mulai meninggi
”Sudah lah de, ga usah bicarakan itu, aku tidak mau memulai lagi berjuang mendapatkan cinta. Aku tidak mau lagi terluka untuk kedua kalinya” kataku sambil membawa bantal dan guling. Aku pergi tidur di ruang tamu.
Yang membuat aku salut pada de Ais, asalkan tidak menstruasi, sholat malamnya tidak pernah lowong, sekalipun aku bersikap dingin padanya. Kalaulah aku bangun untuk sholat malam, aku memilih sholat sendiri di ruang yang berbeda. Seolah-olah bisa dikatakan, beginikah caraku menghukum Aisyah? Apakah aku bersalah dengan melakukan ini?
Jadwal sumpah dokter terdekat, yang bisa aku ikuti, masih dua bulan lagi. Jadi masih ada waktu mengumpulkan uang untuk biaya pelantikan itu. Jadi aku mengandalkan pekerjaan penerjemahan mulai hari senin selepas jaga dari PKU Muhammadiyah Jatinom hingga hari kamis malam sebelum paginya berangkat ke Jatinom lagi. Menginjak bulan kedua, pekerjaan penerjemahan menumpuk, sehingga aku kurang istirahat, udah gitu, harus jaga 24 jam kali 3 hari di klinik, tubuhku ternyata tidak mampu menyangga kesibukan aktivitasku ini. Pagi hari saat pulang dari Jatinom, badan sudah meriang. Ternyata sepanjang perjalanan pagi itu, tidak seperti biasanya hujan lebat turun di pagi hari.
Sesampainya di rumah kontrakan di Jebres, tubuhku menggigil kedinginan. Segera masuk, ganti baju dan tidur di tempat tidur dengan berselimut rapat.
”Mas Karim sakit ya mas?” suara Aisyah yang lembut menyapa.
”Iya, akibat kecapekan. Sekarang tubuhku protes” kataku
”Ini mas diminum jahe hangatnya” kata Aisyah tulus, tanpa terbebani sikapku yang dingin.
”Ya. Taruh situ saja nanti aku minum sendiri.” jawabku dengan sikap yang masih dingin.
”Oh ya de, minta tolong belikan obat, saya tulis resepnya, minta tolong ambilkan buku resep di tas” kataku datar
Aisyah segera bergegas mengambilkan buku resep. Aku menulis resep untuk diriku sendiri, jadi dalam bahasa resepnya Pro= UP (usus propius). Dalam cuaca hujan lebat, Aisyah membelikan obat untukku. Setelah Aisyah pergi, aku baru mengambil minuman jahe hangat buatan Aisyah. Hangat dan menyegarkan. Keringat segera keluar deras dari tubuhku, badanku mulai terasa enak. Kemudian aku mengambil posisi berbaring, tetapi tidak tidur.
Lima belas menit kemudian..
”Assalamu’alaikum” kata Aisyah, dengan wajah sumringah. Dulu ketika awal-awal menikah, aku paling gemes dan seneng dengan wajah seperti itu. Tapi rasa itu entah kemana perginya.
”Wa’alaikumsalam” jawabku tetap datar
”Ayo mas ceria mas, biar cepat sembuh” kata Aisyah, sambil menyerahkan obat yang telah ditebus.
”Makan ya mas Karim, ini tadi aku belikan soto daging hangat kesukaan mas” kata Aisyah.
”Makanannya taruh di meja saja biar nanti aku makan sendiri. Sekalian obatnya ditaruh dekat makanannya” jawabku enteng
Meski sikapku dingin dan ketus seperti itu, Aisyah tetap menunjukkan sikapnya yang bersahaja. Begitu tabah dan sabar. Aku tidak tahu bagaimana wajahnya bila tidak dihadapanku. Aku menduga pasti menangis, merasa hancur, dan merasa tersia-siakan. Entah mengapa, aku justru merasa ada kepuasan kalau membuat Aisyah dalam keadaan seperti itu.
Setelah Aisyah pergi, aku baru menyantap makanan dengan lahap, hingga tidak tersisa nasi sebutir pun, jahe hangat juga habis, kemudian aku minum obat yang telah dibelikan Aisyah.
Aku juga heran dengan diriku sendiri, mengapa peristiwa pagi ini tidak membuat hatiku luluh. Malah justru tambah mengeras dan membatu. Hanya kekuatan dahsyat saja yang bisa menghancurkannya, itupun dengan kehancuran diriku seluruhnya. Ketabahan dan kesabaran Aisyah untuk bersikap ramah, lembut dan penuh perhatian ternyata tidak sedikitpun membuat hatiku cair, membalas kasih sayangnya yang demikian tulus. Ya Allah maafkanlah aku, aku tidak bisa mengendalikan hatiku ini. Aku masih saja belum terima. Masih marah. Masih jengkel. Masih merasa dikhianati. Dan puncaknya akupun juga menangis tersedu-sedu. Ketika Aisyah mendekatiku dalam keadaan seperti itu, aku menolaknya mentah-mentah. Aku benar-benar ingin sendiri, menikmati kepedihan hati ini yang demikian sendu dan terlara.
To 0812259xxxx
Mas Karim, kalo ada wkt bs pulng ke Ngnjk mlm ini bpk ibu mo pindhan rmh ke Kediri besok pg jm 9
Ternyata ada sms dari dik Iqbal. Lalu aku balas smsnya.
From 0812259xxxx
To 0815501xxxx
Iya dik Iqbal, mas usahain bs plg mlm ini
Akhirnya bapak ibu jadi pindah rumah ke Kediri. Malam itu, dengan masih bersikap datar dan dingin, aku pamitan kepada Aisyah. Bertolak menuju Nganjuk. Tiga jam perjalanan yang ditempuh, seperti biasa sampai Nganjuk menjelang subuh, sehingga masih sempat sholat subuh berjamaah dengan bapak ibu, dik Iqbal dan dik Harun. Keadaan rumah mulai kosong, beberapa perkakas, seperti lemari, meja kursi, dan jemuran sudah dikelompok-kelompokkan. Demikian juga dengan perlengkapan dapur sudah di-packing, termasuk barang pecah belah sudah disendirikan. Baju-baju sudah dikemas rapi, tinggal baju yang dipakai hari ini, perlengkapan mandi dan handuk yang masih diluar. Semua sudah dikemas dengan rapi. Selesai sarapan pagi, ada dua truk yang mengangkut, plus satu mobil pick-up khusus untuk mengangkut barang-barang pecah belah. Bapak, ibu, aku, dik Iqbal dan dik Harun, mengiringi di belakangnya dengan menaiki mobil klasik L 100 berwarna kuning nyentrik. Mungkin karena kesibukan pada proses angkut-angkut, bapak ibu tidak menanyakan mana Aisyah, atau kok sendirian, mana pengantin putrinya. Untuk sementara aku aman dari pertanyaan-pertanyaan yang bagiku saat ini membuatku sangat sensitif.
Sesampainya di Kediri, tepatnya desa Mukuh kecamatan Pagu, rumah itu mungil, lantainya plesteran kasar, sehingga di beberapa tempat nantinya ditutup karpet agar tidak kentara kekasarannya. Proses boyongan itu dibantu lima pekerja, semuanya mengaku santri dari almarhum pak dhe Mahfud. Yang membuatku terharu adalah ternyata semua biaya boyongan itu ditanggung oleh budhe. Dan dari mulut pekerja yang katanya pernah nyantri itu, ternyata, pindahan bapak ibu itu karena rumah di Nganjuk mau dikontrakkan, sehingga perlu ngontrak di Kediri sambil menemani budhe.
“Yang mau mengontrak rumah ini siapa ya mas Karim? Katanya bu Nyai rumah di Nganjuk ini mau dikontrakkan.” Kata pak Imron, yang pekerjaan sehari-harinya adalah tani dan punya tanah sendiri. Meskipun punya tanah sendiri, ternyata pak Imron mau jadi relawan, karena disuruh langsung oleh bu Nyai alias budhe.
“O ya tho pak? Malah saya baru dengar” jawabku, berusaha menjaga apa yang telah dikatakan budhe kepada mantan santri pakdhe Mahfud.
“Iya, malah nanti Iqbal adik sampeyan mau menjadi pengelola yayasan yang telah dirintis oleh almarhum pakdhe kalian” jelas pak Imron
“Wah senang sekali saya mendengarnya pak, kalau dik Iqbal mau meneruskan apa yang telah diwasiatkan almarhum pakdhe. Maklum pak saya banyak di Solonya jarang pulang ke Nganjuk, jadi jarang mengikuti perkembangan rumah” Jawabku.

--------------------
Seharian penuh pekerjaanku adalah membantu bapak ibu menata rumah baru. Walaupun ada tiga lelaki anaknya, tetap saja pekerjaan menata rumah banyak hal-hal kecil yang jumlahnya banyak, sehingga membutuhkan waktu yang lama. Hingga sore itu, pekerjaan penataan belum tuntas betul. Tapi setidaknya, tempat makanan, tempat tidur, kamar mandi sudah siap. Itu yang utama, sementara yang lainnya bisa diselesaikan besok hari.
Aku lihat ada lima unit komputer beserta satu printer ada di sana, dan sudah di tata di ruang tamu. Di samping meja salah satu komputer aku melihat setumpuk kertas yang isinya brosur rental dan kursus komputer, hasil print komputer, bukan fotokopi.
“Aku sudah siapkan brosur-brosur untuk promosi rental komputer, kursus komputer program Word dan Excel mas Karim” kata Iqbal dengan mata berbinar-binar
“Lha kamu dapat modal dari mana dik untuk beli komputer-komputer itu?” tanyaku
“Setelah semua utang terlunasi, usahaku yang di solo itu aku jual dan mas Praba mau membelinya, karena masih lumayan banyak pelanggan yang bisa mendatangkan keuntungan. Hasil itu aku belikan komputer seken dan printer seken. Di sini nantinya aku mau fokus ke kursus komputer itu mas. Untuk kursus komputer aku pasang tarif Rp 5000,- per jam, seminggu 4 kali pertemuan, aku yakin pertemuan ke 8 mereka sudah bisa menguasai kedua program itu.” Kata Iqbal
“Brosur-brosur itu mau kamu kemanain?” tanyaku
“Besok mau aku kasihkan ke anak-anak SD dan SMP di sekitar sini” kata Iqbal
“Termasuk untuk acara malam ini, tasyakuran pindahan, kalau ada anak usia SD atau SMP yang datang aku kasih brosur-brosurnya” imbuh Iqbal lagi
“Biasanya nanti ada sholawatan di masjid, anak-anak dan remaja banyak berkumpul di masjid, ini kan malam jum’at!” tiba-tiba Harun muncul di tengah-tengah percakapan.
“Tapi anak-anak dan remaja nanti dikumpulkan di rumahnya budhe, mereka diberikan berkatan” kata Iqbal lagi.
“Pas di rumah budhe itu, baru actions, gitu dik?” tanyaku
“Iya” jawab Iqbal
Itulah Iqbal adikku yang fight spiritnya luar biasa, paska bangkrut dan berakibat dijualnya rumah satu-satunya bapak ibu, tetap tinggi semangat survivalnya. Demikian juga bapak ibu yang lapang sekali pemaafnya, dan budhe yang sangat melindungi kehormatan keluarga, mengatakan rumah di Nganjuk dikontrakkan. Kalau melihat itu aku jadi bersemangat sekali, hidup itu terasa berwarna-warni. Penuh dinamika dan penuh dengan kegairahan. Akan tetapi, begitu teringat di Solo, tiba-tiba hidup ini menjadi seperti tidak ada artinya. Tidak ada gairah yang bisa aku petik ketika aku pulang di Kediri kali ini. Namun bagiku tidak terbesit keinginan sama sekali mengutarakan masalahku ini pada bapak ibu, budhe apalagi mbak-mbak maupun kedua adikku. Biarlah masalah ini aku pendam sendiri.
Di tengah-tengah ramainya acara tasyakuran dan bagi-bagi brosur untuk bisnis dik Iqbal.. tut tut tut tut
Ada sms..
From Barkah
To Karim
Karim, bsk pg km hrs dtg sndr di bag Obgyn, nilaimu uda keluar sgra mndftar plntikan dktr plng lmbt bsok ada prbhn mnddk!
Aku balas smsnya
To Barkah
OK Kah, insy mlm ini brgkt ke Solo
“Malam ini, aku harus berangkat ke Solo. Ada perubahan mendadak, besok deadline terakhir untuk mendaftar pelantikan dokter” kutunjukkan sms dari Barkah kepada Iqbal dan Harun, seraya mengundurkan diri menuju rumah, untuk berkemas-kemas
Selesai berkemas kembali ke rumah budhe, acara sudah hampir selesai
“Budhe, bapak, ibu, Karim malam ini mau berangkat ke Solo. Besok hari terakhir pendaftaran untuk pelantikan dokter” kataku
“Oh iya, sampai lupa, bagaimana keadaan Aisyah Rim, kok ga ikut?” tanya ibu kepadaku
Seketika, jantungku terasa berhenti berdetak. Seperti petir yang menggelegar tanpa hujan. Mendengar pertanyaan yang meluncur dari mulut ibuku.
“Kamu baik-baik saja kan sama Aisyah?” tanya bapak
Kejutan pertanyaan pertama belum tuntas aku memikirkan jawabannya, tiba-tiba pertanyaan bapak seperti mengiyakan bagaimana kondisi hubunganku dengan Aisyah.
“Ga pa pa Rim, tiga bulan pernikahan, masih banyak menyesuaikan sana sini, butuh kesabaran kok. Aku yakin kalian berdua bisa menyelesaikan masalah kecil ini” budhe mengimbuhi.
Kali ini seperti pukulan dahsyat petinju yang membuat KO lawannya.
“I..nsya A…llah baa…ik ssaa…ja” jawabku terbata-bata
“Mungkin Aisyah Hamil Rim, memang kalau orang hamil suka aneh-aneh. Memang kalau suami belum menyadari, bisa sewot” bapak menimpali.
Ternyata namanya orang tua, mudah sekali menangkap sinyal kegelisahan anaknya. Jadi seperti dalam ungkapan bahasa Jawa kayak kethek ketlulup alias tidak bisa berkutik sama sekali. Bidikan yang tepat.
“Semoga bapak” jawabku
Haah aku mendoakan Aisyah hamil? Kalau aku ingat-ingat memang sejak menikah Aisyah baru bersih dari menstruasi, dan mulai rutin berhubungan suami istri seminggu setelah pernikahan. Ada kemungkinannya dia hamil. Aku yakin Aisyah tidak neko-neko, jadi memang benar-benar setia dengan suaminya. Itu saja yang aku ingat.
“Sampun nggih, budhe, bapak dan Ibu. Karim harus berangkat sekarang” kataku berusaha mengakhiri pembicaraan yang makin lama aku merasa semakin tidak nyaman.
“Salam buat Aisyah ya Rim” kata budhe, bapak dan ibu serempak
“Insya Allah” kataku, kemudian bersalaman kepada mereka bertiga kucium tangan mereka satu persatu.
Dengan kendaraan Mitsubshi L100 warna kuning nyentrik, Iqbal dan Harun mengantarku menuju Brakan Kertosono, untuk mendapatkan bus jurusan Solo. Kulihat jam tanganku, sudah memperlihatkan pukul 23.00.
“Dik Iqbal, dik Harun, ini sudah malam, kalian pulang saja sekarang, ga usah ditemenin, sebentar lagi dapat busnya” kataku kepada kedua adikku
“Ga pa pa mas Karim sendirian” tanya Iqbal
“Ga pa pa.. tuh banyak temannya, sesama penumpang yang nunggu bus jurusan Solo” jawabku
“Dah dah..dah ditinggal saja.. pergi sana sana!” kataku lagi, tanganku mengibas-ngibas sebagai isyarat menyuruh Iqbal maupun Harun agar pergi.
Akhirnya merekapun bergegas pulang ke Mukuh. Dan ternyata memang benar, beberapa menit setelah dik Iqbal dan dik Harun pergi, bus Eka jurusan Solo memperlambat kecepatannya dan berhenti tepat di depanku. Beberapa penumpang menaiki bus itu bersama dengan langkahku. Lumayan dapat tempat duduk, walaupun malam larut seperti ini, tetap saja masih banyak orang yang bepergian.
Setelah membayar karcis, aku mulai memosisikan diri untuk tidur dalam keadaan duduk. Melupakan sejenak semua permasalahan yang ada. Memang dalam hidup ini kita harus belajar melupakan hal yang seharusnya kita lupakan, tetapi pada saat yang sama harus mengingat hal yang seharusnya kita ingat. Karena salah prioritas inilah seringkali membuat orang menderita.
Dengan berguncang-guncang, sekali dua kali bus menggoyangkan tubuh ini ke kanan dan ke kiri saat melintasi tikungan tajam, tidak menyurutkan niatku untuk tidur. Walaupun untuk yang terakhir ini sering membuat terbangun.
“Palur!! Palur!! Palur!!” teriakan kondektur bus ini membangunkan semua penumpang yang menjadikan Palur sebagai tempat tujuan bepergiannya. Termasuk aku di dalamnya. Kalau aku Palur adalah warning sebentar lagi akan mencapai Jebres, aku mau turun Rumah Sakit Moewardi. Karena memang kontrakanku di belakang PMI.
“Rumah Sakit Pak” kataku agak lantang
Segera kecepatan bus Eka menyusut dan tepat berhenti di depan RSUD Dr Moewardi Surakarta.
“Kaki kiri dulu ya mas!” pak kondektur memberikan aba-aba
“Ya pak, terima kasih” kataku
“Jam tiga” kulihat jam tanganku. Lebih baik tidur atau sholat barang sejenak menunggu waktu subuh datang. Kalau langsung pulang, suasana lengang begini sepertinya tidak aman. Aku bergegas menuju masjid Rumah Sakit yang berada di belakang sendiri setelah parkiran.
Ambil air wudhu, sholat takhiyatal masjid dua rakaat, sholat malam delapan rakaat, dan sholat witir tiga rakaat. Seraya berdoa kepada Allah agar memberikan jalan terbaik bagiku, bagi ketenangan jiwaku, bagi andilku dalam berdakwah untuk umat.
Selesai sholat, ku ambil mushaf Al-qur’an, meneruskan bacaan kemarin, sekarang waktunya membaca surat Ar-Rahman. Membaca surat itu, tanpa terasa air mata ini kembali meleleh. Seolah Allah mengingatkanku dari apa yang aku baca “Nikmat dari Rabb manakah yang telah engkau dustakan” dan ayat itu diulang-ulang terus dalam surat Ar-Rahman yang aku baca saat ini. Kalau aku berkaca pada diriku saat ini, bahwa Aisyah sekarang adalah bukan yang dulu. Aisyah yang telah hijrah. Aisyah yang telah kembali ke jalan yang lurus. Aisyah yang bercahaya dengan kesabarannya, ketabahannya dan keistiqomahannya, menunggu pintu maaf dariku. Pintu maaf? Dirinya yang telah hijrah, tetapi memberiku dalam pernikahan ini, dengan tubuhnya yang pernah ternoda?
Ayo lah Karim. Bukankah engkau banyak menyaksikan, pernikahan yang sama-sama masih menjaga kesucian tubuh, tetapi mereka semakin menjauh dari apa yang dituntunkan Allah pada kita. Bukankah istrimu Aisyah sekarang punya potensi membawamu pada kebaikan? Bukankah sering engkau katakan, bahwa kebaikan itu butuh berjamaah. Berjamaah dengan orang-orang yang sholeh. Bukankah saat ini Aisyah adalah istrimu yang sholihah? Hampir setiap malam dia selalu bangun sholat malam. Tidak pernahkah engkau lihat dia berkhianat padamu? Tidak pernah kan? Engkau jumpai, setiap hari kalau dia tidak menstruasi, selalu menghiasi rumahmu dengan bacaan-bacaan Al-Qur’an keluar dari mulutnya? Tidak pernah engkau jumpai kan, dia menghambur-hamburkan uang belanjamu, bahkan dia selalu bisa menyisihkan uang untuk menambah tabungan kan? Tidak pernah engkau jumpai dia bersikap tidak hormat padamu kan Rim?
Memang aku akui, saat ini, aku tidak melihat cacat moral atau akhlaq atau tata norma pada diri Aisyah. Ketika aku berada di rumah, Aisyah selalu menampilkan yang terbaik yang dia miliki. Selalu harum, tidak pernah kusut. Menyuruh aku menunggu di luar sebelum dia berdandan rapi menyambut aku.
Cobalah Karim, engkau ingat-ingat kebaikan yang telah Aisyah berikan padamu. Sepeda motor yang kamu pakai? Iya aku ingat itu adalah milik Aisyah. Dia merelakannya untuk aku pakai. Bahkan tidak pernah sedikit pun merasa jengah atau nggrundel. Atau dalam bentuk sindiran pun tidak pernah terlontar kan. Dia benar-benar tulus pada mu.
“Allahu Akbar Allaahu Akbar”
“Allahu Akbar Allaahu Akbar”
“Asyhadu anla ilaaha illaah”
“Asyhadu anla ilaaha illaah”
“Asyhadu anna muhammadarrasulullaah”
“Asyhadu anna muhammadarrasulullaah”
“Hayya ‘alash sholaah”
“Hayaa ‘alash sholaah”
“Hayya ‘alal falaah”
“Hayya ‘alal falaah”
“Ashsholaatu khoirumminannaum”
“Ashsholaatu khoirumminannaum”
“Allahu Akbar Allaahu Akbar”
“Laa ilaaha illa llaah”
Kumandang adzan subuh yang menggema merenggut perhatian dan kesadaranku yang telah berputar-putar tadi.
Memulai hari dengan sholat subuh berjamaah di masjid, dilanjutkan dzikir pagi adalah sebuah kenikmatan yang tiada taranya. Energi rukhiyah begitu mempesona semua potensi yang kita miliki hingga menjadi mudah terekspresikan. Mudah menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Mudah menerima datangnya petunjuk. Mudah menghasilkan lebih banyak kebaikan lagi. Mudah dalam segala urusan, karena Allah mengizinkan yang demikian.
Membuka hari dengan optimismo. Menyambut terbitnya sang surya dengan penuh harapan. Memulai tanggal baru, dengan semangat. Dan memulai lembaran hari yang baru dengan harapan yang penuh barakah.
Selesai dzikir ma’tsurat, beranjak pulang jalan kaki, menuju rumah kontrakan. Kali ini hatiku sedikit lebih luluh. Aku bertekad memulai salaman dulu dengan istriku de Ais.
“Assalamu’alaikum!” kataku di depan rumah
Kok ga ada jawaban.
“Assalamu’alaikum!” kataku sekali lagi
Mungkin sedang dandan, menyambut aku mau masuk rumah. Mudah-mudahan begitu. Rasa was-was mulai muncul. Mudah-mudahan tidak ada apa-apa dengan de Ais
“Assalamu’alaikum de Ais!” Kataku sekali lagi.
Pintu rumah terbuka, dan keluarlah sosok yang cantik, memakai mukena pink. Ya Allah, pesonamu memang luar biasa de Ais. Tapi rasa sayang seperti dulu masih belum pulih sepenuhnya. Masih ada barier.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” jawab de Ais. Wajahnya berseri-seri. Ceria sekali menyambut kedatanganku. Dan seperti biasa harum aroma tubuhnya.
Memang barier itu masih kurasakan. Ketika aku menjulurkan tanganku untuk mengajak salaman saja masih kaku. Tangan Aisyah menyambutnya, dan tanganku diciumnya.
“Capek ya mas. Tuh wajahnya kusut” kembali Aisyah menyapaku dengan lembut dan ramah.
“Ya” ternyata aku menjawabnya masih kaku. Hambatan itu mengapa masih saja menghalangiku.
“Itu mas, handuk sudah de Ais persiapkan. Mandi pakai air hangat mas?” lagi-lagi Aisyah, tidak berubah sedikit pun keramahannya menanggapi sikapku yang masih kaku.
“Terima kasih, pakai air dingin saja” aku menjawab dengan nada yang masih datar.
Ritual pagi itu diselesaikan dengan sarapan pagi. Lagi-lagi masih dalam keadaan kekakuan sikapku dan keramahan sikap Aisyah.
Ketika berpamitan, aku sudah mau berusaha mencium kening Aisyah, tetapi masih kaku.
“Mas mau ngurus nilai Obgyn Mas. Habis itu mau mendaftar pelantikan dokter” kataku ketika berpamitan pada Aisyah.
“Mas mau pelantikan dokter? Alhamdulillah mas. Aisyah bersyukur. Terus untuk membayar biaya pelantikan sudah ada mas Karim?” tanya Aisyah
“Insya Allah ada” jawabku enteng
Kemudian aku mencium keningnya dan ngloyor pergi tanpa basa basi di depan Aisyah. Lucu ya mencium dengan sikap yang kaku, terus ngloyor pergi tanpa basa basi.
Dijalan aku mulai menimbang-nimbang dan berpikir panjang. Biaya pelantikan dokter dua juta rupiah. Sementara aku hanya pegang uang satu juta rupiah dari tabungan yang sudah aku ambil tadi pagi dari ATM, berarti tinggal lima puluh ribu, sebagai syarat agar tabunganku tidak ditutup. Di dompet aku hanya pegang uang seratus ribu rupiah plus uang receh seribuan. Dari mana aku bisa memperoleh uang satu juta rupiah lagi tanpa bilang ke Aisyah. Waduh pusing!
Sms Barkah, siapa tahu dia bisa memberi bantuan. Tapi kayaknya kalau urusan pinjam uang sebanyak itu Barkah belum tentu bisa membantu. Tapi dicoba dulu.
From Karim
To Barkah
Kah, aq mo ktmu kamu pg ini di kantin RS bs? Skrg?
Tut tut tut … ada sms masuk
From Barkah
To Karim
OK Rim bisa, aq mlh sdh ditmpt. Aq ada prlu sm km
Di kantin Rumah Sakit. Suasana sudah demikian ramai. Co-ass, Residen, Pengunjung dan Pasien yang bisa jalan-jalan, menyemuti kantin untuk memenuhi perut mereka yang butuh diisi dengan sarapan pagi.
“Karim!” teriak Barkah
“Iya Kah!” aku juga tidak kalah ikut berteriak
“Kamu pesan makanan dulu, tasmu kamu taruh sini” kata Barkah
“OK boss” jawabku
Karena sudah sarapan di rumah, aku hanya mengambil snack dan teh hangat. Setelah dibawa di depan kasir, aku bawa makan ringan dan teh itu di meja tempat Barkah sarapan.
“Kamu tidak sarapan Rim” tanya Barkah
“Kan sudah di rumah…tadi” jawabku
“O iya ya.. sudah ada istri yang nyiapin ya.. lupa aku” kata Barkah
“Eh Rim, kamu masih ingat Endar kan?” tanya Barkah dísela-sela makan
“Kamu jangan, memaksaku untuk melakukan sesuatu yang aku tidak mau” jawabku tegas
“Hei bukan begitu, aku tanya Endar, bukan untuk itu” sergah Barkah
“Lalu?”
“Begini Rim, kamu kan tahu aku, sebentar lagi aku kan juga mau pelantikan dokter bareng sama kamu. Mengingat usiaku kan sudah tua untuk ukuran perjaka. Aku berniat mau menikah…” jelas Barkah
“Maksudnya kamu mau melamar Endar begitu?” kataku langsung menebak
“Sebelum melamar kan harus tahu kualitas bibit, bebet dan bobotnya” kata Barkah, dengan logat Bangkanya yang masih kental.
“Kalau melihat dari sudut pandangku saja sih, sebenarnya orangnya punya potensi hanif, dalam arti tidak neko-neko begitu. Aku tahunya ketika dia nanya-nanya tentang umat Islam, tentang hal-hal yang berurusan dengan agama. Dari situ aku berkesimpulan dia setidaknya sudah punya perhatian pada masalah agama. Kalau dilihat dari keingintahuannya aja lho” jelasku
“Orangnya sekarang berjilbab lho Rim” kata Barkah sepertinya membenarkan dari apa yang aku jelaskan.
“O iya? Alhamdulillah kalau begitu”
“Kamu sendiri sudah nanya-nanya siapa teman dekatnya lima tahun terakhir, atau nanya muda-mudi yang ada di sekitar tempat tinggalnya? Sekedar memperkuat data. Sebelum memutuskan mau menikah dengan seseorang kan harus tahu sebanyak-banyaknya tentang karakter pribadi calon tersebut” jelasku. Penjelasanku terakhir, ternyata menunjuk ke arahku. Dalam proses taaruf dulu aku memercayakan urusannya pada ibu dan teman ibu, juga dari aktivitas Aisyah selama di masjid Sabililah selama lebih dari tiga tahun. Datanya cuman itu.
“Haruskah seperti itu Rim?” tanya Barkah
“Idealnya seperti itu. Kita manusia, bisanya meraba-raba. Memperkecil hasil yang fluktuasinya sangat tinggi. Dan yang lebih penting adalah sholat istikharoh Kah” kataku lagi
“Kamu sudah kenal dekat dengan Endar, Kah?” tanyaku
“Kalau mencari data-data seperti yang kamu maksud, insya Allah sudah Rim. Cuman sekarang, aku sedang deg-degan mencari waktu yang tepat dan penghubung yang tepat untuk mengutarakan maksudku kepada Endar. Aku sudah sholat Istikharoh. Aku meminta bantuanmu dan bantuan istrimu untuk menjadi perantaraku Rim” pinta Barkah.
“Meminta aku dan Aisyah untuk menjadi perantara kamu menanyai kesediaan Endar untuk menjadi istrimu?” permintaan Barkah kali ini, lagi-lagi seperti petir di siang hari tanpa mendung yang gelap, yang terjadi ketika aku berada di Solo
“Pliz Rim, tolong aku Rim. Jangan membuat fitnah dengan cara engkau membiarkan aku melakukan proses taaruf tanpa perantara Rim” kata Barkah memelas.
“OK Kah akan aku usahakan. Aku harus bicara dulu dengan Aisyah Kah”
“Eh ngomong-ngomong kamu sudah punya sumber penghasilan belum?” tanyaku
“Kalau kecil-kecilan sih sudah, kayak kamu kerja di PKU Jatinom itu Rim, tapi aku di PKU Karanganom” jawab Barkah
Tut tut tut ponsel Barkah berbunyi
Maaf ada sms Rim, aku buka dulu
From Erlina
To Barkah
Barkah, kamu dimn? Dr Haryanto sdh dtg, tnggl nunggu km cpt dtg!
“Karim, aku harus pamit, maaf ya, dokter Haryanto sudah datang, mau minta tanda tangan keterangan lulus untuk rekap nilai akhir” kata Barkah dengan menyodorkan monitor hanfonnya padaku.
“Iya ya silahkan, secepatnya menghadap beliau, sebelum beliau pergi ke tempat lain” kataku.
Dalam hati..
Waduh misiku gagal, Barkah juga mempunyai misi yang sama mengejar deadline hari ini, setelah dapat tanda tangan dokter Haryanto SpOG, dia mengejar waktu pergi ke Kentingan, membayar biaya pelantikan dokter. Sama. Kalau aku tinggal ke bagian administrasi Obgyn Rumah Sakit, terus pergi ke Kentingan. Biasanya jam berakhirnya pelayanan jam 11.00, padahal hari ini adalah hari terakhir pendaftaran. Kalau tidak ikut periode berikutnya empat sampai enam bulan lagi. Kalau aku tidak punya ijazah resmi, susah mencari surat izin praktik. Pihak PKU memberiku kesempatan satu bulan izin praktik sudah aku kantongi.
Pinjam siapa ya, uang satu juta rupiah?
“Jam sembilan kurang seperempat” kulihat jam tanganku
Masih ada waktu 2 jam. OK. Sekarang aku harus ke bagian Obgyn dulu, siapa tahu nanti ada ide di tengah jalan.
Bagian Obgyn kantornya di lantai 2, tetapi bangsal, kamar bersalinnya atau biasa disebut VK di lantai 1 dekat kantin Rumah Sakit. Kalau menuju kantor Obgyn harus melalui bangsal dan VK tersebut.

“Mas dokter Kariim!”
Suara itu membangunkan lamunanku.
“Mas dokter Karim dimana saja, sebulan ini tidak terlihat?”
Ternyata suara bu Eni pasien yang pernah kritis setelah plasentanya keluar. Hampir direncanakan operasi pengangkatan rahim total atau biasa disebut histerektomi total.
“Jatah saya untuk di bagian Obgyn sudah habis bu, jadi sudah tidak berhak untuk di sini terus” jawabku
Tiba-tiba bu Eni menangis tersedu-sedu. Aku bimbing dia menuju tempat duduk yang kosong di bangsal.
“Ada apa bu?” tanyaku selembut mungkin
“Mas dokter Karim, masih ingat saya kan? Saya yang dulu sampai bertarung mempertaruhkan nyawa melahirkan anak ke 4 saya?” suara bu Eni muncul di sela-sela tangisnya
“Iya bu, semua orang ikut cemas, jelas ingat banget bu” aku menimpali
“Dua hari yang lalu dia yang saya lahirkan meninggal dunia, saya ke sini mau kontrol setelah nifas”
“Innalillaahi wainna ilaihi roji’un”
“Saya masih belum terima gitu mas Karim. Saya berusaha mati-matian sampai hampir dijemput kematian. Ternyata dia tidak mau saya emong mas” suara bu Eni makin menjadi tersengguk-sengguk
Ingin ku rengkuh tubuh bu Eni, ingin aku belai punggungnya, tapi dia bukan makhromku. Seandainya dia itu makhromku pasti sudah aku lakukan. Ingin aku kuatkan hatinya. Dia memang butuh disentuh. Dikuatkah hatinya.
Tapi ya Allah, pada saat yang sama waktuku terbatas, aku harus ke bagian Obgyn mengurus nilai, kemudian harus pusing mikir nyari pinjaman satu juta rupiah. Duh gimana ini.
“Bu Eni, dulu ada sahabat Nabi SAW, bernama Abu Thalhah dan beristri Ummu Sulaim. Abu Thalhah sebagai kepala keluarga, harus mencari nafkah di tempat yang jauh. Pada saat bepergian, anaknya meninggal akibat sakit. Dia tahu anaknya sedang sakit ketika berangkat, ketika beliau ini pulang bersamaan dengan anaknya yang sakit itu meninggal dunia. Orang-orang diminta istri beliau agar tidak mengabari, biar dirinya sendiri yang mengabari.
Ketika masuk rumah, Abu Thalhah menanyai kabar sang anak. Lalu jawab sang istri, “Ia lebih tenang keadaannya dari semula”. Kemudian oleh sang istri, dihidangkanlah suaminya masakan yang lezat. Diajaklah bersenda gurau, hingga terjadilah hubungan suami istri. Setelah Abu Thalhah puas, barulah dia diberi tahu tentang keadaan yang sesungguhnya. Abu Thalhah marah dan mengadukannya kepada Rasulullah SAW esok harinya. Rasulullah SAW malah mendoakan “Baarakallahu fii lailati kumaa” semoga Allah memberkahi kamu berdua untuk malam harimu itu.
Kemudian mengandunglah Ummu Sulaim dari persetubuhan itu. Darinya lahir seorang putra. Ketika lahir, tidak segera diberi ASI dulu, melainkan dibawa menghadap Rasulullah SAW dan dibawakan beberapa biji kurma. Lalu diterima oleh Rasulullah SAW, dikunyahlah kurma itu, kemudian dimasukkan ke mulut anak itu dan diberi nama Abdullah. Dari riwayat disebutkan, ternyata 9 anak dari Abdullah ini, semuanya hafidh Al-Qur’an.
Menangis atas duka yang menimpa itu tidak apa-apa, tetapi sabar pada saat musibah datang seperti yang dialami Ummu Sulaim itu bu, insya Allah akan mendatangkan kebaikan yang luar biasa dari Allah.
Anak yang mati sebelum baligh, asal orang tuanya sabar dan tabah dan beriman kepada Allah, Allah telah membangunkan bagi orang tua itu rumah di surga bu.”
Ya Allah aku bisa berkata-kata sedemikian bagi bu Eni. Sabar pada saat musibah datang itu akan mendatangkan kebaikan yang luar biasa dari Allah. Apa tidak keliru. Bukankah Allah telah berfirman, Allah sangat murka, mengapa kalian bisa berkata tetapi tidak melakukannya? Nasihatku untuk bu Eni, juga mengena untuk diriku juga.

Tiba-tiba saja..
Aisyah datang, muncul di antara aku dan bu Eni..
“Eh.. bu Eni.. ini Aisyah istri saya”
“Saya Aisyah”
“Saya Eni” yang masih menyeka air matanya.
Bu Eni segera menghambur memeluk Aisyah erat-erat. Seperti dia mendapatkan tempat untuk mencurahkan semua kegalauan di hati. Ingin dia curahkan pada Aisyah. Lama sekali.
“Sabar ya bu” kata Aisyah
“Ya Aisyah”
Beberapa saat kemudian..
Entah terbawa suasana haru atau apa
“De Ais.. ssi..ini” kataku ragu
Kemudian..
Kupeluk Aisyah erat-erat. Tidak aku pedulikan dimana aku berada. Rasanya seperti telah dipisahkan oleh waktu ratusan tahun.
“Maafkan aku de Ais” aku menangis tersedu-sedu.
“Maafkan mas yang terlalu egois akhir-akhir ini”
Nasihat tentang kesabaran Umu Sulaim untuk bu Eni, ternyata juga membuat aku tersentuh. Tiba-tiba saja ego, atau apa yang selama ini menjadi barier, hilang begitu saja, berganti menjadi suasan haru, rasa kasihan, rasa menyayangi, rasa aku harus melindungi istriku semuanya berkumpul menjadi satu.
“Tidak ada yang salah mas, de Aislah yang salah” kata Aisyah yang juga menangis.
Bu Eni pun segera ikut merasakan kebahagiaan kembalinya keutuhan hubungan aku dengan de Ais. Menangisnya kini bukan didominasi kehilangan bayinya tetapi haru bahagia melihat aku bisa berpelukan dengan Aisyah, tanda kembali normalnya hubungan suami istri. Pesan emosi yang mengalir dari aku dan Aisyah tertangkap juga oleh radar emosi bu Eni.
“Anu… bu Eni.. ini saya mau mengurus administrasi pelantikan dokter, batas waktunya tinggal satu setengah jam bu” kataku dengan sisa-sisa air mata yang masih menempel di bulu-bulu mata.
“Ya, ndak pa pa mas Karim, maafkan saya yang mengganggu waktu mas dokter” kata bu Eni
“Rumah saya di belakang PMI beberapa blok di belakang PMI, nanti tanya Karim yang dokter muda, insya Allah sudah banyak yang tahu, main saja bu”
Aku gandeng erat tangan Aisyah yang lembut, berjalan menjauh dari bu Eni menuju kantor administrasi Obgyn. Ku genggam terus tangan lembut itu, serasa tidak mau dilepaskan.
“Ngomong-ngomong tadi de Ais kesini mau ngapain?” tanyaku
“Mas Karim tadi bilang, mau bayar pendaftaran pelantikan dokter. Kayaknya uangnya ketinggalan ya mas. Coba dicek”
Kemudian aku keluarkan tasku, aku cari-cari amplop yang berisi uang.
“Iya benar.. tidak ada” aku nyengir kuda
“Ini amplopnya” kata Aisyah manja
“De Ais sini dekat sini”
“Jangan sekarang mas”
“Bukan.. bukan itu he he”
“Ihh mas”
Lenganku dicubit Aisyah, gemes padaku
Kemudian Aisyah mendekatkan kepalanya.
“Ada apa sih mas?”
“Mas sebenarnya malu, ternyata biaya pelantikan dokter dua juta rupiah, di amplop itu adanya cuman satu juta rupiah… boleh pinjam uang de Ais”
“Tentu saja boleh dong mas. Lebih dari itu juga boleh banget. Butuhnya sekarang mas?”
“Iya, nanti saja ngambilnya setelah urusan di Obgyn selesai. Terima kasih ya sayang” kataku
“Sayang?”
“Kok?”
“Apa ga boleh?”
“Sudah lama kata itu ga pernah terdengar lho mas”
“hiih”
“nanti aku gemesin sampe habis lho de”
“Silakan”
“hee”
“Assalamu’alaikum matahariku yang cantik”
“Wa’alaikumsalam pangeranku”
TAMAT
Surakarta, 16 April 2008 11.40 am
Sunday, June 29, 2008
Dari novel "Assalamu'alaikum matahariku" bagian ke 22
Pulang kembali
Ternyata Budi atau dokter Budi memunyai rumah yang unik. Rumah tempat tinggal yang terpisah dengan ruang praktik dan ruang rawat inap untuk pasien yang membutuhkan rawat inap, tetapi tetap terhubung. Walaupun memunyai dua muka, tetapi muka keduanya tidak berada dalam satu titik potong, misalnya di ujung perempatan, satu muka di satu jalan, sedang muka lain di jalan yang lain, tetapi masih bisa bertemu di titik potong perempatan. Bahkan muka untuk rumah pribadinya berada di jalan yang berbeda dengan muka untuk praktik dan rawat inapnya. Keadaan ini sangat menguntungkan proses pelarian kami dari kejaran anak buahnya Yo yo, yang telah lama.
”Aku ada teman perwira polisi di Kabupaten. Aku antar kalian ke sana, agar bisa melindungi perjalanan kita ke Solo.” kata dokter Budi.
Dokter Budi membimbing kami menuju ruang garasi mobilnya. Setelah tiga kali belokan dan ruangan akhirnya sampai juga.
”Dokter Budi yakin dengan keamanan kami, kalau didampingi perwira itu?” tanya Iqbal meyakinkan.
”Sekarang ini Tentara dan Polisi telah mereformasi diri mereka. Mereka sekarang benar-benar melindungi rakyat yang seharusnya mereka lindungi. Aku benar-benar tahu bagaimana mereka itu. Mereka berjuang keras membangun citra baik dengan mereformasi diri mereka dari dalam. Semua proses dibuat sangat transparan. Aku tahu betul, karena aku kan asisten kepala Dinas Kesehatan. Jadi aku sering rapat dengan mereka. Termasuk perwira yang akan aku mintai tolong. Namanya Kolonel Jauhari.” Jelas dokter Budi.
Tampak mobil Toyota Kijang Inova hitam berdiri kokoh dan elegan. Dokter Budi menyilahkan kami masuk.
”Kalian duduk di jok paling belakang saja, biar tidak mencurigakan. Sehingga dari depan yang terlihat hanya aku saja yang ada di mobil.” kata dokter Budi, sambil memencet-mencet tuts yang ada di handfonnya.
”Siap komandan!” kataku sambil memasuki mobil bersama Iqbal dan Harun.
Untuk sementara aku bisa tenang, demikian juga Iqbal dan Harun. Cuman aku masih mengkhawatirkan nasib Imam dan Widodo. Mudah-mudahan mereka lolos dan selamat.
Tampak dokter Budi masih menelfon seseorang, sambil membukakan pintu, secara sepintas terdengar pembicaraan..
”Minta tolong anak buah pak Jauhari yang membawa Inovanya nanti sesampai di Polsek ya pak. Sepuluh menit lagi insya Allah sampai” kata dokter Budi mengakhiri pembicaraan lewat handfon dan menyalakan mesin mobil. Halus sekali suaranya. Tidak seperti mobil truntung bapak. Mobil bergerak keluar dan nyaris tanpa suara yang terdengar.
Keluar dari rumah dokter Budi, dik Iqbal sempat memberikan isyarat kepada ku dan Harun kalau ada orangnya Yo yo yang memelototi mobil dokter Budi setelah beberapa meter keluar di jalan. Beberapa saat kemudian tampak di belakang ada sepeda motor yang membuntuti.
”Tampaknya kita dibuntutin orang Bud” kataku
”Kayaknya ya” kata dokter Budi sambil memperhatikan spion mobil.
”Kalian bertiga semuanya pasang sabuk pengamannya” kata dokter Budi sekali lagi.
Dari belakang kulihat satu mobil tampaknya mitsubishi L 300 dan satu sepeda motor tril. Sementara dokter Budi makin mengencangkan laju Inova yang dikendarai. Dokter Budi sudah hafal betul tikungan-tikungan, tanjakan, dan jurang terjal di sepanjang jalan ini. Begitu lihai sekali dia. Tapi kami yang dibelakang dibuat was was dan berdesir ketika dokter Budi melakukan berbagai manuver-manuver.
Tampaknya dokter Budi sudah memprediksi keadaan ini. Sejak dari rumahnya tadi sudah mengaktifkan headset handfon-nya. Memencet berulang ke nomor seseorang. Mengomunikasikan keberadaannya kepada seseorang yang dia telfon.
”Baru sampai di tikungan kilometer kelima! Kita dibuntutin mobil L300 dan satu motor tril! Lima menit lagi insya Allah nyampe” kata dokter Budi, seperti orang yang bicara sendiri.
Aku dan kedua adikku terdiam dan hanya saling berpandangan, setelah itu mata memelototin jalan yang dilalui Inova yang kami tumpangi dan sesekali menengok ke belakang melihat pembuntut itu berjuang keras memacu kendaraan mereka. Tampaknya tertinggal agak jauh. Hanya motor tril saja yang agak mendekat. Aku tidak menyangka kalau saat ini benar-benar mengalami olah raga detak jantung dan memacu adrenalin. Was-was dan pasrah berdoa.
Di sela-sela tubuh-tubuh kami yang berayun-ayun. Kupejamkan mata, kembali kupasrahkan diri kepada Allah, Dzat yang maha mengatur segala sesuatu. Dzat Yang Maha Menghancurkan Makar para penentangnya. Dzat Yang Maha Menghendaki siapa saja yang Dia kehendaki mendapatkan kemenangan. Aku hanya pasrah. Demikian juga kedua adikku. Kami hanya bisa memperbanyak dzikir-dzikir yang dilantunkan oleh bibir-bibir kami.
Berkali-kali motor tril itu berhasil mendekat. Dan satu kali pengendaranya berhasil menendangkan kakinya pada bodi mobil inova. Tapi tidak keras, kayaknya tidak menimbulkan goresan atau cekungan.
Mobil Inova terus melaju kencang dan lincah menyusuri kejutan-kejutan jalanan pegunungan yang tidak dapat diprediksi dan dalam gelapnya malam. Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun dokter Budi benar-benar menunjukkan kepiawaiannya dalam kendali pengemudian.
Sementara itu di belakangnya walaupun L300, teknologinya lebih lama ketimbang teknologi mesin Inova, pengemudinya pun juga lihai dan tak kalah gesitnya dengan dokter Budi. Apalagi pengendara motor tril.
”Allahu Akbar! Mobil yang sholeh! Mobil yang sholeh!” teriak dokter Budi.
Kami bertiga saling berpandangan tidak mengerti.
”Maksudnya?” tanyaku melongo
”Di depan itu kantor Polsek, sejak satu kilometer tadi para pengejar sudah menghentikan kendaraan mereka. Mereka tahu di depan kita kantor polsek. Tampaknya mereka bersiap berganti kendaraan pengintai. Ada yang memata-matai kita di sekitar sini” kata dokter Budi
”Terus langkah kita bagaimana?” tanya Harun.
”Don’t worry, they have second plan, we have second plan too” tenang dokter Budi
”Second plan?” tanya kami serempak
”Yes, just follow the scenario.. OK!” jawab dokter Budi mantap
”Yah kita ngikut saja sama our leader” kataku
”Ya ya ya aku baru paham” kataku mantap kepada dokter Budi.
”Kalian turun dulu. Kita berganti mobil” kata dokter Budi sambil membuka pintu, dan mengangkat kursi di baris kedua, agar kami bisa keluar.
”Terima kasih ya Bud” kataku
Sesosok pria tegap, berpenampilan bersih dan rapi, berkumis tebal, datang menghampiri kami.
”Eh..kenalkan ini kolonel Jauhari” kata dokter Budi.
”Saya Karim”
”Saya Harun”
”Saya Iqbal”
Sambil menyalami kami bertiga, kolonel Jauhari memerkenalkan dirinya
”Saya Jauhari”
”Saya sudah faham kondisi kalian, teman Anda Widodo dan Imam beberapa hari yang lalu melapor kepada kami, mereka kehilangan kalian. Saya antar kalian ke Solo malam ini juga bersama empat anak buah saya.” kata kolonel Jauhari.
Aku perhatikan ternyata plat nomor kijang inova itu sama persis. Setelah berbasa-basi sebentar, kami dipersilakan masuk ke salah satu kijang inova itu. Satu kijang inova meluncur duluan menuju Solo, sepuluh menit kemudian rombonganku beserta kolonel Jauhari. Kemudian diikuti mobil patroli ditumpangi empat anak buahnya. Sementara itu kijang Inova dokter Budi dengan dikawal satu mobil patroli pulang kembali ke rumah dokter Budi beberapa menit kemudian.
Sekarang ini aku melihat persoalan yang demikian menggunung ada di depan mata. Mencari uang cair sebanyak setidaknya dua ratus juta. Pertama seratus lima puluh juta untuk melunasi utang-utang beserta komisi yang harus dibayar dik Iqbal. Kedua, mencarikan rumah kontrakan baru untuk bapak, ibu dan aku berharap dik Iqbal mau mendampingi bapak dan ibu di rumah kontrakan baru itu. Aku berharap agar ada yang mengawasi dan merawat kesehatan bapak ibu. Ketiga butuh modal awal bagi dik Iqbal untuk memulai usaha baru. Keempat, membangkitkan semangat bangkit dik Iqbal dari reruntuhan usahanya beserta harga dirinya yang benar-benar terpuruk dengan keadaan ini. Dik Iqbal sekarang kepercayaan dirinya serasa di dasar jurang yang paling dalam di dunia. Sangat terpuruk.
Kalau aku merunut ke belakang, ketika bapak dan ibu memutuskan untuk menjual tanah dan rumah yang kami tinggali ketika dulu mbak Fatimah dan mbak Malika kuliah di fakultas kedokteran. Rumah baru belum selesai, yang kami tempati adalah bakal dapur yang bisa dianggap satu kamar, pintu belum jadi, listrik belum ada. Angin malam seenaknya saja masuk menyapa tubuh-tubuh kami, ketika tidur. Ibu berjualan makanan dengan beratap terpal. Aku merasa berdosa kalau ingat waktu itu, mengapa harus malu dilihat teman-teman melihat kondisi rumah kami yang memprihatinkan. Termasuk pula malu bila ikut membantu ibu melayani orang yang makan di warung terpal ibu. Belajar di malam hari dengan lampu petromax. Aku ingat betul, celana aku tambal berkali-kali, aku jahit sendiri, termasuk sepatu yang jebol, dijahit seadanya. Untuk sekolah dokter bagi mbak Fatimah dan mbak Malika termasuk aku sendiri, bagi keluargaku bagaikan si pungguk yang merindukan bulan. Sangat tidak masuk akal. Aku ingat betul ketika pulang dari sepeda naik sepeda ontel reot, aku bermimpi suatu saat nanti aku akan berhasil, mencapai jauh yang aku miliki saat ini. Aku akan pindah dari takdirku sekarang yang miskin menjerat.
Walaupun akhirnya sedikit demi sedikit mendekati normal, datanglah musibah dik Iqbal. Ya Allah karuniakanlah kesabaran kepada keluarga kami.
Sedangkan aku sendiri, harus menyelesaikan urusan pelantikan dokter dan mencari uang untuk menutupi biaya pelantikan dokter. Meminta lebih pada bapak ibu di Nganjuk tidak tega rasanya menambah penderitaan di atas penderitaan.
Dan yang lebih besar lagi bagi diriku adalah hubunganku dengan de Ais. Itulah yang paling membuatku sangat gelisah. Tidak terima. Merasa terhina. Merasa terkhianati. Hati ini serasa dicacah-cacah habis. Kehormatan ini serasa diinjak-injak. Muka ini serasa dicabik-cabik oleh kuku-kuku kotor. Dihina. Sialan benar dokter KinDono.
Waktu tidak dapat dibuat dibuat berjalan terbalik. Kalau tahu seperti ini, pasti aku sudah memilih yang lain.
Ya Allah...
Aku yakin Engkau tidak akan memberikan cobaan yang melebihi kapasitas yang dimiliki hamba-Mu ya Allah. Betapa beruntungnya orang yang benar-benar beriman. Hatinya selalu merasa aman atas segala cobaan hidup yang diberikan Allah kepada mereka. Di berikan nikmat bersyukur. Diberi cobaan mereka mengucapkan innalillaahi wainna lillaahi roji’un. Sesungguhnya segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah.
Laa yukallifullaahu nafsan illa wus’aha....
Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan beban melainkan sesuai dengan kapasitas hamba-Nya.
Ya Allah
Mengapa dunia ini serasa begitu sempit sekarang. Dada ini serasa sesak. Jantung serasa enggan berdenyut. Dunia terasa hampa tanpa makna.
Allaahumma anta robbi laa illaa ha illa anta..
Ya Allah, Engkaulah pelindungku tidak ada lagi yang mampu menolongku melainkan Engkau.
Aku memohon hanya kepada-Mu
Aku hanya bisa berdoa hanya kepada-Mu
Siapa lagi yang bisa aku keluh-kesahi selain Engkau ya Allah
Allaahumma inna na’udzubika min annusyrika bika syaian na’lamahu wanastaghfiruka limaa laa na’lamhu.
Ya Allah ya Tuhanku, aku memohon kepadaMu, lindungilah kami dari perbuatan yang paling Engkau murkai, menjadikan tandingan-tandinganMu entah itu harta, istri, segala yang tersirat dari pikiranku, hawa nafsuku, baik yang aku mengetahui maupun aku tidak mengetahuinya.
Ya Allah
Sesungguhnya Engkau adalah Tuhanku, yang Maha Mendengarkan doa
Kabulkanlah permohonanku
Lapangkanlah hatiku,
Selesaikanlah kerumitan hidup yang aku hadapi,
Walaupun permasalahanku tidak sebanding dan tidak ada apa-apanya dibandingkan para nabi-nabiMu, para rasul-rasulnyaMu, amanahnya melingkupi segala manusia, harus menyelesaikan masalahnya sendiri, masalah keluarganya sendiri...
Walaupun permasalahanku, tidak tertara dengan penderitaan ditelantarkannya nabi Yunus oleh kaumnya hingga masuk perut ikan.
Walaupun permasalahanku, tidak ada taranya dengan nabi Ibrahim yang sendirian di tengah kaumnya dan Engkau uji memisahkan anak dan istrinya ribuan mil di tengah padang pasir luas yang menyengat hanya memenuhi perintahMu
Walaupun permasalahanku, tidak ada taranya dengan hinaan dan lemparan batu kepada rasulMu yang mulia Muhammad SAW ketika mencoba hijrah di Yatsrib.
Walaupun hati ini, jiwa ini penuh dengan dosa, sangat bodoh, sombong dan tidak tahu diri...tidak utuh sebagai hambaMu
Tanpa aku sadari air mata ini menetes...bergulir dengan hangat membasahi pipiku.
Rindu rasanya ingin segera sampai kota Solo...
Sholat tahajjud, bermunajat kepada Allah
Memperbanyak tadarus Al-qur’an
Mengikuti jejaknya Imam Maliki sebelum melangkah menuju tempat pencambukan beliau...karena mempertahankan keyakinan
Menelusuri jejak para ulama dan sidiqin
Menjadikan sabar untuk tunduk dan taat kepadaNya sebagai kekuatan
Bersusah-susah membangun rasa aman dan tenteramnya seorang mukmin.
Pulang kembali kepada jalanMu menunggu datangnya waktu yang tlah Engkau janjikan
Dari novel "Assalamu'alaikum matahariku" bagian ke 21
Ketenangan dalam keterasingan
Udara senja yang dingin, diam-diam menyusup masuk di sela-sela serat baju dan jaket yang menutup rapat tubuh-tubuh kami. Diam-diam kegelapan mulai siap menggantikan kepemimpinan cahaya siang. Hingga akhirnya seratus persen gelap menguasai alam semesta. Kelelawar beterbangan menyambut berkuasanya sang kegelapan. Kekuasaan kegelapan memberinya mandat untuk sepenuhnya menggunakan karunia indera yang Allah berikan... melihat terang-benderang dalam kegelapan. Melihat dengan jelas apa-apa yang telah Allah gariskan padanya untuk ia konsumsi. Sementara makhluk yang jadi target konsumsinya tidak menyadari dan tidak melihat kehadirannya. Kelestariannya tetap terjaga, menemani kehidupan manusia... yang sering lupa untuk berdzikir pada-Nya.
Adzan maghrib sayup-sayup kecil mulai terdengar.
”Mas ... kita dekat dengan pemukiman penduduk!” kata Harun
”Iya…. Antara senang dan was-was” kata Iqbal
“Senang dan was-was?” tanyaku
”Senang karena kita mempunyai harapan bertemu dengan orang yang mau menolong kita kembali ke Solo, was-wasnya... orang-orang Kolonel Prawoto dan Yo Yo sudah melakukan ’warning’ kepada penduduk desa itu kalau menjumpai tiga laki-laki asing salah satunya ada memar-memar wajah, harus segera melapor” jelas Iqbal
”Benar juga... kita memang masih belum aman. Penampilan kita, tiga hari ini kita belum mandi, jelas bau badan akan mudah tercium dari kejauhan. Rambut acak-acakan. Baju kotor oleh tanah, berdebu. Wajah-wajah kita, kusut dan kusam. Akan mudah terdeteksi kalau kita ini orang yang dimaksud.” kataku menambah data
”Lalu kita harus bagaimana mas?” tanya Harun yang mulai cemas.
”Kita sholat jama’ takdim maghrib dan isya’ dulu di dekat sini. Itu ada tempat yang datar, dan tersembunyi......kita wudhu di sana ada pancuran air pengairan, air di sini masih alami” kataku mencoba menenangkan.
Aku yakin kalau sholat, hati ini jadi tenang, pikiran bisa jernih, tidak emosional, walaupun pada saat itu penuh tekanan, dikejar-kejar musuh, mendekatkan diri pada Sang Maha Pemberi Keamanan, meningkatkan ruhiyah... berharap pertolongan-Nya.
Kami bertiga sholat sendiri-sendiri dengan punggung saling merapat dan saling membelakangi, tidak memperhatikan lagi arah kiblat memadukan konsentrasi makna bacaan-bacaan sholat, tetapi juga waspada mata dan telinga...mengatur siapa yang sujud duluan, siapa yang berdiri dan siapa yang bisa duduk diantara dua sujud.... agar kami bertiga tidak lengah.
---------------
Kegelapan sudah benar-benar meresap hingga pori-pori kulit. Kelip-kelip cahaya lampu di kejauhan menghilangkan monoton kegelapan. Cahaya-cahaya yang keluar dari lampu rumah-rumah penduduk. Desa atau mungkin kecamatan sudah semakin mendekat. Diantara kelip-kelip lampu yang jarang, ada satu wilayah yang kelip-kelip lampunya makin padat populasinya. Diselingi kelip-kelip lampu yang berjalan dalam dua arah. Jelas itu adalah cahaya yang keluar dari kendaraan bermotor dan mobil. Yang kelip-kelip cahaya jarang itu jelas desa, sedang yang populasi kelip-kelip padat itu menandakan daerah kecamatan. Banyak penduduk dan lebih sibuk aktivitas warganya.
Sementara jalanan semakin menurun dan semakin mendatar. Remang-remang cahaya rembulan membantu mata kami melihat jalan-jalan setapak yang harus dilewati.
Aktivitas kami....
Terus berjalan....terus berjalan dan terus berjalan.
Seperti pemukul batu, yang terus memukul, terus memukul dan terus memukul... tidak dipikirkan lagi ia melakukan pukulan ke berapa... yang penting ia terus terus dan terus menerus memukul batu besar yang ukurannya melebihi ukuran tubuhnya.
Ia hanya yakin suatu saat nanti batu itu akan pecah...
Kami pun juga seperti itu, dan yakin suatu saat nanti akan sampai juga di tempat tujuan yang aman, yang menyelesaikan segala permasalahan.... mengurai kerumitan hidup kami. Insya Allah.
--------------------
“Mas Karim... itu lihat.... dokter Budi PK!” Kata Iqbal sambil menepuk punggungku
“Mana?” tanyaku
“Itu plakat dokter Budi PK. Mungkin dokter Budi Prastyo Kurniawan. Teman satu kos mas Karim dulu. Masih ingat mas?” tanya Iqbal
”Jelas ingat... kami bertujuh punya rahasia ’failure climber’ dulu masih belum co-ass. Mudah-mudahan dokter Budi yang di depan sana, adalah teman lama dan bisa kita mintai pertolongannya.” kataku
”Tapi bagaimana caranya, kita pura-pura jadi pasien. Tuh mas bisa lihat sendiri kan pasiennya berjubel begitu banyak..” kata Harun yang mulai menyangsikan keberhasilan rencana.
“Kita lihat-lihat dulu, kalau tidak ada pasien emergency, kita bisa minta tolong petugas administrasi yang didepan itu untuk menyampaikan pesan kalau kita teman lama sedang tersesat dan minta pertolongan beliau. Itu pun kalau kita sudah yakin dokter Budi PK adalah teman mas Karim waktu kuliah dulu. Dia lulus satu semester lebih dulu ketimbang aku. Aku sendiri sebenarnya secara de facto sudah lulus, tetapi secara de jure belum, karena aku belum punya ijazah dokter. Kalau seandainya benar dia dokter Budi PK, berarti luar biasa dia, baru enam bulan lulus sudah punya pasien yang demikian banyak.” Kataku
“Udah mas Karim, kita tahu kita berhasil atau tidak, kita harus mencoba dulu dengan segala resiko yang sudah kita antisipasi sebelumnya” kata Iqbal mantap.
“Gini mas Karim, biar mas Iqbal yang jadi pasiennya. Wajahnya kan masih biru-biru dan masih bengkak. Jadi kita ada alasan untuk berobat” Harun menimpali dengan tidak kalah mantap pula.
“OK bismillaahirrohmaanirrohiim. Bismillaahi tawakaltu ‘alallaah walaa haulaa walaa quwwata illa billaah” kataku
----------------------------------
Rumah itu termasuk rumah mungil tapi eye catching. Seperti kebiasaan rumah dokter, selalu ada ruang tunggu biasanya merangkap sebagai garasi yang berhubungan langsung dengan ruang praktik. Kurang lebih ada sepuluhan pasien yang masih menunggu antrean.
“Bu Marto!” teriak dokter Budi memanggil antrean pasien. Posisi beliau saat itu menyembulkan diri keluar pintu. Sehingga terlihat jelas wajah dan postur tubuh beliau.
“Yaa jelaas Budi! Allahu akbar!” kataku dalam hati, seperti air bah yang hampir menjebol bendungan. Rasa girangku.
Tetapi….
Mata-mata liar itu. Mata-mata para pasien dan pengantar itu tidak dapat menutupi rasa curiga yang menyeruak dari dalam batin mereka. Aku tahu mereka memprihatinkan kondisi sakit mereka. Tetapi bagaimana kehadiranku dan kedua adikku merubah suasana yang ada dalam ruang tunggu dokter Budi.
Ketika melintasi cermin yang terpampang di dinding menuju tempat pendaftaran, sepintas aku lihat penampilan kami bertiga sungguh sangat tidak normal bagi kebanyakan yang hadir. Seperti kelainan dalam mayoritas yang seragam. Kalau kelainan itu berwujud penampilan yang terbaik, tentu mereka bisa memaklumi. Tetapi penampilan kami bertiga. Tidak mandi sudah mau hari ke empat. Bau keringat mengumpul. Kalau di alam bebas akan sangat membantu kami, karena aroma tubuh menyatu dengan alam, tetapi di sini di tempat praktik dokter Budi, walaupun mereka dalam keadaan sakit, setidaknya mereka memakai parfum sehingga masih tercium aroma harum. Walaupun beberapa diantaranya mengandalkan aroma pada minyak kayu putih atau minyak cap kampak. Tidak gosok gigi tiga hari. Bau mulut tentu sangat mengganggu ketika bercakap-cakap. Rambut kumal, beberapa helai bercampur tanah, ketika harus melewati tanah curam, terpaksa ngesot dan debu berserakan mengisi ruang-ruang antar rambut. Wajah ini demikian legam dan mengkilap. Betapa tidak seharian penuh dalam perjalanan terpapar sinar matahari musim kemarau. Kumis dan jenggot tumbuh begitu liar, tidak dicukur. Benar-benar lain penampilan ini.
Penampilan Iqbal lebih heboh lagi.
--------------------------
“Mbak, ini mau mendaftar. Nama pasiennya Iqbal, umur 22 tahun” kataku
“Alamat?” tanya mbak resepsionis sambil menulis identitas Iqbal di kartu catatan medis
”Terus terang kami dari Solo, kami tersesat mbak, sudah 3 hari ini kami di gunung sana. Ini adik saya terjatuh.” jawabku
”Mbak mau nanya, dokter Budi dulu alumnus dari mana nggih? Tanyaku
”Ga tahu ya.. katanya dulu dari Solo kuliahnya, memang ada apa kok nanya alumnus dari mana?” jawab mbak resepsionis
„Cuman mau nanya saja. Soalnya saya merasa wajahnya sudah ga asing dan merasa sudah kenal“ jawabku
„Trus?“ tanya mbak resepsionis
„Dah ga pa pa kok“ jawabku berusaha mengakhiri pembicaraan
„Silakan duduk dulu menunggu antrean“ kata mbak resepsionis
-------------------------
Tiba-tiba saja....
„Mas Karim, tampaknya orangnya si Yo yo ada di ujung sana... kita harus bagaimana?“ bisik Iqbal dengan merapatkan diri mendekatkan mulutnya ke telingaku.
”Di sebelah mana?“ kataku dengan berbisik juga
”Jam 10 baris ke 3 dari ujung paling luar” bisik Iqbal
”Kita cuek saja... ga usah cemas atau risau” jawabku mencoba menenangkan. Mataku juga melakukan usaha scaning pada koordinat yang ditunjukkan Iqbal. Seorang pria umur tiga puluh limaan tahun. Badan tegap. Wajah kualitas kebanyakan orang. Rambut tidak menunjukkan kalau dia ini sosok militer alias panjang rapi normal kebanyakan orang, lurus dan tersibak di sebelah kanan.
Meski begitu aku bisa melihat penampakan kulit pasien-pasien yang ada di depanku. Aku jadi ingat kalau aku ini adalah dokter. Bapak-bapak yang berada di depanku ini dari wujud kelainan kulitnya ada kulit ada bercak-bercak kecil kemerahan, kulitnya melepuh menjadi gelembung-gelembung kecil yang berisi cairan. Tersebar merata di seluruh tubuhnya, aku tahu itu adalah cacar air atau biasa disebut varicella.
Aku tahu pemuda di samping kanan bapak tadi pergelangan tangannya ada ruam-ruam merah dan kasar. Itu tanda penyakit dermatitis. Seorang bapak tua di sampingnya lagi, kaki bengkak, wajah pucat, nafasnya tersengal-sengal, aku tahu itu adalah tanda-tanda gagal jantung. Kalau diperiksa memakai stetoskop akan terdengar suara seperti rambut yang digesek-gesek, biasa disebut ronchi basah. Obatnya diberi digitalis, diuretik kalau tensinya tinggi dikasih obat penurun tekanan darah. Di ujung sebelah sana seorang anak remaja umur sepuluhan tahun memakai jaket tebal ingusnya meler petanda sedang menderita common cold atau influenza.
Ingin ku katakan pada semua orang yang ada di sini ’aku ini seorang dokter!!! Jangan pandangi aku seperti ini’... tapi apalah artinya kalau penampilan fisikku saat ini. Lebih tepatnya seperti seorang gelandangan yang pakaiannya lumayan baik untuk ukuran seorang gelandangan. Aku benar-benar menjadi orang asing. Sekarang terasa betul betapa pentingnya penampilan itu. Karena aku berpakaian jas dokter maka orang segera memanggilku dokter. Karena penampilanku bersih orang lebih bisa hormat. Tapi saat ini... aku benar-benar menjadi orang yang tidak berharga. Diremehkan dihadapan manusia. Padahal kalau ingat saat mengasih pengertian pada anak-anak TPA dulu, ikhlas itu tidak lagi memperhatikan bagaimana pandangan manusia. Tetapi yang diutamakan adalah dalam pandangan Allah. Persetan dengan pandangan orang, kalau Allah tidak me-ridhoi, ya... kita tinggalkan.
Dan.....
Saat ini adalah ujian nyata menghadapi diremehkan di hadapan manusia. Kehilangan harga diri di hadapan manusia. Bahkan menjelang mau masuk sini tadi beberapa pengantar sempat merogoh sakunya, mencari uang receh. Tetapi begitu kami menolak, mereka baru sadar kalau kami ini bukan pengemis. Ternyata begini nih rasanya dianggap sebagai pengemis. Begitu terhina. Dilecehkan.
”Tahu tidak...Aku ini seorang dokter!” ingin hatiku meneriakkan. Tapi aku sadar kalau aku berteriak seperti itu, keadaan akan makin bertambah parah. Bisa-bisa aku dianggap orang gila. Dan mereka semua akan ramai-ramai mengusirku.
Aku teringat tokoh penting di Muhammadiyah bahkan sebagai ketua umum pimpinan pusat, almarhum bapak AR Fahrudin rahimahullah, begitu tawadhuknya beliau, ketika ada delegasi utusan dari daerah, yang notabene adalah bawahan beliau, tidak mengetahui dihadapannya adalah pimpinannya, bahkan pimpinan tertinggi, ditanya-tanya dengan tidak sopannya bahkan disuruh membawakan barang bawaannya serta disuruh pula mengantarkan ke penginapannya. Walaupun akhirnya setelah mengetahui bahwa orang yang ditanya-tanya secara kasar, disuruh membawakan barang dan mengantarkannya ke tempat penginapan adalah pimpinannya yang tertinggi, orang tersebut langsung pingsan. Almarhum bapak AR Fahrudin rahimahullah, tidak emosi, ataupun menunjukkan diri kalau beliau itu atasan dan tidak sepantasnya diperlakukan seperti itu. Ternyata aku saat ini, mengalami sebenarnya tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan pengalaman almarhum bapak AR Fahrudin rahimahullah.
Ya Allah berikanlah aku kesabaran sebagaimana yang telah Engkau berikan kepada almarhum bapak AR Fahrudin rahimahullah...
-----------------------------
Di antara tatapan mata aneh pasien dan pengantarnya, di ujung sebelah kanan sana ku lihat seorang wanita muda cantik....
Sepertinya aku kenal sosok wajah itu.
Endar? Endar yang sudah lama menghilang... maksudnya tidak pernah lagi menjadi customer dik Iqbal. Aku tidak tahu kemana dia pergi. Mengapa dia berada di sini. Mungkin dia bekerja di daerah sini. Kalau seandainya dia Endar aku berkhusnudzan berarti dia sudah lulus, mendapatkan pekerjaan di sini.
Aku yakin dia pasti tidak mengenali penampilanku dan Iqbal saat ini. Sangat dramatis perubahannya.
Ya sudah.. aku layangkan pandanganku ke arah ujung kiri... seorang bapak muda kira-kira berusia tiga puluh limaan tahun. Badannya tegap tinggi tampaknya dia tidak sakit. Mungkin dia mencari surat keterangan sehat. Atau seperti yang dikatakan Iqbal, orangnya si Yo Yo.
Persetan semuanya... aku harus ketemu dengan dokter Budi, aku harus bisa meyakinkan kalau aku ini benar-benar temannya. Aku harus bisa meyakinkan dirinya agar bisa memberikan bantuan kepadaku untuk keluar dari daerah ini dengan selamat.
Satu per satu pasien dipanggil dan keluar dengan membawa obat. Giliran Iqbal makin lama makin dekat.
”Robisrohli wayassirli amri wahlul ’uqdatammillisaani yafqohu qouli... amin amin amin ya Allah dengarkan doa kami...kabulkanlah permohonan kami...” aku hanya bisa pasrah. Ku serahkan semua urusanku kepada Yang Memiliki Segala Kekuatan dan Kekuasaan. Yang Maha Kuasa atas segala urusan. Kami berbuat kebenaran, menentang kemungkaran. Allah SWT telah berjanji barangsiapa yang berjihad di jalan-Nya, sungguh Dia akan menunjukkan jalan-jalan keluar itu. Aku yakin pada janji-Nya. Aku yakin pertolongan-Nya sudah sangat dekat.
Aku benar-benar menyadari perjalanan ini sangat beresiko. Apalagi yang dihadapi adalah sebuah organisasi kejahatan yang profesional.
Kalau kami mati dalam perjalanan yang tidak menentu ini, setidaknya aku sadar betul bahwa aku dipanggil oleh-Nya tidak dalam keadaan bermaksiat kepada-Nya. Aku selalu berusaha memenuhi panggilannya ketika waktu-waktu sholat lima waktu. Saat ini benar-benar menghayati ucapan-ucapan saat haji. ’Labaikallaahumma labaik’ aku penuhi panggilan-Mu ya Allah. Rindu bertemu kepada Zat Yang Maha Mencipta. Rindu bertemu ketika sedang berusaha menyucikan diri dan jiwa kita. Rindu ingin kembali kepada perintah-perintah-Nya. Rindu kepada kesucian diri dan hati. Aku berharap semoga Allah menghitung perjalanan ini sebagai sebuah ’jihad’-ku. Bila aku mati dalam perjalanan ini, aku yakin ini adalah sebuah usaha untuk menyucikan diri dengan darah yang keluar karena mempertahankan iman. Darah yang menyucikan seluruh dosa-dosa sepanjang hayat. Sebuah kematian yang mulia. Sebuah kematian yang dirindukan. Dan aku rindu itu.
..............................
”Saudara Iqbal!” panggilan dokter Budi tiba-tiba memudarkan perenunganku. Kemudian kami bertiga masuk dalam ruangan praktiknya.
”Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” dokter Budi mengucapkan salam kepada kami, sembari menjabat tangan kami satu persatu.
”Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh” jawab kami bertiga serentak.
”Mas Iqbal kena apa nih? Luka-lukanya sudah mulai mengering. Lho ini kok kusut semua?” tanya dokter Budi.
”Ceritanya panjang dokter Budi. Dokter Budi ingat punya teman bernama Karim? Abdul Karim Abdullah?” tanyaku
”Iya dia itu teman saya, dari Nganjuk. Mengapa Anda menanyakan dia? Apa hubungannya dengan Anda?” dokter Budi balas menanyakan.
Masya Allah sebegitu parahkah penampilanku hingga temanku yang dulu pernah satu kos bersamaku lupa dengan wajahku.
”Sekarang yang dokter hadapi saya, Abdul Karim Abdullah itu adalah saya.” jelasku
”Tidak... Tidak... sekarang maksud kedatangan saudara bertiga ini apa! Di luar banyak pasien mengantre. Waktu saya habis untuk ini. Terus terang saja kalau mau minta uang karena kehabisan uang perjalanan jauh. Ga usah bertele-tele menyebut Abdul Karim Abdullah segala. Beberapa waktu lalu ada orang pura-pura kenal saya, ngakunya jualan nasi di dekat rumah sakit...ujung-ujungnya mau pinjam uang untuk sewa ambulan untuk mengangkut ibunya yang sedang sekarat ke rumah sakit.” kata dokter Budi yang makin meninggi nada bicaranya.
”Bismillah... dokter Budi, memang kami bertiga kehilangan kartu identitas kami... ta..” belum selesai menuntaskan kalimat sudah dipotong oleh dokter Budi
”Sudahlah jangan bertele-tele!” bentak dokter Budi
”Mohon dengarkan satu kalimat saja dokter budi” kataku memelas memohon.
”Ya” jawab dokter Budi dingin
”Kita dulu berlima pernah satu kos di wisma JANAKA. Saya, dokter Budi, Darmanto, Santoso dan Barkah. Kita dulu bertujuh pernah mendaki di gunung Lawu dan tidak sampai puncak dan kita sepakat merahasiakannya hingga sampai sekarang. Tak ada yang tahu kalau kita bertujuh pun tidak sampai puncak, walaupun kita sudah mencapai pos 6. Kedua adikku ini bahkan baru tahu sekarang setelah aku ngomong tentang hal ini. Kita mengasih kode untuk peristiwa itu the failure climber. Masihkah tidak memercayai aku dokter Budi?” jelasku meyakinkan.
”Oh begitu Rim... Maaf ya... akhir-akhir ini memang banyak orang ngaku-ngaku kenal, dan ujung-ujungnya meminta duit. Tahu sendirilah kalau kita pasang plakat dokter, ada saja orang yang minta bantuan atau sumbangan. Terus terang aku sangat selektif dengan hal itu.” kata dokter Budi yang tidak dapat menutupi wajah malunya.
”Mengapa penampilanmu bisa berantakan begitu?” tanya dokter Budi keheranan.
”Ceritanya panjang, sekarang aku butuh bantuanmu. Di luar sana kami sedang dikejar orang-orang jahat yang mau membunuh kami bertiga. Aku mohon bantuanmu agar kami bisa lolos dari jebakan ini. Mereka menyamar jadi pasien seperti halnya kami.” kataku
”OK gini saja. kalian bertiga mandi dulu, kebetulan aku punya tiga kamar mandi di dalam. Habis itu ganti baju, ubah penampilan kalian. Lima belas menit lagi aku akan masuk ke dalam dan mengantar kalian ke Solo.” kata dokter Budi.
”Tapi mereka yang mengejar kami di luar bagaimana? Mereka pasti curiga. Kok setelah masuk tidak keluar lagi.” Iqbal angkat bicara.
”Tidak, di sini ada ruang perawatan inap. Di sebelah kanan ruang ini adalah ruang rawat inapnya. Kalian tadi tidak lihat sebelum masuk sini?” kata dokter Budi.
”Lha terus...?” tanya kami bertiga kompak.
”Kalian lewat pintu sebelah kiri. Itu akses masuk menuju rumah. Itu ruang pribadi. Di dalam sana ada tiga kamar mandi. Ayo aku antar.” kata dokter Budi, seraya berdiri dan mengarahkan kami.
Dokter Budi mengantar kami masuk ruang pribadinya. Sebelum masuk dia memberi isyarat kepada istrinya karena ada tiga lelaki bukan makhromnya memasuki ruang pribadi. Memberikan kesempatan untuk membenahi diri. Di dalam ada istri dan dua anaknya. Budi menikah memang sebelum Co-ass. Jadi wajar kalau anaknya sudah gedhe. Istrinya memakai jilbab putih. Dengan tatapan keheranan melihat kami bertiga.
”Siapa ini mas?” kata istrinya dengan tatapan tidak percaya
”Ini Karim, temanku kuliah dan satu kos dulu. Dia sedang tersesat dan dalam masalah. Butuh bantuan kita. Biarkan mereka mandi dulu. Tolong siapkan baju ganti milikku. Insya Allah bajuku dan Karim serta dua adiknya seukuran.” kata dokter Budi.
”Iya mas.” kata istrinya.
Beberapa saat kemudian istrinya mengeluarkan tiga stel baju plus celana beserta pakaian dalamnya untuk kami bertiga.
”Itu untuk kalian, ga usah dikembalikan” kata dokter Budi.
”Terima kasih ya Bud, mudah-mudahan Allah SWT memberi kalian balasan yang jauh lebih baik... amin” kataku
”Lima belas menit lagi aku masuk kedalam, aku antar kalian. Biar istriku siap-siap untuk melanjutkan praktik. Istriku juga dokter kok Rim. Lulusan dari FKUGM” kata dokter Budi sekali lagi.
”Tolong ya Bud, jangan membuat kecurigaan” pinta ku
”Iya Rim don’t worry” kata dokter Budi
Segera kami bertiga mandi. Membersihkan badan dari kotoran-kotoran yang melekat. Segar rasanya setelah empat hari tidak mandi. Kemudian makan nasi hangat dengan sayur sop ayam hangat. Nikmat rasanya. Sebuah jenis nikmat yang sudah beberapa hari ini tidak kami rasakan.
Dari novel "Assalamu'alaikum matahariku" bagian ke 20
entah kapan kembali
Pohon-pohon itu, bongkahan-bongkahan tanah itu, gumpalan-gumpalan raksasa batu itu, akar-akar itu, batang-batang itu semua dalam keadaan kekuatan penuh dalam perlombaan besar-besaran ukuran. Semuanya menjulang tinggi, menyembul besar, menukik tajam dalam keadaan bisu dan terus mempertahankannya selama ribuan tahun. Ribuan tahun dalam ketundukan mengikuti apa yang ditakdirkan oleh Yang Maha Mencipta. Auksin-auksin[1] itu membakar semangat ujung batang-batang pohon untuk berlomba menjangkau matahari. Memperbesar ukuran, menambah tinggi, memacu pembelahan sel, agar matahari terlihat jelas oleh masing-masing lembar daun untuk membakar zat nutrisi agar menjadi makanan sumber kegairahan hidup.
Harusnya aku nikmati keindahan ini. Harusnya aku bisa bertadabur alam saat ini. Harusnya aku bisa merasakan rileksnya menyatu dengan kesegaran alam.
Pagi ini bersama kedua adikku Iqbal dan Harun, aku terdampar di hutan, gunung, kabut, udara dingin, air jernih dan dingin, serta perut yang makin lama makin keroncongan. Beruntung kemarin ketika belanja, korek api gas aku kantongi di celana sehingga walaupun disekap barang tersebut masih bisa aku bawa. Aku tidak tahu bagaimana nasib handphone-ku.
Aku melihat, tidak jauh dari tempat kami berdiri, mulai banyak semak dan padang rumput yang luas. Di daerah seperti inilah, biasanya banyak kelinci liar yang memakan rumput untuk melanjutkan kehidupannya. Inilah saatnya beraksi.
“Kita mencari makan untuk sarapan yuk” ajakku kepada kedua adikku.
“Nyari apa ya mas” tanya Harun
“Ya seadanya” jawab Iqbal enteng. Kulihat darah menggumpal kering di pelipis kanannya, disertai biru-biru dan lebam di pipi kanan pula.
“Ada yang bawa pisau?” tanyaku
“Aku bawa, tapi kecil, untuk apa tho mas?” jawab Harun
“Kayaknya di daerah sana banyak kelinci, kita bisa sarapan kelinci nih” kataku dengan menunjuk jari menuju sebuah lapangan rumput kecil dengan diseraki semak-semak dan tanaman umbi-umbian.
“Itu mas…” Iqbal menunjuk ke arah yang sama dengan yang aku tunjukkan tadi hanya berbeda sedikit koordinatnya.
“Ayoo tangkaap! Pelan-pelan! Jangan sampai mereka tahu kalau ada kita!” kataku
Kami bertiga berlari mengejar kawanan kelinci yang ada…
Iqbal dapat satu, aku dapat satu dan Harun dapat dua.
“Siapa yang menyembelih?” tanya Harun
“Aku saja” Iqbal menawarkan
“Ayo tunggu apa lagi” kataku
Empat kelinci hasil tangkapan disembelih Iqbal, sementara aku dan Harun yang membantu memegangi. Habis itu menguliti, menghilangkan kotoran, membuang usus dan jeroannya tinggal dagingnya.
“Aku yang mencari kayu bakar” Harun menawarkan diri
“Mas Karim yang membuat perapiannya ya..”kata Iqbal
Iqbal membuat kayu yang diruncingkan ujungnya, kemudian ditusukkan ke daging kelinci yang sudah bersih dan siap dipanggang. Beberapa saat kemudian Harun sudah mendapatkan kayu bakar yang banyak, dan dibuatlah perapian.
Saatnya membakar daging kelinci…
…………………………………..
Walaupun tidak ada bumbu, atau garam, memakan kelinci bakar tetap lahap mungkin karena sudah benar-benar kelaparan. Lalu masalah minumnya? Jangan khawatir, tinggal sruput dari sungai saja, pakai tangan. Pengalamanku ketika dulu naik ke gunung Lawu minum dari air sungai gunung langsung ga bikin penyakit ternyata, buktinya setelah pulang di antara tujuh orang yang ikut tidak ada yang sakit perut atau muntaber.
Alhamdulillah kenyang. Sudah lumayan menegakkan badan. Tidak loyo. Sejenak istirahat, duduk-duduk menikmati sapaan hangatnya sinar matahari pagi.
“Dik Iqbal, tadi malam kamu cerita tentang… semula antara kamu, dokter KindoNo dan Kolonel Prawoto serta… siapa....si Yo yo bandar judi. Trus mengapa setelah itkamu dijadikan buronan oleh mereka?” tanyaku sekaligus memulai kembali pembicaraan pagi setelah sarapan daging kelinci bakar.
“Awalnya lancar semuanya setor 10 % dari laba bersih kepada Kolonel Prawoto. Hingga ada peristiwa yang menyadarkan aku. Yu Slamet yang biasa memasak nasi untukku, suatu ketika meminjam uang kepadaku, berapa mas kalau mau tahu?” cerita Iqbal. Yu Slamet yang orangnya lugu, hanya jualan nasi kucing ke kos mahasiswa-mahasiswa.
“Aku ga tahu… paling seratus ribuan” tebakku
“Salah besar mas… LIMA JUTA RUPIAH” Iqbal berkata dengan semangat pada nominal pinjaman yu Slamet.
“LIMA JUTA RUPIAH? Lha untuk apa pinjam segitu besar? Untuk usaha warung makan?” kali ini Harun gantian bertanya.
“Bukan untuk apa-apa” jelas Iqbal
“Trus, untuk apa?” tanyaku dan Harun serentak.
“Untuk melunasi utang suaminya yang kecanduan main judi Cap Ji Kie. Suaminya yu Slamet tidak pernah bekerja. Setiap hari pekerjaannya hanya memegang buku kecil ‘analisa terjemahan mimpi ke dalam nomor Cap Ji Kie’, sambil menunggu jam keluar nomor Cap Ji Kie, dia main poker atau remi sendiri dengan sesama teman penggila Cap Ji Kie, dengan memakai uang. Jadi menunggu judi dengan judi” jelas Iqbal sambil mengompres luka di pelipisnya dengan sapu tangan yang dimasukkan ke air sungai.
“Astaghfirullahaladzim! Masya Allah! Lima juta hanya untuk itu” gumamku tak percaya dengan yang terjadi
“Lalu? “ tanya Harun yang penasaran dengan lanjutan cerita Iqbal
“Suami yu Slamet kalah telak judinya, ya sampai lima juta itu, dia mengancam akan menjual anak gadisnya sematawayang, Erna ke germo, bila yu Slamet tidak mau mencarikan uang sebesar itu” Kata Iqbal
“Astaghfirullahaladzim! Masya Allah!” kataku dan Harun bersamaan, dengan menggeleng-gelengkan kepala, penuh keheranan, kok ada seorang ayah sejahat itu pada anak kandungnya sendiri.
“Akhirnya aku pinjami, dan dari sana aku mulai menyadari kesalahanku mas, aku terlalu berambisi untuk mendapatkan harta segera dan dalam jumlah besar, aku ingin menunjukkan bahwa aku ini bukan orang biasa yang dengan begitu mudah diremehkan. Tetapi akhirnya menghalalkan semua cara dan ternyata cara itu memakan banyak korban dan korbannya adalah orang yang tidak mampu. Akhirnya menambah kejahatan baru yang lebih dahsyat lagi. Aku berniat untuk berhenti dari usahaku, dan memulai usaha baru lagi mas” kata Iqbal yang mulai meneteskan air matanya.
“Aku tidak hanya berniat ingin berhenti, tetapi juga ingin menghentikan bisnis dokter KindoNo, Yo yo dan terutama Kolonel Prawoto. Ternyata mereka terlalu besar dan terlalu kuat untuk dilawan. Kolonel Prawoto yang sebenarnya kapten yang disersi itu ternyata begitu lihai, begitu licin itu, polisi saja susah menemukan barang bukti yang membuatnya bisa terlibat. Belum lagi Yo yo, ternyata para centengnya begitu banyak dan kuat. Dan dokter KindoNo, otaknya terlalu encer, pinter melakukan spionase dan psikopat. Akhirnya menyadari, kalau aku ini seorang diri, tetapi menantang gerbong kereta yang berisi orang-orang profesional.” lanjut Iqbal dengan terbata-bata..
………….. beberapa saat mengusapkan air mata, menata suara kembali……..
“Terbesit dalam pikiranku, aku harus membuat bukti, makanya dalam pertemuan selanjutnya, tanpa sepengetahuan mereka semuanya aku merekam semua aktivitas penyerahan upeti kepada Kolonel Prawoto, entah siapa yang mengetahui aktivitasku, ternyata sampai juga ke telinga Kolonel Prawoto, hingga suatu ketika ada salah seorang karyawan yang bekerja di pengeringan daun teh sekaligus tempat penyulingan sabu-sabu, meng-sms aku, aku harus bersembunyi, termasuk dari pantauan si Jo, akhirnya aku lari dari Banyudono, ke rumah mas Tri Da Ko Can.. kadang ke tempat sahabat baruku yang pemulung yang bernama Herman “
“Karena aku tahu, mas Karim juga aktif di kegiatan KAPAS dan SEROJA yang ngurusin gelandangan, pengamen, orang-orang pinggiran serta anak-anak jalanan, makanya ketika bermain ke tempat Amar, aku hanya memakai kode menunjuk ke arah barat ketika menyebut Herman. Sebagai kode, karena si Jo selalu berusaha menguntitku dimana pun aku berada.”
“Akhirnya mas Karim segera mengontak Widodo dan Imam koordinator KAPAS dan SEROJA, kemudian mereka mengantarkan kepada mas Tri Da Ko Can..” jelas Iqbal.
“Lalu kemarin kolonel Prawoto menanyaimu tentang CD itu?” tanya Harun, sambil melepaskan jaketnya, ternyata dia masih membawa sabun mandi Nuvo dan terjatuh keluar dari saku jaketnya. Memang Harun termasuk cowok yang peduli sama penampilan, jadi dimana-mana selalu menjaga agar wajahnya tidak berminyak, bahasa Jawanya biar ga kilêng-kilêng. Itupun masih pake bedak tabur!
“Iya CD itu berisi rekaman transaksi Kolonel Prawoto dengan pemilik bisnis-bisnis illegal di Solo, ya berkumpulnya di tempat pengeringan daun teh itu.” Jawab Iqbal, pada saat bersamaan, dia sudah selesai mengompres memar-memar kebiruan di pelipis matanya, sekarang gantian aku yang mengompres. Aku suruh Iqbal berbaring.
“Sekarang CD itu berada di mana?” tanyaku
“Dia berada di tempat yang aman, di suatu tempat” jawab Iqbal dengan wajah meringis tanda kesakitan ketika aku mengompresnya dengan memberikan tekanan-tekanan ringan.
“Jangan-jangan di dalam saku jaket kita ada penyadap suara?” tanyaku dengan berbisik agar kalau suara yang aku keluarkan tidak terdeteksi oleh alat penyadap suara jika alat itu ada di sela-sela baju atau jaket. Ide ini terinspirasi dari kata-kata Iqbal yang belum mau mengatakan di mana tempat CD itu di simpan, dan pengalaman sebelumnya, ada penyadap di mobil bapak, yang aku melihat pantauannya di monitor dokter KindoNo.
Semua dari kami bertiga melepas jaket masing-masing, meraba-raba baju, lipatan kerah, menguras isi kantong….
“Ini ?” bisik Harun yang memegang sebuah benda berbentuk tabung seperti roda mobil balap mainan anak-anak.
Iqbal merenggut benda itu, membenamkan benda itu ke dalam sabun Nuvo-nya Harun, kemudian berjalan pelan, menyusuri jalan setapak, kemudian menuju jurang dan dilemparkannya jauh-jauh.
Habis peristiwa itu kami jadi lebih hati-hati dalam ngomong, terutama mengenai arah tujuan pergi serta rahasia tempat CD tidak pernah diungkit.
Kemudian meneruskan perjalanan…
Menyusuri jalan setapak hutan, kebun teh dan disela-sela itu aku perhatikan ada tanaman ganja…ah sementara dicuekin … biar hanya di pikiran dulu, tapi ini lokasinya lumayan jauh dari pabrik pengeringan teh, delapan jam jalan kaki jauhnya. Mungkin buat petani di sini, jarak sedemikian itu ga masalah. Para petani kayaknya belum tahu kalau tanaman itu adalah bahan baku untuk obat-obatan terlarang, kulihat mereka santai saja merawat tanaman-tanaman itu.
The show must go on…
Menembus sinar matahari yang makin lama makin menyengat, tetapi namanya di gunung, sering mendung, kadang-kadang kabut datang, selama kabut masih tipis tetap berani berjalan..
Berjalan dan terus berjalan, hingga tanpa terasa lagi dinginnya udara pegunungan, kalah oleh hasil metabolisme otot-otot yang berkontraksi, menghasilkan kehangatan, bahkan lebih panas, sehingga butuh pendingin.. dan melelehlah keringat-keringat itu dalam butiran-butiran bening mendinginkan kulit yang mulai panas.. keringat-keringat itu menembus, meresap baju yang kami pakai..
Kami terus berjalan. Kadang harus naik beberapa puluh meter. Kemudian lebih banyak turunnya.. satu dua turun sangat terjal, sehingga aku harus ngesot biar tidak jatuh, celana kotor tidak terpikirkan lagi..
Di tengah keheningan alam, suara-suara burung berkicau seperti bercak-bercak cat yang berwarna indah yang dituangkan di kanvas kosong media pendengaran, kemudian kanvas kosong itu mulai dinamis oleh suara-suara riak air sungai, sekali dua kali oleh gesekan daun-daun dalam jumlah besar akibat terpaan angin yang menggerak-gerakkan mereka, beresonasi membentuk orkestra alam yang luar biasa indah… subhanallah!
“Dekat sungai mas” kata Harun
“Sungai dan waduk” kata Iqbal
Kami tiba di daerah pinggiran sungai besar, jalan setapak sudah mulai diplester semen dan dipagari batu-batuan yang tertata rapi.
“Mulai banyak orang mas” kata Harun
“Ya kita tetap hati-hati” kataku
“Kayaknya kita harus menempuh jalan lain mas” kata Iqbal sambil tangannya merenggut tanganku dan mengajak Harun. Kami bertiga turun dari jalan utama, dalamnya ada sepuluhan meter, kemiringan empat puluh lima derajat.
“Menunduk” kata Iqbal memberi aba-aba. Kami semua menunduk. Tepat di atas kami ada jembatan penyeberangan. Di bawahnya ada terowongan air.
“Kenapa kita harus lewat sini?” tanya Harun memrotes.
“Aku hafal ada orang-orangnya Yo yo di hadapan kita tadi. Siap-siap ya kita mau main selancar air. Ikuti aku ya” kata Iqbal. Beberapa saat kemudian, dia dalam posisi tengkurap masuk menjorok dalam terowongan air, lebih tepatnya jembatan untuk air, tetapi karena atasnya juga tertutup maka seperti terowongan air. Terowongan air ini terbuat dari besi baja, direkatkan oleh skrup-skrup dalam ukuran besar, menonjol di permukaan dalam terowongan air. Berarti siap-siap berbenturan dengan skrup-skrup besi baja yang menonjol bila bermain selancar air.
Arus air sungai akhirnya mengangkut tubuh dik Iqbal … dia memberi aba-aba
“Ayo…ayo…” kepalanya menengok ke belakang, sementara ia mengayun-ayunkan tangannya agar aku dan Harun mengikuti.
“Kamu duluan dik Harun” aku menyuruhnya duluan.
Beberapa saat kemudian gantian aku.
Awalnya tubuh ini tidak bergeser sedikit pun. Kemudian dengan dibantu tangan mengayun-ayun seperti orang renang seimbang kanan dan kiri, akhirnya tubuh ini terbawa arus dan … makin lama makin kencang menyusuri terowongan air itu, sejauh lima puluh meter.
“Auu “ paha kananku terbentur skrup yang menonjol.
Mulai tidak seimbang…
“Auu” kali ini giliran paha kiri yang terbentur..
Beberapa detik kemudian, lumayan bisa mengendalikan..
“Auu” siku kiriku kena.
Kemudian sudah keluar terowongan air, arus makin deras nih, gimana cara menghentikannya..
“Pegangan ini mas” dik Iqbal menjulurkan tangannya, kemudian aku rengkuh tangan itu, dan aku tertahan, arus masih deras, kakiku berganti posisi di depan.. akhirnya bisa menyentuh dasar…ada pijakan.
“Alhamdulillah” kataku lega..
“Kamu tadi kok bisa keluar gimana dik? Tanyaku pada dik Iqbal, sambil aku lipat celanaku hingga paha dekat lutut terlihat, tergores merah, untungnya kain celana masih utuh, jadi kalau sholat tidak terganggu karena kelihatan auratnya. Sementara sikuku berdarah, tapi segera berhenti perdarahannya. Hanya luka ringan.
Istirahat sejenak….
Kami bertiga ini berada jauh di bawah jalanan yang dipakai orang. Sudah tidak terlihat lagi jalan setapak utama tadi.
“Mas… coba lihat itu! Ada pisang liar yang sudah mulai matang.” Kata Iqbal.
Ternyata di bawah kami masih ada jurang lagi. Dan tepat di bawah kami tumbuh pohon pisang, dan buahnya tepat di hadapan kami. Jadi tinggal memetik saja.
“Alhamdulillah…dalam keadaan seperti ini Allah masih memberi kita rizqi dari arah yang tidak disangka-sangka” kataku.
Perut lapar, pisang setundun habis. Seperti biasa untuk urusan minum dengan tangan ditangkup, meminum langsung dari air sungai. Jernih dan menyehatkan, tidak ada kotoran.
Istirahat, makan dan minum, terus sholat… kami jama’ sholat dhuhur dan ashar sekaligus. Selesai sholat, duduk-duduk sambil melepas kepenatan.
“Orang sering salah menafsirkan bisnis itu sama dengan mencari profit” tiba-tiba saja dik Iqbal meluncurkan kata-kata yang belum sepenuhnya aku pahami.
“Maksudnya?” aku dan dik Harun serempak bertanya
“Iya. Kalau berprinsip seperti itu akan berantakan jadinya. Seperti yang aku alami saat ini.” Jelas dik Iqbal
“Maksudnya?” lagi-lagi aku dan dik Harun serempak kebingungan
“Bahkan tidak saja berantakan, dampaknya kalau bisnis itu dipersepsi identik dengan mencari profit, maka jadilah seperti yang menimpa bangsa kita. Demi mengejar profit, banyak pengusaha yang rela menyogok pejabat agar memenangkan tender. Harus pakai aksi tipu-tipu. Harus bersaing mati-matian. Padahal bisnis itu tidak demikian.” Kata dik Iqbal menjelaskan lebih lanjut.
“Terus?” sama. Lagi-lagi aku terpaksa serempak penasaran mengenai kelanjutan penjelasan dik Iqbal.
“Bisnis itu masalah membentuk jiwa, reflek berpikir dan bertindak, kemauan bekerja sama, keterampilan membentuk jaringan kerja, jaringan pasar dan jaringan uang. Dan yang lebih penting adalah terbentuknya jiwa tahan banting dan penuh kesabaran, ketika menghadapi tekanan dan permasalahan serta menemukan solusi yang tepat dan tetap bekerja on the right track” jelas Iqbal
“On the right track?” lagi-lagi sampai bosan harus selalu serempak dengan dik Harun dalam kondisi ketidak tahuan sekaligus ingin tahu. Dan diam-diam aku makin mengagumi kematangan pribadi dik Iqbal, walaupun harus dibayar dengan harga yang sangat mahal, termasuk harus menginap di alam raya hutan dan gunung yang tidak tahu kapan episode “film” ini berakhir.
“Seringkali orang-orang itu melihat hasil akhir dari seorang pengusaha yang sukses. Padahal, untuk menuju ke sana ada sunatullah-sunatullah yang berlaku ketat dan harus dilalui dan dicapai oleh siapa saja yang memilih pengusaha sebagai jalur kariernya. Dipastikan mereka semua pernah gagal. Thomas Alfa Edison sampai percobaan ke ribuan berapa baru bisa menemukan bola lampu yang benar, dan setelah itu butuh beberapa dekade membesarkan perusahaan General Electric yang melegenda di Amerika itu. Termasuk pendiri jaringan Mc Donald, ternyata setelah gagal seribu sekian, baru menemukan resep dan menemukan pengelolaan sistem jaringan yang tepat untuk mengelola bisnisnya. Inilah yang aku maksudkan on the right track. Mereka tidak mencari jalan pintas. Jiwa membangun sistem yang kokoh itulah baru yang namanya bisnis. Tidak seperti perjalanan bisnis yang aku tempuh ini… aku telah membuat kesalahan. Mudah-mudahan masih ada waktu, dan semoga Allah masih memberikan kesempatan kepadaku untuk menebus semua kesalahan ini. Aku mengaku bersalah mas Karim dan dik Harun. ” jelas dik Iqbal panjang lebar, dan ketika mulai menyebut kesalahan dirinya itu, dik Iqbal mulai terbata-bata bicaranya dan air mata itu bergulir dengan deras di pipinya.
“Yah sudah lah dik Iqbal, yang sudah lalu tidak bisa kita kembalikan. Kita hanya bisa berdoa, semoga Allah mengampuni semua kesalahan kita dan memberikan kesempatan untuk memperbaiki.” Kami bertiga berpelukan, menangis bersama.
“Tampaknya kita sudah lama istirahatnya mas” kata Harun menghenyakkan kesenduan perasaan kami.
“Ayuh kita berjalan lagi dik” kataku kepada kedua adikku.
Perjalanan terus berlanjut…
Ketika malam, kami bertiga tidur di semak-semak menatap langit di pegunungan yang sangat bersih, tidak ada polusi. Aku berada di tengah-tengah antara Iqbal dan Harun. Aku genggamkan jari-jariku pada jari-jari kedua adikku. Merasa damai sekali, merasakan kebersamaan dan kehangatan. Mengamati langit yang ditaburi jutaan bintang, yang selama ini jarang aku perhatikan ketika di bawah sana. Sekali waktu, kabut menghalangi pemandangan indahnya langit dengan kelap-kelip bintang-bintang bertaburan bak permadani yang sangat luas yang tersebar di atasnya jutaan mutiara berkualitas, memancarkan cahaya keasliannya.
“dik Iqbal, dik Harun.. kamu lihat itu, bintang bergeser tadi” kataku pada kedua adikku
“Iya mas” jawab mereka berdua kompak
“Mas percaya, kalau melihat itu akan mendatangkan sesuatu?” Iqbal bertanya kepadaku
“Maksudnya akan membawa nasib baik atau nasib buruk begitu, mas Iqbal” tanya Harun
“Dulu aku pernah ikut kajian. Dalam surat Jin, diceritakan bahwa Lauh Mahfud, tempat catatan peristiwa mulai terciptanya alam semesta hingga nanti hari kiamat sudah tiba, sudah ada di buku itu. Kalau orang bisa melihat dalamnya buku itu, maka dapat membaca apa yang bakal terjadi di masa datang. Tetapi oleh Allah di sekitar lauh mahfud itu, dijaga oleh malaikat yang siap melontarkan panah-panah api bila Jin atau Syaithon berusaha mencuri informasi dari sana. Mereka sudah dipastikan oleh Allah tidak akan bisa. Bintang jatuh itu adalah usaha setan untuk mencuri-curi berita dari langit, untuk bisa disampaikan kepada kekasih-kekasihnya seperti para dukun dan sebagainya. Oleh malaikat, setan-setan itu dilempar dengan panah-panah api. Bintang jatuh itu bisa jadi benda langit yang mau jatuh bergesekan dengan atmosfer bumi atau bisa jadi panah-panah api seperti yang dikisahkan dalam Surat Jin tersebut Wallahua’lam. Tetapi adanya bintang jatuh, gerhana bulan atau gerhana matahari itu tidak ada kaitannya dengan nasib seseorang, kelahiran, kematian, atau pun bakal terpilihnya seseorang jadi lurah, bupati, gubernur bahkan presiden sekali pun. Benar-benar tidak ada kaitannya. Bahkan pernah nabi menegur keras para sahabat, ketika terjadi gerhana bulan yang bertepatan dengan wafatnya putra beliau dan para sahabat mengaitkan peristiwa gerhana bulan dengan wafatnya putra beliau. Jadi benar-benar tidak ada kaitannya.” Jelasku kepada kedua adikku.
“Kasihan orang-orang itu, yang memercayai banyak hal takhayul, apalagi berkaitan dengan benda-benda di langit. Hidupnya serba tidak bebas ya mas” tanyak Harun
“Iya benar dik Harun. Manusia benar-benar terbelenggu dengan keyakinannya sendiri yang keliru. Tidak bebas.” Kataku menegaskan
“Kecuali, kalau benda-benda di langit itu sebagai penanda arah mata angin. Atau permulaan musim tertentu, ya mas” imbuh Iqbal
“Ya dik Iqbal, memang benar demikian halnya” kataku lagi
“Hayo tidur yuk, sekarang sudah larut malam kayaknya. Besok kita teruskan perjalanan. Kita tidak tahu kapan kita akan terus berjalan. Berapa hari akan kita habiskan di hutan ini, kita benar-benar tidak tahu” kata Iqbal
“Iya yang penting kita bisa saling dekat, bersama, kesempatan yang jarang kita dapat kan. Walaupun kita saat ini dalam keadaan yang tidak mengenakkan” kata Harun
“Dah ya, kita tidur, bismika Allahumma ahya wa bismika amuut” kataku mengakhiri percakapan malam itu
Menyusuri hutan, menyusuri waktu yang terus berjalan, menyusuri perputaran sunatullah yang berlaku pada makhluk-makhluknya, menyusuri detil-detil keikhsanan matahari, perputaran bumi, bintang-bintang, bulan untuk taat pada hukum-hukum Allah yang berlaku bagi mereka.
Innallaaha katabal ikhsaana ‘ala kulli syai’ sesungguhnya Allah SWT mewajibkan seluruh makhluknya untuk berbuat ikhsan (profesional), berbuat yang terbaik sesuai kadar yang telah ditentukan baginya. Berbuat profesional sesuai amanah-amanah yang dibebankan kepadanya. Sudah jutaan tahun matahari, bulan, bumi dan bintang-bintang berbuat ikhsan. Hutan-hutan itu sudah ribuan tahun berbuat ikhsan, melakukan fotosintesis yang sempurna, menyeimbangkan kebaradaan oksigen, menguatkan struktur tanah agar tidak longsor didera oleh hempasan air hujan yang bergelombang demikian intens dan tiada henti. Demikian juga harusnya kita manusia harus berbuat ikhsan. Makhluk yang tidak berotak dan berhati saja bisa berbuat ikhsan, harusnya kita lebih lagi.
Perjalanan ini membuatku banyak merenung akan banyak hal. Dan tanpa terasa sudah tiga hari ini aku berjalan...entah kapan aku bisa kembali aku tidak tahu.
Makan minum sekadarnya. Makan apa saja yang bisa dimakan yang ditemui di jalan. Minum dari air sungai pegunungan yang jernih dan kaya akan mineral, sangat menyegarkan. Dan yang paling parah aku bertiga tidak mandi selama itu. Kalaupun dianggap mandi hanya menceburkan diri disungai, ketika terik matahari sedang dipuncak-puncaknya.
[1] Auksin = hormon pertumbuhan tanaman. Di daerah pegunungan auksin didapati berada dalam konsentrasi tinggi, karena berebut mendapatkan sinar matahari.
Sunday, June 22, 2008
Dari novel "Assalamu'alaikum matahariku" bagian ke 19
Sebuah Pencarian…
Dari no 0815643xxxx
Karim, kamu telah menikahi orang yang salah, dia dulu kekasihku, aku punya foto2 syurnya, kamu pesen ga?
…………………………………………
Sebuah sms aneh, dari nomor asing dan tidak ada dalam memori hpku nomor itu.. orang iseng kali, tapi kok menyebut dengan jelas namaku dan nomor yang di tuju tidak salah, nomorku dan namaku..
Nomorku sudah terkenal kan wajar, mudah diakses oleh siapa saja…termasuk orang-orang yang iseng semacam yang barusan memberiku pesan singkat tersebut. Aku biarkan saja sms itu, tapi entah kenapa, aku merasa wajib untuk menyimpan nomor itu dalam memori HPku. Aku simpan saja dengan nama “TERORIS”
……………………………………………………………..
Jarang ada kesempatan bisa begitu dekat dengan dik Harun. Aku senang sekali melihat dik Harun berbinar-binar matanya menceritakan bagaimana dia menyelesaikan penelitian untuk skripsinya di fakultas teknik mesin Universitas Muhamadiyah Malang. Dia mengambil penelitian mengenai masalah knalpot. Ternyata hanya knalpot, ilmunya luar biasa. Walaupun banyak istilah-istilah teknik mesin yang masih mengambang, alias tidak aku pahami, tetapi melihat sorot mata dik Harun yang membulat menceritakan dunia perteknik mesinan yang sangat curiously bagi dik Harun saja, aku sudah senang dan sangat bangga dengannya. Setelah puas dengan masalah perteknik mesinannya, dik Harun banyak bercerita tentang dunia lain yang membuatnya excited, terutama dalam membuat program software komputer. Dia banyak bercerita lagi, tentang macam-macam bahasa komputer, bahasa mesin yang kembali aku sangat awam dengan dunia itu. Dia bercerita pula kalau sedang ”flow”, dik Harun bisa sampai seminggu penuh mulai dari jam 18.00 sampai jam 03.00 dipotong waktu jam sholat dan makan menyelesaikan satu program software. Yang terakhir dia geluti adalah membuat software tentang peningkatan akurasi untuk para teknisi di bengkel, agar ukuran bubut ruang silinder mesin bisa seragam, dengan tingkat akurasi kurang dari 0,1 mm. Dia bercerita pula kalau sedang ”flow” tersebut, masalah makan sering terlupakan, sehingga dik Harun pernah menderita sakit maag akut. Sudah jam kerjanya panjang, bahkan membuat program yang lumayan rumit bisa memakan waktu sampai lebih dari seminggu. Aku akui semangat bertempur dik Harun tidak kalah hebat dengan dik Iqbal, sarjana teknik bisa ditempuh dalam tujuh semester dan IPK 3,87. Dua dunia yang berbeda, tetapi semangat tempur yang sama gigih, antara dik Harun dan dik Iqbal. Mana yang lebih hebat. Aku lebih suka menjawab dengan, mana mungkin membandingkan, indah mana bunga melati atau bunga mawar. Jawabku, masing-masing mempunyai keindahan yang tidak bisa dibandingkan. Sama-sama indahnya dan sama-sama uniknya.
Dik Harunlah yang selama ini paling banyak membantu usaha peternakan ayam broiler bapak. Setiap minggu dia harus pulang dari Malang ke Nganjuk jadwal pulangnya dipenuhi dengan melakukan imunisasi pada ayam-ayam itu, memberi makan, memberikan obat-obatan. Dan ternyata, kerja dengan “nyawa” itu lebih banyak menyita waktu. Dik Harun cerita, malam jam 21.00 harus mengecek makanan-makanan yang mulai habis, selain makanan yang dilihat, juga minuman ayam, yang diantara jam-jam tertentu ditambah dengan vitamin untuk ayam, kadang selepas sholat malam bapak masih melihat ayam-ayamnya, selain memantau persediaan makanan, juga melihat kalau-kalau ada ayam yang sakit. Ternyata obatnya juga sama dengan manusia, kalau flu dikasih obat ultraflu atau decolgen, cuman dosisnya seperempat tablet untuk dua ayam. Untung saja waktu itu belum musim flu burung seperti sekarang.
Ketika aku sedang mencari dik Iqbal ini, usaha ayam sudah ditutup karena tidak menguntungkan, banyak ruginya. Kalau ibu menyebutnya banyak kerja baktinya.
……………………………………………..
Sudah dua bulan ini aku benar-benar tidak ada kontak dengan dik Iqbal. Dia sekarang entah berada di mana, aku benar-benar tidak tahu.
……………………………………………….
Hari sudah sangat siang. Matahari benar-benar ingin menunjukkan keperkasaannya. Benar-benar ingin menunjukkan bahwa dirinya sangat berkuasa di puncak hari. Menyengat siapa saja yang terpapar bebas oleh paket-paket energi panas yang dia tebar di siang itu. Peluh setiap orang mengalir dengan deras, menetes, hingga berkali-kali diseka pun tetap saja ia merembes, seperti ada umbul sumber mata air yang menyembul dari permukaan kulit.
Aku dan dik Harun, dengan mengendarai mobil Mitsubishi L-100 atau orang biasa menyebutnya mobil trontong, karena suara mesinnya yang sejenis dengan itu berbunyi trun tung tung tung… padahal bunyi mobil kebanggaan keluarga kami itu tidak seperti itu tetapi ukuran mobil itu seukuran dengan mobil yang bunyi trun tung tung tung tadi, warnanya kuning menyala. Warna nyentrik favorit bapakku.
Dengan berbekal nota-nota yang belum lunas, tentu saja semua atas bantuan mas Praba orang kepercayaan dik Iqbal, juga aku dan dik Harun sudah mempunyai daftar para investor dan untungnya dik Iqbal sangat tertib dengan masalah administrasi perjanjian-perjanjian kerja sama itu. Yang membuat aku kagum atas dik Iqbal adalah, semua berkas-berkas perjanjian yang tertata rapi itu disusun sendiri oleh dik Iqbal.
Toko pertama yang aku masuki adalah toko elektronik Columbia, toko yang menyediakan pembelian barang secara kredit, aku sangat terkejut, ternyata BPKB sepeda motor suami mbak Malika yang dijadikan agunan dik Iqbal. Darimana dan bagaimana cara dik Iqbal mendapatkannya yaa? Dari situ aku menarik kesimpulan, kalau ternyata dik Iqbal sering pergi ke Mojokerto tempat mbak Malika dan suaminya.
Habis dari toko elektronik Columbia, aku beranjak ke daerah Singosaren, dekat matahari departement store. Di sana juga ada toko elektronik yang memberikan pelayanan kredit. Kali ini aku dan dik Harun dibuat lebih terkejut lagi. Ternyata yang digunakan untuk agunan di toko elektronik itu adalah ijazah SMA dik Iqbal. Masya Allah dik Iqbal, luar biasa sekali perjuanganmu.
Terhitung ada tiga toko elektronik yang masih mempunyai piutang dengan dik Iqbal, dan kami menyelesaikannya, dengan sekali lagi meminjam uang dari rentenir, karena kalau meminjam di bank butuh waktu lama dan memakan proses
Acara belum berakhir…
Masih harus menghubungi dan bertemu langsung dengan delapan investor dik Iqbal, bernegosiasi tentang utang-utang dik Iqbal. Para investor itu tempat tinggalnya ada yang dari Boyolali, Sragen dan sebagian di Kartasura dan Kota Solo. Memberikan komitmen pengambil alihan utang kepada keluarga menunggu rumah laku dijual.
Ternyata lagi-lagi, kembali aku teringat kata-kata Barkah. Kalau sudah berhubungan dengan uang, orang kelihatan aslinya. Ada yang kasar sekali padahal sebelumnya kalau ketemu dengan aku orangnya ramah supel, dan kalau mau jujur, sebenarnya utangnya dik Iqbal sudah lunas, tapi dia ngotot mendapatkan jatah “return” 10 % per bulan, setelah aku lihat kembali catatan dik Iqbal lengkap dengan tanda tangan penerimaan uang “return” ternyata pertambahan uangnya sudah seratus persen lebih. “Dasar kapitalis amatiran dan murahan!” umpatku padanya dalam hati..
Ada yang sangat memrihatinkan aku. Teman satu kos dan sudah aku anggap sebagai saudara sendiri, ternyata setali tiga uang. Padahal mereka sudah tahu sendiri bagaimana kami mendapatkan dan mencari uang untuk menalangi utang-utang itu. Benar manusia itu mempunyai kecenderungan “hewan ekonomi” mengeruk keuntungan dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya. Aku katakan hewan, memang seperti hewan, hati nurani sudah hilang, tidak peka terhadap penderitaan orang lain yang sedang dilanda musibah yang melilit. Akhirnya apa mau dikata, aku menyadari, bahwa dik Iqbal, kami sekeluarga sudah terikat perjanjian, walaupun sangat mencekik, tetap harus ditepati. Biarlah besok di akhirat, Allah saja yang berhak menilai, menghukum dan memberikan ganjaran yang setimpal dengan niatan masing-masing orang.
Namun demikian ada satu orang, yang benar-benar mengerti kesulitan dan keprihatinan kami. Namanya mas Gendon, untuk invest dia harus menjual satu-satunya sepeda motor yang dia pakai. Dik Iqbal memang belum lunas, dan dia tidak lagi menuntut mendapatkan “return gila” itu, dia hanya menuntut yang penting dia bisa membeli sepeda motor yang dia jual. Itu saja titik. Dan dia masih memberikan tenggang waktu, untuk kami dalam pengembalian utang itu. Padahal saya tahu sendiri, dia juga dalam kesulitan keuangan. Orang tuanya memang kaya, tetapi paska meninggal bapaknya, keuangan keluarganya memang guncang, karena iming-iming “return” 10 % perbulan itulah, dia sampai mengorbankan sepeda motornya itu.
Ya Allah dari balik pahitnya peristiwa ini, ternyata Engkau tunjukkan kepada kami banyak kebenaranMu. Sehingga kami dapat belajar, untuk selalu mengikuti perintahMu. Memang sabar dalam taat kepadaMu, benar-benar membawa ketentraman, membawa kedamaian dan yang lebih penting adalah kebarokahan dalam setiap langkah hidup kita.
Dalam dua hari ini aku dan dik Harun, telah melakukan negosiasi dengan hasil komitmen keluarga kami untuk melunasi utang-utang dik Iqbal setelah uang dari hasil penjualan rumah kami cair. Dan semuanya sudah mendapatkan kesepakatan secara tertulis. Hanya dengan si Jo saja aku masih belum puas, aku merasa ada hal yang disembunyikan oleh si Jo mengenai dik Iqbal…
Sekarang aku dan dik Harun sedang berusaha mencari dimana tempat persembunyian dik Iqbal. Ternyata mas Praba pun yang selama ini aku anggap tahu, kenyataannya memang benar-benar tidak tahu, dimana keberadaan dik Iqbal saat ini.
Hunting dari kos teman-teman dik Iqbal, mengantarkan aku dan dik Harun pada kesimpulan bahwa dik Iqbal masih berada di Solo.
Seperti ketika aku sedang berada di kos si Amar, dia bercerita..
“Wah susah dipastikan jam kedatangan Iqbal, setiap ke sini datang dengan wajah selalu ditutup helem cakil, pakai jaket hitam, dan tergesa-gesa” kata Amar yang kosnya dekat kampus ATMI karangasem.
“Apa yang dilakukan dik Iqbal di sini Mar? Tanyaku dengan melihat-lihat suasana kamar Amar. Dasar kamar lelaki. Jorok. Kulihat banyak tumpukan baju yang belum disetrika.
“Mencari barang bekas, entah itu koran, majalah bekas, atau apa saja yang kira-kira masih layak dijual.” Kata Amar, sambil merapikan kertas-kertas yang berserakan. Dan selintas di ujung meja sana aku lihat Kalpanax. Ternyata ini tidak hanya sekedar mitos, tetapi sekali lagi aku membuktikan kenyataan bahwa Kalpanax menduduki tempat yang terhormat sebagai merek paling kuat di kalangan mahasiswa kos.
“Jadi dik Iqbal selama ini menjadi pemulung?” tanyaku.
“Ya tepatnya seperti itu. Penampilan dik Iqbal sekarang berubah, legam, lusuh, tak terawat, dan bau seperti halnya pemulung. Dia sekarang memakai kalung dari karet hitam, dengan mata kuku bima. Serta memakai gelang karet, katanya sebagai bukti perasaan seperjuangan dengan temannya. Meski begitu, aku mengakui keuletan Iqbal. Semangat juangnya luar biasa. Yang membuat aku tersentuh adalah, saat dia memunguti pakaian-pakaian yang sudah tidak dipakai dan berserakan begitu saja di gudang kos teman-temanya. Iqbal memungutnya, memillah-milah mana yang masih bagus dia ambil, dia cuci dan dia seterika. Setelah diseterika, baju yang semula hampir saja jadi gombal, menjadi baju yang bagus. Oleh Iqbal baju itu dijual di pasar baju seken.” Kata Amar, kali ini pekerjaan merapikannya sudah hampir selesai.
“Kamu tidak pernah menanyakan pada Iqbal, dimana sekarang ini dia tinggal” kataku, kali ini aku mulai merasakan aroma pengharum ruangan yang baru saja disemprotkan Amar.
“Dia tidak mau mengatakannya padaku” kali ini Amar dalam posisi menghentikan semua aktivitasnya, dan benar-benar menatapku mendekat.
Aku pun mengimbangi mendekat, sambil menanyakan..
“Ada rahasia yang kamu ketahui mengenai hubungan dik Iqbal dengan si Jo?” kataku dalam posisi yang sangat dekat, sehingga dipastikan tidak ada yang bisa mendengar pembicaraan kami.
“Yang aku tahu ya mas, Iqbal itu bersembunyi menghindari bertemu si Jo, tidak menghindari yang lain, aku yakin yang lain bisa diajak negosiasi dengan pikiran terbuka” Amar berkata dengan suara yang direndahkan.
“Hanya itu saja yang kamu ketahui, barangkali kamu tahu dimana Iqbal bersembunyi? Atau kamu mungkin tahu dimana tempat mangakalnya si Jo?” tanyaku kembali dengan suara yang hampir berbisik.
“Kalau dimana Iqbal bersembunyi aku tidak tahu pasti, apalagi kalau ditanya dimana tempat mangkal si Jo, seminggu yang lalu si Jo pernah ke sini, seisi kos ngeri melihatnya. Penuh tato lengannya, penampilan sangar kayak gitu. Terus, tiba-tiba handfonnya berbunyi. Dengar-dengar dari obrolannya, menyebut-nyebut.. dia disuruh ke kebun teh Ungaran.. segera”
“Itu saja yang kamu ketahui?”
“Tidak pernah dengar tempat yang sering disebut-sebut dik Iqbal? Coba kamu ingat-ingat sekali lagi”
“Mhmm… mungkin bisa membantu mas, Iqbal sering menyebut-nyebut dia punya sahabat pemulung dan pengamen, namanya Herman, sering pula menyebut arah barat” kata Amar dengan mimik wajah yang menunjukkan telah berpikir keras… seperti orang yang telah mengaduk-aduk pasir yang jumlahnya banyak hanya mencari butir-butir emas yang terpendam perbandingan 1 : 1.000.000!
“Pemulung. Herman. Ke arah barat. Itu saja kata kuncinya Mar?” tanyaku dengan memandang serius kedua mata Amar yang bulat-bulat bagian tengahnya yang hitam mengkilap dan jernih.
“Saya sudah mengaduk-aduk seluruh isi kepalaku mas, hanya itu saja yang ada” kata Amar sambil menatapku dengan menghaturkan sisa-sisa memori otaknya.
“Ya sudah Mar, makasih banget atas info-nya” kataku, aku menjabat tangan Amar dan berpamitan, sementara Harun aku tugaskan mengamati keadaan sekitar kos, siapa tahu nanti dik Iqbal mengendap-ngendap masuk ke dalam atau mungkin ada keadaan lain yang mencurigakan. Urusan selesai aku bergegas keluar, segera masuk ke dalam mobil mungil kuning nyentrik milik bapakku.
“Ayo dik Harun kita pergi ke Jebres!” kataku kepada dik Harun dengan tergesa-gesa
……………………….
“Kemana kita akan pergi mas?” Tanya dik Harun sambil menstarter dan memacu mobil..
“Kita ke belakang kampus UNS!” kataku dengan menatap cemas ke depan, sesekali waktu aku melihat spion agar dapat melihat belakang. Rasanya seperti dalam film saja, muncul rasa was-was kalau-kalau si Jo atau orang-orang suruhannya membututi aku dari belakang.
“Entah mengapa aku merasa ada yang aneh. Si Jo mengejar-ngejar Iqbal, Iqbal bersembunyi entah kemana, pada saat yang sama Iqbal harus mampu menyambung hidupnya. Dan kenapa aku sangat yakin kalau si Jo itu adalah orang suruhan. Beberpa kejadian yang membuatku berkesimpulan seperti itu, pertama bagaimana bisa si Jo bisa mengumpulkan uang demikian banyak, padahal dia sendiri tidak bisa mengendalikan keinginannya untuk foya-foya. Kedua, saat ronda aku melihat dia itu sebagai orang suruhan. Ketiga, dari cerita Amar, si Jo menyebut-nyebut kebun teh di Ungaran. Apa arti semua ini? Semuanya masih misteri buatku.” Kataku kepada Harun, seperti air sungai yang mengalir tanpa henti.
“Mengapa kita harus pergi ke belakang kampus UNS mas?” Tanya Harun penuh selidik.
“Ceritanya panjang, kamu terus melaju cepat saja, tapi hati-hati. Begini, di sana ada teman-teman aktivis LSM namanya KAPAS dan SEROJA. Kalau KAPAS mengurusi pengamen, sedangkan SEROJA mengurusi anak-anak jalanan dan perempuan jalanan. Mereka mempunyai data yang lengkap mengenai pengamen, domisili preman-preman, daerah operasi preman dan pengamen lengkap dengan kehidupan sehari-hari mereka.” Jelasku
“Lalu hubungannya dengan mas Iqbal?” Tanya Harun yang masih belum mengerti.
“Tadi Amar cerita kalau dik Iqbal itu selama menjadi pelarian, dia menjadi pemulung dan banyak berinteraksi dengan orang-orang jalanan. Tampaknya si Jo sudah bisa mulai mengendus gelagat itu. Makanya aku suruh kamu cepat mengendarai mobilnya. Kita sekarang berkejaran dengan waktu. Maksudnya berlomba dengan si Jo menemukan dik Iqbal. Aku berharap kita duluan yang menemukan. Kalau si Jo yang menemukan, aku yakin dik Iqbal dalam bahaya besar, dan kita bisa kehilangan dik Iqbal selama-lamanya.” Kataku
“Kehilangan mas Iqbal selama-lamanya?” Tanya Harun terkejut.
“Tampaknya dik Iqbal terlalu berambisi membesarkan bisnisnya. Akibatnya menghalalkan segala cara, menyewakan VCD bajakan, menyewakan VCD porno berarti bertentangan dengan hukum. Sementara si Jo, adalah bawahan yang menjalankan bisnis illegal juga yaitu judi dan aku yakin ditambah obat terlarang. Kesimpulanku karena ada bos yang di Ungaran. Aku yakin di Ungaran sana ada kebun ganja yang diselipkan di sela-sela tanaman teh yang jadi tanaman utama di sana. Dan pabrik penyulingannya aku yakin juga ada di sekitar pabrik teh. Sebuah permainan yang manis. Tetapi permainan yang manis harus ada pagarnya agar permainan itu tetap terjaga kemanisannya.”
“Berarti butuh oknum perwira atau pejabat atau siapalah yang punya kuasa untuk membekingi. Ungaran adalah tempat yang sangat strategis, disamping mempunyai iklim yang bagus, juga dekat dengan ibukota propinsi tempat pusat kekuasaan di wilayah propinsi.” Kata Harun
“Tepat sekali. Nah di sinilah titik temu keduanya. Iqbal ingin keamanan bisnisnya terjaga, dengan menggandeng si Jo berbisnis dengannya.”
“Maksudnya?” Tanya Harun.
“Dengan menanam hutang budi pada si Jo, dik Iqbal bermaksud ingin mendapatkan akses ke oknum perwira atau siapalah yang punya kuasa tadi.” Kataku
“Ternyata mas Iqbal usahanya bangkrut, sedangkan si Jo, di luar pengetahuan mas Iqbal, si Jo juga berusaha melibatkannya dengan tambahan bisnis obat-obatan terlarang, melihat jaringan konsumen Iqbal yang luas” dik Harun menimpali.
“Di luar dugaan si Jo pula, dik Iqbal menolak mentah-mentah berbisnis obat-obatan terlarang, dan Iqbal terlanjur tahu jaringan bisnis usaha bosnya dan para beking bisnis terlarang itu” kataku melengkapi kesimpulan Harun.
“Terus hubungannya kita sekarang ke kantor KAPAS dan SEROJA?” Tanya Harun yang masih penasaran.
“Tadi aku kan cerita kalau dik Iqbal sekarang jadi pelarian, tetapi harus bisa survive. Karena itu dik Iqbal memutuskan menjadi pemulung, dan nampaknya dik Iqbal telah menemukan sahabat sesama pemulung namanya Herman. Amar juga bercerita kalau dik Iqbal sering menunjuk-nunjuk arah barat ketika bercerita mengenai Herman. Jadi aku tadi menyimpulkan tiga kata kunci; pemulung dan pengamen, Herman ….. ke arah barat. Aku mau menanyakan itu kepada temanku yang bernama Widodo aktivis KAPAS dan SEROJA. Aku yakin dia bisa membantu, dia punya daftar nama orang-orang jalanan dan dimana dia banyak mangkalnya.” Kataku.
“Mas Karim kok tahu ada KAPAS dan SEROJA?” Tanya Harun.
“Lha aku kan jadi tim medisnya mereka, kalau mereka baksos di komunitas itu, aku mesti jadi yang meriksa dan ngobatin. Iqbal tampaknya ingin meninggalkan jejak samar kepadaku kepada Amar, tidak menunjuk tempatnya tapi menunjuk arah Barat ketika bercerita tentang Herman sahabatnya selama dalam pelarian saat ini.” Jelasku.
“Eh…mas, tadi ketika mas Karim berada di dalam kamarnya mas Amar, aku melihat seorang pemuda, tegap, lengan kirinya bertato naga, naik sepeda motor GL Pro, sempat ngomong-ngomong dengan aku, sempat pula tubuhnya bersinggungan denganku, kemudian keluar lagi dengan tergesa-gesa beberapa saat sebelum mas Karim keluar.” Tiba-tiba Harun terlihat gugup dan cemas.
“Si Jo membuntuti kita?” virus cemas itu segera menyebar dengan cepat dan aku tertular juga.
Dik Harun, memacu mobil yang kami tumpangi dengan kecepatan tinggi, sedangkan aku pelan-pelan melihat kaca spion, mencari-cari apakah ada sosok si Jo yang diceritakan dik Harun yang membuntuti kami, sekali dua kali aku menengok ke belakang. Tidak ada gejala-gejala bayangan orang yang membuat aku berkesimpulan kalau itu adalah si Jo. Aku justru khawatir, si Jo sudah tahu duluan, karena dia setiap hari ada di jalanan.
“Pas jalan itu belok kiri” aku menunjuk pertigaan belakang kampus UNS menuju kampung sawah karang. Jalan menurun terjal.
“Sudah berhenti di sini, biar aku saja yang jalan, kamu melihat situasi” kataku sambil membuka pintu, dan segera aku menghambur keluar dengan berlari-lari kecil, menyusuri gang yang ada di sebelah kanan tempat mobil kami parkir.
………………………………………………
Setelah tiga blok, ada jalan belok kanan kantor sekretariat KAPAS dan SEROJA logo sederhana seukuran 40 cm × 50 cm KAPAS (Keluarga Pengamen Surakarta) dan Lembaga Pemberdayaan Perempuan dan Anak Pinggiran (LPPAP) SEROJA. Aku masuk di rumah itu. Sebuah rumah kontrakan sederhana, sekaligus tempat kos mahasiswa. Ada empat kamar. Dengan ruang tamu ala kadarnya, dan banyak tumpukan gallon Cirio; air minum mineral. Ada salah seorang dari penghuni kos ini yang berbisnis distribusi air mineral Cirio tersebut.
“Assalamu’alaikum” kataku dengan suara yang agak tinggi.
“Wa’alaikum salam Warohmatullahi Wabarokatuh” suara itu muncul dari dalam rumah kontrakan sederhana.
“Mas Dodo! Aku butuh bantuan segera mas!” kataku dengan gerakan cepat menghambur masuk ke dalam kamar Widodo, ketua KAPAS
“Bantuan apa Rim?”
“Ini mas, mas Dodo tahu Herman? Kayaknya dia tinggal di barat mungkin di Banyudono”
Banyudono adalah nama kecamatan di Boyolali. Di sana ada daerah yang dibangun oleh departemen sosial, tempat tinggal penampungan gelandangan dan orang terlantar (PGOT). Semua yang disana tidak ada satupun yang asli penduduk sana, semuanya adalah pendatang, dan semuanya berprofesi sebagai tukang ngamen, pemulung, dan pengemis di jalan. Sebuah perumahan satu blok atau lebih tepatnya satu RT (rukun tetangga) Pertama kali aku masuk di sana, memang tidak terlintas suasana kumuh, bersih, rumah tipe 21, tetapi karena dekat sekali atau dapat dikatakan mepet dengan percabangan sungai yang telah melewati perumahan. Aroma tidak sedap samar-samar tercium, mengisi atmosfir pemukiman itu. Aliran sungai turun terjal tepat di belakang perumahan itu, sehingga suara-suara gerojogan air, merusak keheningan di malam hari, dan menjadi suara latar riuh rendah anak-anak yang bermain dan suara dentingan alat-alat dapur ibu yang memasak di siang hari.
Ketika bercakap-cakap langsung dengan mereka satu persatu, baru tampak bahwa mereka yang tinggal disana bukan tipe kebanyakan orang yang kita jumpai setiap hari di sekeliling kita.
Nama-nama mereka pun banyak yang tidak asli dan aneh, Genjik (anak babi) , Mentik, Muntu (Uleg-uleg = alat untuk menggiling sambel), Gareng, Gondes, Kampret, Klowor, Codot, Sotil…. sampai ada satu nama yang menurutku sangat aneh Tri Da Ko Can.
Wujud fisik apalagi, bentuk bentuk yang lazim. Aku baru tahu namanya tattoo letaknya di dahi, ya ketika bertemu dengan mereka. Tulisan tato di dahi pun juga tidak lazim “my ghost”. Jangan tanya masalah bau, jelas mereka itu bau. Sepertiga wanita adalah perokok. Masalah penyakit kulit sudah sangat lazim, gatal-gatal hampir dijumpai di setiap orang apalagi anak-anak. Kebiasaan minum minuman keras sudah menjadi ritual rutin harian, tetapi banyak pula yang sudah tobat tidak minum-minuman keras lagi. Pak Jimin, yang jadi pak RT, adalah mantan peminum berat. Parkinsonisme atau orang jawa bilang buyuten, tangan bergetar-getar atau gemetaran adalah jejak yang tak dapat dihilangkan bahwa dia pernah menjadi peminum berat.
Kalau aku dan teman-teman SEROJA atau KAPAS melakukan baksos, aku sangat berdisiplin tinggi dan memberikan pengawasan ekstra terhadap suntikan dan spuit. Aku tidak mau spuit itu disalahgunakan.
Di sektor-sektor lain daerah binaan SEROJA dan KAPAS seperti bantaran sungai, Nusukan, daerahnya kumuh, banyak becek-becek bau, lalat bukan menjadi barang yang asing, anjing-anjing berseliweran di sana-sini, ada salah seorang temanku yang sekarang sudah menjadi dokter, dokter Ahmad, memang dia tipe orang yang selalu menjaga kebersihan, setiap pulang dari daerah seperti itu, semua yang menempel di tubuhnya segera masuk tempat cucian.
“Herman? Sektor Banyudono? Untuk apa?” tanya Widodo sambil membalikkan badan membuka berkas-berkas dan menyalakan komputer.
“Ya, Herman. Sektor Banyudono. Aku sekarang sedang berlomba dengan si Jo, preman Pucang Sawit, untuk menemukan adikku Iqbal, makanya aku tergesa-gesa..” kataku
“Iqbal? Kayaknya kemarin disebut-sebut nama itu ” kata Widodo dengan mimik seperti memikirkan sesuatu.
“Iya, Iqbal itu adik kandungku” kataku penuh keheranan
“Iqbal itu adik kandungmu tho? Kayaknya yang membicarakan bukan hanya orang-orang yang berada di sektor Banyudono, tetapi juga sektor-sektor lain” kali ini sorot mata Widodo sedang berkonsentrasi penuh, memicingkan mata memelototi apa yang ada di monitor komputer. Melihat daftar warga binaan KAPAS dan SEROJA. Dari sektor Banyudono, kulihat sepintas ada 46 kepala keluarga, tetapi total anggota ada 114 orang. Wah luar biasa sekali, mereka punya data sampai detil seperti ini. Widodo sedang menye(s)can 114 orang ini, adakah salah satu dari mereka ada yang bernama Herman. Tampaknya Herman bukan anggota yang mempunyai ciri istimewa, terbukti Widodo tidak begitu ingat, dan harus memelototi monitor komputer dengan teliti.
“Mereka membicarakan Iqbal? Mengapa Iqbal dibicarakan?” tanyaku masih penasaran dengan apa yang diutarakan Widodo barusan.
“Biasanya yang ramai dibicarakan adalah orang baru yang masuk dalam komunitas atau bukan komunitas tersebut tetapi sering berinteraksi dengan komunitas, atau ada orang luar komunitas sedang sibuk mengobok-obok nama itu untuk dicari. Dan terakhir, biasanya karena orang itu membawa barang-barang terlarang untuk ditawarkan pada komunitas.” Jelas Widodo dengan mata yang tidak melirik kanan dan kiri.
“Lha dik Iqbal sendiri termasuk kasus yang mana?” kataku sambil menahan gejolak kecemasan yang melanda pikiran dan hatiku.
“Aku sendiri, tidak tahu pasti Rim, tapi kata Imam, penanggung jawab sektor Banyudono, ada seseorang yang tengah getol mencari Iqbal di sana, tidak termasuk Herman yang kau sebut tadi” kata Widodo, kali ini dia tidak lagi memelototi monitor komputer, tetapi menatap penuh mataku.
“Berita mengenai Iqbal, baru aku terima tadi pagi saat rapat di sektor Nusukan, Bantaran sungai dan terminal. Juga ada berita yang mengkhawatirkan yaitu seseorang yang sama, juga mulai menawarkan bisnis serbuk putih dan aku yakin itu adalah serbuk sabu-sabu dan barusan aku mengutus Imam dengan mengatasnamakan KAPAS dan SEROJA untuk melaporkan temuan ini kepada kepolisian Surakarta. Mudah-mudahan mereka segara menyelesaikan kasus ini, aku tidak ingin komunitas yang aku bina rusak kembali gara-gara bisnis serbuk putih itu.” Lanjut Widodo, kali ini ia menatap monitor kembali, tetapi mencari di sektor-sektor lain.
“Iqbal tidak kamu temukan di sektor Banyudono?” tanyaku dengan harap-harap cemas.
“Data yang ada di komputer ini baru di upgrade 2 minggu yang lalu, insya Allah masih valid, namun sayangnya aku tidak menemukan dua nama itu Rim! Di sektor Banyudono, seperti yang kamu maksud tadi, sekarang aku mencoba mencari nama-nama di sektor-sektor yang lain.” Kata Widodo, jarinya asyik menye-croll mouse, sementara matanya menatap monitor dengan seksama.
“Terus ini, tadi kamu menyebut seseorang dengan dua aktivitas, pertama, mencari Iqbal. Kedua, sedang getol menawarkan bisnis serbuk putih, kamu tahu siapa dia? Apakah ia dikenal dengan nama si Jo?” tanyaku dengan penuh selidik.
“Sebentar, boleh aku tanya dulu. Kamu kenal dengan si Jo? Mengapa kamu bisa berkesimpulan kalau Si Jo itu pelakunya?” kali ini gantian Widodo yang bertanya dengan penuh selidik.
“Si Jo itu…menurut informasi yang ku dapat, akhir-akhir ini sibuk mencari dik Iqbal, semula aku menduga karena Si Jo berinvestasi di bisnisnya dik Iqbal, tetapi karena suatu hal, bisnis dik Iqbal bangkrut, sehingga banyak meninggalkan hutang yang banyak kepada para invesornya termasuk si Jo. Ternyata dalam perkembangan selanjutnya, si Jo mencari dik Iqbal. Lebih dari itu, padahal kami sekeluarga sudah menyatakan bahwa utang dik Iqbal diambil alih oleh keluarga, kenyataannya tidak seperti investor lain yang sudah puas dengan komitmen keluarga kami, si Jo tetap getol mencari seperti orang penasaran berat. Tampaknya ada rahasia bisnis si Jo dan komplotannya yang banyak diketahui oleh dik Iqbal, dan menurut informasi yang aku terima, si Jo pernah menyebut-nyebut kata-kata bos dan kebun teh di Ungaran. Aku tidak berani menyimpulkan lebih lanjut hubungan-hubungan ini.” Jelasku kepada Widodo
“Kamu tadi nanya aku tentang si Jo, apakah ada kesamaan nama dengan yang kamu temukan? Nama aslinya Johan.” Aku balik menanyai Widodo.
“Ga sih. Hingga sekarang aku belum mendapatkan nama itu. Biasa di kalangan preman banyak sekali nama-nama alias, yang aku dengar sih menyebut nama Joi. Tapi aku tidak dapat memastikan apakah Joi ini sama dengan si Jo yang engkau maksud Rim.” Jawab Widodo, hanya sebentar menatapku, selanjutnya sebagian besar perhatian matanya tertuju pada monitor komputer yang ada di hadapannya.
Hening…..
…………………………………………
Tut tut tuuut tut tut tuuut.. ada pesan masuk nih.
Dari no 0815643xxxx
Sibuk nyari adik ya he he he istrimu beruntung .. tadi diselamatkan pak RT. Bangsat betul begundal RT mu. Aku hampir dikeroyok masa. Tetanggamu kurang ajar sekali.
……………………………………………
“Wa’alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh” jawab seisi orang yang ada di kontrakan KAPAS dan SEROJA.
“Lha ini Rim! Orang yang lebih detil tahu kondisi di lapangan. Kenalkan ini Imam” Widodo menghentikan sementara scrolling dan “scanning” komputernya, dan meletakkan cursor pembatasnya untuk menandai titik pencariannya di monitor.
“Aku Karim” kataku sambil menjabat erat tangan Imam.
“Saya Imam” katanya dengan membalas jabatan erat tanganku
………………………
Widodo sejenak menjelaskan mengapa aku datang saat ini, mengenai Iqbal dan Banyudono kepada Imam seperti yang telah aku jelaskan kepada Widodo tadi.
“Memang informasi yang aku dapatkan dari mas Tri Da ko can, dalam satu bulan terakhir di sana sedang heboh-hebohnya membicarakan Iqbal, termasuk juga Joi. Dan mas Tri Da Ko Can juga bercerita satu bulan yang lalu Iqbal pernah menginap di sana di rumah mas Tri Da Kocan. Kalau orang menginap di sana pasti aman, karena mas Tri Da Ko Can ini adalah kepala suku sana.” Jelas Imam kepadaku.
“Lho apa kepala sukunya bukan pak Jimin yang buyuten itu?” tanyaku penuh keheranan.
“Kamu belum tahu Rim, ada dua pemimpin, pemimpin formal itu kalau ngurusin surat-surat thok, ya itu tadi pak Jimin pak RT. Tetapi ada pemimpin informal, kami lebih senang menyebutnya kepala suku. Lha itulah pemimpin yang sesungguhnya. Kepala suku ini sangat ganas, ibaratnya ngampleng[1] orang saja langsung bisa mati, dan sudah menjadi rahasia umum, yang namanya kepala suku itu adalah orang yang paling sangar, paling têgêl (tegaan), dan tentu saja yang paling kuat. Kalau dia memukul orang dapat dipastikan orangnya minimum bisa gegar otak atau sampai meninggal.” Jelas Imam.
“Sudah aku sekarang berburu dengan waktu, kamu tahu tidak saat ini di mana Iqbal berada? Aku mencemaskan keselamatannya. Si Jo, itu juga berusaha nguber-nguber dik Iqbal. Sekarang siapa yang cepat duluan mendapatkan Iqbal aku atau si Jo. Kalau si Jo yang menemukan duluan aku bakal kehilangan jejak dik Iqbal selamanya… entah dibunuh atau dirubah identitasnya sehingga menjadi sosok lain yang menjadi tentara bisnis komplotannya” desakku kepada Imam dan Widodo.
“Baiknya sekarang saya antar mencari mas Tri Da Ko Can mudah-mudahan ada jalan terang, kalau jam segini dia biasa mangkal di Pasar Klewer.” ajak Imam kepadaku sekaligus menawarkan bantuan.
“Ga pa pa mas? Ini menyita waktu mas Imam lho?” tanyaku
“Ga mas Karim, aku juga penasaran dengan kasus ini, dan menyelesaikan ini juga menyelesaikan komunitas yang menjadi binaanku mas Karim” kata Imam
……………………………………
Aku, Widodo dan Imam melangkah keluar kontrakan, menuju mobil dimana dik Harun sudah di dalamnya.
“Gimana dik? Ada yang mencurigakan?” tanyaku kepada dik Harun
“Sejauh ini aman-aman saja” jawab dik Harun.
“Sekarang kita kemana mas?” tanya dik Harun
“Ke Pasar Klewer. Mau ketemu mas Tri Da Ko Can” jawabku
“Namanya lucu ya mas” dik Harun berkata dengan senyum-senyum geli, sambil menyalakan mesin mobil dan menjalankan mobil.
“Jangan berkata begitu! Orangnya ini kepala suku di dunia per premanan. Kamu tahu kan kalau namanya kepala suku di dunia per premanan itu orangnya ganas dan tega membunuh.” kataku dengan muka serius.
“Kita ke jalan semula seperti tadi” kataku sambil menunjukkan arah jalan yang akan ditempuh.
“Kenapa kita harus ketemu beliau mas?” tanya Harun
“Iqbal dan Herman pernah menginap di rumahnya satu bulan yang lalu” kataku datar sambil melihat jalan dan sekali waktu melirik spion mengamati kalau-kalau ada mobil atau sepeda motor yang membuntuti.
“Pasar Klewer sebelah mana Mam? Tanyaku kepada Imam.
“Dekat bank BNI, kita nanti parkir di depan Bank BNI Pasar Klewer” jawab Imam
………………………………………………….
Adzan dhuhur berkumandang bersamaan dengan datangnya kami memasuki wilayah pasar Klewer. Mobil akhirnya diparkir di dekat Masjid Agung Surakarta. Sebuah bangunan tua yang para sastrawan menyebutnya sebagai saksi sejarah. Masjid ini telah bertahan mencapai angka seratus. Sudah berapa pemerintahan, sudah berapa ratus dan sudah berapa ribu rakyat yang mati atau terlantar sudah ia saksikan. Ia hanya diam membisu, sementara usia secara perlahan-lahan menggerogoti kekuatan bangunan yang menyokong kemegahannya. Masjid adalah hati umat. Seberapa ia masuk di hati, cerminnya adalah seberapa banyak orang yang hatinya tertaut di masjid.
Memasuki masjid yang kulihat banyak sosok-sosok tua yang sudah stand by paska adzan dhuhur tadi. Kaum muda tampak menjadi minoritas. Di mana sajakah mereka? Halah sudah sudah… sudah …… sekarang waktunya wudhu.. sebentar lagi Iqomat dikumandangkan.
……………………………………………………….
Alhamdulillah, sholat dhuhur sudah kami tunaikan, wajah cerah, pikiran jernih, hati menjadi tenang. Lumayan tadi yang sholat dhuhur hampir genap 1 shof.
“Kita jalan atau naik mobil menuju parkiran Bank BNI?” tanyaku pada saat yang sama aku lihat wajah Imam yang demikian cerah dan bersih terkena basuhan air wudhu.
“Jalan saja. Sudah dekat kok” jawab Imam
“Baiknya Harun ikut atau tetap di mobil mengawasi keadaan sekitar” tanyaku dan kuarahkan pandanganku dari Imam kemudian menuju Widodo dan akhirnya berhenti di wajah Harun.
“Baiknya ikut saja. Toh sekitar sini ramai sekali” kata Widodo.
“Ya sudah ayo kita come on menuju target sasaran” ajakku.
“Mobil sudah kamu kunci kan?” tanyaku kepada Harun.
“Sudah mas” jawab Harun
……………………………………………..
Udara pasar Klewer yang panas, pengap, ribuan manusia lalu lalang, berbagai macam aroma berhamburan dan bersliweran memperkenalkan dirinya kepada reseptor penghidu yang ada di hidung, untuk dikabarkan kepada otak lewat saraf oftalmikus, yang akhirnya bisa menyimpulkan jenis bau macam apa saja yang barusan lewat. Memang sebagian besar yang dijajakan adalah pakaian, tetapi aku melihat ventilasinya yang kurang baik, sehingga udara berputar-putar dan arah bergeraknya tidak dapat menimbulkan angin yang menyejukkan. Beberapa bagian tertentu terutama yang dekat dengan penjaja makanan baik ringan sampai berat.. saluran pembuangan yang tidak lancar membangkitkan uap-uap hasil proses pembusukan yang volatile…lagi-lagi menyampaikan pesan ke otak oftalmikus, dan menyimpulkan aroma yang tidak sedap.
“Sudah sampai ke markas mas Tri Da Ko Can” kata Imam sambil menunjuk sebuah tempat yang menjorok masuk dari gang sempit. Ruangan sempit dengan atap dari seng-seng campuran aluminium yang sudah karatan, dengan tiga meja yang disertai kursi-kursi layaknya ruang konsultasi dokter. Kulihat berkas-berkas kertas nota, kuitansi, buku-buku pembukuan berjajar-jajar di atas meja-meja itu.
Dari jauh aku melihat sosok laki-laki besar, kumis tebal, kulit yang membalut tubuhnya coklat legam dan tubuhnya penuh hiasan tattoo. Dua orang lelaki dengan bentuk-bentuk yang mirip-mirip mendatangi beliau dengan membawa uang yang tebal kebanyakan uang seribuan, tampaknya setoran parkir. Walaupun bentuknya seperti itu, ternyata dalam urusan administrasi mas Tri Da Ko Can sangat tertib. Habis setor, selalu dikasih kuitansi dan di stempel. “Manajemen keuangan perpakiran yang sempurna” kataku dalam hati.
Aku berkesimpulan tukang parkir karena yang menghadap mas Tri Da Ko Can adalah pria-pria yang walaupun bagian dalam dan celananya tidak seragam, tetapi selalu ditutup dengan baju berkerah yang berwarna orange. Dan yang memperkuat bukti tukang parkir, karena memawa segepok karcis parkir pasar klewer. Ketika menghadapi pria-pria itu, sorot mata mas Tri Da Ko Can menatap dengan tajam seperti mau menelan mentah-mentah orang yang ada di depannya.
Sayup-sayup aku rasakan perasaan takut pelan-pelan mulai merasuki batinku, tapi segera hilang, ketika kehadiran kami masuk dalam catch pandangan mas Tri Da Ko Can.
Mas Tri Da Ko Can adalah salah satu contoh binaan KAPAS dan SEROJA yang berhasil, bahkan kata Widodo, dengar-dengar sudah berencana membeli tanah di sekitar Banyudono. Dia mendapatkan wilayah parkir yang luas di Pasar Klewer, selain karena takdir rizqi dari yang Maha Memberi Rizqi, juga berkat perjuangan rekan-rekan KAPAS dan SEROJA menggandeng anggota Dewan pak Fajar untuk melobi ke Pemkot Surakarta.
Anak-anak buahnya yang semula banyak di jalan, entah itu ngamen, atau ngemis, atau mabuk-mabukan, jadi tambang judi, bahkan ada yang jadi copet, seringkali jadi sasaran penggarukan polisi, kali ini dia sulap menjadi “pegawai parkirnya”.
Perjuangan anak-anak KAPAS dan SEROJA tidak hanya sampai di sini saja. Dulu ketika mas Tri Da Ko Can masih belum tobat, istrinya hamil tua dan sudah tiba saatnya melahirkan. Istrinya sendirian, sedangkan mas Tri tidak tahu di mana rimbanya. Akhirnya anak-anak KAPAS dan SEROJA turun tangan. Sebagian membantu persiapan berangkat ke rumah sakit, sebagian mencari kendaraan, sebagian bersiap-siap merawat anak yang barusan dilahirkan. Akhirnya bisa melahirkan selamat di RSUD Dr. Moewardi bingung? Siapa yang membayar biaya persalinan? Akhirnya bermodal ngotot, tidak bisa tembus karena pasien tidak punya KTP, sehingga tidak bisa mengurus kartu sehat, akhirnya nelfon pak Fajar anggota Dewan dan akhirnya biaya perawatan bisa ditanggung oleh Pemkot. Permasalahan belum berhenti di sini, setelah keluar rumah sakit, si ibu kembali menjadi preman. Jadi anak yang barusan dilahirkan, tidak ada yang ngurusin. Jadilah Widodo selama tiga bulan sebagai “ibu” bayi. “Meyusui”, menggantikan popok bila pipis atau ee’, memandikan dan men-dede-kan kalau pagi. Kalau Widodo kuliah, bayi itu dititipkan ke tetangga kontrakan. Dan untunglah ada saudara mas Tri akhirnya yang sadar dan mau merawat bayi itu hingga sekarang. Bagi Widodo, pengalaman itu adalah latihan jadi orang tua sebelum menjadi orang tua sesungguhnya. Aku melihat teman-teman di KAPAS dan SEROJA sangat tulus dan all out melakukan segalanya untuk binaan mereka. Padahal kalau mau tahu, mereka ini mahasiswa, masih belajar, juga bekerja paruh waktu mencari penghasilan, bahkan ada yang sudah benar-benar mandiri secara keuangan tidak meminta uang ke orang tuanya, tetapi meluangkan waktu untuk mengurusi kalau orang Dep-Sos menyebut “Gelandangan dan Orang Terlantar plus Orang Pinggiran”. Nyaris tidak ada donatur. Donatur yang ada adalah bersifat musiman seperti bila ada bakti sosial, pakaian pantas pakai, pengobatan gratis, pemberian sembako dan saat-saat peringatan hari besar Islam saja, semua adalah tenaga yang diabdikan secara sukarela tanpa mengharap imbalan materi, tujuan mereka hanya mencari ridlo Allah semata. Kayak klise ya... itulah kenyataan yang terjadi.
………………………………………………………..
“Assalamu’alaikum! Mas Imam! mas Widodo!” subhanallah wajah dengan sorot mata menatap tajam, tiba-tiba berubah lembut dan ramah, seperti pertemuan dua sahabat dekat yang lama tidak bertemu.
“Wa’alaikum salam warohmatullahu wabarokatuh” kami menjawab serentak.. Widodo, Imam bergantian menjabat tangan mas Tri dengan erat dan berpelukan.
“Mas Dodo kok lama ga kelihatan? Kalau mas Imam mesti seminggu sekali ke sini, kalau ga ketemuan di Banyudono” tanya mas Tri
“Karena itulah Mas Tri, aku ke sini. Ha ha ha” jawab Widodo dan diiringi gelak tawa mereka bertiga, sedangkan aku dan Harun hanya tersenyum, berusaha mengimbangi interaksi psikologis yang mengalir diantara mereka bertiga.
“Hmmh... Ini siapa mas Imam?” tanya mas Tri dengan sorot mata ramah menatapku dan Harun.
“Sebentar, jangan di jawab dulu…. Mhmmm… kayaknya ada wajah yang barusan aku kenal dan ada kemiripan dengan mas-mas berdua ini, siapa ya….?”
……………………..hening sesaat…….
“I Q B A L! Yaa.aa…. Iqbal… kalian apanya Iqbal?” tiba-tiba suara mas Tri memecah suasana, aku dan dik Harun dibuat terkejut dengan kejadian ini. Sama sekali tidak menyangka akhirnya Iqbal masuk memori dari sosok yang kini aku hadapi.
“Saya Karim, kakak kandung Iqbal, sedangkan ini....Harun, adik kandung Iqbal” jawabku
“Kalian benar-benar keluarga yang hebat! Aku banyak belajar dari Iqbal, terutama semangat juang dan daya tahan bantingnya, luar biasa! Termasuk keluarga kalian. Luar biasa! Aku sangat berharap, agar anak-anakku bisa mempunyai semangat hidup seperti yang ditunjukkan oleh keluarga kalian.. satu per satu…” kata mas Tri. Benar-benar di luar dugaanku, sosok yang demikian sangar penampilan fisiknya kini menjadi sosok yang lain, aku merasakan wisdom yang mendalam. Aku jadi ingat pendapat pakar yang mengatakan bahwa orang miskin itu bukan karena ia tidak memiliki sesuatu, tetapi karena mereka tidak melakukan sesuatu. Mungkin sudah melakukan sesuatu tetapi bukan melakukan sesuatu secara tepat. Sudah berusaha tetapi merasa bahwa usahanya itu adalah satu-satunya jalan menyelesaikan masalah hidup.
Banyak diantara teman-teman mas Tri merasa bahwa dunia itu hanya dunia yang mereka alami saja. Padahal, di luar sana, banyak dunia-dunia lain yang bisa membawa hidup mereka ke arah yang lebih baik, lebih tenang, lebih bersahabat dan lebih damai. Inilah tugas rekan-rekan di KAPAS dan SEROJA, mengarahkan mereka untuk menuju dunia-dunia lain yang jauh lebih baik bagi masa depan mereka dan anak-anak mereka.
“Ah mas Tri, ini bisa-bisa saja, bapak saya cuman mengajarkan bahwa manusia itu tunduk pada hukum kebiasaan, kalau kita rajin berlatih, rajin belajar dari kehidupan kita, maka tinggal menunggu pasang baik kehidupan saja kok mas. Ketika pasang baik dan keberuntungan kehidupan itu sudah ada di depan kita, maka kita sudah terampil sekali memanfaatkannya untuk sebanyak-banyaknya kebaikan yang bisa kita lakukan dan kita peroleh.” jawabku.
“O.. ya mas Tri, langsung ke pokok permasalahan, kami ke sini mewakili keluarga adalah untuk misi menemukan Iqbal dan membawa Iqbal agar bisa pulang dulu ke Nganjuk, saya berharap mas Tri bisa membantu kami..” ujarku
“Satu bulan yang lalu aku memang bertemu dan bahkan Iqbal bersama temannya Herman pernah menginap di rumahku di Banyudono sana, memang sempat ngomong panjang lebar dengan mereka berdua” kata mas Tri.
“Intinya gimana mas? Tanyaku
“Menurut yang diceritakan Iqbal, intinya Iqbal sekarang dalam posisi buronannya si Jo dan komplotannya. Ada bos besar di balik komplotan si Jo. Dan si Jo hanya pion saja. Iqbal banyak mengetahui rahasia-rahasia komplotan itu, termasuk bisnis gelapnya di bidang serbuk sabu-sabu dan Iqbal sudah bisa menyebut pasti di mana lokasi pabrik penyulingannya itu berkamuflase dengan pabrik di perkebunan teh di Ungaran. Ini semua dia dapatkan karena terlalu seringnya berinteraksi dengan si Jo. Apalagi kalau si Jo sering mabuk. Banyak rahasia perusahaan yang bocor dari mulut si Jo.” jelas mas Tri
“Terus si Jo tahu kalau dik Iqbal banyak mengetahui rahasia komplotannya. Kan rahasia itu biasanya hanya luarnya, tidak sampai mendalam. Lalu mengapa si Jo harus repot-repot nguber-nguber dik Iqbal?” tanyaku kepada mas Tri.
“Tidak sesederhana itu, bos komplotan mulai mengendus kesalahan si Jo, dia menganggap Iqbal sudah kelewat dekat untuk urusan bisnis pribadi si Jo dengan Iqbal. Buktinya ketika bosnya itu sedang mencari si Jo, dia mendapati si Jo tidur hingga kesiangan di kosnya Iqbal. Sekali waktu pula pernah bosnya mendapati si Jo dalam keadaan mabuk di Pucang sawit yang menolong adalah Iqbal, dan pada saat yang sama si Jo ngomel-ngomel masalah rahasia komplotannya. Tampaknya si Jo mendapat peringatan keras dari bosnya dengan tidak mendapatkan kiriman uang selama dua bulan terakhir. Hingga suatu ketika dalam seminggu lebih si Jo absen hingga kamu dan Harun menemuinya untuk sebuah komitmen melunasi utang-utang Iqbal kepada si Jo. Kehadiran kamu dan Harun lah yang menjadi penghalang si Jo untuk melaksanakan misi bosnya untuk menangkap Iqbal hidup-hidup untuk diserahkan ke bosnya yang tinggal jadi satu di kebun teh “kamuflase”nya di Ungaran. Bahkan Iqbal mengatakan, pernah mendengar secara sembunyi-sembunyi, saat si Jo menerima telefon, si Jo mendapatkan perintah dari bosnya untuk membunuh Iqbal, tetapi tampaknya menangkap Iqbal hidup-hidup lebih mendapakan bonus uang yang jauh lebih besar sampai 200 juta rupiah.” Jelas mas Tri.
“Lho apa sebelumnya mereka tidak saling mengetahui bahwa masing-masing sama-sama mempunyai rahasia bisnis gelapnya? Sehingga sama-sama mendapatkan backingan dari oknum aparat yang sama?” tanyaku
Ternyata ruangan itu terhubung dengan ruangan yang lebih luas, aku baru tahu ketika ada istrinya yang barusan keluar dari pintu yang sepintas lalu seperti kayu tua, membawa minuman dan makan siang. Ketika pintu sedikit tersingkap tampak ruangan-ruangan yang dipisahkan oleh sekat-sekat dari tripleks tebal. Kemudian mempersilakan kami minum dan makan siang sekalian.
“Awalnya Iqbal menyangka demikian, tetapi dengan berjalannya waktu, sejalan dengan seringnya si Jo mabuk dan ketika ditanya lepas kontrol, sehingga tidak ada rahasia yang tertutupi. Akibatnya Iqbal jadi tahu bos besarnya itu mempunyi jalur-jalur perlindungan khusus dengan oknum perwira yang menjabat di Semarang sana. Ya bos si Jo salah memilih orang yang dipercaya menjaga banyak rahasia. Dia tidak mau para nama baik oknum perwira itu tercoreng karena Iqbal buka mulut dimana-mana. Untuk keamanan pribadinya dan usahanya, ia memerintahkan si Jo menangkap Iqbal hidup-hidup agar bisa mengancam dan menginterogasi, berbahaya tidaknya Iqbal bagi kelangsungan bisnisnya. Jauh lebih aman lagi kalau mereka membunuh Iqbal dengan cara yang tidak terdeteksi aparat.” Jelas mas Tri sekali lagi.
“Eh makan siang sudah komplit, mari kita makan yuk” mas Tri mempersilakan kami makan. Aku duduk dekat dengan mas Tri, sementara Widodo, Imam dan dik Harun duduk melingkar berhadapan dengan kami. Makan siang tanpa meja, makan disangga dengan tangan kiri kami, minuman di taruh di kursi-kursi yang di taruh di tengah.
“Berdoa dulu lho” mas Tri mengingatkan
“Ya mas” jawab kami serentak.
………………………………………………………
“Sekarang dimana Iqbal bersembunyi mas?” tanyaku dengan posisi badan yang lebih dekat lagi dengan mas Tri. Tampak jelas gigi-gigi mas Tri yang higienenya buruk, banyak karang gigi hitam-hitam seperti barisan karang kehitaman tapi hanya di bagian bawah dan itupun masih bersalut lapisan seperti mentega yang kecoklatan…sisa-sisa makanan yang jarang sekali tersapu oleh sikat gigi dan pasta giginya. Dan sekarang ditambah pecahan-pecahan makanan yang barusan selesai dikunyahnya. Dan jangan ditanya bagaimana aromanya, kalau sekarang mungkin belum terasa karena masih segar dan diguncang-guncang air yang dikumur-kumur sebelum ditelan. Tapi kalau sudah beberapa jam dicoba sendiri deh.
“Kemarin sore Iqbal ke sini sendirian naik sepeda motor, seperti biasa penampilannya selalu tertutup, helm cakil tidak pernah lepas, setelah dirasa aman barulah ia melepas helm cakil dan masuk ke dalam ruang kerjaku ini.” Jawab mas Tri
“Terus..?” sahutku
“Dia terburu-buru. Cuman memberi tahu, kalau dia dibuntuti oleh si Jo, meminta perlindunganku, dan dia bersembunyi di sini. Beberapa saat kemudian si Jo datang. aku tantang dia, dan dia lari terbirit-birit keluar..” Jawab mas Tri
“Trus…?”
“Iqbal bermalam di sini sampai malam, setelah sholat subuh pagi tadi, dia berpamitan, mengendap-endap lewat pintu belakang… terus ngacir.. katanya mau ke Banyudono” jawab mas Tri
“Sekarang?” tanyaku dan Harun bersamaan.
“Ya itulah yang aku sayangkan, mengapa aku tidak menahannya di sini. Seandainya tahu kalau saudara kandungnya ke sini mau menjemputnya” kata mas Tri yang mulai mengendur nada suaranya.
“Maafkan aku Karim … Harun, aku tidak bisa membantu lebih…” mas Tri melanjutkan lagi.
“Mhmmm… makasih mas, mungkin Iqbal pernah menyebutkan dimana sarang komplotan itu dengan detail” tanyaku
“Dia pernah menyebut, dengan pemandian air panas Gonoharjo berbatasan dengan kabupaten Kendal, itu saja yang aku tahu Rim”
“OK mas Tri trima kasih atas segalanya, informasinya, makan siangnya, tak coba nyari di Banyudono, saya kira begitu saja. Saya harus mencari dik Iqbal, sekalian pamitan” kataku
“OK mas! Silakan. Terima kasih atas kunjungannya, nanti kalau Iqbal sudah kembali beritahu saya ya. Sering main-main sini ya mas Karim, mas Harun…” kata mas Tri..
“Ya Insya Allah” kataku serempak dengan dik Harun.
…………………………………………………….
Kami berempat bergegas menuju Banyudono daerah luar kota Solo ke barat arah menuju Semarang.
………………………………………………………
Tut tut tuuuut tut tut tuuuuut tut tut tuuuuuut
Dari no 0815643xxxx nama yang muncul “TERORIS”
Ga ketemu ya coba dicari di Banyudono nanti ada petunjukku
……………………………………………………………………
“Tampaknya kita diawasi” kataku kepada Imam, Widodo dan dik Harun
“Tahunya?” serempak semuanya
“Dua hari ini aku dapat sms dari nomor yang sama dan aku simpan dengan nama ‘TERORIS’ dia juga mulai mengganggu istriku, aku barusan cross check ke istriku
Memang mendapat terror, untung pak RT sedang lewat, bersama bapak-bapak yang lain, sehingga bisa digagalkan rencana mereka. Aku belum tahu siapa yang mengirimkan pesan itu.” kataku sambil aku edarkan handfon-ku kepada dik Harun, Imam dan Widodo. Mereka semua membaca satu persatu.
“Tapi mas Tri, tidak mendua kan?” tanyaku ragu
“Insya Allah tidak! Aku yakin betul, dia sudah menjadi binaan kita bertahun-tahun dan nyata betul perbaikan nasibnya dan dia aktif ngaji dan rutin. Di hampir setiap pertemuan, selalu membawa orang baru. Setiap orang, teman premannya dulu, dia dakwahi, dan dia ajak ngaji bersama anggota KAPAS dan SEROJA yang lain” jelas Imam
“Perjalanan kita tampaknya sudah dirancang oleh si teroris itu” kataku
“Ya sudahlah, Sekarang kita ke Banyudono, menemukan petunjuk sesuai sms itu” kata Widodo mantap.
Mobil terus melaju menuju Banyudono…..
………………………………………………….
Perumahan penampungan gelandangan dan orang terlantar itu, terletak di sebelah utara jalan raya sebelum perempatan yang menuju pemandian umbul Pengging, kemudian melewati beberapa belokan,masuk desa, di bawah pohon besar. Dan… di sanalah kampung itu. Sebenarnya satu RT, tetapi dalam perkembangan selanjutnya menarik para orang pinggiran lain untuk bermukim di sana. Jadilah membengkak lebih dari satu RW.
Imam dan Widodo lebih dulu turun di perumahan itu dengan cekatan, mereka berdua sudah demikian akrab dengan seluruh warga yang berada di sana. Aku dan dik Harun mengikutinya di belakang dan akhirnya menuju ke rumah yang paling pojok, bertemu dengan pak Sutiman, tapi oleh warga setempat dia dipanggil dengan parapan Sotil… Walopun demikian para aktivis KAPAS dan SEROJA tetap memanggil dengan nama asli, sekaligus mendidik menghormati orang lain.
“Assalamu’alaikum!” kata Iman dan Widodo bersamaan.
“Wa’alaikum salam Warohmatullahi Wabarokatuh” jawab orang yang ada di rumah. Sesosok laki-laki seumuran 40 tahun keluar. Berambut gondrong, yang sebagian rambutnya mulai memutih, berkumis, bertato di lengan dengan gambar kelelawar, konon sebagai tanda bahwa dia itu banyak aktivitasnya di waktu malam. Pekerjaan pokoknya ngamen di kota barat. Di sana banyak sekali warung makan, mulai yang sederhana sampai yang jualan semacam Buerger. Kesempatan yang baik bagi pak Sutiman untuk ngamen. Akhir-akhir ini aktivitas ngamen sudah mulai berkurang karena dilatih oleh bagian kesenian KAPAS dan SEROJA menjadi tim NASYID dan tim NASYIDnya bernama NASYID NASUHA, sudah sering dipakai pada pesta-pesta pernikahan dan khitanan atau peringatan hari-hari besar Islam, berbagai ormas Islam di Surakarta.
“Eh…mas Imam, mas Widodo… silakan masuk mas” kata pak Sutiman menyilahkan kami.
“Nggih pak” jawab kami serentak.
“Sebentar, jangan diberitahu dulu, mas berdua ini pasti...kakak atau adiknya IQBAL, benar kan?” kata pak Sutiman
“Kok bisa langsung menebak tho pak?” tanyaku penasaran
“Ya jelas bisa, wajahnya sangat mirip dan kemarin barusan dia ke sini” kata pak Sutiman.
“Kemarin barusan ke sini? Terus sekarang dimana pak?” tanyaku dengan harap-harap cemas.
“Iya… itulah yang kami sesalkan, maafkan kami tidak dapat melindungi Iqbal. Satu jam yang lalu serombongan orang dalam satu mobil keluar menggerebek rumah kami satu persatu dan mereka berhasil menemukan dan menangkap Iqbal dan kami tidak tahu mereka pergi entah kemana..” kata pak Sutiman dengan penuh penyesalan.
“Maafkan kami semua tidak bisa memberikan perlindungan, kepada Iqbal. Mereka menakut-nakuti kami dengan memberikan tembakan peringatan” pak Sutiman mengulangi sekali lagi penyesalannya.
“Ga pa pa pak… lha wong sudah terjadi mau diapain, sekarang kita mikir bagaimana penyelesaiannya” kataku menghibur, walaupun di hati ini penuh dengan rasa was-was dan cemas mengenai kondisi dik Iqbal.
“Kira-kira mereka pergi ke arah mana pak? Atau mungkin sempat terdengar kata-kata tertentu yang bisa jadi petunjuk buat kita pak?” kata Widodo.
“Tidak..mmhmmm mungkin ini bisa membantu, nomor polisi kendaraannya H 1897 PS, kendaraannya Toyota kijang LGX, warnanya merah anggur.” Kata pak Sutiman.
“Ya sudah pak Sutiman, kita tidak ada waktu, kita langsung menuju ‘Kebun Teh’ seperti yang dikatakan Amar temannya Iqbal” kata Widodo.
Perjalanan sudah mencapai Salatiga, dan lagi-lagi ada sms
Tut tut tuuuut tut tut tuuuuut tut tut tuuuuuut
Dari no 0815643xxxx nama yang muncul “TERORIS”
……………………………………
Dan ingat ya..istrimu sudah tak terhitung berhubungan intim denganku sudah TIGA TAHUN!!! Selamat ya dapat barang seken….. Aisyah ga cerita?
………………………………….
Sialan banget TERORIS ini! Keadaan sedang kalut begini, malah menambah masalah. Bisa-bisanya menyebut dengan jelas nama Aisyah, yang benar-benar menjadi istriku. Siapa gerangan teroris ini? Jangan-jangan dia kenal dekat dengan aku? Jangan-jangan aku pernah kenal dekat dengan orang ini? Persetan dengannya.
Untuk sms terakhir tidak aku ceritakan pada semuanya, hanya aku saja yang membaca. Dan handfon aku masukkan kembali ke saku.
Alhamdulillah segera tiba waktu sholat ashar, ada kesempatan menenangkan hati.
Adzan Ashar mulai berkumandang, kami sudah memasuki daerah Salatiga, berhenti sholat Ashar di masjid kota, perjalanan terus berlanjut hingga menjelang maghrib, dan sampai di Ungaran tepat adzan Maghrib. Isi bensin dan makan malam serta sholat Maghrib sekaligus di jama’ Isya di Ungaran, sekaligus, tanya-tanya mengenai rute perjalanan menuju kebun teh dekat pemandian air panas Gono Harjo tepatnya di desa Limut Kec Boja Kabupaten Kendal, masya Allah ternyata sudah memasuki Kabupaten Kendal.
“Kamu istirahat-istirahat dulu dik Harun biar aku, dengan Imam dan Widodo yang membeli perbekalan untuk nanti kalau-kalau kita harus jalan kaki menyusuri jalan setapak..” kataku kepada dik Harun
Beberapa saat kemudian aku, Imam dan Widodo berangkat ke toko-toko yang ada membeli makanan roti, lampu battery, perlengkapan mandi, aqua, jas hujan. Pada saat yang sama semua battery handfon di-charge di masjid dekat alun-alun Ungaran. Setengah jam berlalu dan kami bertiga kembali ke masjid.
“Mana Harun? Handfon dan chargernya masih terpasang” tanyaku semakin menambah cemas…
Imam mengambil handfon dan chargernya serta membagi ke masing-masing pemilik, kemudian kami bertiga menuju mobil..
Kosong? Tidak ada orang?
“Kita lapor polisi saja” kataku
“Kalau lapor malah repot, kelamaan, harus mencatat kejadian, nungguin orang ngetik. Belum lagi kalau dicurigai, dan kita harus cerita panjang lebar dulu..” kata Imam
“Kita harus tenang” kata Imam lagi.
“Kita berpencar!” kata Widodo
“Karim kamu mencari ke arah depan mobil, Imam kamu mencari sebelah kanan mobil, sedangkan aku mencari di sebelah kiri dan belakang mobil…” kata Widodo seperti komandan yang mengatur strategi perang kepada prajuritnya..
“Kita berkumpul kembali di sini setengah jam lagi” lanjut Widodo.
……………………………………………….
Walaupun di sekitar kami sangat ramai karena dekat alun-alun, tetapi kami bertiga sangat tegang, khawatir tentang keselamatan Iqbal, keselamatan Harun, dan juga keselamatan diri ini masing-masing, kalau-kalau disergap dari belakang…
………………………………………………..
Tiba-tiba semuanya gelap, Aku dibekap dari belakang. Kepalaku tertutup kain. Aku tidak tahu apa warnanya, semakin aku berontak, tangan-tangan itu semakin kencang dan tali-tali itu semakin sakit mencengkeram pergelangan tangan dan kakiku. Kemudian aku diangkut rame-rame kelihatanya tiga orang.. ..
Yang aku rasakan adalah semakin lama semakin dingin udara yang menyapa kulitku. Apakah aku akan dibawa ke kebun teh itu, atau.....mau dibawa pergi kemana aku ini, aku tidak tahu.
Siapa yang menculikku dalam keadaan seperti ini.
Pikiranku makin kalut tidak menentu, pertama Iqbal diculik, Aisyah di terror, kemudian Harun diculik, kini giliran aku. Apakah aku diculik oleh orang yang sama yang menculik Iqbal ataupun Harun. Apakah sama pula dengan orang yang meneror Aisyah. Apakah yang menculik ini ada hubungannya dengan bos besarnya si Jo. Bagaimana keadaan Aisyah? Maafkan aku Aisyah. Aku ikut membawamu dalam persoalan besar keluargaku. Maafkan aku tadi seharusnya menengokmu dulu di rumah baru berangkat ke Ungaran. Akhirnya yang bisa aku lakukan adalah pasrah, memohon pertolongan dan keajaiban yang Allah turunkan kepada kami.
“Ah .. masya Allah.. sakit”
Tubuhku yang terikat tali. Tampaknya aku dinaikkan di atas truk terbuka. Aku bisa berkesimpulan seperti itu karena pertama, aku mendengar suara mesin disel, kedua karena desiran angin menerpa tubuhku lumayan kencang, dingin angin pegunungan mulai merasuk sela-sela lubang jaket yang aku kenakan, aku didudukkan di dasar bak truk bersama siapa aku tidak tahu. Aku hanya merasa berguncang-guncang, bergeser hebat ke kanan dan ke kiri, bila truk ini belok ke kanan atau ke kiri. Pinggang dan bahuku membentur benda keras kayaknya tumpukan kayu-kayu.
“Ah.. astaghfirullah”
Aku merasakan tendangan mengenai pahaku…
“Bisa duduk santai tidak!” suara orang laki-laki
Ternyata sebagian kakiku mengenai kaki orang laki-laki ini. Aku kini ternyata menjadi tawanan. Aku jadi bisa merasakan begini tho rasanya menjadi tawanan. Tidak menentu. Siap-siap menderita sakit karena siksaan, yang tidak tahu apa wujudnya. Penuh ketidak pastian. Aku hanya bisa berharap. Hanya bisa berharap semoga Allah selalu menguatkan hatiku dan fisikku terhadap tekanan-tekanan ini. Aku bersyukur, untungnya tadi sholat Isya dijamak sekalian, sehingga aku tinggal menikmati saja malam terpanjang yang akan kulalui dan tidak aku ketahui bagaimana akan berakhirnya….
“Auu! Ya Allah sakitnya”
Kembali tendangan itu membentur pahaku sebelah kiri, tampaknya truk yang aku tumpangi membelok tikungan tajam, sehingga menggeser tubuhku mengenai lagi-lagi kaki siapa aku tidak tahu dan yang mempunyai kaki marah dan mewujudkan marahnya dengan menendangku dan..
“Bisa duduk tenang tidak! Dasar tikus!” umpat orang yang tak sengaja kena geseran kakiku, akibat tangan dan kakiku diikat kepala ditutupi kain, duduk bersandar bak truk terbuka.
Tiba-tiba truk kembali membelok dalam tikungan tajam, aku berusaha mempertahankan posisiku agar tidak menyentuh atau tidak sengaja bergeser menyentuh, takut kena tendangan lagi, orang-orang di sini sangat sensitive atau mungkin, sedapat mungkin menyiksa aku agar aku segera tele tele atau aku tidak tahu. Dan.....
“Aahhh …ya Allah” suara laki-laki yang aku kenal itu, yah suara dik Harun. Masya Allah sama dengan nasibku, dalam satu kendaraan, sebagai tawanan. Beberapa saat kemudian...
“Dasar kaki busuk ga tahu aturan!” suara laki-laki lain yang asing tidak kukenal.
Peristiwa-peristiwa ini membuatku semakin hati-hati dan berusaha mempertahankan posisi kaki agar tidak bergeser sedikit pun, walaupun kadang satu dua kali meleset dan hadiahnya tendangan sepatu itu menusuk kulit paha kaki kanan dan kiri bergantian. Aku yakin dik Harun pun berusaha melakukan hal yang sama. Sepertinya ada komunikasi diantara aku dan dik Harun untuk tidak saling memanggil walaupun sebenarnya sudah saling mengenal suara kami masing-masing. Takutnya dalam keadaan seperti ini kalau saling kenal maka selanjutnya akan dipisah di ruang yang berbeda nanti di tempat tujuan..
…………………………………………………..
Kendaraan berhenti…
Kedua tanganku dalam keadaan terikat tali direnggut kasar, dan aku dipaksa turun, meloncat dari bak truk yang tinggi, padahal kakiku juga diikat.
“Bismillah”
“Ahhh… ya Allah” alhamdulillah masih beruntung tidak terkilir masih bisa jalan tegak. Kalau keadaan dipaksa semua jadi bisa ya mungkin. Kali ini kembali kedua tanganku yang terikat tali direnggut kasar, digelandang entah kemana aku hanya mengikuti dan tentunya melompat-lompat seperti jalannya vampire cina atau orang balapan karung. Lucu kelihatannya, beberapa orang aku dengar ketawa, mungkin melihat jalanku yang lucu, tapi di balik kelucuan ini, tali-tali yang mengikat pergelangan kakiku, menggesek-gesek kulit, walaupun tidak langsung, tapi tetap saja sakit. Apalagi kalau dibuat melompat, gesekannya…waduh sakit. Dalam keadaan kepala tertutup aku meringis menahan rasa sakit itu...
“Ya Allah”
“Ya Allah”
Pelan-pelan aku mendesah menyebut nama Allah, sekarang ini aku hanya bisa pasrah dan berharap ada mukjizat dari Allah, semoga Allah mengumpulkan kembali keluargaku dalam keadaan utuh, sehat, dan selamat. Itu saja. Dalam keadaan terpaksa keinginan manusia jadi lebih sederhana, yaitu ia ingin keselamatan.
“Duduk!” bentak seorang laki-laki dan mendorongku dengan kasar, hampir saja aku tersungkur, namun aku masih dapat menjaga keseimbangan, dan bisa duduk dan agak menyelonjorkan kaki.
Kemudian….
Semua terang benderang, tapi dingin. Aku bisa melihat segala sesuatunya dengan jelas. Aku berada di dalam gudang dan aroma wangi teh semerbak memenuhi ruangan. Dan aku sayup-sayup terdengar bunyi raungan mesin ternyata aku berada di pabrik pengeringan daun teh…
“Pabrik teh di Ungaran?” kataku dalam hati. Terbayang dalam ingatanku beberapa waktu yang lalu bahwa Iqbal mengetahui rahasia bisnis sabu-sabu, dimana pabrik penyulingannya bersanding dengan pabrik pengeringan daun teh.
Dan aku sekarang berada di dalam pabrik pengeringan daun teh.
Semua serba putih, dinding berwarna putih, atap berwarna putih serta tegel keramik porselin berwarna putih, ternyata aku berada di salah satu sudut ruangan itu. Semuanya berserakan daun-daun teh yang mau mengering. Satu dua orang pekerja dengan alat pendorong mengumpulkan daun teh menjadi gunungan dan siap dipindahkan ke tempat lain. Aku tidak tahu.
Ternyata aku berada di ruang lain. Pekerja itu tidak mengetahui keberadaanku, tapi aku bisa melihat keberadaan pekerja. Berarti di salah satu dinding ruang itu transparan bisa dilihat dari dalam.
Kali ini aku diperlakukan lebih lembut dan sopan, ikatan tali yang mengikat kakiku mulai dilepas, tinggal ikatan di tanganku belum dilepas terletak dibelakang punggungku, seperti orang istirahat di tempat kalau baris berbaris. Aku berjalan diapit oleh dua orang bodyguard dihantarkan menuju salah satu ruang panel. Perlahan aku perhatikan ruangan. Aku mencoba menghafalkan sudut-sudut ruangan itu, memperhatikan pintu-pintu yang saling menghubungkan antar ruangan. Ada tiga belokan dari pintu ruang pekerja tadi keluar, dinding tembus pandang dan menuju ruang panel tempat yang kayaknya aku tuju. Luar biasa sekali teknologi yang ada di sini, sistem pengamanan, monitor kamera, dan aku perhatikan di salah satu monitor. Itu kan interior mobil bapakku, dimana ya? Kalau aku lihat sekelilingnya seperti masih di alun-alun Ungaran. Mana Widodo dan Imam? Mudah-mudahan mereka juga lolos dari usaha penculikan ini. Dimana Iqbal dan Harun?
Berarti selama ini ada penyadapan di dalam mobil. Ada kamera dan mikrofon yang ditanam di dalam mobil dan aku, Harun, Widodo dan Imam tidak menyadari penyadapan itu.
Aku menuruti saja kemana tanganku ini diseret, tetapi tetap menghafal ruangan dan belokan. Tambah dua belokan lagi dan sampai….
Memasuki ruangan yang besar, ruangan lebih hangat tidak seperti sebelumnya terwarnai oleh dinginnya hawa pegunungan. Tampaknya ada air conditioner penghangat ruangan….
Sosok itu muncul dari balik kursinya
“dokter KindoNo?” kataku tak percaya dengan yang aku lihat
“Kamu heran mengapa aku ada di sini?” tanya dokter KindoNo dengan sinis menatap wajahku.
“Semua orang terlalu egois. Kamu tahu kan. Dosen kita. Para dokter-dokter senior. Para professor. Semuanya mementingkan diri sendiri. Membantu menyembuhkan pasien, tetapi mengeruk keuntungan dengan bekerja sama dengan pabrik farmasi, mendapat berapa persen dari penjualan obat. Mereka menikmati kemewahan di tengah orang-orang papa dan menderita. Membeli mobil mewah dari keterpaksaan orang miskin yang menjual habis harta-hartanya. Membeli gedung megah dari orang-orang miskin yang telah menjual tanahnya. Shopping di luar negeri, dengan bangga dari uang hasil menggencet orang-orang miskin. Apakah itu namanya tidak egois.” Kata dokter KindoNo.
“Lalu apa hubungannya dengan kamu?” tanyaku masih dalam nada ramah, walaupun sebenarnya sangat kesal, sangat marah, dengan segala perlakuannya pada keluarga dan istriku.
“Ada hubungannya. Dari pada aku mengikuti jejak mereka yang menjijikkan, aku memilih jalur lain. Berbisnis psikotropika dan narkotika. Segmen targetku adalah anak-anak pejabat yang suka korupsi itu. Anak-anak dokter, dosen, kita. Anak profesor yang matre. Uang mereka yang haram biar aku keruk. Aku bangun kerajaanku di sini. Jadi aku tidak berbuat salahkan? Jadi aku melakukan segala sesuatunya dengan legal. Justru aku membantu pengadilan dan polisi. Mereka tidak usah bersusah payah, toh uang yang tidak beres itu sudah aku keruk. Aku hancurkan keturunan mereka... ha ha ha” Kata dokter KindoNo dengan bangganya tanpa terbersit pun rasa bersalah atau merasa ada yang salah dari yang dia ucapkan.
“Kenyataannya? Si Jo mengedarkan sabu-sabumu di anak-anak jalanan. Apakah itu masuk tujuanmu?” tanyaku
“Oooo… itu namanya efek samping. Di dunia ini, namanya buatan manusia selalu ada efek samping. Orang beragama dan dengan memanfaatkan agamanya itu untuk mendapatkan keuntungankan juga efek samping kan?” lagi-lagi kata dokter KindoNo tanpa merasa sedikitpun bersalah atas apa yang diucapkan.
Kulihat ruangan kerja dokter KindoNo sangat canggih, monitor-monitor LCD sangat banyak, laptop merah anggur metalic, berada di hadapannya seperti perisai yang membentengi dirinya dari seranganku. Ruangan ditata minimalis. Satu dua benda-benda dekoratif bergaya futuristik. Warna putih mendominasi ruangan dengan garis-garis merah menyala menyela secara dinamis. Di belakang tempat duduknya rak buku dari bahan kayu jati, berwarna politur krem dengan kombinasi putih gading. Benar-benar eye catching.
“Mengapa kamu menculik Iqbal, Harun dan Aku? Tanyaku
“Sebenarnya yang bermasalah Iqbal. Aku tidak mau melibatkan kalian semua. Dia sudah terlalu tahu banyak hal mengenai bisnisku. Aku salah memilih si Jo, terlalu mengumbar rahasia kepada Iqbal.” Jelas dokter KindoNo saat ini dia berdiri, berjalan mendekati diriku yang masih dalam keadaan terikat kedua tanganku. Dengan sinis dia memegang-megang bahuku, dan mulai membelai rambutku.
“Siiih” aku mengelak. Memalingkan wajahku keras-keras ke kanan dan hampir membentur lengan bodyguard di sebelah kananku. Dokter KindoNo tersentak kaget melihat sikapku..
“Kamu belum menjawab, mengapa engkau menculik kami semua, mengapa engkau membiarkan Iqbal kamu tangkap hidup-hidup” tanyaku. Sebenarnya aku sendiri belum tahu bagaimana keadaan Iqbal saat ini.
“Aku ingin mengorek seberapa jauh dia tahu tentang bisnisku” jawab dokter KindoNo enteng.
“Hanya itu saja?” tanyaku keheranan
“Iqbal masih punya utang aku lewat tangan si Jo sebesar 50 juta” jawab dokter KindoNo lagi, kali ini dia mengitari aku dan kedua bodyguardnya.
“Uang 50 juta itu tidak ada artinya bagi bisnismu kan. Keluargaku berkomitmen mau melunasi utang-utang itu, aku tidak percaya, pasti ada alasan yang jauh lebih besar dari itu” tanyaku kali ini dengan nada yang sangat interogatif.
“Kamu mau mengatur saya?!!” dokter KindoNo kehilangan kesabarannya, menarik kerah bajuku keras-keras dan tubuhku hampir-hampir terangkat karenanya. Dan kurasakan bau mulutnya menyergap saraf sensoris yang ada dalam lubang hidungku. Lumayan bau. Kemudian dokter KindoNo menghempaskan tubuhku jauh-jauh, hampir terhuyung-huyung, tapi segera bisa bangkit tegap karena dipegang bodyguardnya yang diam seperti anjing herder tinggal menunggu perintah bosnya.
“Ada perwira tinggi yang terlibat? Dan Iqbal tahu tentang itu. Sampai mengerahkan orang-orang militer untuk menangkap Iqbal?” tanyaku, dengan tegas tapi pasti.
“Kurang ajar!!!” “plaak” pipi kananku ditamparnya dengan keras…
“Tapi mengapa kamu malah marah, sekedar tahu saja ga masalah kan? Kenapa engkau risau?” tanyaku
”Itu bukan urusanmu!!!” ”plaak” kembali pipiku ditamparnya, kali ini pipi sebelah kiri.
“Dia pernah datang ke sini sendirian, menyusup dan merekam kedatangan sang perwira tinggi itu termasuk perbincangan rahasia kami, dan dia berhasil kabur di Solo. Aku harus menangkap Iqbal hidup-hidup untuk tahu dimana disembunyikan rekaman itu.” Jawab dokter KindoNo geram.
“Sekarang sudah kamu tangkap! Kamu berhasil?” tanyaku lagi
“Itu bukan urusanmu. Kamu dan Harun aku jadikan alat tukar dengan rahasia yang dia bawa” kata dokter KindoNo yang sudah mulai kehilangan kesabarannya lagi. Dan untuk kali ini aku dapat hadiah pukulan telak ke arah perutku.
”Auu”
“Sudah!!! Bawa ke Gudang!!!” dokter KindoNo yang geram.
“Sebentar! Satu lagi. Ada apa dengan istriku, dia tidak tahu apa-apa mengenai ini, mengapa engkau sangkut pautkan denganku? “ tanyaku mulai dengan nada sengit.
“Ha ha ha ha. Haa ha haa. Kamu salah besar Rim! Dia tidak mencintai kamu. Dia mencintaiku. Dia itu kekasihku. Tiga tahun kami menjalin hubungan cinta. Bahkan aku sudah mencicipi dalamnya. Aku merasakan keperawanannya. Ha ha ha ha. ” jawab dokter KindoNo enteng petita-petiti seperti orang yang barusan menyembelih ayam.
“Mengapa kamu tidak menikahinya, kalau dia mencintai kamu, berarti kamu merusak hidupnya” kataku bersamaan kedua bodyguardnya menyeret aku keluar
“Itu urusanku. Dunia ini penuh permainan Rim! Ga ada yang serius! Dianya yang terlalu lugu. Kamu tahu tidak, nama asli Aisyah itu Nina Fania, dia itu dulu cewek suka dugem. Itulah yang tidak dimengertinya. Kalau sudah masuk sana, tidak ada lagi arti keperawanan!” kata dokter KindoNo dengan kedua tangannya melipat di dadanya, dan mukanya memancarkan kemenangan yang telak.
“Dasar buaya! Psikopat kamu!” umpatku, ingin ku ludahi mukanya, tapi bodyguardnya keburu menarikku menjauh, dan membawaku entah kemana.
Sementara dokter KindoNo senyum sinisnya mulai mengurai, merasa di atas angin.
Sialan bener dokter KindoNo, benar-benar seorang psikopat. Pikirannya aneh tapi dia merasa itu normal, bahkan ketika pikirannya itu merusak hidup atau merusak nasib orang pun tidak peduli.
Kembali aku diseret seperti pesakitan, namun meski begitu aku selalu menghafalkan belokan-belokan dan ciri-ciri tiap belokan dan melihat peluang-peluang pintu keluar.
………………………………………………
Akhirnya sampai ke gudang….
Udara pengap, padahal dingin, remang-remang hanya lampu 40-an watt menerangi ruangan yang demikian luas.
“bugg”
“Ahh…”
“plaak”
“aahh..”
“DIMANA KAU TARUH CD ITU?”
“Aku tidak tahu…”
“bugg”
Ya Allah dik Iqbal, mukanya berlumuran darah.. pelipisnya robek. Tapi dia tetap bersikukuh tidak membuka rahasia itu. Sudah berapa pukulan, tamparan, tendangan, dan tongkat kayu, membentur keras wajah, dada dan perutnya..
Sementara di sebelah kananku selisih lima meteran dariku terlihat jelas dik Harun, dan tidak aku lihat dimana Widodo dan Imam.
Ya Allah kuatkanlah fisik dik Iqbal menahan siksaan ini. Ya Allah yang mendengarkan doa orang yang teraniaya, hancurkanlah dokter KindoNo dan perwira tinggi di depan ku ini. Selamatkanlah kami. Persatukanlah keluarga kami kembali Ya Allah kabulkanlah doa kami orang-orang yang teraniaya ini..
Aku menyadari tali pengikat tanganku mulai kendor, aku berusaha untuk melepas tali itu tanpa ada yang curiga sedikit pun. Semua mata sedang terpusat pada Iqbal yang digantung tangannya dan disiksa. Sementara aku dan Harun sedang main mata, memberi kode tangan yang mulai lepas, mata ku mengarah pada pistol yang menempel dipinggang perwira itu.
Ya Allah, aku memohon mukjizatMu, memohon pertolonganMu, mahirkanlah aku berkelahi, kumpulkanlah seluruh keberanianku. Kumpulkanlah seluruh kekuatanku, kekuatan dik Iqbal dan kekuatan dik Harun. Ya Allah Yang Maha Esa, Tuhan Yang Maha Mendengar, kabulkanlah permohonanku.
………………………
“Iqbal! Kau lihat kakak dan adik kandungmu datang” Kata perwira yang memakai pakaian sipilnya. Walaupun kulitnya lebih terang ketimbang kebanyakan orang-orang militer yang sering aku jumpai di jalan, tetap saja kesannya kaku, dingin dan tak bersahabat. Namun samar-samar aku mulai menghirup bau alkohol, tampaknya bersumber dari perwira ini. Dia sudah mulai mabuk.
“Kalau kau tidak mau menunjukkan dimana CD itu… kamu tinggal pilih mana diantara kedua saudaramu yang akan aku bunuh duluan” lanjut perwira itu tadi sambil sorot matanya menatap mataku tajam dan tak kenal ampun…dan setelah itu ganti menatap mata Harun. Kemudian dia mencengkeram dan mendongakkan dagu Iqbal dengan kasar.
“Kamu dengar dan lihat” kembali kata-katanya nyrocos dari mulutnya yang menghitam, kayaknya kebanyakan merokok.
Iqbal tetap saja diam tidak memberikan suaranya
“Keluarga kami biasa sengsara, biasa hidup keras, tidak pantang menyerah, dan yakin bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang benar, dan ingat pak, doa orang yang teraniaya pasti dikabulkan Allah pak.” kataku dengan tenang.
“Kurang ajar kau” pak Perwira itu segera menghambur ke arahku dan siap melayangkan pukulannya mengarah ke mukaku, semakin mendekat, semakin menyengat aroma alkohol yang dihembuskan dari mulut dan hidungnya.
“Ampun pak…. Jangan begitu pak” kataku sambil menghindar dan ikatan tali tanganku lepas serta saat itu juga segera tangan kananku mencabut pistol yang ada di ikat pinggangnya, serta tangan kiriku memukul ketiak kanannya seraya membekuk tangan kanannya ke belakang. Dan disusul aku menindihnya dari belakang..
Perwira itu tersungkur jatuh… dan meringis kesakitan.
Dan kutodongkan pistol itu ke kepalanya.
“Bapak kayaknya kebanyakan lemak dan tidak pernah latihan lagi ya” kataku.
Allahu akbar! Aku tidak percaya dengan yang aku alami. Tiba-tiba saja keberanian, kekuatan dan aku bisa memainkan jurus beladiri yang aku sendiri tidak percaya dari mana datangnya. Aku bisa memanfaatkan tenaga lawan, saat dia mencondongkan bahunya, aku bisa dalam waktu cepat memukul ketiaknya untuk melumpuhkan saraf tangan kanannya sehingga lemas tidak bisa digerakkan. Pada saat yang sama aku lihat Harun sudah bisa melepaskan tali yang mengikat tangannya. Dan yang lebih membuat aku tidak percaya aku bisa merebut pistol, dan bisa menodongkannya ke kepala perwira yang saat ini lemas. Ya Allah beginikah cara Engkau memberikan pertolongan. Kalau aku disuruh mengulang lagi apa yang telah aku lakukan tadi niscaya aku tidak akan bisa.
Tiba-tiba...
“Harun…tolong lepaskan tali yang mengikat tangan Iqbal” kataku memberi instruksi.
Setelah melepaskan tali yang mengikat, Harun membantu Iqbal mengenakan baju dan jaketnya, kemudian merapat menuju ke diriku.
“Beri kesempatan kami pergi dari sini” teriakku lantang. Samar-samar aku lihat dokter KindoNo hanya terpaku melihat keadaan yang ada.
Aku tinggalkan perwira yang masih lumpuh lengan dan tangan kanannya serta masih tengkurap meringis kesakitan, sementara yang lain aku lihat... melongo tidak percaya dengan yang dilihatnya.
Ketika kami mulai mendekati pintu, dua orang mencoba memanfaatkan kesempatan dikiranya aku lengah dan….
“doooor”
“doooor”
Dua tembakan tepat sasaran semuanya mengenai tungkai bawah dua orang tadi. Dan lagi-lagi, aku tidak percaya dengan apa yang aku lakukan. Aku bisa menembak orang dan tepat pada tungkai bawahnya.
.......................................................
Begitu keluar dari halaman pabrik pengeringan teh, segera mengambil langkah seribu. Mengikuti apa yang ditunjukkan Iqbal, tampaknya Iqbal lebih mengenal medan di sini, memang sudah pernah punya pengalaman lolos dari sini.
Ternyata jalan yang ditunjuk Iqbal benar-benar jalan di luar kebiasaan, jalan turun dengan kemiringan yang bisa dikatakan sebagai jurang, lebih dari empat puluh lima derajat.
…………………………………………
Dalam keadaan terpaksa mungkin kali, dan aku meyakini, inilah pertolongan yang Allah berikan kepada kami. Iqbal yang masih berlumuran darah dan memar-memar bekas pukulan, aku dan Harun berhasil lari melaju menuju dataran yang lebih rendah. Tetapi jalan yang dipilih Iqbal lebih terjal dan curam. Dan harus berpegangan dengan akar atau batang pohon yang bergelantungan agar tidak jatuh di jurang yang curam. Sinar rembulan membantu kami, mencari dahan atau akar yang kuat untuk pegangan. Ini jurang yang terjal, terpeleset atau salah memilih dahan atau akar yang tidak kuat untuk pegangan bisa jatuh di dasar jurang sana. Suara deras arus sungai semula jauh, makin lama makin terasa di telinga. Menandakan dekat dengan sungai. Tanpa penerangan senter kami bertiga menyusuri malam yang dingin. Satu dua kali angin gunung berhembus dengan kencangnya.
“Mereka kehilangan jejak kita mas, dikiranya kita jatuh di jurang” kata Iqbal
“Ya Alhamdulillah kalau begitu. Kita tidak perlu tergesa-gesa jalannya.” Kata Harun
………………………………………………………………..
“Kita menghindari Ungaran Mas” kata Iqbal
Kuperhatikan penampilan Iqbal, memang seperti yang diceritakan Amar kemarin lebih gelap, memakai kalung karet dengan mata kuku bima, memakai beberapa karet gelang di tangan.
“Kita ke barat sedikit, menuju Kendal, di mobil bapak kita pasti dipasang penyadap kalau tidak, pasti tidak aman dikendarai, sehingga bila kita mengendarai pasti mengalami kecelakaan dan meninggal, itulah yang mereka harapkan” lanjut Iqbal.
Sekitar satu jam kami menuruni jurang yang terjal, kami akhirnya sampai pada dataran yang lebih datar, tapi setelah diperhatikan lebih cermat, ternyata… dataran ini adalah ujung dari dua jurang yang lain di kanan kirinya. Dataran seukuran jalan setapak, tetapi kanan kirinya jurang. Di sisi kanan dan kiri itu, sama-sama terdengar aliran sungai. Sekali dua kali perjalanan kami terhalang pohon besar yang mungkin sudah ratusan tahun umurnya. Pada saat itu, cara melewatinya dengan berjalan dengan memanjat, memeluk pohon, berpegangan pada akar nafasnya yang kokoh, baru bisa melintasi pohon itu. Sebuah pohon yang tumbuh memenuhi jalan setapak yang kanan kirinya jurang.
“Mengapa perwira tadi begitu semangat menyiksamu” tanyaku kepada Iqbal disela-sela perjalanan kami.
“Sebenarnya dulu kami antara aku, dokter KindoNo dan Kolonel Prawoto akrab.” Kata Iqbal.
“Wooow namanya kolonel Prawoto, trus kok jadi bermusuhan?”sela Harun.
“Awalnya aku berusaha kenal dengan kolonel Prawoto karena ingin melindungi bisnisku. Mungkin mas Karim sudah tahu, bajakan dan sebagian VCD porno. Aku tidak ingin bisnis ini bangkrut gara-gara penggrebekan oleh polisi. Si Jo itu dimanfaatkan atau dapat dikatakan bosnya ada dua dokter KindoNo yang mencoba memasukkan sabu-sabu. dan Yoyo yang bermain di bisnis judi Cap Ji Kie. Aku mendekati si Jo agar aku dapat kenal lebih lanjut dengan dokter KindoNo dan Yo yo. Sebenarnya kenal dengan dokter KindoNo atau Yo yo adalah sasaran antara, karena aku ingin bisa kenal dengan Kolonel Prawoto. Singkat cerita akhirnya aku kenal dengan Kolonel Prawoto, hubungan kami sangat baik. Bahkan dia blak-blakan dengan berbagai macam jenis bisnis yang meminta dia menjadi bekingan. Banyak sekali mas, uangnya sampai miliaran pertahun dari setoran-setoran keamanan bisnis gelap seperti itu. Dia mengatakan gaji murni seorang perwira itu berapa? Bisa untuk apa? Sekarang jaman serba uang, sekolah, pendidikan anak, kesehatan semua serba uang dan sangat mencekik, apa yang bisa diandalkan dari gaji. Gaji itu ga ada apa-apanya! Harus cari terobosan yang cerdas Iqbal! Kamu pun harus seperti itu. Aku tahu pemain judi, obat-obat terlarang dan pelacuran itu konsumennya adalah pejabat nakal, anak-anak pejabat nakal, para koruptor... yang ’kebal’ birokrasi dan hukum... jadi ga ada salahnya kan kita ’ngerjain’ mereka? Dan belakangan baru aku ketahui, ternyata aslinya dia itu, terakhir hanya berpangkat kapten, dan sudah dikeluarkan dari kesatuan, secara tidak hormat. Meski begitu, dia pinter menggertak, mengaku berpangkat kolonel. Aku tidak tahu bagaimana permainannya hingga bisa membekingi banyak bisnis ilegal. Yang aku tahu pasti, dia itu cerdas seperti dokter KindoNo, dan juga sama-sama psikopat. Lihai dan sangat licin, mudah lolos dari intaian polisi. Kita tadi sangat beruntung, atau mungkin, memang pertolongan dari Allah ya mas, tidak biasanya dia itu mabuk.“ cerita Iqbal, mengungkapkan pertemuannya dengan kolonel Prawoto.
Jalan yang kami lalui saat ini sudah mulai datar, tetapi mulai merapat dengan sungai, airnya bening di temaram sinar bulan purnama, terlihat ikan-ikan berenang. Sementara itu batu-batu besar seperti dijatuhkan begitu saja dari atas sehingga letaknya berserakan tidak tertata rapi… acak…
Aku, Harun dan Iqbal berjalan menapaki batu, kadang naik melewati batu besar, kadang turun karena batunya mulai datar. Sekali dua kali kaki-kaki kami mencebur di dasar sungai...dingin sekali. Aku melihat jam tanganku, dalam temaram cahaya rembulan kulihat pukul 01.30 WIB
“Kita istirahat dulu ya. Sekarang sudah jam setengah dua pagi“ kataku
“Iya mas Karim, di sana saja banyak pohon-pohon tinggi tapi cabangnya lumayan datar, kita tidur di atas pohon saja.” Kata Iqbal
“Apa di atas pohon?” tanyaku penuh keheranan.
“Iya mas Karim, dulu ketika aku pernah ikut pendidikan kepemimpinan… pengasuhnya senior SAR, dalam situasi seperti ini keamanan kita belum bisa dipastikan baik karena banyak hewan buas atau musuh seperti dalam peperangan.. baiknya kita tidur di atas pohon namanya flying camp.” Kata Harun menimpali.
“Ya udah” aku mengiyakan permintaan kedua adikku. Dan setelah aku pikir-pikir memang harusnya seperti itu.
“Mumpung ada air, kita wudhu sekalian di sini” ajakku. Nanti kita sholat malam di atas pohon. Lalu tidur.” kataku. Walaupun ketika ambil wudhu tadi terasa perih terutama di bekas tendangan dan pukulun. Yang paling terasa perihnya, tentu saja dik Iqbal.
Akhirnya sudah sampai di pohon-pohon yang dimaksud. Memanjat pohon, mencari cabang yang landai dan kokoh, sholat malam lalu, memejamkan mata. Namanya tidur dalam keadaan duduk, tetap saja tidak nyaman, setengah jam terbangun dari tidur-tidur ayam, mulai kesemutan, ganti posisi lain, kesemutan dan seterusnya. Bahkan ketika kantuk demikian hebat, nyaris mau terjatuh, kaget dan bangun kembali. Walaupun bisa tidur sepuluh menit, tetap lumayan melepas kepenatan yang mencengkeram tubuh ini.
“brug-brug” rombongan orang berjalan membawa senter. Mereka terus berjalan tidak menyadari kehadiran kami di atas pohon, dalam hati berdebar-debar juga, nafas tertahan hampir tak bernafas, ada untungnya tubuh ini tidak mandi, jadi bau badan menyatu dengan alam. Coba kalau mandi dan pakai parfum, pasti sudah tercium.
Dalam selayang pandang, aku mengenali beberapa orang tadi di gudang pabrik pengeringan daun teh.
“……………………….” hening
“………………………” tenang
“………………………” larut
…………………………
Tidak ada apa-apa lagi, melanjutkan tidur bergelantungan di pohon, kembali ke ritual tidur ayam à setengah jam bangun à ganti posisi karena kesemutan à kembali ke awal.
Sampai terlihat di ufuk timur sana, mulai berwarna orange, tanda sudah Subuh.
Sholat subuh berjamaah, kemudian dzikir al-ma’tsurat bersama, kemudian jalan, dua yang pertama adalah ritual rutin yang biasa kami lakukan di rumah.
Dik Iqbal tampaknya seperti telah menemukan dunianya yang dulu kembali dan samar-samar kuperhatikan air matanya menetes..
Dari novel "Assalamu'alaikum matahariku" bagian ke 18
bangkrut
Setelah aku menikah, aku semakin jarang ketemu dengan dik Iqbal. Walaupun masih sering ke kos dik Iqbal, untuk mengambil kerjaan terjemahan atau menyerahkan pekerjaan yang sudah selesai. Aku menyelesaikan pekerjaan terjemahan di rumah kontrak. Karena de Aisyah mempunyai komputer, aku pikir sekalian saja memanfaatkan komputer itu, karena de Aisyah lumayan jarang memanfaatkan komputer itu. Seminggu sekali aku luangkan waktu berusaha untuk bertemu dengan dik Iqbal. Minimal untuk say hello nanya-nanya bagaimana kabarnya sekarang, atau mencoba berdiskusi mengenai perkembangan bisnisnya. Aku berusaha untuk tutup mata dengan sampingan negative bisnis-bisnis dik Iqbal. CD bajakan dan CD porno, takut menyinggung perasaan dan saat ini masih belum tepat untuk mengutarakannya. Walaupun terakhir dik Iqbal sangat focus pada bisnis persewaan VCD playernya, tetapi bisnis rental komputernya tidak dilepas, dan sebenarnya menurutku untuk ukuran asal bisa makan dan membayar SPP saja sudah dapat diandalkan.
Aku mengajak dik Iqbal makan malam seperti biasa di tempat favorit, warung hik pak Kamin depan TBS. Makanan besar favorit di warung hik adalah nasi kucing bandeng dan oseng. Sedangkan makanan selain nasi adalah mie rebus atau mie goreng pakai telur. Ada lagi makanan favorit lain yaitu pisang owol; yaitu pisang goreng, dibakar di tempat pemanggangan arang, kemudian diiris-iris dan dioles-olesi susu kental manis. Karena malam ini aku sudah makan dan dik Iqbal belum, sehingga aku memilih menu pisang owol, sedangkan dik Iqbal memilih makan nasi kucing, nasi bandeng satu bungkus dan nasi oseng satu bungkus, dengan lauk favorit mendoan, tempe yang dibungkus tepung digoreng. Menemani habisnya nasi dua bungkus, dik Iqbal menghabiskan lima mendoan. Di akhir sesi biasanya dik Iqbal selalu memilih untuk yang mentraktir, dan biasanya dik Iqbal tidak mau mengambil kembaliannya. Padahal kembalian itu masih sepuluh ribuan rupiah atau bahkan lebih, suatu ukuran yang sangat berarti bagi anak kos, bahkan termasuk untuk diriku.
“Aku punya mimpi ingin punya home theater yang bisa disewakan“ kata dik Iqbal sambil memakan nasi bandengnya dan tentu saja ditemani dengan melahap mendoannya.
“Berarti masih butuh modal baru, maksudnya” tanyaku pada dik Iqbal sambil aku sendiri melahap pisang owol kegemaranku.
“Iya mas”
“Kamu masih menawarkan modal dengan return 10 % perbulan”
Dik Iqbal menyeruput es tehnya dan menyelesaikan kunyahan makanan yang ada di mulutnya
“Masih”
Aku dan dik Iqbal menyelesaikan makan besar yang kami pesan dan sekarang tinggal minumnya..
“Sudah berapa yang lunas dik”
“Aku sudah melunasi 30 juta rupiah” kata dik Iqbal sambil memakan keripik jagung bersalut gula jawa pedasnya dengan lahap. Sedangkan aku yang menyeruput sedikit-sedikit es teh yang masih separoh gelas.
“Terus yang belum lunas berapa rupiah”
“Sekitar 50 juta rupiah”
Tiba-tiba saja aku tersedak mendengar angka yang demikian besar itu, karena pada saat yang sama aku masih sadar dan ingat betul di awal tadi dik Iqbal mau mencari pinjaman baru. Sehingga aku membayangkan hutang bertumpuk dengan hutang…
“50 juta rupiah?”
“Trus untuk mewujudkan mimpimu mempunyai Home Theatre kamu mau menambah modal berapa dik?”
“Sekitar 50 juta lagi”
Aku sudah tidak bernafsu meneruskan minuman es tehku.
“Wow begitu, udah yo dik udah malam kasihan mbak Aisyah, sendirian di rumah kontrakan.”
Dik Iqbal segera mengeluarkan dompetnya yang tebal berisi uang lima puluhan ribu dan seratusan ribu rupiah dan sekali lagi tidak mengambil kembalian dua puluh tujuh ribu rupaiah itu
”Terma kasih ya mas” kata pak Kamin, sang penjual HIK.
……………………………………..
Itulah pertemuanku terakhir kali sebelum dik Iqbal menghilang entah kemana. Menghilangnya dik Iqbal membuatku makin intensif berkunjung ke kost dik Iqbal. Sehari bahkan bisa sampai tiga kali dalam jam berbeda, siapa tahu bisa bertemu dengan dik Iqbal. Hingga suatu malam aku secara khusus menemui mas Praba, karyawan dik Iqbal yang paling aku anggap dewasa dan bisa berpikir bijak.
“Akhir-akhir ini banyak sekali orang yang mencari Iqbal” mas Praba memulai pembicaraan, sambil menghirup dalam-dalam rokok Jarum 76 nya.
“Dari sekian banyak orang yang mencari itu, siapa saja sih mas mereka itu? Mengapa mereka sangat berkepentingan dik Iqbal?” Tanyaku secara serius menanggapi pernyataan mas Praba.
“Semuanya para investor”
“Maksudnya?”
“……orang yang selama ini menanamkan uangnya di sini”
“Yang dijanjikan return 10 % per bulan itu?”
“Ya semuanya”
“Ada berapa semuanya mas?”
Mas Praba berhenti sejenak sambil mengetuk-ngetuk jarinya pada batang rokok agar abu rokok jatuh di asbak. Kemudian kembali menghirup rokok Djarum 76 itu dalam-dalam dan mengeluarkan… asapnya dengan bentuk lingkaran-lingkaran kecil, kemudian menjawab pertanyaanku..
“Yang tahu pasti Iqbal, tetapi yang intensif menagih plus return yang dijanjikan sepuluh orang”
“Sebentar mas Praba, sebenarnya usaha dik Iqbal sendiri gimana tho? Apakah keuangannya sekarang sedang dalam masalah besar?”
“Iya. Iqbal terlalu berani menjanjikan return terlalu besar, melebihi bunga pinjaman para rentenir bahkan jauh lebih besar ketimbang rata-rata yang dibebankan bank kepada para nasabahnya” kata Praba
“Itulah mas Praba yang sejak pertama dulu usaha aku khawatirkan, terus terang, bapak ibu saya untuk menambal sulam kebutuhan keuangan untuk kuliah kami bapak pinjam ke rentenir, itu sudah aku anggap sangat mencekik 3 % per bulan, dik Iqbal malah berani pasang 10 % per bulan, too much risk!”
Aku katakan itu sambil berdiri, melihat-lihat kondisi ruangan persewaan VCD player dik Iqbal, bau asap rokok dan sisa-sisa tembakau menyengat dimana-mana. Di dinding-dinding ruangan itu terpasang brosur-brosur film-film terkini, ada yang resolusi gambarnya lumayan bagus ada yang kelihatan sekali berkali-kali discan dan cetak sehingga terlihat sekali kabur dan jelas sekali kalau itu adalah produk bajakan. Dan kemudian aku perhatikan kembali mas Praba yang bicara serius dan sambil menghirup dan menghembuskan asap rokoknya. Terlihat sekali bercak-bercak nikotin yang coklat kehitaman di gigi dan bibirnya, dan ingin menunjukkan kepada dunia bahwa sudah tak terhitung tumpukan nikotin maupun jelaga asap rokok itu telah meninggalkan jejak di sana, sehingga setiap orang yang melihatnya bisa berkesimpulan bahwa mas Praba adalah seorang perokok berat.
“Belum lagi kondisi sekarang Rim, persaingan persewaan VCD player dan CDnya makin keras, hampir setiap gang ada persewaan VCD player”
Aku dengarkan apa yang dikatakan mas Praba sambil menatap contoh sampul CD musik-musik. Ada Kenny G, ada Bruri Pesolima, ada Java Jive, ada Michael Bolton ada Shania Twain, ada Michael Learn to Rock ada pula Britney Spears…
“Lalu para investor itu, apa tidak mau lihat kenyataan yang ada”
Dalam hati kukatakan, sebenarnya mereka bukan investor tapi kapitalis murahan!
“Wah, ternyata mereka sendiri, terutama yang kenceng nagih kesini sebenarnya semuanya bermasalah dengan uang yang mereka tanamkan di usahanya Iqbal”
Dari leaflet film-film India Kuch kuch Ho ta hai yang aku tonton di dinding dekat mas Praba, perhatianku segera teralihkan pada apa yang dikatakan mas Praba barusan..
“Maksudnya bermasalah?”
“Ada yang menjual sepeda motor satu-satunya, ada yang membenamkan uang kantor, maksudnya uang nasabah. Seperti yang dilakukan oleh Iwan, dia itu menanam investasi di tempat Iqbal, semuanya uang nasabah koperasi yang dia kelola”
Sekarang aku sudah tidak tertarik lagi dengan gambar-gambar cuplikan adegan film yang terpampang di dinding, aku arahkan penuh perhatianku pada wajah mas Praba..
“Wah wah wah ck ck ck, benar-benar bikin pusing tujuh keliling mas!” “Dik Iqbal saat ini benar-benar dalam masalah besar” kataku dengan menggeleng-gelengkan kepala tanda benar-benar tidak percaya serta kasihan dengan beban berat yang ditanggung dik Iqbal, dan tentu saja bapak ibu dan kami sekeluarga.
………………………………
“Jadi aku baru tahu betapa berat masalah dik Iqbal ya mas. Keterlaluan sekali diriku mas.”
“Itulah sebabnya mengapa Iqbal benar-benar jarang ada di sini, dia melarikan diri di suatu tempat. Kamu belum terlambat banget Rim! Iqbal termasuk sering ke sini....”
Tiba-tiba saja di benakku terbayang preman yang bernama si Jo dan beberapa hari yang lalu aku lihat dia dalam posisi sebagai tambang cap ji kie. Dik Iqbal juga mengakui kalau si Jo, menanamkan investasi di bisnis dik Iqbal. Seketika hatiku mulai berdebar-debar kencang. Mengkhawatirkan keselamatan dik Iqbal.
“Sebentar mas Praba… ” aku memotong pertanyaan mas Praba yang belum selesai terucapkan, dengan nafas yang mulai tersengal-sengal.
“Ada apa Rim? Kamu kok kelihatan mulai pucat dan panik?”
“Jelas panik mas, dik Iqbal pernah cerita pada saya kalau si Jo preman Pucang Sawit ini pernah menanamkan uangnya pada bisnis dik Iqbal, mas Praba tahu itu…”
Aku mendekati mas Praba dalam jarak yang sangat dekat, sehingga dapat dipastikan pembicaraanku dengan mas Praba tidak didengar oleh siapapun.
“Si Jo sering ke sini mas?”
Mas Praba mematikan rokoknya yang masih lumayan panjang, dengan memutar-mutar dan menekan ujung api rokoknya di asbak selanjutnya mas Praba memusatkan perhatian matanya padaku. Aroma tembakau berhamburan keluar dari mulutnya, menerpa wajahku, ujung-ujung saraf olfaktorius yang bersemayam di atap hidungku mendeteksi kehadirannya.
“Dia setiap saat datang ke sini, sehari bahkan bisa enam kali, sebentar lagi dia datang, sebaiknya kamu segera cabut dari sini, kita besok ketemu di jam yang sama dengan kamu tadi datang ke sini Rim”
“OK mas. Sekarang aku mau tanya, dik Iqbal sekarang berada dimana?”
“Sekarang bukan waktu yang tepat, nanti aku beritahu. Aku sms saja waktu yang aman untuk kamu bisa datang ke sini Rim. Sekarang kamu harus pulang. CEPAT!”
“Ya, iyaa” aku segera menghambur keluar…
…………………………………………………..
Tit tit tiit tit tit tiiiit bunyi SMS handphoneku berbunyi…
From 0812235xxxx
To 0812259xxxx
Kita tadi beruntung, 10 menit stlh kamu pergi siJo datang
………………………………………………………………..
from 0812259xxxx
to 0812235xxxx
alhmdllh, aq tnggu kbr slnjtnya, sdh blh tahu sekarang Iqbal dimana?
………………………………………………………..
From 0812235xxxx
To 08122259xxxx
Sebaiknya kamu bicarakan dg keluarga mengnai pengmbilalihan hutang utk kurngi tekanan tagihan investor scpatnya! Stlh ada kbr baru bs cari Iqbal
………………………………………………………….
From 0812259xxxx
To 0812235xxxx
OK mas solusi bagus. Scptnya akn sy laksanakan. Saya harus pulang dulu ke Nganjuk! 3 hari lagi insy baru ada jawaban.
……………………………………………..
Malam ini adalah malam terpanjang bagiku. Aku tidak dapat membayangkan betapa berat malam-malam yang dilalui dik Iqbal saat ini. Malam yang tidak menenangkan. Malam mencekam. Dan malam yang tidak dapat ditentukan kapan berakhirnya. Berbagai pikiran melintas dalam benakku, aku ingin sekali mengistirahatkan mata ini yang sudah demikian suntuk. Tapi aku tidak kuasa dengan apa yang aku alami saat ini. Bagaimanapun juga aku harus segera mengambil langkah. Di luar sana entah di mana, dik Iqbal mungkin bisa jadi tidur di jalan atau entah dimana. Berlindung dari kejaran para kapitalis amatir dan si Jo yang aku pasti yakin tidak memberikan ampun sedikit pun membalas kejengkelan yang dialaminya. Aku yakin pasti ada pikiran bahwa para kapitalis amatiran itu menganggap dik Iqbal adalah penipu yang melarikan uang yang sebenarnya tidak layak mereka investasikan. Dan mereka sebenarnya belum pantas disebut sebagai investor, aku lebih senang menganggap mereka kapitalis amatiran, mengharap return besar dengan pengorbanan sangat kecil dan tanpa perhitungan..
Yang sangat aku khawatirkan adalah keselamatan jiwa dik Iqbal. Kepulanganku dari kos dik Iqbal, tak henti-hentinya mulutku membaca alfatihah, sholawat nabi, istighfar…dan selalu berharap semoga Allah senantiasa memberikan perlindunganNya, memberikan hidayahNya dan memberikan kejernihan berpikir bagi dik Iqbal dan kami semua keluarganya agar dapat diberikan jalan keluar yang terbaik bagi kami semua.
Malam yang tidak memberikan ketenteraman sedikit pun pada diriku, ternyata mulai ditangkap juga gejalanya oleh de Aisyah dari bahuku, aku merasakan sentuhan tangan lembutnya membelai pundakku.
“Mas Karim, kita sudah menjadi suami istri kan?”
“Ya de, ada apa de?”
“Apa pun yang menyebabkan mas sedih, Aisyah juga merasa sedih, apa pun yang membuat mas Karim bahagia, aku juga ikut berbahagia, demikian juga dengan kecemasan yang dialami mas, aku juga merasakan kecemasan itu.”
Aku menarik nafas panjang. Ingin aku longgarkan rasa sesak yang mencengkeram di dadaku dengan tarikan nafas panjang, hanya sesaat longgarnya.
“De Aisyah, sebenarnya mas tidak mau melibatkan de Aisyah dalam masalah keluarga mas”
………………………………………………..
Akhirnya aku tidak tahan juga menceritakan apa yang dialami dik Iqbal serta berbagai macam ketakutan dan kecemasan yang melanda pikiranku hingga aku tidak bisa tenang dan tidak bisa tidur.
…………………………………………………
“De Aisyah, besok aku sudah tidak ada siklus lagi. Aku sudah selesai siklus Obgyn dan sudah ujian, tinggal menunggu pengumuman lulus tidaknya aku di bagian Obgyn, jadi aku menganggap bisa menunda urusanku untuk mengurus rekapan nilai-nilaiku selama aku mengikuti siklus Co-Ass plus nilai Obgyn yang belum keluar.”
De Aisyah menatapku dengan mata yang berbinar…menandakan tidak ada rasa kantuk sama sekali. Dalam keadaan seperti itu aku bisa melihat sekali, garis-garis kecantikan wajahnya.
“Mas Karim mau pulang ke Nganjuk?”
“Iya de, seperti saran mas Praba, aku harus segera memberikan jawaban kejelasan utang yang dapat ditagih, yaitu utang dik Iqbal akan diambil alih oleh keluarga, agar para investor itu segera mendapatkan kejelasan mengenai nasib uang mereka”
“Jadi pulang ke Nganjuknya kapan mas?”
aku bangkit dari posisi baring ke duduk, dan Aisyah pun membenarkan posisi duduknya di tempat tidur, hingga kami duduk dalam posisi sejajar.
“Kalau bisa malam ini, jadi bisa sampai di Nganjuk pas jam sholat Subuh”
Aisyah membelai-belai punggungku dan menempelkan wajahnya di pundakku, sementara aku duduk termangu menatap ke dinding kamar.
“Sabar ya mas Karim, tetap tenang, dan selalu berdoa agar Allah memberikan jalan yang terbaik buat semuanya”
Aku rengkuh Aisyah, kubelai-belai rambutnya, aku rasakan harum rambutnya. kuciumi berkali-kali.
“Maafkan keluargaku de, de Aisyah jadi masuk dalam kemelut keluargaku”
Aisyah menciumku balik dengan manja.
“Jangan berkata begitu mas, keluarga mas adalah keluargaku juga”
…………………………………
Malam itu aku segera berkemas-kemas, menyiapkan kemeja, kaus, celana, pakaian dalam serta perlengkapan mandi, memasukkannya ke dalam tas ransel kumal kesayanganku sejak aku pertama kuliah di Solo.
“Doakan semua berjalan dengan baik ya de, firasatku, bapak dan ibu akan membuat keputusan yang sama dengan ketika mbak Fatimah dan mbak Malika ketika pertama kali kuliah di kedokteran…menjual rumah!”
Aisyah menghentikan pekerjaanya menyiapkan sepatuku.
“Menjual rumah? Lalu kemana bapak ibu setelah itu?”
Aku pun mulai menaruh tas ransel itu dalam posisi yang nyaman di punggung.
“Apa lagi barang berharga yang bisa digunakan untuk melunasi utang dik Iqbal yang menggunung itu? Mbak Fatimah dan mbak Malika memang sudah lulus dokter, sudah bersuami dan suami mereka berdua juga dokter, tapi kan dokter sekarang berbeda dengan dokter jaman dulu, keduanya masih kontrak rumah, masih banyak kredit sana kredit sini, jadi rasanya tidak mungkin mengandalkan dari keduanya”
Aisyah membukakan pintu, aku berpamitan padanya, dan kupeluk Aisyah dengan pelukan yang panjang, kuciumi bibirnya, pipinya, dan dahinya.
“Udah ya de, aku berangkat dulu. Kunci pintu rumah, pagarnya biar aku kunci saja sendiri, jaga baik-baik ya”
“Iya mas doakan Aisyah bisa menjaga diri dengan baik ya mas”
Nganjuk 4
……………………………………………
Udara pagi mulai menunjukkan kesegarannya, namun matahari masih enggan menunjukkan keperkasaannya. Gelap masih enggan melepaskan malam yang telah dicengkeramnya. Di ufuk timur sana, telah terjadi serah terima kegelapan malam kepada matahari yang bakal memimpin hari, masih ada adaptasi antara gelap yang mulai pergi dan terang matahari yang perlahan datang, pertanda waktu subuh tlah tiba.
Turun dari bis Eka, tepat di depan rumah, pada saat yang bersamaan adzan subuh berkumandang. Aktivitas rumah sudah mulai sejak tadi jam 03.00, sejak aku kecil yang aku salut pada bapakku adalah ke-istiqomahannya untuk sholat malam. Bahkan ketika aku mulai SMA, aku diwajibkan bangun untuk melakukan sholat malam juga oleh bapakku. Ngaji qur’an pun juga setali tiga uang, bahkan sejak aku TK mulai dikenalkan dan diajari membaca al-qur’an. Kelima anaknya bisa membaca Alqur’an dan bisa sholat karena tangan bapakku, bukan sekolah atau semacam sekarang TPA, bukan! Semuanya adalah karya bapakku sendiri. Ketika aku kuliah demikian juga dengan yang lain, bapak masih melakukan muroja’ah mengenai bacaan al-qur’an kami. Kalau kami membacanya gratul-gratul (tidak lancar dalam bahasa jawa) langsung kami mendapatkan umpan balik.. “kamu pasti tidak pernah ngaji ya Rim?”
…………………………………………………….
Memasuki pekarangan rumah, kulihat lampu dalam rumah sudah terang, menandakan sudah ada “kehidupan” dalam rumah.
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh” ibu menjawab salamku dan membukakan pintu rumah, dengan wajah yang penuh keheranan. Kepulanganku yang sendirian di waktu dini hari adalah waktu yang aneh, bagi pengantin baru. Tidak lazim. Dan mengundang seribu macam pertanyaan.
“Pak é! Pengantin baru pulang!” ibu tidak sabar ingin memberitakan kedatanganku kepada bapak.
“Karim mau bersih-bersih dulu ibu, belum sholat subuh”
Ibuku masih mengenakan mukena, ketika membukakan pintu.
“Kebetulan Rim, bapak, ibu dan Harun mau sholat subuh berjamaah, sana kamu bersih-bersih dulu dan ambil wudhu, mandinya nanti saja”
………………………………….
Bapak memang sangat perhatian dengan putra putrinya, mulai dari masalah sholat, ngaji, dan terutama perkembangan pendidikan anak-anaknya. Tidak akan pernah dilepas sama sekali. Selalu dalam pantauannya. Termasuk perkembangan pendidikan dik Iqbal. Bapak sudah tahu kalau akhir-akhir ini dik Iqbal sudah mulai jarang masuk kuliah, tentu saja bapak sudah nanya-nanya ke mas Praba, teman-temannya di kampus dan itu semua dilakukan tanpa sepengetahuan dik Iqbal.
Habis sarapan pagi, seperti biasa bapak sibuk memberi makan burung, siram-siram tanaman dan habis itu duduk-duduk santai memandangi hasil karyanya, sambil meminum teh hangat. Sementara ibu dan Harun sibuk menyiapkan makanan di dapur.
“Bapak sebenarnya sudah lama khawatir mengenai Iqbal” kata bapak sambil menyeduh teh hangatnya.
“Yang bapak ketahui mengenai dik Iqbal seperti apa bapak?” tanyaku sambil memakan pisang goreng hangat kesukaanku, masakan ibu.
“Kayaknya Iqbal mulai tidak runtut sholatnya, jarang masuk kuliah dan jarang pulang ke Nganjuk, sebenarnya bisnis Iqbal sendiri gimana tho Rim? Bapak punya firasat kalau Iqbal dalam masalah besar Rim.”
“Itulah bapak, yang ingin Karim katakan pada bapak mengenai perkembangan bisnis dik Iqbal”
Sebenarnya dalam hati gundah juga mau mengutarakan permasalahan sesungguhnya mengenai masalah hutang-hutang dik Iqbal yang mulai menggunung dan perlu penanganan segera. Bingung, memulai atau tidak, terbuka mengenai masalah dik Iqbal atau merahasiakannya atau dibiarkan saja. Kalau dibiarkan saja, aku datang jauh-jauh dari Solo ke Nganjuk, berpamitan pada de Aisyah, untuk membicarakan ini, malah aku cancel. Wuuuh… pelik juga! Gejolak dalam hati ini, tidak juga menemukan titik terang. Pikiran negatif muncul bagaimana reaksi emosi bapak kalau tahu keadaan dik Iqbal sesungguhnya, aku tidak dapat membayangkan, tetapi permasalahan ini harus segera disampaikan kepada bapak. Aku sendiri tidak ingin bapak tahu permasalahan dik Iqbal justru berasal dari orang lain, tambah memalukan sekali.
Akhirnya keberanian itu datang, dengan terpaksa sekali, suara serak dan terbata-bata awalnya, kemudian aku utarakan..
“Be..gini bapak, sebenarnya dik Iqbal sekarang dalam masalah besar”
Tiba-tiba saja suaraku menjadi serak dan serat seperti seorang kuli yang harus menyeret beban ratusan kilogram, ketika mau meneruskan kalimat selanjutnya. Samar-samar aku perhatikan garis-garis wajah bapak, yang mulai gundah dan risau menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulutku. Keberanianku sekarang diuji lagi.
“Ada kesalahan pengelolaan keuangan bapak, dik Iqbal ternyata menjanjikan keuntungan besar pada orang-orang yang menanamkan uangnya di bisnisnya, sampai 10% per bulan bapak” kataku lagi
“Terus… riilnya, Iqbal terlilit utang? Berapa utang Iqbal yang tak terbayar?” bapak sudah tidak tertarik meminum tehnya sampai habis.
“Sebenarnya utang riilnya lima puluh juta rupiah, tetapi dengan tambahan janji komisi 10 % per bulan, semuanya menjadi 150an juta” kataku dengan suara yang makin melemah dan sedikit serak..
“Apa? 150 juta?” bapak berkata dengan nada suara yang meninggi, dan keadaan inilah yang paling aku takutkan, aku berharap semoga kabar ini tidak menaikkan tekanan darahnya atau hal-hal buruk lainnya terjadi naudzubillah.
Tetapi beberapa saat kemudian bapak mulai lebih rileks dan menunjukkan raut muka yang serius memikirkan sesuatu.
“Se ra tus li ma pu luh jut a ru pi ah…. se ra tus li ma pu luh ju ta ru pi ah… se ra tus li ma pu luh ju ta ru pi ah” kata bapak dengan nada yang mulai datar, tetapi sarat akan pemikiran untuk menyelesaikan masalah.
“Itulah bapak, yang ingin Karim katakan”
“Ya Rim, tidak ada yang salah, semua berangkat dari niat yang benar… walaupun ada yang salah di tengah perjalanannya” kata bapak
“Permasalahan sekarang yang terbesar adalah penyelesaian masalah hutang ini bapak. Hampir setiap hari para pengutang yang haus keuntungan itu datang ke kos dik Iqbal dan mencari dik Iqbal sampai ketemu. Dan yang mereka jumpai adalah kekecewaan karena dik Iqbal selama ini tidak ada di tempat..” aku sekarang lebih bisa leluasa mengatakan hal ini kepada bapak, melihat emosi bapak yang sudah stabil.
“Lalu… Iqbal selama ini dimana? Kamu tahu Rim?” kata bapak dengan raut muka yang mulai gelisah.
“Karim sudah berusaha mencari-cari dimana keberadaan dik Iqbal, tampaknya mas Praba tahu, tapi sengaja dirahasiakan, termasuk dengan Karim, bapak…..”
Kata-kataku belum selesai, bapak memotong pembicaraanku..
“Sudah beritahu Praba, kalau hutang Iqbal diambil alih oleh keluarga, bapak bertanggung jawab penuh atas hutang-hutang Iqbal. Kamu sampaikan kepada Praba, bagi yang berpiutang dengan Iqbal agar dapat menghubungi bapaknya Iqbal di Nganjuk atau bertemu kamu di Solo untuk disampaikan kepada bapak Iqbal di Nganjuk”
“Nggih bapak. Terus bapak sendiri mencari uang untuk itu dari mana nggih?” Kataku menyelidiki, karena aku tahu selama ini bapak tidak mempunyai tabungan sedikit pun apalagi untuk uang sebesar 150 juta rupiah..
Tanpa aku sadari ternyata ibu sudah ada di belakangku dan mendengar semua pembicaraan kami dan aku lihat raut muka ibuku yang menunjukkan wajah sedih, bingung, memikirkan sesuatu yang berat..
“Eh ibu… Ha..run”
Ibu mengambil posisi duduk dekat dengan bapak, sementara bapak menggeser duduknya agar ibu bisa duduk dengan nyaman. Sedangkan dik Harun mengambil posisi duduk dekat dengan aku.
“Ibu sudah mendengarkan semuanya, ya sudah semua sudah terjadi, mau diapakan lagi, sekarang kita memikirkan jalan keluarnya. Kita marah. Kita sedih, bahkan kalau perlu kita membenci sekalipun tidak akan menyelesaikan masalah. Yang penting kita sekarang harus berpikir jernih, mencari penyelesaian. Ibu sudah menderita penyakit kencing manis sudah lama, kalau ibu marah atau sedih, justru akan lebih memperberat penyakit ibu. Bukan begitu tho le?”
Dengan menyegerakan minum, agar dapat menjawab pertanyaan ibu..
“Ng..gih ibu”
”Bapak ibumu masih punya satu ’udun yang belum nyeprot” yaitu Iqbal. Di tengah masalah yang rumit ini, Allah masih memberikan karunia yang luar biasa. Harun sudah selesai skripsinya, tinggal nunggu wisuda. Mbak Fat dan mbak Malika juga sudah selesai dan berkeluarga, kamu juga tinggal sedikit lagi menjadi dokter kan?” lanjut Ibu
”Nggih bu, tinggal nunggu nilai ujian obgyn keluar, minta doanya agar lulus obgyn ibu, bapak, kalau lulus, Karim tinggal nunggu pelantikan menjadi dokter” kataku
”Dik Harun, tinggal nunggu wisuda? Benar dik?” tanyaku
”Iya mas Karim” jawab Harun
”Berarti kamu lulus sarjana teknik mesin, tiga setengah tahun dik? Berapa IPKmu?” tanyaku lagi
”Iya mas, tiga setengah tahun, IPKku alhamdulillah 3,87” jawab Harun
”Subhanallah” kataku, seraya bangga mempunyai adik yang menonjol prestasi akademisnya.
”Kalau begitu, Karim dan dik Harun mempunyai waktu yang lebih longgar, sehingga banyak meluangkan waktu untuk mencari dik Iqbal di Solo atau entah di suatu tempat yang Karim tidak tahu ”
Sambil membetulkan letak cangkir tehnya, bapak angkat bicara.
“Bu é hari ini aku akan mencari mas Bagus, untuk membantu menjualkan rumah yang kita tempati”
“Lha. bapak sudah memikirkan dimana kita akan tinggal nanti?” Tanya ibu.
“Bumi Allah sangat luas, itu kita pikir nanti. Yang penting Iqbal bisa pulang dengan selamat, tidak terganggu kesehatan dan pikirannya” jawab bapak.
Kemudian ibu melanjutkan..
“Iya pak é.. lha wong kita sudah terbiasa pindah-pindah rumah. Sudah biasa menjual rumah yang kita tempati. Walaupun yang terakhir ini kita diberikan ujian oleh Allah yang lebih berat dari pada yang sebelumnya kita lalui. Dulu di awal menikah kita pindah dari Kediri ke Nganjuk, rumah dijual lagi ketika Karim dirawat lama di rumah sakit, kemudian Fatimah kuliah di kedokteran Unissula kita jual rumah, kemudian jual sawah-sawah kita hingga habis.. dan sekarang rumah kita satu-satunya, kita jual, semuanya bukan milik kita, semuanya titipan dari Allah pak” kata ibu dengan mata yang mulai berkaca-kaca..
“Sudah lah bu, yang penting buat kita sekarang Iqbal bisa kembali, tenang seperti sediakala saja kita sudah sangat bersyukur..” kata bapak yang berusaha menenangkan hati ibu.
“Kamu kembali ke Solo kapan Rim?” Bapak mengalihkan pembicaraan dan menatapku.
“Insya Allah nanti ba’da ashar bapak” jawabku
“…biar nanti kalau keliling-keliling solo mencari orang yang berpiutang dengan Iqbal, kamu ditemani Harun. Harun nanti gantian ya nyetir mobilnya sama mas Karim. Pagi ini bapak tak pergi ke pak Bas dan ke Kota, nyari pinjaman 5 juta, untuk memberi uang muka pelunasan sekaligus menunjukkan komitmen kalau kita serius melunasi utang-utang Iqbal pada mereka” kata bapak.
“Terus, bilang saja pada mereka, kalau utang Iqbal diambil alih keluarga, masalah pelunasan minta tolong kepada mereka menunggu rumah kita laku dulu, mudah-mudahan dalam 3 bulan ke depan, semua utang Iqbal sudah lunas..” lanjut bapak
“Amin” aku, Harun dan ibu serentak mengamini.
“Sementara kamu dan Harun ke Solo, biar bapak dan ibu, menghubungi budhemu yang di Kediri, setelah Iqbal pulang serta semua urusan sudah terselesaikan, bapak, ibu mau mengontrak rumah di dekat budhemu. Kasihan budhemu, sudah sepuh, tidak punya anak dan pakdhe sudah meninggal dunia. Jadi bapak dan ibu sekaligus bisa menemani budhe. Budhe punya yayasan dan mesjid di lingkungan rumahnya. Mudah-mudahan nanti Iqbal juga mau mengurusi yayasan serta mesjid Al-Falah-nya budhe. Syukur-syukur, setelah meluluskan sarjananya Iqbal mau ikut bapak ibu di Kediri” kata bapak mengimbuhi.
“Sekali-kali jangan menyalahkan Iqbal ya Rim, Run. Katakan pada Iqbal kalau bapak dan Ibu tidak pernah menyalahkannya. Bapak dan Ibu ikhlas, tidak ada yang salah, semua sudah dikehendaki oleh Allah Swt. Jangan sekali-kali menyinggung perasaannya, hingga ia, menjadi enggan untuk kembali ke rumah. Bapak dan ibu tidak mau itu. Bagi bapak dan Ibu, Iqbal sangat berharga sama seperti putra-putri yang lain. Sama istimewanya. Ibu yakin, Iqbal akan mampu membuat prestasi yang sangat dibanggakan. Keberaniannya untuk mandiri, sudah merupakan bukti bahwa Iqbal adalah anak yang bisa dibanggakan. Katakan itu padanya ya le” kata ibu
“Nggih bu” kataku dan dik Harun
Setelah selesai sarapan, aku dan dik Harun berkemas-kemas, menyiapkan segala sesuatunya untuk berangkat ke Solo untuk mencari dik Iqbal.
........................................................
Ya Allah, alhamdulillah, telah Engkau karunia kami orang tua yang kasih sayangnya laksana seribu matahari yang tidak pernah padam. Terus menerus memancarkan hangatnya cahaya kasih sayang yang luar biasa. Menerangi di tengah gelapnya kegalauan hati. Menerangi dan membimbingnya menuju jalan yang lurus yang diridhoiNya. Memberikan mata air yang menghapus seribu dahaga, membuat hati ini tenteram dan penuh kedamaian.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa-dosa kedua orang tua kami, kasihilah mereka, sebagaimana mereka telah memberikan curahan kasih sayang kepada kami.
Ya Allah, jadikanlah kami anak mereka yang sholeh, yang selalu mendoakan keduanya, hingga Engkau ridho kepada mereka berdua. Amin
Apalah Artinya……
Apalah artinya harta melimpah…
Kalau hanya untuk menyombongkan diri
Di kanan kiri depan belakang kita
Berlimpah orang yang tak berdaya
Apalah artinya rumah megah..
Kalau hanya untuk memanjakan diri…
Tak peduli banyak rumah kardus berserakan mengitari..
Apalah artinya umur bertambah…
Kalau hanya untuk menambah maksiat kepada-Nya
Apalah artinya serba melimpah
Kalau hati ini semakin gundah..
Lebih baik sedikit…
Lebih baik sederhana…
Lebih baik singkat…
Tapi…
Penuh makna…
Penuh barokah..
Penuh ketenangan.
Itulah kebahagiaan sejati.
Dari novel "Assalamu'alaikum matahariku" bagian ke 17
teman sejati
Sebuah pagi yang cerah. Hari minggu pagi. Cececuet-cececuet suara burung milik pak Nardi tetangga kontrakanku bernyanyi dengan cerianya. Ia ingin mengabarkan bahwa dirinya sangat baik-baik saja saat ini, walaupun orang melihatnya terkurung dalam sangkar. Pak Nardi sangat perhatian kepada burung kesayangannya itu. Sampai-sampai bangun tidur belum mandi, mengenakan sarung sudah ngurusin si burung itu. Sedangkan aku di saat yang sama memanaskan mesin sepeda motor milik Aisyah, yang kini aku juga memakainya. Punya pengalaman menarik saat aku pertama memboncengkan Aisyah, sepeda motor hampir nyrempet trotoar, maklum masih grogi, walaupun sudah menjadi istriku. Aku dan Aisyah tinggal di perumahaan satu jalan di Jebres, tepatnya di belakang kantor PMI Solo depan Rumah Sakit Moewardi Surakarta.
Acara minggu pagi biasa kami pakai belanja di pasar Ledoksari. Belanja bahan-bahan yang akan digunakan untuk memasak sendiri. Memang hari-hari biasa kami banyak membeli sayurnya dari luar, paling hanya memasak nasi, itupun pakai magic jar. Kami sama-sama menyadari, kalau kami berdua sama-sama sibuk, Aisyah sedang fokus merampungkan skripsinya, sedangkan aku masih Co-Ass. Aisyah selain sibuk menyelesaikan naskah skripsinya, juga memunyai sambilan les privat untuk anak SD, disamping itu dia juga punya hobi menulis. Disela-sela waktunya ia menuangkan gagasan, perasaan dan apa yang menjadi idealisme dalam tulisan. Jadi lumayan ada tambahan pemasukan. Terakhir ia sedang menyiapkan novel tentang anak-anak pinggiran. Karya non fiksinya banyak menulis artikel-artikel ringan banyak dimuat di media terutama Solo Pos mengenai ekonomi syariah. Melihat banyaknya kesibukan yang ia lakukan, aku sarankan agar beberapa tugas mentoring mahasiswa di Sie Kerohanian Islam Fakultas Ekonomi, ia lepas diserahkan kepada yang lebih yunior. Termasuk pengajar di TPA masjid Sabilillah, kami sama-sama mulai mundur dengan sebelumnya mencarikan pengganti yang benar-benar serius dan memunyai perhatian besar pada pendidikan anak.
Karena menyadari kesibukan itulah, kami mulai memutuskan menyisihkan sebagian uang untuk membeli handphone, biar komunikasinya mudah. Seringkali aku baru bertemu Aisyah ba’da maghrib. Adanya handphone lebih memudahkan “koordinasi” karena sepeda motor cuman satu, sehingga kalau menunggu kegiatan Aisyah aku tidak usah terlalu lama menunggu di tempat.
Jadi hari minggu ini, benar-benar merupakan acara kami berdua. Memasak.
“Kita masak apa de?”
“Yang sederhana aja ya mas”
“Ya, yang penting kita masak bareng”
“Minta tolong, aku yang banyak mengerjakan masaknya ya mas”
“OK sayang”
Aku akhirnya hanya membantu mencuci sayuran, menyiap-nyiapkan peralatan masak, dan habis itu aku berkonsentrasi penuh pada membuka-buka arsip, kliping majalah dan beberapa artikel dari internet, nyicil menyusun buku tentang marketing bagi dokter.
Tanpa terasa waktu sudah setengah jam lebih, dan sayup-sayup perlahan tapi pasti aku mulai mencium aroma masakan….ehmmm sedaaap…..
“Pasti enak ya de..”
“Jangan begitu mas, ga pede nih”
“Ga pa pa kok, aku seneng kok ngeliyat de Ais tadi sibuk masak”
........................................
“Eh, ngomong-ngomong sudah siap hidang belum sayang?”
“Mas ini ya mas”
“Ada apa sayang?
“Ini sayurnya kok tidak segar ya jadi layu, hitam kecoklatan”
“Coba aku liyat de”
Dan..
Sayur oseng kacang, sawi, wortel, semuanya jadi berwarna lebih gelap, tidak terang, tapi…
“Padahal tidak gosong lho mas?”
Aku senyum-senyum saja..
“Ndak pa pa kok sayang, hanya penampakannya saja kok”
“Ayoh kita makan, udah lapar nih”
“Eit sebentar, ditaruh mangkok dulu dong mas sayurnya”
“Eh iya, dasar wong ndesoo”
……………………
Karena lapar atau karena yang membuat masakan de Aisyah, aku tetap saja lahap memakan masakan yang disajikan. Padahal kalau mau jujur rasanya yaa… lumayan ngalor ngidul. Jangan marah lho de ini pengakuan jujur dari dalam lubuk hati yang mendalam. Tapi tidak diekspresikan. Aku menikmati sekali suasana indahnya makan bersama kekasihku tercinta… nikmat, Indah, tak dapat diuraikan dengan kata-kata tentang apa yang kurasakan di dalam hati ini.
“Enak de..”
“Ah mas, aku tahu rasanya tidak enak, tapi mas pura-pura merasa enak kan?
“Bener kok!”
“Mas mbok jujur tho mas, kekurangan masakannya apa, kan mas sering membantu ibu memasak, untuk rumah makan lagi”
“Ya deh..”
“Tadi itu… garamnya kurang dikit plus bawangnya juga tambah dikit, truz biar sayurnya tidak kering padahal tidak gosong, ditutup pake tutup panci habis meng-oseng beberapa saat”
“Aku tadi sebenarnya mau bantu, tapi de Aisyah meminta aku agar tidak banyak membantu”
“Ya yaa mas” jawab de Aisyah dengan agak sewot, aduuh manis sekali wajahnya, makin gemes saja nih.
“Besok lagi aku yang masak ya de”
“Bareng aja mas, biar aku tahu cara masak yang benar”
…………………………….
Yang membuat aku lebih tenteram bersama de Aisyah adalah dia itu rajin banget sholat malamnya, seringkali dia duluan yang bangun, baru aku terbangun dalam keadaan sudah melihat de Aisyah sholat malam duluan dan terkadang aku terbangun karena terdengar suara isakan tangis de Aisyah ketika sholat. Bila sempat bangun bersamaan, de Aisyah selalu meminta aku menjadi imam dalam sholat malam itu. Kebahagiaan tersendiri bagiku, tenang damai, mengembalikan semangat hidup, agar hidup itu bisa lebih hidup lagi.
Menjadi imam sholat malam, membuatku teringat akan kegiatan mabit yang sering diselenggarakan oleh anak-anak SKI lintas fakultas.. kadang lokasinya di masjid Nurul Huda, tetapi kadang pula di masjid Agung Surakarta dekat pasar Klewer. Menjadi imam sholat malam berjamaah dengan istri membuatku teringat akan nasihat mentorku ustadz Danang, cara kita melanggengkan hafalan surat yang telah nyantol di otak kita adalah menjadi imam sholat. Ustadz Danang ini beliau masih muda 4 tahun ketimbang aku, tapi aku sangat hormat padanya, umurnya barokah.. dalam usia yang muda sudah hafidh Qur’an, sudah membaca 500 buku yang ditulis ulama-ulama yang terpercaya mengenai masalah hadits. Sehingga menjadikan aku sangat bersyukur atas nikmat yang tak terkira ini, hidupku dikelilingi oleh orang-orang yang sholih dan faqih dalam agamanya. Dan yang lebih penting dari itu adalah mereka mengajakku untuk mengamalkan bersama-sama yang yang telah aku pahami tentang agama Islam yang aku anut dalam kehidupan sehari.
Kebersamaanku dengan ustadz Danang aku manfaatkan untuk meningkatkan hafalan Al-Qur’an-ku agar bertambah banyak dan bertambah lekat lagi hafalannya. Aku sudah hafidz 3 juz lho… juz1, juz 29 dan juz 30. Lumayan untuk orang yang terlambat belajar agama Islam, seperti aku ini. Setor hafalan kepada ustadz Danang berat lho, sebelum tajwidnya benar, ustadz Danang baru membolehkan aku menambah hafalan selanjutnya.
Sebenarnya kalau kita mau, untuk bisa seperti aku, cukup menganggarkan setengah jam sehari, biasanya habis sholat Subuh, untuk menghafalkan..insya Allah sudah bisa menambah sampai satu halaman Al-Qur’an.
Seminggu sekali aku bertemu dengan ustadz Danang bersama 7 orang lainnya aku setor hafalan kepada beliau. Biasanya setelah setoran hafalan, beliau memberikan wejangan kepada kami. Dan wejangan itu sangat bermuatan rukhiyah yang tinggi.. karena wejangan itu adalah apa yang dilakukan oleh ustadz Danang, dan kami tahu sekali tentang itu. Sehingga tausiyah yang beliau berikan kepada kami benar-benar berpengaruh pada peningkatan status rukhiyah kami.
…………………………….
Memang berat sih menghadapi kehidupan yang kujalani.. menjadi suami, menjadi co-ass, menjadi kepala rumah tangga, dan masih harus meningkatkan kompetensi keagamaan, hafalan Al-qu’an dan hadits, belajar ilmu fiqh, sejarah islam, strategi berdakwah…
“Sebelum kita mengamalkan apa yang tlah menjadi tuntutan kewajiban kita menjalankan apa yang telah disyariatkan oleh Allah dan rasul-Nya, kita harus faham betul mengenai apa yang akan kita lakukan, setelah faham dan mengamalkan, ternyata kita dibebani amanah oleh Allah untuk mengajarkan kepada orang lain. inilah yang namanya dakwah.. “ masih terngiang di telingaku mengenai tausiyah ustadz Danang setelah aku setoran hafalan surat Jum’at juz 28.
“Bahkan seorang ulama besar mengatakan ‘beban amanah yang diberikan oleh Allah kepada kita jauh lebih banyak dari pada waktu yang tersedia untuk kita’ karena itu, kita harus rapi dalam menyusun agenda kerja kita…” lanjut ustadz Danang..
Karena itu aku dan Aisyah, selalu menempatkan perencanaan hidup kami berdua di masa mendatang. Proses-proses tarbiyah apa yang harus kami lalui, serta bagaimana goal dari proses tarbiyah itu, dan bagaimana pengaruhnya bagi kami.
Misalnya, dalam waktu dekat ini kami merencanakan memunyai anak. Nah berarti harus menyiapkan sebaik-baiknya baik pemahaman, aspek mental, dan rukhiyah sebagai orang tua, agar bisa mendidik anak dengan baik, mendidik dengan tauladan yang baik. Sejak masih lajang alhamdulillah kami berdua sudah banyak mengumpulkan buku-buku tentang pendidikan anak. Mengikuti kajian atau seminar yang membahas tentang pendidikan anak. Walaupun tidak paham dengan pasti mengenai psikologi anak, setidaknya dalam forum-forum semacam itu sudah bisa melihat permasalahan-permasalahan apa yang akan dijumpai dalam mendidik anak. Aku bersyukur mempunyai lingkungan teman-teman yang bisa diandalkan… menyiapkan mental dan rukhiyah dan lebih antisipatif dalam menghadapi riak-riak gelombang pasang surut dalam mendidik anak……
…………………..
Aku sendiri juga mulai mengasah keterampilan dalam berwirausaha agar dapat membangun kemandirian ekonomi. Setidaknya pengetahuan harus selalu di-upgrade agar pengetahuan berwirausaha sejalan dengan trend an perkembangan bisnis saat ini. Karena itu walaupun tidak langganan majalah bisnis semacam majalah SWA atau business week, aku selalu membuka-buka dulu di toko buku, melihat isinya kalau isinya OK sesuai dengan minat perhatianku aku beli, kalau tidak ya tidak. Harus belajar dan menerapkan efisiensi, maklum anggaran yang cekak.
……………………………..
Bersama de Aisyah aku selalu memutaba’ah terhadap apa yang telah kami rencanakan sebelumnya, ada rencana harian, ada rencana mingguan, ada rencana bulanan dan ada rencana tahunan.
Jum’at malam biasanya kami pakai untuk melakukan mutaba’ah itu, biasanya jam 22.00 an malam menjelang tidur. Kami menyediakan white board tipis dan disana sudah disediakan kolom-kolom harian dan di baris sebelah kirinya ada kolom-kolom kosong dan kami mengisinya mengenai kegiatan-kegiatan apa saja yang ingin kami mutaba’ah setiap minggu, setiap bulan dan setiap tahun.
“Mas Karim, kemarin kita menargetkan bisa sholat malam 4 kali dalam seminggu.. realisasinya, kita cuman 3 kali dalam minggu ini.”
“Iya yaa, kenapa ya de?”
Melihat jadwal jaga mas Karim yang seminggu ini kosong karena tidak sedang in kan harusnya bisa lebih banyak”
“Coba de, hari apa saja kita yang tidak sholat malam?”
“Hari senin, hari rabu, hari jum’at dan hari sabtu”
“Banyak ya, subhanallah, allahu akbar… luar biasa Rasulullah SAW ya, tiada malam yang tidak dilalui tanpa sholat malam”
“Itu kan Rasulullah SAW mas, manusia pilihan, beda dengan kita”
“Mestinya kan bisa, Rasulullah SAW itu manusia, sama seperti kita, karena itu dia dijadikan oleh Allah sebagai tauladan, karena dia manusia, sedangkan kita juga manusia, mestinya kita juga bisa meneladaninya”
“Memang kita butuh proses mas, tidak serta merta kita langsung bisa, kita butuh dukungan. Kita tidak bisa sendiri, karena itu ada mabit segala dalam rangka agar kita selalu terdorong untuk lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas sholat malam kita”
“Karena itu kita butuh jamaah de, agar ada tempat bagi kita untuk saling bercermin, makanya benar kata sayidina Ali mengenai obat hati.. yang pertama baca Qur’an dan maknanya, yang kedua sholat malam dirikanlah, yang ketiga berkumpulah dengan orang-orang sholeh, yang keempat, perbanyaklah berpuasa dan kelima dzikir malam perbanyaklah”
“Ini de, yang ingin mas tekankan adalah berkumpullah dengan orang sholih… ini mengenai kita… alhamdulillah sekali mas bisa menemukan komunitasnya ustadz Danang, aktif mengadakan mabit sebulan sekali, mentoring rutin mingguan sekaligus setor hafalan, acara memperluas pengetahuan kita tentang agama, dan olah raga serta rihlah bersama.”
“Iya mas ketika ada kecenderungan hati kita untuk berbuat dosa dan maksiat, ketika kita berjumpa kembali dengan saudara-saudara kita, kita jadi berpikir seribu kali, di sekitar kita dikelilingi oleh orang-orang sholeh, ada ‘pengawasan melekat’.. inilah yang mengendalikan kita agar selalu berusaha menjadi baik”
“Mas Karim sekarang sudah jam 22.30… saatnya mas ronda lho”
“Oo iya de”
“Istirahat ya de, nanti setelah selesai ronda mas menyusul”
…………………………………….
Setelah mengunci semua pintu dan jendela rumah, aku berangkat ronda. Sebenarnya acara ronda mempunyai tiga misi, yang pertama adalah meningkatkan keamanan kampung, yang kedua, sarana silaturahim, karena bisa saling bertemu dan bertukar pikiran sehingga bisa lebih mengakrabkan antar warga apalagi seperti aku adalah warga baru, yang ketiga, sarana meningkatkan kas RT. Acara ronda adalah mengambil uang Rp. 200,- per rumah. Lumayan dalam sebulan bisa terkumpul uang sebanyak Rp. 400an ribu.
Jaga ronda membuatku melihat banyak hal, dalam satu RT kami orang perumahan termasuk minoritas, sebagian besarnya adalah warga kampung. Jadi ketika jadwal jaga orang lima aku sendiri dari orang perumahan dan empat lainnya adalah orang kampung. Keliling mengambil jimpitan, menyusuri jalan-jalan kampung, menyusuri rumah-rumah dari yang megah sampai yang reot. Bisa melihat mana daerah orang kaya dan mana daerah tempat tinggal orang miskin.
“Wah mas dokter ini luar biasa” kata pak Karto memulai pembicaraan sambil berjalan memunguti jimpitan.
“Ah pak Karto ini lho, saya kan masih Co-Ass”
“Lho sebentar lagi mas Karim kan mau jadi dokter”
“Iya ya pak, didoain kok tidak mau”
“Eh sebentar pak, kenapa kok luar biasa? Biasa kan jadi warga mendapatkan jatah jaga terus berangkat jaga”
“Tidak semua begitu lho, di perumahan tetangganya mas Karim, paling hanya pak Nardi saja yang aktif jaga, trus ada tambahan satu orang lagi yaitu panjenengan”
“Saya bisa jaga kan ‘kerjanya’ sampai jam 00.00 paling molornya jam 00.30, tidak membuat capek, karena besok harus berangkat di rumah sakit jam 08.00 pak, jadi masih cukup bisa tidur. Toh saya biasa kurang tidur, kalau pas jaga”
“Permasalahannya bukan begitu mas Karim, banyak orang perumahan itu merasa tidak selevel dengan orang kampung. Banyak orang kampung yang jadi pekerja atau bahkan pembantu pocokan orang perumahan”
“Sampai jaga saja mereka banyak yang mewakilkan pada orang kampung yang paginya kerja di tempat mereka”
“Ooo begitu ya pak, baru tahu saya”
……………………………..
Teng teng teeeng teeeeng
Orang-orang berhamburan menuju tiang listrik yang dipukul-pukul tadi….
Hah? itu kan Johan atau si Jo, yang memukul-mukul tiang listrik tadi ngapain dia ke sini pakai memukul-mukul tiang listrik segala. Tapi aku diam saja dan sedapat mungkin menyembunyikan mukaku, dan untuk mengalihkan perhatian aku ajak pak Karto temen rondaku, untuk duduk-duduk di pos ronda.
“Ada apa pak Karto mereka kok lari-lari menuju kesana, sepertinya ada hal penting yang membuat mereka terburu-buru”
“Ooo itu, masak mas Karim belum pernah dengar”
“Itu cap ji kie”
“Judi cap ji kie itu pak?” Tanyaku penuh keheranan.
“Iya saya tahu, tapi sudah lama dilarang pemerintah kan pak? Timpalku lagi.
Sambil menyulut rokoknya dan mengambil posisi yang nyaman di pos ronda pak Karto, mulai menghirup rokoknya dari caranya menghisap rokok, tampak beliau ini menikmati rokok kebanggaannya… Dji Sam Soe.
“Ah mas Karim kayak tidak tahu aja, negara kita Indonesia yang kita cintai ini kan pintar membuat undang-undang, tapi penerapannya? Nol besar”
“Buktinya sudah mas Karim liyat sendiri kan? Cap Ji Kie masih tetap jalan padahal sudah dilarang”
“Mengapa kok bisa begitu ya pak?”
“Ya sudah jadi rahasia umum lah banyak oknum perwira yang terlibat”
“Bagaimana bisa Pak? Bagaimana cara kerjanya? Kan sering ada mutasi berarti kan tidak terlalu lama kan mereka berada di satu tempat?”
“Pertanyaan yang bagus”
Kembali pak Karto menyalakan rokoknya karena rokok yang tadi disulut sudah habis. Kulihat cara membuka kemasannya seperti yang diiklankan, membelah rokok dari tengah. Sekali lagi pak Karto mengisap dalam-dalam rokok kebanggannya itu. Dan meniupkanya pelan-pelan, seolah-olah enggan melepaskan aroma rokok yang terbakar pergi begitu saja dari ruang-ruang pernafasannya.
“Begini mas Karim. Andaikan saja orang yang telah banyak memberikan kita bantuan, tiba-tiba saja kita tahu, bahwa dia berbuat salah. Sepertinya dia menikmati kesalahannya itu karena ia menguntungkan sekali dan menghasilkan uang yang berlimpah. Apakah mas Karim bisa langsung memeringatkannya dengan tegas?”
“Tidak pak” jawabku dengan menduga-duga bagaimana cara kerja oknum perwira melindungi para Bandar judi itu.
“Lalu hubungannya dengan melindungi beroperasinya bandar judi, bagaimana pak?
“Sebentar....”
Kembali pak Karto menghirup dalam-dalam rokoknya dan menghembuskannya dengan penuh seni, asap itu mengepul membentuk lingkaran-lingkaran.
“Para Bos bandar itu pinter sekali membuat lingkaran-lingkaran…yang susah untuk memutusnya”
“Riilnya seperti apa pak?”
“Setiap ada pergantian pimpinan, seperti yang barusan tadi pagi dimuat di koran Solo Pos. Sebelum orang lain menyalami dan menyambut atas kedatangannya, para bos bandar judi inilah orang yang pertama menyalami dan mulai mengamati apakah ada yang kurang dari bos perwira yang baru ini”
“Maksudnya?”
“Misalnya, bila rumah dinas bos yang baru ini masih kosong tidak ada perabotan rumah tangganya, besok pagi sudah datang seperangkat perlengkapan mebeler kelas satu untuk menghiasi ruang tamu bos yang baru”
“Ketika tidak ada kulkas, datanglah kulkas, bila tidak ada komputer atau laptop, maka akan datang laptop, bahkan sampai mobil sekalipun”
“Kalau seperti itu kan jelas mudah ditebak”
“Kedatangan barang-barang itu semacam test case, mengenai mudah tidaknya bos baru itu ditembus untuk urusan selanjutnya.”
“Lalu bagaimana ternyata kalau segala macam benda itu ditolak atau dibuang di pinggir jalan atau malah dikasihkan kepada wartawan?”
“Mereka banyak sekali idenya dan tidak mudah menyerah. Mereka pandai menyelami apa yang menjadi ambisi bos perwira baru itu. Termasuk akhirnya mengetahui bahwa bos itu sangat berambisi dengan kenaikan pangkat. Maka yang mudah sekali mereka mempunyai lobi di kantor daerah sampai pusat termasuk uang-uang yang diperlukan untuk kenaikan pangkatnya itu. Intinya begini, bagaimana caranya agar para bos bandar judi itu menciptakan semacam hutang budi kepada bos perwira itu”
“Ooo begitu ya”
”Tidak semuanya begitu lho. Tapi kasihan juga institusinya ya, hanya karena olah sebagian kecil orang, ternoda citra institusi secara keseluruhan.” kata pak Karto
Pembicaaraan beralih ke topik lainnya. Sambil aku menunggu kerumunan orang itu berakhir. Dan yang lebih penting mengamati dan memastikan kalau si Jo sudah tidak berada di situ lagi.
…………………………………….
Jam 00.45 aku berpamitan kepada pak Karto, wah terlambat 15 menit untuk pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang aku berjalan melewati kerumunan orang yang melihat nomor buntut apa yang keluar pada jam 11.30 tadi. Dan mereka tampaknya sedang ramai mendiskusikan kira-kira nomor apa yang akan keluar besok jam 9.00 pagi. Lucu juga melihat perilaku orang-orang itu. Walaupun tidak ada logika yang jelas dalam meramalkan, kemungkinan nomor keluar, dengan membaca buku “pedoman” nomor mengaitkan mimpi dengan nomor yang keluar. Ratu dengan nomor satu, babi dengan nomor sembilan, pesta dengan nomor tujuh dan hal-hal lain yang aneh mengenai hubungan mimpi dan nomor buntut. Aku lupa mengingat peristiwa mimpi dengan nomor yang akan muncul, memang di luar logika, tapi mengapa mereka sangat serius dan sangat yakin dengan buku “petunjuk” itu. Judi telah menjadi candu. Tanpa judi mereka tidak bisa hidup. Halahhh.
Tapi ini kenyataan lho!
Pernah suatu ketika ban sepeda motorku bocor. Kebetulan ada tambal ban dan warung makan kecil di dekatnya. Dan ternyata yang ngurusin tambal ban adalah suami wanita yang jualan makanan di dekatnya. Tanpa sengaja aku mendengar percakapan mereka:
“Bu, nanti yang nembak biar aku saja, kemarin kita sama-sama jebolnya”
“Ndak pak, aku punya filing yang kuat kalau mimipiku tadi malam pasti bisa nembus nanti”
“Pokoke ibu nggak usah nembak titik!!!”
Aku yang sedang nunggu tambalan banku selesai hanya senyum-senyum saja tetapi dalam hati tentunya. Tentu saja tidak enak kan, melihat pertengkaran suami istri terbuka di depan publik.
………………………………..
Yah itulah kehidupan wong cilik yang sudah menderita, harapannya melambung tinggi. Dan harapan itulah yang menarik buat orang-orang yang pandai minteri. Entah untuk judi, yang menjanjikan uang jutaan rupiah atau pada saat pemilu legislatif atau presiden atau bupati atau gubernur… semuanya dibuai janji-janji yang melenakan, tidak menginjak bumi, dan tidak realistik.
…………………………………..
Eeh ternyata aku sudah sampai rumah. Aku keluarkan kunci, aku buka pintu dan masuk rumah, menyusul de Aisyah yang sudah tidur duluan. Bismika allaahumma wa bismika amuut.
Nanti subuh bangun, dan bangun pagi dengan membawa optimisme baru. Bangun menghadapi dunia. Bangun dengan perhitungan-perhitungan. Bangun membuat jejak-jejak kehidupan. Bangun menorehkan amal-amal kebaikan. Bangun memeras keringat dan otak. Bangun mencari kemuliaan yang dijanjikan Allah. Bangun merajut harapan agar menjadi kenyataan.
bersama teman sejatiku… Aisyah istriku tercinta.
BERSAMBUNG..
Dari novel "Assalamu'alaikum matahariku" bagian ke 16
Co-Ass Obgyn sekaligus suami
Rasanya melayang tapi nikmat dengan tiupan sepoi-sepoi angin ruangan yang telah terwarnai sejuknya air conditioned membuat kelopak mata ini terasa sangat berat sekali untuk dipertahankan untuk tetap terbuka. Nikmat dalam kengantukan. Seperti bayi yang dininabobokkan. Lalu lalang manusia, kesibukan, suara-suara dentingan logam pisau operasi, scalpel, pinset beradu, suara sedotan suction yang menyedot darah keluar mengganggu lapang pandang operasi…. semuanya berlalu tanpa mengusik ketenanganku dalam kantuk yang tinggal menunggu detik-detik untuk masuk fase tidur non-REM alias tidur nyenyak. Walaupun posisiku duduk jongkok di salah satu sudut kamar operasi. “Sst.. Rim! Karim! Mana status bu Narti?” bisikan keras mbak Erlina seketika mengagetkanku dan membuatku terjaga segar kembali
“Masya Allah, Astaghfirullah, Ini mbak” segera aku renggut status pasien yang tergeletak di sampingku dan kuserahkan pada mbak Erlina dan aku merapat menuju kerumunan tiga Co-Ass Obgyn lain yang melihat operasi caesar yang sedang berlangsung. Sebenarnya operasi caesar adalah operasi singkat, tidak sampai sepuluh menit bayi sudah dapat dikeluarkan dari rahim ibu. Tetapi waktu itu yang membuat lama adalah persiapan pra-operasi. Kesempatan itulah yang aku gunakan untuk melepas kepenatan dan sedikit waktu untuk bisa tidur. Sepuluh menit sangat berharga menyegarkan kembali kondisi tubuh agar tetap fit kembali.
“Kamu gimana tho? Operasi sudah hampir selesai. Ayo berdiri mendekat ke sana, nanti ketahuan dokter Haryanto kalau kamu tidur di kamar operasi, kamu bakal kena kondite!”
“Iya..ya mbak maaf” segera rasa kantuk hilang berganti ketakutan, sehingga segar kembali. Berlari menuju dekat belakang dokter Haryanto yang bertinda sebagai operator dalam operasi sectio caesaria kali ini.
“Pengantin baru ya setiap malam ngêlêmbur terus he he he”
“Ah mbak Erlina, jangan begitu ah”
Dokter Haryanto adalah dokter Senior, dosen kami Co-Ass dan residen. Tampak beliau begitu tenang dan profesional. Tindakannya sangat efisien. Tidak ada waktu yang terbuang satu detik pun untuk hal yang sia-sia. Terarah dan mencapai tujuan. Bahkan perdarahan pun sangat sedikit. Dalam waktu tujuh menit, mulai dari mengiris perut, otot, lapisan di bawahnya, membuka rahim dan mengangkat bayi dilakukannya dengan penuh keyakinan dan mantap. Meski tetap lembut ketika menangani bayi. Segera bayi menangis keras, pertanda bagus. Bayi dalam keadaan prima. Bayi yang masih penuh dengan darah. Segera dibersihkan oleh bidan atau perawat anak. Dibersihkan lubang hidung dari lendir yang menyumbat diprioritaskan dulu baru membersihkan badan bayi dari bercak-bercak darah yang menempel.
Operasi selesai, dokter Haryanto tidak mengetahui kalau aku tadi sempat ketiduran. Tetapi perawat-perawat asisten operasi senyum-senyum dengan bahasa tubuh yang aku tidak mengerti, tampaknya mereka mengerti kalau aku adalah pengantin baru. Pasti mbak Erlina telah mengumbar cerita kepada mereka. Awas ya..!
“De Ais, satu minggu ini, mas Karim jaga penuh di rumah sakit. Pulang rumah kalau ada kesempatan atau setelah mendapat giliran. Mandi pagi dan sore di rumah sakit.” Kataku kepada Aisyah di hari minggu pagi. Biasanya pergantian jaga minggu pagi. Stasis di bagian Obgyn, modelnya, seminggu jaga penuh atau biasa disebut in dan seminggu di luar atau out.
“…” Aisyah wajahnya cemberut.
“Sayang..” aku dekap Aisyah dari belakang. Kuciumi rambutnya, tengkuknya dan telinganya. Cuman perkataan itu yang keluar dari mulutku.
Lama tidak ada jawaban, seandainya itu telefon pasti ada suara ‘tidak ada respons, tinggalkan pesan setelah suara klik’. Tetapi ini adalah istriku. Walaupun demikian aku tidak dapat menyembunyikan kekagumanku akan kecantikannya.
“De Ais sayang, kamu cantik”
“Terus..?” dari nada suaranya aku menyimpulkan saat ini dia sedang kesal dan enggan
“Boleh ndak..mas Karim jaga?”
“Tuh kan merayu, pura-pura sayang.. pasti ada maunya”
“Jangan begitu tho sayang” kusentuh bibirnya dengan telunjuk jariku, kemudian pelan-pelan kucium bibirnya.
“Ah….mas Karim”
“Jadi, kesimpulannya boleh tidak mas berangkat jaga seminggu penuh?”
“Ya udah sana jaga, aku dibiarkan sendirian di rumah, aku udah siap jadi istri kedua kok mas. Silakan menikmati istri pertama mas berkutat dengan tugas jaga”
“Kok gitu tho de Ais. Mas sayang de Ais”
“….”
“De Ais.. Tinggal dua bulan lebih seminggu thok. Habis itu mas banyak waktu untuk de Ais”
“Janji?!”
“Insya Allah mas janji”
Sekali lagi kupeluk dan kucium bibir Aisyah lamaa sekali, rasanya seperti tidak mau dipisahkan. Sebelum akhirnya kuhentikan secara lembut renggutan tangannya yang melingkar pundakku.
“De Ais…Mas berangkat dulu. Do’akan tidak begitu padat pasiennya. Biar mas banyak waktu untuk menengok bidadariku tercinta”
“Iya Mas”
Kembali kucium bibirnya. Dan perlahan aku melangkah menjauh, menggaet tas perlengkapan yang berisi pakaian dan perlengkapan mandi untuk seminggu.
Seminggu ke depan kulalui hari-hariku di rumah sakit, dalam posisi stand by siap melayani pasien-pasien yang masuk. Bagian ini adalah bagian yang luar biasa. Berdebar-debar, kagum, takjub, tidak percaya dengan yang aku lihat, aku rasakan dan aku alami. Menolong atau lebih tepatnya memimpin persalinan. Melihat kepala bayi yang perlahan, bergerak ke atas, menyembul keluar dari dalam vagina wanita yang menjadi ibunya. Kepala bayi yang basah kuyub karena air ketuban dan darah, demikian juga wajahnya penuh dengan bercak-bercak darah, lendir dan sisa-sisa air ketuban. Jangan dibayangkan ari ketuban dan darah itu baunya enak, baunya amis … langu tidak enak. Bayi yang lemah keluar, menjerit tangis….. sebuah kabar gembira, bagi semuanya. Bagi dokter dan bidan, karena persalinan berjalan sempurna berarti kerja profesionalnya membuahkan hasil yang baik. Dan tentu saja bagi ibu dan bapak bayi serta keluarga besarnya. Mempunyai anggota keluarga baru, penerus keturunan dan harapan baru. Harapan yang akan merubah keadaan keluarga…
Detik-detik yang menakjubkan. Luar biasa! Dan pengalaman itu masih tergambar hidup, begitu jelas dalam benakku… termasuk perasaan takjub akan keluarbiasaan itu hingga hari ke 3 aku jaga penuh di rumah sakit semuanya masih demikian nyata, demikian juga dengan bayi merah yang lemah hanya memejamkan mata… tidur… dan menangis bila lapar… atau bila popoknya basah kena pipis atau eek. Bahasa komunikasi yang bisa ia ucapkan hanya menangis, sebagai sinyal bahwa ia membutuhkan pertolongan orang dewasa di sekitarnya. Pikiranku melambung jauh ke depan. Bagaimana seorang bayi lahir lemah, setelah dewasa bisa menjadi seorang penentang yang nyata. Bagaimana bisa setelah dewasa mereka bisa menjadi Malin Kundang. Bagaimana bisa setelah mereka dewasa dan kuat bisa menjadi pembunuh-pembunuh sadis, bagaimana bisa setelah mereka dewasa, mempunyai kekuatan dan pengaruh, tiba-tiba saja mereka menjadi pemimpin-pemimpin yang membantai jutaan rakyatnya, padahal ketika mereka bayi, kulit mereka kemerahan, lemah, sangat tergantung pada manusia-manusia lain… ibunya, bapaknya, suster, bidan, dokter… agar mereka bisa menjadi manusia yang kuat… Tumbuh melesat seperti anak panah yang lepas dari busurnya… tidak ada yang mampu menghadang kekuatannya. Sungguh berat amanah menjadi orang tua, sungguh berat amanah menjadi pendidik-pendidik yang menjadikan bayi-bayi itu menjadi sosok-sosok manusia yang sholih, selamat berjihad wahai bapak dan ibu bayi….
“Maaas! mbaaaak Co-aasss! Minta tolooong! Minta tolooong bantu dokter Burhan…..!” suara bidan Marni menghentakkan lamunanku.
“
“Itu pasien bu Eni, perdarahan hebat… atonia uteri!”
Berlari menuju ruang VK aku mencoba mengingat-ingat. Bu Eni masuk tadi jam tujuh pagi, sekarang jam 23.30 WIB. Lama sekali. Apa kelelahan ya uterusnya. Sehingga kehabisan tenaga untuk kontraksi agar darah dari plasenta yang barusan lepas segera dikerutkan oleh kontraksi uterusnya… Tak tahulah nanti bisa tanya kepada residen senior setelah kondisi lebih tenang, sekarang aku harus ke ruang VK datang ke
……………………
Masya Allah!!!
Darah mengucur deras keluar dari vagina! Persis seperti aliran sungai… kulihat kedua tangan bu Eni sudah terpasang infus NaCl grojog, bu Eni keadaanya kayak ngantuk aja pengen tidur melulu…
“Bu… bangun bu.. jangan tidur!” teriak dokter Burhan residen Obgyn semester 6.
“Tolong bu Eni diminta agar selalu terjaga!” perintah dokter Burhan kepada kami, Co-Ass yang membantunya, sambil lengan kanan beliau mengepal dan hampir sampai siku masuk ke dalam vagina memencet uterus agar darah tidak begitu deras mengalir, sementara di atas perut bu Eni, bidan Eko menekan perut ke bawah dengan maksud yang sama. Sedangkan co-ass yang lain menekan dari arah kanan dan kiri. Darah lumayan berkurang derasnya.
“Kok belum berhenti ya perdarahannya, padahal sudah massage uterus, sudah injeksi metergin dan injeksi piton.. kalau ga berhenti-berhenti, terpaksa dilakukan histerektomi total” dokter Burhan menggumam sendiri…
“Karim! kamu gantikan posisi saya, saya segera melapor kepada Senior mengenai keadaan bu Eni. Dokter Endang! Tolong persiapkan kamar operasi, kemungkinan akan kita lakukan histerektomi total!” perintah dokter Burhan kepadaku dan kepada dokter Endang, residen Obgyn yang menjadi yunior beliau.
Tangan dokter Burhan pelan-pelan keluar, sementara tanganku bersiap-siap masuk vagina bu Eni, menggantikan posisi kepalan tangan dokter Burhan. Segera begitu tangan dokter Burhan lepas, kepalan tanganku dengan lembut masuk langsung memencet uterus bu Eni, peralihan itu membuat darah mengucur lebih deras lagi. Walaupun kemudian akhirnya berhasil menyusut, tapi darah masih terus merembes.. PANIK!
Yang membuat perasaanku panik tidak menentu adalah sampai kapan perdarahan ini akan berhenti, sementara tangan ini makin lama makin lelah.
Malah diantara darah merembes, tiba-tiba ada aliran darah yang lebih deras lagi mengalirnya…
“Lebih kencang nekannya!” teriak bu bidan Marni
Sisa-sisa tenaga yang ada, aku kerahkan seluruhnya, menekan, terus menekan dan terus menekan.
“Bu Eni Bu Enii”
“Bu Eni Bangun Bu!!”
Lengan dan tangan bu Eni makin mendingin. Hasrat ingin tidurnya demikian besar malah beberapa kali dipanggil beliau tidak membuka mata…
Cemas!!
……………………………..
Kecemasanku makin bertambah, kucari-cari dokter Burhan kok tidak muncul-muncul. Aku scan seluruh ruangan VK, dan zoom daerah pintu berkali-kali, tapi percuma tidak pernah nongol sosok dokter Burhan…..
“Bagaimana nih, saat-saat genting seperti ini dokter Burhan malah menghilang”
Kuperhatikan raut-raut wajah teman-teman yang satu in, bu bidan Marni.. tampaknya cemas mulai menyebar, seperti virus influenza ganas, menyebar merata ke seluruh penduduk, menyebar sangat cepat.
“Virus cemas ini tidak boleh sampai menyebar ke bu Eni!” kata hatiku
“Tapi bagaimana?”
“Tenangkan pikiranmu dulu Rim!” kata hatiku mencoba menghibur dan menenangkan diriku.
Sambil terus aku menekan kepalan tanganku yang makin keju, terus berusaha menekan dan menekan, kadangkala tangan kiriku ikut membantu mendorong tekanan tangan kanan agar dapat menambah tenaga tekanan, namun tetap saja.. tidak mengurangi rasa keju, sementara batin ini tidak tenang dan cemas.
“Bu Eni agamanya apa bu?”
“I s..l.a..m” jawab Bu Eni dengan suara lemah dan parau..
“Ayo bu bilang ‘Allah’ ’Allah’”
“A..llah…. a…llah”
“Terus bu, bilang Allah”
“Ayo bu berusaha “
“Bu Eni kuat”
“Ayo bu!”
Semua yang ada di samping bu Eni memberikan dorongan, menyemangati bu Eni yang tengah dalam keadaan meregang nyawa, pasca melahirkan putranya.
“Ayo bu! Demi putra ibu”
Pada saat yang sama putra bu Eni masih di ruang VK sedang menangis.
“Ayo bu tetap bertahan bu! Bu Eni pengen ngeliyat putranya menangis tho bu”
“Tuh bu suara tangis putranya.”
“Ayo bu terus berjuang! Putra ibu butuh ASI ibu”
……………………………..
Pintu ruang VK terbuka, dan alhamdulillah dokter Burhan menampakkan dirinya.
“Maaf ya saya harus memacu mobil saya menuju RS dr. Oen Solo Baru untuk dapat obat ini” sambil menunjukkan 4 tablet cytotec.
“Hunting obat itu via telefon yang ada stoknya malam ini hanya di RS dr. Oen Solo Baru. Itupun tinggal lima. Tadi sempat adu mulut dulu dengan apoteker yang jaga di sana.
Masya Allah, Subhanallah, baru kali ini aku lihat dokter yang mencarikan obat sendiri. Memang keluarga bu Eni tidak mampu, jadi untuk memperpendek waktu, dokter Burhan mengambil resiko mencari obat itu sendiri sampai benar-benar mendapatkan obatnya. Resiko yang tidak kalah besar adalah waktu melakukan histerektomi total, lebih cepat, tetapi karena penggunaan kamar operasi malam-malam di luar jam kerja memang lebih lama, mungkin karena perhitungan itulah, dokter Burhan berani ambil resiko seperti itu.
“Mbak Marni masukkan 4 tablet cytotec ini per rectal ya sekarang!” perintah dokter Burhan kepada bu bidan Marni.
………………………………………
Hampir satu menit berikutnya
………………………………………
Darah berangsur-angsur berkurang, bahkan mulai berhenti, perlahan kepalan tanganku aku lepaskan tekanannya, demikian juga tekanan dari tangan-tangan yang lain. Dan alhamdulillah perdarahan berhenti.
“Dokter Burhan! Darah sudah datang!”
“Satu infus ganti darah mbak!”
“Ya dokter” mbak Marni mengganti infus sebelah kiri dengan kantung darah, dan darah mulai mengalir masuk ke tubuh bu Eni melalui selang infus.
Bu Eni kuperhatikan makin segar walaupun masih pucat.
Bu Bidan Marni mulai bersih-bersih darah yang tercecer di bed tempat bu Eni terbaring, termasuk sibuk membersihkan darah yang menggenangi di daerah vagina, sekitar vagina, perut dan pantat bu Eni. Dan habis itu melakukan perawatan standar pasien nifas. Kulihat ember yang dibawa bu bidan Marni darah sampai separoh lebih ember.
“Hampir satu liter?” Kataku dalam hati, luar biasa daya juang hidup bu Eni… perjuangan yang hebat. Perjuangan wanita yang melahirkan buah hatinya. Karena itu aku bisa memahami dalam ajaran agama Islam bahwa wanita yang mati karena melahirkan buah hatinya sama matinya dengan orang yang syahid.
“Alhamdulillah bu Eni”
“Luar biasa ya bu”
“Masya Allah bu.. tegang banget ya, alhamdulillah Allah masih memberikan kepada kita kesempatan”
Kata-kataku memberondong keluar ingin kubagikan rasa cemas, rasa bahagia, rasa syukur yang tak terhingga itu bersama bu Eni.
“Iya mas Karim, alhamdulillah, terima kasih kepada semuanya ya” kata bu Eni walaupun masih tergolek lemah tetapi semangatnya terasa sekali kekuatannya.
“Istirahat yang cukup ya bu, biar badannya cepat pulih kembali”
“Perjuangan masih panjang dan belum berakhir bu, ini baru permulaan bu”
“O ya?”
“Mendidik dan membesarkan buah hati ibu itu adalah masalah sesudahnya, itu jihad jilid kedua sesudah ini bu.”
“Ya mas Karim, terima kasih, sekali lagi terima kasih atas perjuangannya menolong saya dan bayi saya”
“Ya bu, saya pamitan dulu”
“Ya mas dokter Karim”
……………………………….
Luar biasa! Di siklus terakhirku, banyak sekali kata luar biasa, masih terlihat jelas di benakku bagaimana kepala bayi yang diameternya 10-an cm itu bisa menyembul keluar dari vagina, barusan aku mengalami hal yang menegangkan darah mengalir deras seperti sungai, dari vagina juga..
Terima kasih ya Allah, telah Engkau berikan aku kesempatan yang tidak semua manusia bisa merasakan pengalaman-pengalaman ini. Menghayati proses-proses perubahan tumbuhnya manusia, Engkau ciptakan ia dari keadaan yang hina kemudian Engkau wujudkan ia, dalam keadaan yang lemah, setelah mereka dewasa dan kuat, lalu kebanyakan dari mereka mengingkari nikmat-nikmat yang tlah Engkau berikan. Menjadi penentang-penentangMu. Mengingkari fitrahMu. Mengingkari apa yang tlah Engkau ajarkan lewat rasul-rasulMu. Bahkan mereka menentangMu dengan keras.
Ya Allah. Ya Rahman Ya Rahim. Jadikan aku hambaMu yang selalu bersyukur kepadaMu, selalu ingat akan nikmat-nikmatMu yang tak terhingga, yang tlah Engkau berikan kepadaku..
Ya Allah… Tuhan yang membolak-balikkan hati
Kuatkan hati ini agar selalu cenderung kepada kebenaran-Mu… bersabar untuk taat dan taqwa kepadaMu.. setelah Engkau berikan aku cahayaMu yang menerangi jalan hidupku..
…………………………………
Katakanlah : Wahai Allah yang mempunyai kerajaan (kekuasaan), Engkau berikan kerajaan (kekuasaan) kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. DitanganMu-lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (Engkau hitung-hitung). (Ali Imron 26 – 27)
Esok Harinya..
”Wah kemarin malam, Kah, luar biasa sekali” kataku kepada Barkah, sambil membawa makanan yang dipesan untuk di bawa ke meja kosong di kantin rumah sakit.
”Luar biasa?” tanya Barkah
”Dulu saat kamu di Obgyn dapat kasus atonia uteri ga Kah?” tanyaku sambil membenarkan tempat duduk.
”Ga dapat tuh, emang semalam kamu dapat kasus itu?” tanya Barkah
”Iya Kah, sebenarnya hipotoni yang menjadi atonia, seumur-umur baru kali ini lihat darah mengalir deras seperti kemarin. Ngeri lihatnya.” kataku di sela-sela makan pisang goreng raja makanan favoritku
”Terus berhasil diatasi” tanya Barkah juga di sela-sela menyantap soto daging sapi.
”Alhamdulillahnya Ya. Nyaris dilakukan histerektomi. Peristiwanya heroik sekali. Sampai-sampai dokter Burhan nyari sendiri obatnya di rumah sakit dr Oen lho!” kataku
”Sorry Rim, out of the topic, Rim ada hal penting yang harus kamu ketahui. Dua minggu ini aku melihat Endar terlihat sangat murung, terlebih setelah mendengar kamu menikahi Aisyah. Kemarin aku melihat dia membawa tas besar menaiki bis, entah dia pergi kemana. Tampaknya dia ingin melarikan diri dari kenyataan bahwa engkau bersanding mesra dengan Aisyah.” jelas Barkah
”Lalu..” kataku
”Lalu katamu? Kamu ini bagaimana sih? Kamu tega sekali Rim” kata Barkah menghentikan minumnya dan hampir tersedak
”Aku harus bagaimana? Haruskah aku memedulikan dia, sementara di sampingku sudah ada seseorang yang mempunyai hak aku sayangi dan aku cintai sepenuh kemampuanku.” tanyaku pada Barkah.
”Ya setidaknya kamu tidak cuek seperti itu Rim!” Barkah menjawab
”Barkah. Aku pernah mengalami sakitnya putus cinta. Menyakitkan memang. Tapi aku yakin itu hanya sementara. Walaupun akan tetap menjadi luka. Yang penting tidak dititili. Kalau aku memberi perhatian kepada Endar, mengapa murung, mengapa begini, mengapa begitu, terus terang ya Kah, itu sama saja artinya nitili luka hati dan membuat lukanya bertambah parah. Sehingga jangan heran kalau aku memilih bertindak ’cuek’. Kelihatannya kejam, tetapi itu membantu luka hati agar cepat ’sembuh’.” jelasku
”Gini aja Rim, setidaknya kamu menulis surat untuknya” Barkah memberi usul
”Yah, aku akan memikirkan usulmu. Atau..kayaknya ada yang ga beres deh. Kenapa yang pusing memikirkan itu kamu. Kayaknya kamu menaruh hati deh sama Endar” jawabku
”Kamu kok malah memutar balikkan fakta Rim” kata Barkah ga mau terima
”Kalau iya, juga ga pa pa kok” kataku dengan senyum-senyum
”Bukan begitu Rim, kok aku yang jadi target penyerangan sih” Barkah menyeringai
”Jujurlah pada hatimu Kah, kalau ga kamu akan menyesal kemudian, nanti akan aku jadikan Endar istri keduaku.. ha ha ha.. biar kamu gigit jari”
”Benar nih, mau dijadiin istri kedua, nanti akan aku sampaikan ke Endar”
”Sudah sudah sudah.. tapi aku lebih senang kalau Endar itu bisa jadi istri kamu Kah”
”Tuuh mulai lagi”
BERSAMBUNG...
Dari novel "Assalamu'alaikum matahariku" bagian ke 15
Hadirnya si Jo 2003
Pasca pernikahan langsung kami berdua menuju Solo. Aisyah masih harus mengikuti jadwal skripsi tinggal bab terakhir. Sedangkan aku masih melanjutkan siklus terakhirku di Obgyn. Bersama Aisyah, sekarang mengontrak rumah sendiri di dekat Rumah Sakit Umum Dokter Moewardi. Aku masih tidak percaya dia hadir di sampingku. Aku berbaring satu tempat tidur dengan wanita. Setiap hari aku masih ke kos dik Iqbal karena masih menggeluti pekerjaan penerjemahan. Hal tak terduga aku berjumpa dengan Johan, preman Pucang Sawit yang terkenal dengan panggilan si Jo. Orangnya maskulin, coklat kehitaman, tubuhnya bertatoo, terutama kedua lengannya... tatoo naga. Aku disodori kartu namanya, dia menyebut dirinya the love maker. Sesuai sebutan untuk dirinya sendiri the love maker dia mudah sekali menggaet wanita .. dan tentu saja cewek yang bukan seperti kebanyakan. Walaupun dia sendiri sudah punya istri dan satu anak. Dan dipastikan ketika menggaet wanita lain, tentu saja tanpa sepengetahuan istrinya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau ketahuan istrinya. Yang aku bayangkan kata-kata yang meluncur dari kedua mulut orang itu. Dalam keadaan normal saja mereka berdua mudah sekali menyebut berbagai macam hewan, terutama ketika menyikapi polah anaknya yang nakal.Sekarang yang menjadi pertanyaanku mengapa si Jo ada di sini, di kos dik Iqbal bahkan hampir setiap aku ke sini selalu ada. Juga aku perhatikan koleksi CD porno dik Iqbal makin banyak saja. Aku menjadi sangat khawatir dengan kedekatan dik Iqbal dengan si Jo. Dia itu punya riwayat keluar masuk tahanan polisi.
Di suatu sore aku berkesempatan ngobrol-ngobrol dengan si Jo di lincak depan kos dik Iqbal. Semula ngobrol basa-basi, berganti-ganti tema pembicaraan hingga si Jo menunjukkan pergelangan kaki kirinya dan mengaku di sana masih bersarang peluru polisi, saat penangkapan, dan dia berhasil lolos.
“Kalau ada pencurian sepeda motor di Solo, polisi selalu mencariku” cerita si Jo dengan bangga
“O ya”
“Bahkan ketika kerusuhan bulan Mei tahun 1998 dulu waktu jaman reformasi, di kamarku bertumpuk-tumpuk barang elektronik buaannyaak sekali. Sepeda motor ada limaan. Aku kebingungan sekali ketika aku mendengar polisi akan menggrebek rumahku. Dalam dua jam barang-barang itu sudah bersih. Aku bagi-bagikan ke tetangga yang mau dan lainnya banyak dibawa teman-temanku. Dan, ketika polisi melihat kamar kosku tidak ada apa-apanya lagi haa haa haa kena lo pak polisi ha haaa haaaa” si Jo masih bangga dan geli, tetapi aku hanya mengikutinya dengan senyum yang terpaksa.
“Mas Karim, kalau uang di dompetku tinggal 500 ribu, itu tanda aku harus mulai beroperasi.”
“Maksudnya?”
“Ya.. mencari korban baru, biasanya aku pergi ke Manahan, mencari sepeda motor”
“Mencari atau mencuri?” tanyaku dengan nada bercanda
“Ya dua-duanya tho haa…haa…”
“Trus uangnya kamu gunain untuk apa?”
“Pertama untuk beli susu anakku, untuk beli kebutuhan rumah tangga dan sisa terbanyaknya untuk senang-senang..”
Setelah menikah aku jarang melihat dik Iqbal. Tampaknya dia sengaja menghindar aku atau menghindari si Jo atau bahkan dua-duanya. Aku mempunyai kecurigaan kalau si Jo dan dik Iqbal ada keterikatan kerja sama. Dan aku tidak tahu sama sekali tentang itu. Hingga suatu ketika ada kesempatan… nah kena lo.. dik Iqbal sedang mengemasi satu kardus koleksi CD dan mengepaki VCD player baru yang barusan di beli dari Columbia Elektronik.
“
“Mas
Dik Iqbal memang membuka cabang baru persewaan VCD player di utara jalan Ir Sutami barat tepat Koramil yang letaknya bersebalahan dengan gedung Taman Budaya Surakarta.
“Jadi sibuk ya dik Iqbal?”
Dik Iqbal tampak sedang sibuk mengencangkan tali kardus. Dan menumpuk kardus yang berisi koleksi CD dengan hati-hati.
“Ya Mas”
“Sebentar dik, kamu masih tetap kuliah tho?”
“Kalau ada kesempatan Mas”
“Maksudnya?”
“Memang jarang ke kampus kok mas”
“Kuliah tetap diprioritaskan lo dik”
“Iya mas, aku usahakan”
Diam-diam aku mencari informasi di UMS ternyata dik Iqbal mengambil cuti. Namun aku tidak berniat mengungkapkan informasi itu kepada dik Iqbal, aku tidak ingin dik Iqbal “lari” dariku. Namun mengenai masalah si Jo, aku harus ekstra hati-hati menanyai, walaupun dalam hati ini aku sangat tidak suka dengan kehadirannya dalam bisnisnya dik Iqbal. Aku mencurigai dia berinvest dalam bisnis dik Iqbal terutama yang di pinggir jalan besar. Termasuk dengan makin banyaknya koleksi CD porno.
“Si Jo ikut invest di tempatmu tho dik Iqbal?”
“Iya..”
“Hati-hati! Kalau berbisnis dengan dia. Dia termasuk target operasi polisi, tinggal mencari bukti untuk menjebloskannya ke penjara..” aku berusaha sebisa mungkin mengucapkannya dengan datar tanpa kenaikan nada bicara sedikit pun.
“Iya mas, kita ngajak orang berubah kan harus pelan-pelan” dik Iqbal menjawab
“Dia cerita kepadaku sudah ditembak tiga kali, dua peluru bisa dia keluarkan sendiri, terutama yang bersarang di lutut dan paha, tapi yang di dekat mata kaki tetap masih bersarang sampai saat ini. Itu sudah cukup membuat kita harus hati-hati…”
“Mas Karim sudah pernah bertemu dengan si Jo tho?” tampaknya dik Iqbal terkejut
“Iya dik, dah ya hati-hati” aku tidak ingin berpanjang lebar, aku tidak ingin dik Iqbal main kucing-kucingan seperti selama ini terjadi. Tetap menjaga perasaan dik Iqbal.
Wednesday, June 18, 2008
Dari novel "Assalamu'alaikum matahariku" bagian ke 14
Pertemuan yang tak terduga
Nganjuk 2003
Sejuknya udara pagi demikian cuek dan dingin, tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Sensasinya menembus di sela-sela butiran-butiran air dengan ukuran tertentu yang membuatnya disebut kabut. Butiran-butiran kabut menempeli benda-benda apapun yang dekat dengannya. Gaya gravitasi bumi mendorongnya untuk terjun ke bawah, sementara sesekali tiupan angin pagi sekedar mengibas-ngibaskannya walaupun akhirnya menyerah pada gravitasi bumi. Hangatnya matahari perlahan tapi pasti menerobos di setiap ruang tanpa mempedulikan kecuekan udara pagi yang sejuk. Bahkan akhirnya dia begitu kuat dan mantap, semuanya takluk. Kehangatan berubah menjadi panas dan hari berputar menjadi siang hari.
Sudah dua hari ini aku menikmati suasana santai di Nganjuk. Ada jeda libur satu minggu sebelum memasuki siklus terakhirku di bagian Obgyn. Aku bertekad menikmati betul suasana rileks di tengah hari-hari, jam dan detik yang selama ini terus menerus menderaku dengan ketegangan, keletihan dan target. Aku benar-benar ingin mengendorkan benang karet jiwaku. Dia butuh waktu untuk mengendorkan diri. Bila tidak benang karet itu akan putus, dan aku tidak tahu apa jadinya? Aku teringat dengan sebuah hadits “Yaa bilal..arrihna bishsholat” Wahai Bilal istirahatkan kita dengan sholat. Seharusnya sholat buat kita sebagai orang muslim benar-benar menjadi “wisata” yang mengendorkan kembali jiwa-jiwa kita yang tegang. Mengembalikan energi kita yang terkuras oleh rutinitas, kegagalan, suasana persaingan, egoisme manusia, naluri hewaniyah dan pusaran hawa nafsu kita sendiri yang mengungkung.
Kita butuh terminal pemberhentian, yang merecharge energi rukhiyah yang telah letih, untuk mendapatkan kesegaran kembali, menghadapi perjuangan kehidupan, mengemban banyak kewajiban, amanah, memperbaiki diri, memperbaiki keluarga … sebagai agen perubahan dalam masyarakat, karena memiliki potensi yang telah di karuniakan kepada kita.
Hal favorit yang paling aku senangi ketika pulang ke Nganjuk adalah mengantar ibu ke pasar. Lucu ya anak laki-laki tetapi kesukaanya mengantar ke pasar tradisional. Mungkin karena sejak kecil aku sering diajak ke pasar bersama ibu itulah yang membuatku “jatuh cinta” ke pasar. Memasak adalah pekerjaan harian ibu, karena mempunyai rumah makan kecil “Warung Cocok”. Menu yang aku senangi adalah sayur asam khas Jawa Timur yang dominan rasa kêcutnya ketimbang sayur asam Solo yang lebih terasa manis. Sambal terasi pun berbeda antara sambal terasi orang Solo dengan sambal têrasi Jawa Timuran, kalau di Solo tidak ada tomat mentahnya, sedangkan sambal terasi yang telah kukenal sejak kecil selalu memakai tomat, bawang merah, bawang putih. Menu lain yang tidak ada di Solo adalah rawon, dan itu adalah favorit beratku. Karenanya ketika pulang ke Nganjuk, aku pasti merengek minta dibuatkan rawon atau sayur asam.
Pasar yang biasa dikunjungi ibu, letaknya di kelurahan Payaman di dalam wilayah kota. Dekat aliran cabang sungai yang bermuara ke sungai berantas. Pintu masuknya di ruas barat jalan Ahmad Yani, menyatu dengan kompleks pertokoan. Di dalamnya banyak lorong-lorong jalan yang di kanan kirinya blok-blok kios-kios. Batas antara lorong jalan dan kios, dipisah oleh saluran pembuangan yang ditutupi oleh jaring-jaring besi baja. Tidak ada penataan secara khusus penataan blok-blok pedagang. Sehingga kalau belum akrab dengan suasana pasar Nganjuk akan kebingungan mencari dimana blok sayur-sayuran, mana letak blok bumbu-bumbu, blok buah-buahan maupun blok pakaian.
Biasanya ibu diantar bapak naik sepeda motor lanang honda merah tahun 80-an. Tetapi untuk kali ini, kami bertiga memakai mobil L-100 warna hijau kekuningan ngêjréng. Biasanya bapak hanya menunggu saja di dalam mobil. Aku bersama ibu yang keliling-keliling menyusuri blok-blok kios penjual di pasar. Ibu sudah sangat hafal letak-letak pedagang-pedagang dan juga dihafali banyak orang. Hampir setiap orang yang berpapasan dengan kami selalu minimal mengangguk, menyapa hingga ngobrol-ngobrol singkat. Wah kayak selebritis saja ya, dikenal banyak orang, kalau bukan selebritis ya, public figure lah….he..he..he.
Bayangan itu…
yah… kayaknya aku sangat kenal. Dia tertunduk malu. Aku pun juga malu-malu menatapnya, sesekali pandangan mata kami bertatapan. Masya Allah, hatiku berdebar kencang. Tak menentu. Dia tersenyum malu. Kemudian segera menunduk. Dia cantik sekali. Memakai jilbab putih panjang menutup penuh hingga dada. Jubah yang dipakai besar, tetapi masih luwes dan enak untuk dipandang. Warna krem bercorak bunga-bunga dan ranting-ranting.
“Bu Mochtar.. bagaimana bu kabarnya? Kemarin kok tidak kelihatan di pertemuan di rumah bu Aziz?” tanya ibuku kepada sosok yang beliau panggil ibu Mochtar.
“Maaf bu Rahman, ini, kemarin saya kedatangan tamu, keponakan saya ini datang dari Purworejo, Aisyah” jawab bu Mochtar kepada ibuku, sambil melirik Aisyah yang tertunduk malu, kemudian dia melihat ibuku dan aku.
“
“Ya mas Karim, kita kalau bertemu selalu rapat
“Iya..ya.. selama ini kalau ta’aruf di TPA hanya sebatas memperkenalkan asal fakultas dan tempat tinggal kos saja. Kita hanya mikir praktis-praktis saja, dan langsung kerja…” sekarang aku mulai lebih tenang, walaupun goncangan itu masih hebat kalau diukur dengan skala Richter bisa di atas 5.
“Kalian sudah sama kenal tho..? Dimana?” tanya ibuku kepada kami berdua.
“Di TPA masjid Sabililah bu” tanpa terencana, kami menjawab pertanyaan ibuku dengan serempak. Kami semua tersenyum. Sekali lagi hatiku terpesona, melihat senyumnya yang manis, cantik! Kemudian Aisyah mempersilakan aku menjelaskan.
“Kami sama-sama mengajar di TPA masjid Sabililah, waktu sore hari. TPA Sabililah letaknya dekat dengan kos kami di Solo bu.” jelasku, kali ini dengan mantap.
“Maaf ya bu Mochtar, Aisyah, kami harus melanjutkan belanja lagi, kasihan bapak kelamaan menunggu kami di dalam” ibuku meminta izin berpamitan, sembari bersalaman dengan bu Mochtar dan Aisyah. Dari cara ibuku berjabat tangan dengan Aisyah, aku bisa menangkap kalau ibuku sreg. Jabat tangannya lebih lama dan lebih lama menatap Aisyah.
“Kapan-kapan kita sambung lagi” kata ibuku mengakhiri pertemuan tadi. Kemudian menggandeng tanganku untuk berjalan ke depan.
“Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh” aku juga ikut mengucapkan sepatah kata mengakhiri pertemuan itu. Tanpa berani menatap Aisyah dan hanya melihat sepintas wajah bu Mochtar sambil mengangguk dan tersenyum kepada beliau.
“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakaatuh” jawab bu Mochtar dan Aisyah, sambil berjalan melanjutkan keperluan belanja mereka.
“Rim, Aisyah cantik ya?” tanya ibu. Kayaknya menggoda aku, mungkin kegalauan hatiku yang terekspresikan di wajahku dan bagian tubuhku yang lain ditangkap ibu ketika bertemu dengan Aisyah di pasar.
“Iya bu. lha ada apa tho ibu?” gantian ibu gait tubuhnya menunjukkan tidak enak dengan pertanyaan yang aku lontarkan.
“Kayaknya Aisyah gadis baik-baik, pinter ngaji[1] ya Rim?” ibuku gantian melontarkan pertanyaan kepadaku.
“Ya jelas dong bu, masa guru ngaji tidak bisa ngaji. Muridnya saja sudah ada yang khatam Al-qur’an” jawabku dengan pembelaan penuh.
“Maaf ya Rim, sebenarnya kamu sendiri tanpa Iqbal, kira-kira saat ini bisa mandiri ndak Rim? Maksud ibu…pendapatanmu ada kelebihan tidak?” Tanya ibu dengan wajah serius.
“Kalau untuk kelebihan memang ada, tapi saya tabung ibu, siapa tahu sewaktu-waktu ada kebutuhan bisa dipakai, wonten punopo tho bu[2]?” tanyaku dengan penasaran
“Sekali lagi ibu…minta maaf ya Rim. Sehabis dari pasar tiga hari yang lalu, bu Mochtar diam-diam menelfon ibu, beliau menanya serius tentang kamu, apakah kamu sudah siap menikah atau belum. Lalu ibu menjawab…iya. Kemudian beliau meminta fotomu dan ibu kasihkan untuk dikirim ke orang tua Aisyah di Purworejo. Sorenya ibu dengan bapak membicarakan masalah ini, malamnya sholat istikharoh beserta dua malam sesudahnya, akhirnya kami setuju dan mantap kalau Aisyah menjadi istri kamu sekaligus menantu bapak dan ibumu. Sekarang ada dua pertanyaan ibu yang pertama apakah kamu sudah benar-benar siap menikah? Yang kedua, apakah kamu setuju kalau Aisyah menjadi istri kamu?”
Aku tidak pernah menyangka sama sekali kalau liburanku kali ini berakhir pada dua pertanyaan :
Apakah aku benar-benar sudah siap menikah?
Apakah aku yakin kalau Aisyah bisa hidup berdampingan denganku seumur hidupku?
Tugasku kali ini adalah mencari jawaban. Aku tidak pernah menyangka Aisyah yang selama ini menjadi partnerku dalam membimbing anak-anak didik TPA Sabililah, tiba-tiba menjadi penguasa dalam pikiranku. Bayangan wajahnya yang cantik masih melekat kuat di dalam otak dan hati serta emosiku. Aku tidak tahu, di bagian otak mana dia mengendap menjadi sosok nyata dalam imaginasiku.
“Ibu, Insya Allah saya siap menikah. Mengenai apakah saya setuju kalau Aisyah menjadi istri saya, mohon saya diberikan kesempatan untuk Istikharoh dulu. Kalau secara logika dan perasaan saya mau. Saya butuh mencari kemantapan dahulu, terutama secara rukhiyah. Oh ya, satu pertanyaan untuk ibu dan bapak, apakah tidak keberatan kalau Karim belum lulus jadi dokter sudah menikah, bu?” akhirnya aku bisa meluncurkan kalimat yang sarat akan keputusan dan butuh pemikiran yang berat untuk menjawabnya.
“Begitu ada kemantapan, segera menikahnya, jangan berlama-lama, nanti akan menjadi fitnah Rim, itu yang ibu dan bapak tidak mau kehendaki. Kedua kakakmu kan belum lulus dokter sudah pada menikah semua kan? Bapak dan ibu tidak keberatan kan Rim?” Kata ibu
”Iya karena mbak Fatimah dan mbak Malika kan, perempuan. Lha kalau Karim kan laki-laki, biasanya kan harus matang dulu. Kalau bagi Karim sendiri tidak masalah bu, menikah sebelum atau sesudah lulus dokter. Lha kalau bapak dan ibu bagaimana?” tanyaku balik
”Karim, menyelematkan dari fitnah itu jauh lebih penting buat bapak dan ibu dari pada harus menunggu lulus dokter. Ini masalah pertanggung jawaban besok di akhirat. Tidak usah pula memikirkan bagaimana keadaan keuangan bapak ibu, bagaimana mengembalikan utang-utang bapak ibu ya Rim” kata ibu sambil beliau membelai punggungku
”Injih bu, Karim mengerti” kataku, walaupun pernyataan ibu yang terakhir sangat berat dan menusuk hatiku, namun aku mencoba berusaha memahami pikiran ibuku.
Tiga hari berlalu. Aku habiskan banyak waktu membaca buku yang sudah lama aku beli tetapi belum sempat terbaca. Menulis. Aku sudah lama bercita-cita menulis sebuah buku. Buku tentang perlunya marketing dengan hati buat dokter. Aku melihat banyak hubungan antar dokter-dokter sekarang ini merenggang gara-gara “memperebutkan” pasien. Aku melihat banyak hubungan dokter dengan pasien yang kurang harmonis. Dokter dituntut malpraktik. Dokter dikesankan selalu kaya. Dokter adalah komunitas yang eksklusif. Dokter kinerjanya buruk. Dokter sering mangkir pada saat dibutuhkan. Dokter mudah menerima “suap” dari pabrik farmasi. Dokter tidak peduli pada pasien. Dokter orientasi operasi. Dokter Indonesia kurang canggih. Persepsi pasien; kalau mereka punya uang lebih baik periksa ke luar negeri saja. Dan sebagainya dan sebagainya.
Kehadiran Aisyah, pembicaraan serius untuk menikah telah merubah banyak rencanaku. Aku membaca buku, tapi halaman tidak segera berpindah. Aku menulis, tetapi tak satupun paragraf yang aku hasilkan. Pikiranku banyak menimbang-nimbang menikah dengan Aisyah atau tidak. Apakah Aisyah pilihan yang tepat buat mendampingiku, menghadapi hari-hari dengan segala dinamikanya yang aku suka maupun tidak. Tetapi yang lebih mendasar sebelum semuanya, yang merisaukanku adalah apakah Aisyah mau menikah denganku atau tidak. Aku sudah ada hati dengannya. Aku tidak bisa membayangkan betapa aku harus berusaha keras menata perasaan batinku terhadap P E N O L A K A N. Masih terbayang-bayang bagaimana kepedihanku ketika harus menghentikan hubunganku dengan Wulan. Kalau masih teringat itu, tetap saja air mata ini menetes tanpa aku sadari. Aku bukan manusia sempurna. Aku bukan orang yang sempurna seperti yang sering disebutkan murid-murid TPA kepadaku sebagai ustadz. Diidolakan oleh murid-muridku sebagai ustadz yang selalu menjaga hati, menjaga perilaku dan perbuatan. Untuk selalu berjalan di titian jalanNya. Diidolakan oleh murid-muridku karena mereka menganggap aku adalah sosok yang sempurna… serba bisa terhadap masalah-masalah yang mereka hadapi. Aku selalu ditanyai mengenai berbagai masalah pribadi orang tua mereka di sela-sela mereka menjemput anaknya atau mereka datang sendiri menghampiriku ketika di masjid. Aku merasa seperti bunglon bisa berbuat baik dihadapan mereka. Aku pandai memilih topeng-topeng mana yang tepat ketika ia dibutuhkan dan ditempatkan. Aku bukan menjadi diriku sendiri. Tetapi ketika sendiri aku bisa seenaknya melakukan dosa. Aku juga gelisah seperti mereka, seperti orang tua mereka. Aku butuh teman “curhat”. Aku butuh teman pribadi yang benar-benar mengerti aku. Aku adalah manusia biasa. Rapuh. Aku butuh didukung. Aku hanya manusia biasa. Aku sudah lelah dituntut untuk sempurna….
Aku bisa memahami bagaimana beratnya amanah yang dipikul para nabi dan rasul, mereka dituntut untuk selalu ”sempurna”, mereka adalah tauladan yang sempurna, menjadi rujukan seluruh manusia hingga akhir zaman, benar-benar manusia pilihan. Betapa kejamnya para pengikutnya yang melukai hatinya hingga ada yang membunuhnya…
“Yaa Allah, berikan kekuatan pada hatiku. Berilah kelonggaran dan kelapangan hati menerima segala takdirmu. Kuatkan hatiku … untuk selalu bersegera ketika mendengar seruanMu.
Yaa.. Allah kalau Aisyah itu baik bagiku dan baik bagi agamaku, maka tanamkanlah pada hatiku keyakinan, kemantapan, serta berilah kemudahan bagi kami untuk menyegerakan urusan pernikahan kami…
Yaa.. Allah kalau Aisyah itu ternyata tidak baik bagiku dan agamaku, maka tampakkanlah urusan itu, mudahkanlah bagi hatiku dan perasaanku untuk bisa kembali seperti sedia kala, baikkanlah kembali hubungan kami, sama-sama sebagai ustadz/ustadzah di TPA Sabilillah.”
Doa yang aku lantunkan ketika sholat malam dan sholat istikharoh.
Tiga hari telah berlalu, siang hari aku habiskan untuk melarutkan diri dalam kesibukan bersama ibu di “Warung Cocok”nya dan bersama bapak di sawah. Kalau aku pulang apalagi dalam waktu yang lama dipastikan berat badan bertambah serta derajat kehitaman kulit juga bertambah. Aku ini anak petani yang mau naik kelas menjadi dokter. Kalau di”Warung Cocok”nya ibu, aku berperan sebagai pelayan “rumah makan”, mencatat yang dipesan tamu, aku serahkan catatan itu di dapur, ibu menyiapkan makanan dan minuman yang dipesan, kemudian aku sendiri yang mengantarkannya ke meja tamu yang memesan. Untuk urusan pembayaran, biasanya langsung kepada ibu. Mungkin karena tampangku yang agak intelek, bukannya ge-er, ada tamu yang cewek beberapa kali mencoba mencuri pandang….he…he…he.. Aku sangat malu kalau ibu membuka rahasia diriku…
“Tadi yang ngelayani panjenengan mas dokter lho, sekarang baru Co-Ass di UNS”
“Nanti kalau pesan, sama mas dokter…ya..”
“Nanti makanan dan minumannya diantar mas dokter..”
Demikian juga ketika aku membantu bapak di sawah. Pekerjaanku kalau di sawah juga seperti kebanyakan pemuda-pemuda sekampung denganku. Mencangkul, nggejik[1] jagung atau kacang panjang, mencabuti tanaman-tanaman pengganggu di sekitar padi, memanen bahkan ketika air sulit seperti di musim kemarau ikut mengawasi pasokan air yang masuk ke petak sawah bapak. Untuk yang terakhir ini, seringkali bersitegang dengan tetangga, termasuk tetangga dekat sekalipun. Aku tidak malu melakukan hal-hal yang telah biasa aku lakukan sebelum aku kuliah di kedokteran. Mengapa harus malu? Aku anak petani. Aku bangga menjadi anak petani. Petani itu orangnya jujur, tidak pernah memanipulasi, bahkan sering dimanipulasi oleh pedagang, pengijon dan mandor bila petani tebu.
Seperti halnya yang dilakukan ibu ketika di”Warung Cocok”nya, bapak juga tidak kalah seru menceritakan putra putrinya yang menjadi dokter dan calon insinyur.
Kepada setiap orang yang dijumpai di sawah, ketika aku bersama bapak selalu bercerita kepada mereka…
“Karim ini dokter dari Solo…”
“Mas dokternya mau mencangkul pak…”
“Ini pak Jo, mas Dokter Karim mau ikut nggejik jagung…”
Aku tahu maksud ibu dan bapak, siapa orang tua yang tidak bangga dengan keberhasilan anaknya. Tapi tetap saja aku merasa risih…dan tidak nyaman. Satu pertanyaan buatku mengenai hal ini.
“Karim, Apakah anak-anakmu bisa berhasil seperti orang tuamu mendidik kamu?”
“Karim, Apakah istrimu nanti bisa melahirkan anak-anak yang shalih/shalihah?”
“Karim, Apakah sudah menyiapkan program pendidikan untuk kehidupan yang akan dihadapi oleh anak-anakmu dengan zamannya yang tidak kamu ketahui?”
Akhirnya sampai juga pada kesempatan memberitahukan kemantapan hatiku untuk bisa dinikahkan dengan Aisyah.
“Ibu, bapak, terima kasih atas segala yang telah ibu dan bapak curahkan selama ini kepada Karim demikian juga dengan mbak Fatimah, mbak Malika, dik Iqbal dan dik Harun. Sehingga kami bisa menjadi orang-orang dewasa yang tahu dan sadar akan tanggung jawab dan kewajiban…”
“Ibu, bapak, tibalah waktunya bagi Karim untuk bisa mandiri secara ekonomi, mandiri secara batin, jiwa dan agama untuk membangun rumah tangga sendiri…” aku ucapkan itu dengan terbata-bata dan tak terasa air mataku meleleh menggenangi permukaan pipiku, karena yang terbayang dalam pikiran dan perasaanku adalah saat aku harus berpisah dengan kedua orang tuaku.
“Ibu, bapak, Setelah sholat istikharoh, Karim menemukan keyakinan dan kemantapan untuk bisa dinikahkan dengan Aisyah, tetapi Karim juga minta doanya kalau seandainya Aisyah ternyata tidak mau dengan Karim, Karim diberikan kekuatan hati untuk menerima kenyataan itu, masih bisa menyambung tali silaturahim dengan Aisyah seperti sedia kala, dan semoga Allah segera memberikan petunjukNya menemukan jodoh Karim yang lebih baik lagi…”
“Karim anakku, kita sebagai manusia wajib berusaha, itu saja, mengenai hasilnya itu adalah wewenang mutlak Allah SWT. Masalah perjodohanmu dengan Aisyah itu adalah usaha kita, siapa tahu Aisyah itu adalah jodoh kamu. Misalpun ternyata tidak, kita mendapatkan saudara baru… Aisyah dan keluarganya.” kata bapak dengan suara agak ngebas tetapi tenang…menunjukkan kematangan emosional beliau.
“Karim, sejak kecil hampir setiap hari kita dihadapkan dengan banyak keinginan kita yang tidak sesuai dengan kenyataan.
“Ibu dan bapak…akan segera memberi tahu tentang kemantapanmu kepada bu Mochtar malam ini juga” kata-kata ibu mengakhiri perbincangan kami bertiga… sembari bapak dan ibu bersiap-siap untuk silaturahim ke tempat bu Mochtar.
Malam berjalan terus menuju larut, menyapa makhluk-makhluk yang mereka lalui. Makhluk-makhluk itu meresponsnya dengan cara yang beragam, jam biologis manusia mengantarkannya, membuatnya memberikan respons ketika malam, dengan memejamkan mata, merelaksasikan otot-otot penopang tubuh, otot-otot kelopak mata ….. semuanya dalam keadaan rileks …. Santai …. Hanyut dalam tidurnya yang nyenyak. Makhluk lain justru meresponsnya dengan keluar, mencari karunia rizki yang telah diberikan Allah padanya yang juga keluar dan hadir di malam hari. Kehidupan berjalan dalam qadarNya. Di malam yang pekat ada kehidupan. Di siang yang terang menyengat ada kehidupan. Semuanya tunduk dalam kehendak Ilahi Robbi Allah SWT..
Ombak di lautan, angin gunung di pegunungan tiada jemu secara bergelombang menyapa apa yang dilaluinya, baik itu siang maupun malam. Mereka tiada jemu, tiada lelah, tiada bosan untuk terus-menerus melakukan itu…. Dalam ketundukan kepadaNya. Atas Izin-Nya mereka jinak terhadap manusia. Mereka tunduk pada manusia. Membuat manusia bisa menjelajah lautan pada saat siang maupun malam. Manusia bisa menyusuri dan menyibak setiap detil yang dilaluinya di gunung, baik siang yang terang ataupun di malam yang membutakan. Semuanya bisa dijinakkan dan ditaklukkan oleh manusia atas izin-Nya..
Ketika gunung-gunung itu diberikan amanah untuk menjadi khalifah Allah di muka bumi, mereka ketakutan seraya menolak karena merasa tidak mampu. Hanya kita manusia makhluk yang lemah dan bodoh tetapi sombong dan merasa mampu mengemban amanah yang demikian berat itu. Allahu akbar. Alhamdulillah. Subhanallah. Astaghfirullahaladziim.
Telephon berdering, diterima ibu. Beberapa saat kemudian ibu menghampiriku dengan wajah berseri-seri..
“Karim, tahu kabar apa yang akan ibu sampaikan kepadamu?”
“Jelas tidak tahu kan bu… Karim bukan ahli nujum yang tahu sak durunge winarah[1]”
“Kamu nanti siang diantar bapak, mengurus surat-surat di kelurahan dan kecamatan ya…”
“Sebentar… sebentar… ada apa nggih ibu..? Karim belum faham?”
“Tadi barusan bu Mochtar tilfun, beliau dapat kabar dari Purworejo, kalau Aisyah mau kamu menjadi suaminya”
“Jadi Aisyah mau menikah dengan Karim bu?
“Yaa, tapi segera kamu urus semua proses administrasimu. Hari minggu kita ke Purworejo. Kita secara resmi akan mengkhitbah Aisyah”
“Benar bu?”
“Kamu kok tidak percaya sama ibu sih… B E N A R A I S Y A H M A U
S A M A K A M U R I M!!!”
“Alhamdulillah … ya bu, Karim segera berangkat ke kelurahan dan kecamatan” segera aku melakukan sujud syukur dan berkemas-kemas menyiapkan segala berkas untuk keperluan administrasi pernikahan.
Sisa waktu hari itu aku habiskan bersama bapak mengurus surat-surat untuk keperluan pernikahanku ke Purworejo. Hari itu juga surat-surat sudah beres.
“Karim, kamu tadi kalau jalan sudah seperti dokter le!” bapak memujiku
“Seperti dokter gimana bapak?”
“Jalanmu cepat, tegap dan berwibawa”
“Ah bapak ada-ada saja maturnuwun bapak”
“Oh ya besok gantian yang menyopir ya. Kamu, terus Iqbal dan Harun ke Purworejo”
“Inggih bapak”
“Jangan lupa surat-surat administrasimu kamu bawa juga”
“Inggih bapak”
“Sebentar Rim. Bapak mau nanya. Ini masalah sensitif. Kamu B I S A E R E K S I kan?”
“Ya bisa tho bapak. Setiap pagi bangun tidur mesti ya..”
“Ya sudah. Memang berarti kamu benar-benar layak untuk menikah. Bapak cuman khawatir saja.”
“Ah bapak, kalau tidak bisa ereksi mana berani aku minta dilamarkan Aisyah bapak.. bapak.. ha haa haa” bapak dan aku sama-sama tertawa.
Aku merasa baru kali ini begitu dekat dengan bapak. Bapak serasa seperti teman saja. Hari terus berlalu. Aku selesaikan pengepakan barang-barang yang akan dibawa besok ke Purworejo.
Malam itu aku benar-benar bisa tidur nyenyak. Memulihkan tenaga untuk perjalanan panjang besok. Nganjuk sampai Solo ditempuh selama empat jam. Solo sampai Purworejo juga ditempuh selama empat jam. Jadi total perjalanan selama delapan jam. Seusai sholat Subuh kami semua berangkat menuju Purworejo.
Perhelatan itu akhirnya terwujud juga. Aqad nikah itu berlangsung tepat satu hari sebelum masuk siklus Obgyn. Aku menikah sebelum lulus jadi dokter, bahkan siklus normal Co-Ass-ku belum selesai. Prosesi itu berlangsung di Masjid Agung Purworejo.
Datang sederetan mobil dengan satu mobil yang dikontraskan dengan lainnya dengan pita memanjang warna-warni. Di puncak mobil tampak sebuah keranjang rotan yang dipenuhi bunga tertata sedemikian rupa sehingga masing-masing komponen keindahan bunga itu bisa memamerkan keindahan dan keanggunan yang dimilikinya. Orang yang melihat, walaupun tidak mengerti atau mengapresiasi seni, pasti dapat menyimpulkan itu adalah rombongan pengantin.
Aku dan rombongan keluarga dari Nganjuk sudah berada di masjid itu satu jam sebelumnya. Aku sendiri memakai jas warna mayonais, dengan baju koko putih gading di dalamnya. Sehelai sarung hijau daun dengan bahan dari katun dihiasi garis-garis hijau gelap melingkari perut. Memerankan sabuk, yang menutupi sambungan celana dan baju. Memakai peci hitam layaknya pemimpin Minang yang akan berbicara di depan kaumnya.
Tampak Aisyah dengan diapit bapak ibunya dan diiringi beberapa anggota keluarga memasuki pintu masjid. Pakaiannya sungguh mengesankan. Dengan gaun putih, kerudung putih, mahkota bunga-bunga warna perak, menambah anggun penampilannya. Yang membuatku tertegun, walaupun dari kejauhan aku dapat menangkap ada kerudung tambahan… luar biasa dari bunga melati! Penampilannya seperti mahkota cleopatra yang hampir menutupi seluruh rambutnya. Tetapi kali ini melati yang dironce menjadi kerudung. Beberapa kali aku menangkap sorot matanya yang kemudian tertunduk malu. Sungguh cantik.
Ijab qabul akan dilakukan di bagian tengah masjid beberapa meter menjauh dari tempat pengimaman.
“Apakah benar anda bernama Abdul Karim Abdullah?” tanya pak naib kepadaku
“Benar pak naib”
“Mas kawinnya cincin emas 24 karat 5 gram dan seperangkat alat ibadah”
“Benar pak naib”
“Sebagai wali dari pengantin wanita, bapak Rusli Muhammad, bapak kandungnya langsung?”
“Benar pak naib”
Ternyata menikah itu sederhana aku hanya mengucapkan “kuterima nikahnya Aisyah binti Rusli Muhammad dengan mas kawin cincin emas 24 karat 5 gram dan seperangkat alat ibadah tunai… dan … sah.. aku menjadi suaminya Aisyah” cuman itu saja.
Aku sudah resmi menjadi suaminya Aisyah. Antara Perasaan takjub, tak percaya dan aku merasakan beban besar dan berat serta mempengaruhi perjalanan hidupku ke depan semua menjadi satu. Aku sudah boleh menyentuhnya. Aku gandeng tangannya menuju mobil pengantin. Merasakan getaran-getaran yang tak menentu, baru kali ini menyentuh kulit lembut wanita yang sudah sah menjadi istriku. Berbunga-bunga rasanya hati, perasaan dan segala asa pun berpadu. Kulirik Aisyah dan matanya membalas tatapan mataku. Fuih… Begitu bahagianya diriku dan juga Aisyah.
Kebersamaan Yang Indah
Duhai pujaanku
Duhai belahan hatiku
Duhai Aisyah nan molek indah dan ayu
Duhai dambaan hatiku
Beberapa detik yang lalu
Masih terasa belenggu menghadang
Tapi kini
Semua begitu benderang
Berbunga-bunga semua asa
Membuncah semua kebahagiaan
Melihat terangnya jalan di depan
Bersama kita dalam dekapan
Merajut bersama jala untuk merengkuh kebahagiaan
Terbang bersama menuruni lembah dan menaiki gunung yang terjal
Bersama selalu menghadapi semua badai
Bersama merengkuh madu dunia yang indah
Bersama dalam kebersamaan yang indah
Semoga kita menjadi jodoh dunia dan akhirat
Amin
BERSAMBUNG...
[1] Tahu sebelum segala sesuatu terjadi
[1] menanam biji jagung atau kacang panjang dengan melubangi tanah memakai tongkat kayu yang diruncingkan, kemudian beberapa biji jagung atau kacang panjang dimasukkan dan ditimbun dengan tanah.
Tuesday, June 17, 2008
Dari novel "Assalamu'alaikum matahariku" bagian ke 13
Malam sudah larut, jam dinding menunjukkan pukul 23.30. sebagian besar pasien dan keluarganya sudah tertidur lelap. Pasien tidur di bed masing-masing, sedangkan penunggunya tergantung kelasnya. Yang kelas satu, VIP, hingga super VIP bisa tidur nyenyak di bed penunggu yang tersedia di kamar masing-masing. Sedangkan yang kelas II, III hingga Zaal yang los penunggu berserakan tidur di lantai di bawah, di sekitar bed pasien masing-masing yang ditunggui. Untuk pasien yang mulai sembuh, penunggu mulai bisa tidur lebih nyenyak walaupun tidur di lantai. Tetapi bila pasien masih aktif sakitnya jauh dari mau sembuh, penunggu tidak akan bisa tidur walaupun kamarnya super VIP.
Semakin larut suasana makin hening. Sehingga di sana sini terdengar suara-suara ngrook…ngrook….ssss….secara ritmis yang menyembul dari hasil resonansi[1] organ-organ tertentu dalam rongga mulut, tenggorokan, rongga hidung dengan cara tertentu menghasilkan suara yang dikenal dengan nama mengorok. Persis seperti suasana di desa terutama musim penghujan, suara para makhluk jantan, entah itu katak atau jengkerik yang sibuk melantunkan irama-irama tertentu yang mendayu-dayu untuk mengajak-ngajak dan merayu-rayu calon partnernya yang betina agar mau diajak melakukan hal-hal yang diinginkan kaum lelaki. Cuman suara yang dihasilkannya “kriik” “kriik” “kriik” dan “pung” “pung” “pung”. Ada juga teman yang bilang, suara-suara orang mengorok itu seperti orang yang tahsin[2] yaitu melatih bacaan huruf-huruf hijaiyah tertentu
“gho (ﻍ)” dan
“kho (ﺥ)” kadang-kadang
“ssiin (س)”
cuman sayangnya dilakukan pada saat tidur dan tidak sadarkan diri.
Derit roda bed menggelinding, memecah keheningan malam yang larut. Terbaring seorang pasien pria, 35 tahun di atas bed, terpasang sebuah infus yang selangnya bergelantungan seperti tangan-tangan monyet yang menyambar makanan sementara kakinya masih di batang pohon. Di ujung bed, sepasang tangan yang putih, bersih dan lembut mbak Darsih, perawat bangsal bedah dengan wajah yang masih tetap sumringah kendati malam telah larut, mendorong dengan lembut, membawanya menuju kamar operasi.
“Tenang ya, pak Sarwono. Ditata hatinya. Kalau bapak tenang, insya Allah operasi nanti akan berjalan lancar.” Kata mbak Darsih yang berusaha menenangkan hati pak Sarwono.
“Iya suster, saya juga berusaha menenangkan hati saya, sejak tadi saya mencoba memperbanyak dzikir kepada Allah. Saya sudah siap suster.” Jawab pak Sarwono mantap, yang menunjukkan kesiapan batiniahnya.
------------------
Pasien didiagnosis menderita appendicitis acut. Namanya bapak Sarwono, beliau ini adalah pasienku pertama yang dilakukan operasi selama aku stasis di bagian bedah. sudah puasa 6 jam yang lalu Kesempatan ini adalah jadwal jagaku pertama. Dengan pak Sarwono ini pulalah aku akan melihat suatu rangkaian peristiwa yang bagiku sebagai suatu pengalaman yang luar biasa. Aku sendiri sebagai dokter muda atau co-ass ikut-ikutan deg-degan apalagi pak Sarwono. Penyebab rasa deg-deganku adalah selain harap-harap cemas melihat tubuh orang yang dirobek, disayat, diobok-obok, darah mengucur juga aku takut seperti yang terjadi pada Tony. Dia itu pingsan bila melihat darah mengucur. Bila pingsan seperti itu tentu akan merepotkan kru operasi yang sedang repot-repotnya bekerja. Bila pingsan, akan menjadi berita besar di acara infotaintment ruang jaga co-ass.
“Hee… si Karim pingsan”
“Eh.. sudah dengar belum Karim pingsan sampai terkencing-kencing di kamar operasi”
“Ada berita lucu…. Karim menjadi pasien tambahan di kamar operasi”
“Kabar terbaru… Karim pingsan dan celananya basah karena kencing di kamar operasi”
Lain halnya dengan aku, rasa dêg-dêgan pak Sarwono, tentu saja mengenai kecemasan akan hal-hal yang terjadi pada dirinya yang dia sendiri tidak mengetahui sama sekali. Dia hanya bisa bedoa, memejamkan mata, mulutnya berkomat-kamit terdengar suara lirih surat Alfatihah, sholawat nabi, ayat kursi dan dzikir-dzikir lainnya.
“Subhanallah…” ± 33 ×
× 33 ± “Subhanallah…”
“alhamdulillah” ± 33 ×
× 33 ± “Alhamdulillah”
“Astaghfirullah”
“Astaghfirullah” ± 33 ×
± 33 × “Allahu akbar”
“Allahu akbar” ± 33 ×
“Laa illaha illallaah” ± 33 ×
“Laa illaha illallaah” ± 33 ×
× 33 ± “Laa haula walaa quwwata illa billaah”
“Laa haula walaa quwwata illa billaah” ± 33 ×
Sesekali beliau wajahnya menyeringai, meringis, menahan rasa sakit sambil memegangi perut bagian kanan bawahnya dengan tangan kanannya yang terpasang seperangkat instalasi jarum infus dan teman-temannya.
“Ahh..hhh….” terdengar rintihan lirih dari mulut pak Sarwono diantara dzikir-dzikirnya.
“Sabar ya, pak” kataku sambil aku genggam ringan tangan pak Sarwono. Aku rasakan kekekaran otot-otot tangannya yang menunjukkan beliau itu adalah seorang pekerja keras.
| |
Pak Sarwono kutinggalkan di ruang tunggu pra operasi. Mbak Darsih mengolah pak Sarwono, agar siap “hidang” di meja operasi. Mengganti pakaian pak Sarwono dengan baju steril. Serta mengecek kelengkapan operasi, obat-obat semuanya obat injeksi termasuk botol-

